
Diatas balkon kamar Arkan menghisap dalam rokoknya yang sedang ia pegang di sela jarinya. Pandangannya menerawang jauh menatap lurus ke depan.
Tiba-tiba saja Alice datang menghampirinya.
"Sepertinya kau sangat cocok untuk main drama." Tegur Arkan saat Alice berdiri disampingnya.
"Apa maksudmu itu?" Tanya Alice tak paham.
"Cih....masih saja kau berpura-pura tidak tahu. Lihatlah, saat dihadapan orangtuaku pasti kau sangat pantai berdrama."
"Aku sangat heran padamu, kenapa kau selalu berpikir buruk tentangku?"
"Padahal aku hanya berusaha menjadi istri dan menantu yang baik apa salahnya? tapi kau malah berpikiran seperti itu!" Ucap Alice dengan bijak.
Arkan tersenyum kesal. "Sungguh ini bukan Alice yang kukenal,"
"Aku tahu kita tidak saling mencintai tapi bersikaplah bahwa kita saling mencintai satu sama lain saat dihadapan orangtua kita." Ungkap Alice lalu melenggang pergi.
Arkan hanya diam dan mencoba tidak perduli dengan ucapan istrinya.
Huft.....
Dua hari mereka ada di atap yang sama tanpa pertemuan. Hingga pagi ini mereka sarapan bersama seperti biasanya.
"Alice, kau mau kemana sayang?" Tanya Siska saat melihat Alice yang begitu rapi.
"Alice mau pergi ke kantor, Bu!"
"Ada apa? tumben. Biasanya selalu ogah-ogahan."
"Ah, ibu bisa saja."
Alice memang berasal dari keluarga kaya raya, kerjaannya setiap hari hanya bersantai-santai menghabiskan uang yang tak akan habis sampai tujuh turunan. Alice sendiri juga mempunyai sebuah perusahaan di bidang kosmetik dan juga sebuah butik yang cukup terkenal di kota nya.
Namun perusahaan dan butik tersebut dikelola oleh orang kepercayaan Alice. Jadi, Alice hanya sesekali saja datang ke perusahaan dan butiknya itu.
"Sayang, bisakah kau mengantarku?" Tanya Alice pada Arkan.
"Kenapa tiba-tiba, biasanya saja Dirga yang mengantarmu." Jawab Arkan dengan nada dinginnya.
__ADS_1
"Tak apa, aku hanya ingin kau saja yang mengantarku hari ini."
"Arkan, kau tidak boleh menolak. Antar istrimu!" Titah Siska.
"Arkan tidak bisa Bu, lagipula sudah jam segini!" Arkan melirik ke arloji yang melingkar ditangannya.
"Jangan membantah ibu, Arkan!"
Arkan menghela nafas berat, mau tidak mau dia harus mengantar istrinya.
Mereka pun pergi dalam satu mobil yang sama. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, Arkan hanya fokus pada kemudinya saja.
Ting......
Suara dering dari ponsel Arkan terdengar. Pria itu langsung meraba sakunya dan melihat siapa yang mengirim pesan.
Sebuah pesan dari Alina masuk. Didalam pesan tersebut Alina mengatakan bahwa ia hari ini membawakan Arkan sebuah bekal.
Terlihat sebuah senyum tipis dari wajah Arkan. Alice yang memperhatikan pun dibuat penasaran oleh tingkah suaminya sendiri.
"Kau masih berhubungan dengan wanita itu?" Tanya Alice tiba-tiba.
"Apa kau tidak bosan bertanya seperti itu?" Tanya balik Arkan tanpa menatap Alice.
"Tidak, selama belum dapat jawaban maka aku tidak akan bosan bertanya." Ucap Alice tersenyum smirk.
"Atau perlu aku cari wanita itu agar tahu jawabannya?" Tanya Alice seolah membangkitkan emosi Arkan.
Arkan menghela nafas panjang, tiba-tiba saja kecepatan mobil nya berubah menjadi laju.
Alice begitu merasa ketakutan tak kala Arkan melajukan kecepatan mobil yang mereka kendarai.
"Arkan apa yang kau lakukan!" Tanya Alice dengan wajah cemas.
"Jangan gila Arkan, ini bahaya. Kita bisa saja kecelakaan." Pekik Alice.
Arkan sama sekali tidak menanggapi ucapan istrinya. Dia masih fokus dengan kemudinya, hingga tak berapa lama Arkan menepikan mobilnya dipinggir jalan tepat dibawah pohon rindang.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksudmu, Arkan!" Ucap Alice dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Bagaimana? apa kau ketakutan tadi?" Tanya Arkan.
"Dengar Alice, sampai kau berani menyentuhnya atau mencarinya, maka kau akan berurusan denganku!" Kecam Arkan dengan mata melotot.
Alice menyeringai mendengar hal itu. "Segitunya kah kau terhadap jala*Ng itu sampah itu?"
"Tutup mulut kotor mu itu!" Bentak Arkan.
"Turunlah!" Pinta Arkan.
"Apa katamu?" Alice begitu kaget.
"Aku minta sekarang turunlah, aku tidak bisa mengantarmu!"
"Cih.....apa-apaan ini, kau menyuruhku turun disini? kau benar-benar keterlaluan!"
"Turunlah!" Teriak Arkan yang sudah emosi sejak tadi.
Kedua mata Alice membulat, ada sedikit tak ketakutan saat melihat suaminya berteriak.
"Baiklah!" Ucap Alice mengangguk namun tatapannya begitu sinis.
Setelah Alice turun dari mobil, Arkan langsung pergi begitu saja meninggalkan istrinya dipinggir jalan.
"Brengsek, kurang ajar!" Umpat Alice kesal.
Alice meraba tasnya untuk mengambil ponsel. Ia berniat menghubungi Dirga agar Dirga bisa menjemputnya.
Tidak butuh waktu lama, sepuluh menit kemudian Dirga datang menjemput Alice.
"Nyonya, apa yang terjadi? kenapa nyonya bisa ada disini?" Tanya Dirga panjang lebar.
Alice membuang nafas kasarnya. "Sudah jangan banyak tanya!"
"Em....baiklah nyonya, maaf jika saya lancang. Lalu akan kemanakah tujuan kita ini?" Tanya Dirga.
"Antar aku kekantor!"
Sepanjang perjalanan Alice hanya diam saja dan membuang muka menatap ke arah jendela.
__ADS_1