
"Alice apa-apaan kau ini, ayo kita pulang saja!" Ajak Arkan.
"Arkan, kenapa tidak mau? lagian kita belum makan siang juga!" Ujar Alice sambil meraih lengan Arkan.
"Tidak usah sungkan, ayo kita makan siang bersama!" Alice tersenyum pada Laura.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada ditempat makan.
Meski di keramaian, tapi suasana saat ini tampak begitu hening dan canggung.
Ya, bagi Arkan ini adalah suasana canggung meskipun sudah lama mengenal Laura.
"Kenapa kalian hanya diam?" Tanya Alice.
Laura memaksakan senyumnya wanita itu masih syok dengan pengakuan Arkan yang ternyata sudah menikah.
"Entahlah, mungkin karena kami sudah lama tidak bertemu. Bukankah begitu, Arkan?" Tanya Laura melirik ke arah Arkan.
Arkan diam tak menjawab apa yang diucapkan oleh Laura.
"Baiklah, aku memaklumi itu." Ujar Alice.
"Em....sudah berapa lama kalian menikah?" Tanya Laura menyelidik.
"Sudah hampir mau satu tahun." Jawab Alice di iringi dengan senyuman.
Laura mengangguk-anggukan kepalanya sambil membuang nafas kasarnya.
"Lalu bagaimana dengan kau?"
apakah kau sudah menikah atau masih lajang?" Tanya Alice balik.
"Aku belum menikah."
"Benarkah? Tidak mungkin kau belum menikah, kau sangat cantik pasti banyak pria yang mendekati mu." Tutur Alice.
"Alice! Hentikan!" Ujar Shaka.
Tapi tetap saja Alice tidak menghiraukan teguran dari Arkan.
"Apa lagi yang sedang kau tunggu?" Tanya Alice lebih lanjut.
"A-aku sedang menunggu seseorang," Ucap Laura terbata-bata sambil melirik ke arah Arkan.
Sedangkan yang di lirik hanya diam dengan wajah datarnya.
"Siapa, wah pasti beruntung sekali pria itu!" Ujar Alice.
__ADS_1
Laura hanya menunjukkan senyuman sesekali wanita itu juga melirik ke arah Arkan.
Akhirnya makanan yang di pesan makan, mereka menikmati makanan di piring masing-masing.
Tapi beda dengan Arkan, pria itu seperti tidak berselera.
"Alice! Cepat lah habiskan makananmu, aku ada urusan." Ujar Arkan.
" Kalau kau masih ingin disini, kau tetaplah disini, aku pulang!"
Arkan bangun dari duduknya pria itu hendak pergi tapi dengan cepat Alice meraih lengannya.
Arkan menatap Alice dengan tatapan kesal tapi pada akhirnya pria itu kembali duduk ke tempat asalnya.
"Laura, karena kau adalah teman suamiku maka aku berniat untuk mengundang mu ke pesta ulang tahun ku. Apa kau keberatan?" Tanya Alice.
"Alice! Kau apa-apaan!" Bentak Arkan.
"Kau yang apa-apaan!" Sergah Alice setengah berbisik.
"Sayang, aku hanya berniat mengundang teman lama mu, apa itu salah?" Ucap Alice dengan nada manja.
"Toh, lagi pula Laura sepertinya wanita baik-baik." Ucap Alice sambil memiringkan senyumnya.
Laura hanya membuang wajahnya, sungguh pemandangan yang buruk bagi Laura.
"Laura, maafkan suami ku ini." Ujar Alice.
"Tentu saja! aku tidak keberatan sama sekali. Ini adalah suatu kehormatan untuk ku." Ucap Laura menatap tajam ke arah Arkan.
"Terimakasih, Laura." Ucap Alice, wajah nya berbinar-binar.
"Emm.. kalau begitu aku mau ke toilet dulu," Ujar Alice. Wanita itu bangun dari duduknya dan segera pergi menuju toilet.
Kini hanya tinggal mereka berdua saja.
"Arkan, kenapa kau begitu gugup." Tanya Laura saat melihat Arkan yang hanya diam menundukkan pandangan.
"Sebaiknya kau tidak usah datang," Ujar Arkan seraya menegakkan pandangannya.
"Kenapa?"
"Karena kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, laura." Jelas Arkan.
"Tidak bisa! Lagipula yang mengundang istrimu sendiri." Ucap Laura.
Arkan menghela nafas berat.
__ADS_1
"Dari pandanganku, sepertinya kau tidak mencintai istrimu, bukan?" Tanya Laura.
"Tutup mulutmu, jangan sok tahu dengan hubungan rumah tangga orang!" Pekik Arkan.
"Ah, apa jangan-jangan kalian menikah karena perjodohan?" Tanya lagi Laura.
Arkan bangkit dari duduknya ia hendak menampar wanita di hadapannya. Tapi tangannya tertahan karena dia sadar di tempat ini ramai orang-orang dan ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Laura memiringkan senyumnya, sementara Arkan menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Sayang.." panggil Alice yang sudah tiba.
"Sayang, ayo kita pulang!" Arkan menggandeng tangan Alice lalu membawa pergi wanita itu dari restoran.
"Arkan.. Arkan.. apa yang terjadi kenapa tiba-tiba?" Tanya Alice.
Tapi lagi-lagi Arkan tidak menghiraukan pertanyaannya, pria itu terus menyeret Alice menjauh dari restoran.
Tapi jujur saja Alice merasa senang ketika Arkan menggandeng tangannya dan memanggilnya sayang. Hal itu karena selama menikah, baru kali inilah Arkan memanggilnya dengan sebutan sayang.
Seketika juga bunga di hati Alice bermekaran.
Sesampainya di mobil barulah Arkan melepaskan tangan Alice dengan kasar.
"Jangan temui dia lagi!" Ujar Arkan dingin.
"Ta-tapi kenapa?" Alice kebingungan.
"Turuti apa kata suami mu, Alice!" Ucap Arkan penuh penekanan.
Alice tidak menjawab sepertinya kata-kata Arkan berhasil menghipnotisnya.
Arkan melajukan mobilnya, membelah jalanan kota yang ramai oleh kendaraan.
Wajah pria itu memerah menahan amarah.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Sesekali dari kaca spion Arkan melirik Alice yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri.
"Apa kau sudah tidak waras?" Tanya Arkan.
Alice mengerutkan dahinya. "Yang kau lihat bagaimana?" Alice malah berbalik tanya.
"Ya, ku lihat kau hanya senyum-senyum dari tadi." Tanya Arkan, pandangannya masih fokus ke depan.
"Itu perasaan mu saja," ujar Alice.
__ADS_1
"Oh ya, aku jadi penasaran kira-kira siapa pria yang ditunggu oleh temanmu itu?"
"Jangan bahas dia!" Ucap Arkan singkat.