
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Laura pada Alina.
Alina tersenyum.
"Aku sekarang baik-baik saja." Jawab Alina.
Laura menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku tidak habis pikir kenapa Alice mempermalukan mu di depan orang ramai seperti itu."
"Aku yang salah, seharusnya aku tidak mendekati pria yang sudah beristri."
"Kau tidak bersalah sama sekali, Alina. Disini kau hanya korban." Ucap Laura.
"Oh ya, apa sebelumnya kau tidak tahu jika Arkan sudah beristri?" Tanya Laura.
Alina menggeleng cepat.
"Arkan tidak pernah memberi tahuku. Dia pria yang sangat tertutup untuk masalah pribadi nya." Jawab Laura.
"Dasar pria brengsek!" Umpat Laura. "Lalu kenapa kau mau jika Arkan mengajak mu berhubungan badan?"
"Dia bilang dia mencintai ku."
Laura berdecih.
"Alina.. kau ini lugu atau memang bodoh, jika dia mencintai mu maka dia tidak akan merusak tubuhmu sebelum ada ikatan yang sakral." Jelas Laura dengan bijak.
"Bahkan dia tidak jujur padamu jika dia sudah beristri." Timpal Laura. "Apakah itu yang namanya cinta?" Tanya Laura.
Alina terdiam seribu bahasa, sepertinya apa yang di ucapkan Laura benar adanya.
Alina kembali menitikkan air matanya tak kala mengingat bagaimana Arkan mengajaknya melakukan hubungan terlarang. Alina mengutuk dirinya sendiri kenapa dia dengan mudah termakan bujuk rayu seorang Arkan.
"Kau bodoh...bodoh.. Alina!!" Alina memukul dadanya berulang kali.
"Alina hentikan!! Jangan menyakiti dirimu sendiri."
Laura langsung memeluk Alina berusaha menenangkan wanita di sampingnya.
__ADS_1
"Kau memang wanita bodoh, Alina!!" Batin Laura. Perempuan itu tersenyum menyeringai tanpa di ketahui oleh Alina.
Setelah dirasa tenang akhirnya Laura melepaskan pelukannya.
"Laura, aku berterimakasih kepadamu karena kau sudah menolong ku." Ucap Alina.
"Tentu saja!! Kau tidak perlu merasa direpotkan. Kita sesama wanita jadi aku merasa kasihan melihatmu."
Alina memberikan senyum terbaik miliknya.
"Laura.. kalau begitu aku ingin pamit pulang."
"Pulang?" Laura mengerutkan dahinya. " Kenapa?"
"Tidak apa-apa Lau, aku hanya ingin pulang saja dulu."
"Bagaimana jika kau bertemu dengan Arkan lagi." Tanya Laura.
"Aku harap aku tidak akan bertemu dengannya lagi." Jawab Alina sambil memalsukan senyumnya.
Laura menghela nafas panjang, "Baiklah kalau itu maumu, aku akan mengantarmu pulang!"
"Sudah tidak apa-apa!"
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Alina hanya diam membuang muka menatap ke arah jendela. Hingga keduanya tiba dikontrakkan.
"Terimakasih, Laura...." Ucap Alina saat turun dari mobil.
"Sama-sama, Alina. Oh ya, kalau ada sesuatu yang terjadi padamu segera hubungi aku, tidak usah sungkan." Ujar Laura tersenyum sambil memberikan secarik kertas yang tertulis nomor teleponnya.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih!"
"Kalau begitu aku pulang dulu, Alina!"
Wanita itu kemudian berlalu begitu saja.
Dengan langkah gontai Alina melangkah masuk ke dalam kontrakannya.
Alina lalu berjalan menuju ke kamar, wanita itu duduk termenung di tepi ranjang reyot nya. Saat sedang termenung entah kenapa pikirannya teringat saat-saat dia bercinta dengan Arkan di kamar ini.
__ADS_1
Alina menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
Dia beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, di cermin ia dapat melihat matanya yang terlihat sembab akibat menangis semalaman.
Air mata kembali jatuh menetes dengan kasar ia langsung menghapusnya.
"Untuk apa aku menangis pria brengsek seperti dirimu!!" Batin Aliya.
Alina kembali ke ruang tamu, wanita itu mengambil ponselnya dari dalam tas. Saat menghidupkan ponselnya terlihat banyak sekali pesan masuk dan puluhan panggilan tak terjawab dari Arkan.
Saat hendak berdiri untuk membuat minuman, tiba-tiba saja ponselnya berdering tanda panggilan masuk, telepon itu tak lain adalah dari Arkan.
Alina enggan menjawab telpon dari Arkan, lalu wanita itu kembali mematikan ponselnya.
"Aku tahu kau marah padaku, Alina. Tapi tolonglah angkat teleponku walau sebentar saja!" Ucap Arkan penuh harap.
"Dia belum juga mengangkat teleponmu?" Tegur Raka tiba-tiba.
"Tidak sama sekali, malahan dia tidak bisa lagi dihubungi." Ucap Arkan dengan wajah kusut.
"Kalau dia tidak ada dikontrakkan, terus kemana dia pergi?"
"Entahlah Rak, aku tak tahu." Ujar Arkan.
Tringg.....
Tiba-tiba ponsel Arkan berdering, dengan sigap pria itu langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Dimana kau?" Tanya Arkan yang mengira kalau itu Alina.
"Justru kau yang dimana, Arkan!" Seru Alice.
Mendengar suara itu suara Alice, wajah Arkan langsung berubah menjadi datar.
"Dimana aku itu sama sekali tidak penting, jangan mencari ku" Ucap Arkan, lalu ia langsung menutup telepon.
"Hallo....hallo Arkan, dimana kau!'"
"Aish......dimana dia sekarang!"
__ADS_1