Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
29. Keputusan Alina


__ADS_3

Keesokan harinya, Alina dengan keputusan yang sudah tepat ia lebih memilih untuk mengundurkan diri dari kantor Arkan.


Wanita itu sudah benar-benar tidak ingin lagi berhubungan dengan Arkan.


Tiba dikantor, Alina yang baru saja melangkah masuk langsung saja mendapat suasana yang tidak mengenakkan. Terlihat Alina menjadi pusat perhatian semua orang yang berada dikantor, bahkan Alina melihat orang-orang itu saling berbisik satu sama lain sambil menatap sinis dirinya. Alina tahu jika mereka semua sedang membicarakan dirinya.


Yah, rumor perselingkuhan Arkan dan Alina kini sudah menyebar dimana-mana sehingga menjadi buah bibir.


"Wah, lihatlah dia, ternyata masih punya muka juga ya kesini." Ucap salah satu karyawan.


"Dasar perempuan tak tahu malu, bisa-bisanya berselingkuh dengan bos kita." Sahut yang lain.


"Kukira lugu, eh ternyata.......diam-diam jadi pelakor!" Sambung Delia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Alina.


Alina menghela nafas panjang, dia berusaha tak mempedulikan semuanya. Toh, lagi pula sebentar lagi dia tidak akan bekerja di kantor ini lagi.


Wanita itu kemudian melanjutkan langkahnya, menuju ke ruangan Arkan.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alina langsung saja masuk ke dalam ruangan Arkan.


"Alina..." Gumam Arkan ketika melihat Alina, mata pria itu tak berhenti nya menatap wanita yang sangat ia rindukan.


Beda dengan Arkan, Alina justru menatap pria di depannya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


Arkan bangun dari duduknya, langsung menghampiri Alina dan bersiap ingin memeluknya tapi dengan cepat Alina memundurkan langkahnya kebelakang.


"Jangan dekati aku!! Aku jijik di sentuh oleh tangan pembohong seperti dirimu!!" Bentak Alina.


"Alina! Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Arkan keheranan.


Alina, Wanita itu mengusap wajahnya kasar. Sudah jelas semua ini salah, tapi kenapa pria di hadapannya ini seolah tidak merasa terjadi apa-apa sebelumnya?


Alina melemparkan sebuah amplop ke arah Arkan dan pria itu lalu mengambil dan membukanya.


"Alina.. apa maksudmu, kenapa kau harus mengundurkan diri?!"


"Kau sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya lagi?" Ucap Alina ketus.


"Alina!! Kita bisa membicarakan ini baik-baik, Alina!"


Arkan mendudukkan pandangannya.


"Aku harap ini adalah pertemuan kita yang terakhir!!" Tegas Alina.


"Alina aku mohon jangan seperti ini!" Pinta Arkan melas sambil meraih lengan Alina.


"Apalagi yang kau mau Arkan? apa kau kurang puas?" Tanya Alina dengan nada membentak.

__ADS_1


"Ahh....aku tahu, kau hanya mau gadis bodoh supaya kau bisa...." Belum selesai Alina berbicara Arkan langsung memotongnya.


"Kau kenapa berbicara seperti itu, Alina?" Tanya Arkan.


"Karena selam ini kau hanya membodohi aku saja , Arkan!." Sentak Alina.


"Kau memberikanku kenyamanan selama ini, tapi kau enggan terikat padaku." Tutur Alina dengan mata yang berkaca-kaca. "Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya, mengapa kau hanya menganggap ku teman saja."


"Bukan begitu, Alina."


"Lalu apa, Arkan?" Alina mulai geram.


Arkan termangu, jauh di lubuk hatinya ada perasaan bersalah, tapi entah kenapa mulutnya seolah-olah tidak bisa mengungkapkan segala apa yang ia rasakan saat ini.


"Mari kita hentikan. Aku akan berhenti mencintaimu dan aku tidak akan mau lagi berteman denganmu." Ujar Alina, tak terasa air matanya mengucur membasahi pipi.


Kedua mata Arkan membulat ketika mendengar Alina berbicara seperti itu.


Dia menggelengkan kepalanya seolah tak ingin Alina pergi dari sisinya.


Melihat respon Arkan yang hanya seperti itu, dengan kecewa Alina langsung pergi meninggalkan Arkan.


"Alina jangan pergi!" Ujar Arkan seraya meraih tangan Alina.

__ADS_1


"Sudah cukup, aku tidak ingin lagi berurusan denganmu!" Tutur Alina.


Wanita itu melepaskan pegangan tangannya dengan kasar, kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk pergi dari hadapan Arkan.


__ADS_2