
Setelah pergi dari kantor milik Arkan, Alina memutuskan untuk menemui sahabat lamanya yang sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu hari ini.
Singkat cerita, tibalah Alina di salah satu cafe milik sahabatnya yang terletak di sudut kota.
"Alina, sudah lama sekali kita tidak bertemu." Ucap Nanda.
Alina, wanita itu hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Bagaimana dengan kabarmu, Alina? seperti nya kau kelihatan tidak enak badan." Ucap Nanda.
""Aku baik-baik saja, Nan!"
Nanda menghembuskan nafasnya. "Syukurlah kalau begitu,"
Huft.....
Sudah hampir setengah jam Alina dan Nanda saling bercerita panjang lebar tentang kehidupan mereka masing-masing tapi Alina tidak menceritakan masalahnya dengan Arkan.
"Nanda.....Aku butuh pekerjaan sekarang, apa disini ada lowongan?" Tanya Alina seketika.
"Wah kebetulan sekali, dicafe ku ini memang memerlukan satu orang karyawan lagi." Jawab Nanda.
Alina begitu sumringah mendengar jawaban dari Nanda.
Langsung saja ia menawarkan dirinya untuk bekerja dicafe ini.
Tanpa banyak basa basi, Nanda selaku pemilik cafe langsung saja mengiyakan permintaan Alina, karana menurutnya Alina adalah sahabatnya.
"Kapan aku bisa bekerja?" Tanya Alina.
"Besok saja Alina, hari ini kau istirahat saja dulu." Ujar Nanda.
"Baiklah kalau begitu!"
_
_
_
Rintik hujan yang seolah malu-malu datang di sore ini, Arkan sepanjang perjalanan pulang terus saja menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang ia alami sekarang.
Apa yang ia takuti selama ini akhirnya terjadi, Alina memutuskan untuk menjauhi dirinya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang ia kendarai kini telah tiba di rumah. Ia segera masuk ke dalam dan baru saja melangkah masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya yang sedang duduk di ruang tengah.
__ADS_1
"Ayah....." Tegur Arkan, kemudian ia melanjutkan langkahnya mendekati sang ayah.
"Kapan ayah pulang? kenapa tidak memberitahu Arkan dulu?" Tanya Arkan.
"Arkan....." Panggil Siska yang tiba-tiba muncul.
"Ibu......"
"Dimana Alice?" Tanya Siska.
Arkan tertunduk, ada perasaan tak enak hati terhadap kedua orangtuanya untuk menjawab.
"Alice...sepertinya dia pulang ke rumah orangtuanya." Jawab Arkan.
Siska menghela nafas panjang.
"Kenapa malah jadi begini!" Ucap Siska.
"Dari kapan Alice pergi?" Tanya lagi Siska.
"Ke-kemarin...."
"Apa kau sama sekali tidak menyusulnya?" Sambung Haris dengan suara beratnya.
"Cih.....kau benar-benar keterlaluan, Arkan!" Timpal Haris.
"Bukannya minta maaf pada istrimu, kau justru malah sibuk dengan selingkuhanmu itu, bukan?" Tanya Siska.
"Bukan begitu......"
"Apa kata orangtua Alice nanti, mau ditaruh dimana muka kami, Arkan?" Tanya Haris. "Kau hanya mempermalukan keluarga kita saja!"
"Ibu minta sekarang juga kau harus memecat wanita itu dari kantormu!" Titah Siska. "Atau tidak biarkan ibu sendiri yang menemuinya dan berbicara langsung!"
"Tak perlu, dia sudah mengundurkan diri." Ujar Arkan.
"Baguslah!" balas Haris.
"Jangan pernah berhubungan dengan wanita itu lagi, jika kau tidak mau tau akibatnya!" Ancam Haris.
Arkan hanya diam dengan wajah tertunduk, seolah seperti orang yang sudah pasrah.
"Besok siang bersiaplah, kita akan makan siang bersama dengan orangtua Alice.
Dan jangan lupa minta maaf pada Alice nanti!" Titah Haris.
__ADS_1
"Tapi ayah...."
"Jangan membantah! mau bagaimana pun dia tetap istrimu, Arkan!"
Huft.....
Keesokan harinya, dikediaman orangtua Alice.
Jek menyingkapkan selimut yang dikenakan Alice. Sehingga membuat Alice yang mulanya msih tidur seketika terbangun.
"Ayah......!" Ucap Alice dengan nada yang agak kesal.
"Matahari sudah terbit berjam-jam. Bagaimana kau bisa begitu santai?" Tanya Jek.
Alice tak mengindahkan pertanyaan dari ayahnya, ia malah kembali melanjutkan tidurnya.
"Kau sudah menikah hampir satu tahun, Alice. Kenapa belum hamil? bagaimana jika suamimu nanti malah punya anak diluar nikah?" Rentetan pertanyaan terus dilontarkan Jek.
"Itu akan jadi berita bagus!", Jawab Alice dengan santai.
"Alice apa maksudmu itu!" Sentak Jek.
Alice bangun lalu beranjak dari tempat tidurnya. "Cukup aku saja yang hidup dalam mimpi buruk ini. Jangan sampai anakku merasakannya." Kata Alice.
"Kau tidak akan memberi keluarga kita pewaris?" Tanya lagi Jek.
"Tidak akan! Lagipula Arkan sendiri yang bilang jika dia tidak mau punya anak dariku."
Plak.....
Lagi-lagi satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Alice.
"Maka dari itu seharusnya kau menjadi istri yang baik untuknya!" Pekik Jek geram.
"Mandilah, kita akan makan siang bersama mertuamu!" Titah Jek lalu melenggang pergi dari kamar Alice.
Alice hanya diam mematung dengan mata memerah bekaca-kaca sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan.
"Apakah aku yang paling bersalah disini?" Tanya Alice pada diri sendiri.
Sementara Alina pagi ini dia begitu bersemangat karena hari ini adalah hari pertama ia bekerja dicafe.
"Alina.. aku harap kau betah bekerja disini." Ucap Nanda.
"Tentu saja, Nanda. Di terima dengan baik disini saja sudah membuat ku bersyukur." Ujar Alina.
__ADS_1