Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
21. Restoran


__ADS_3

Hari berlalu.Di kediaman Arkan, tampak orang-orang sibuk berlalu lalang mempersiapkan acara pesta ulangtahun yang akan dimulai besok malam.


Terlihat Alice sedang berdiri diatas balkon kamarnya dengan tatapan yang begitu bahagia.


"Sungguh aku tidak sabar, hanya tinggal menunggu besok malam, maka kalian berdua akan ku permalukan didepan semua orang." Ucap Alice.


Sementara hari ini Arkan lebih memilih untuk berangkat ke kantor. Dia lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya daripada mengurusi pesta ulangtahun istrinya.


Siska tiba-tiba menghampiri Alice di balkon kamar.


"Alice....." Panggil Siska.


"Iya, ibu?"


Siska menghela nafas panjang. "Padahal Acara nya nanti malam, tapi mengapa Arkan lebih memilih untuk bekerja." Ucap Siska.


"Sudah Bu, tidak apa-apa. Toh, lagian nanti sore dia pulang juga." Kata Alice dengan lembut.


"Alice, ibu sangat beruntung sekali mempunyai menantu sabar sepertimu." Ujar Siska tersenyum lebar.


Siang harinya dikantor.


Arkan berjalan-jalan menyusuri setiap sudut kantor, mencari keberadaan Alina yang tak terlihat. Hingga pria itu menemukan Alina sedang duduk


seorang diri di taman.


"Alina....." Tegur Arkan menghampiri.


"Arkan.....ada apa?" Tanya Alina.


"Sedang apa kau disini?" Tanya balik Arkan.


"A-aku sedang beristirahat," Jawab Alina.


"Oh baiklah, em Alina apa kau sudah makan?"


Alina menggeleng. "Tapi Arkan, aku baru saja ingin makan." Ucap Alina sambil menunjukan satu roti dikotak bekalnya.


"Itu tidak kenyang, ayo kita makan siang bersama!" Arkan langsung meraih lengan Alina dan membawanya pergi.


"Arkan jangan seperti ini, tak enak dilihat orang-orang!" Kata Alina.


Arkan tak menggubris, ia tetap saja membawa Alina menuju ke mobilnya.


"Sudahlah Alina, jangan menolak!"


Huft....


Arkan menghentikan mobil mewahnya di salah satu restoran ternama yang tak jauh dari kantornya.


Dia membukakan Alina pintu mobil lalu mempersilahkan Alina untuk turun.


"Arkan, aku malu." Ucap Alina.

__ADS_1


"Malu kenapa Alina?"


"Aku hanyalah seorang office girl, dan kau adalah seorang CEO. Apa tanggapan orang ketika melihat kita makan bersama ditempat seperti ini?" Tanya Alina.


Arkan menghela nafas panjang. "Alina kenapa kau tiba-tiba berpikir begini? bukan kah sebelum-sebelumnya kita juga sering makan bersama?" Tanya balik Arkan.


"Kau benar, tapi lihatlah pakaian kita sekarang," Ucap Alina.


Jelas sekali perbedaan yang sangat jauh, Arkan mengenakan pakaian jas dengan dalaman kemeja putih tampak sekali gagah dan beribawa. Sedangkan Alina hanya mengenakan pakaian office girl.


"Aku tidak perduli, Selagi kita tidak minta makan dengannya maka jangan pikirkan tanggapan mereka." Ucap Arkan bijak.


"Baiklah!" Alina mengangguk pelan.


Akhirnya Alina pun turun dari mobil dan mereka berdua langsung masuk ke restoran tersebut.


Di restoran, semua mata menatap kearah Arkan dan Alina, termasuk beberapa para karyawan kantor Arkan yang sedang makan siang disana.


Alina yang merasa di perhatikan seperti itu hanya bisa menundukkan pandangannya. Sedangkan Arkan merasa tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Sungguh aku malu Arkan, kita menjadi pusat perhatian sekarang." Kata Alina.


"Sudah, tidak apa-apa Alina. Santai saja!" Pinta Arkan.


Arkan memanggil pelayan lalu memesan beberapa menu makanan dan minuman.


Tanpa Arkan sadari, ternyata Laura juga ada ditempat yang sama dengannya.


Terlihat Laura sedang asik mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Tapi entah kenapa pandangan Laura tiba-tiba tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya.


"Bu-bukankah itu....Arkan?" Tanya Laura.


Laura menatap lebih teliti lagi dan dapat ia Pastikan bahwa itu memang benar Arkan.


"Siapa wanita yang sedang bersama dengannya? kenapa terlihat begitu mesra?" Laura bertanya pada diri sendiri.


Akhirnya Laura pun memutuskan untuk menghampirinya.


"Teman-teman, tunggu sebentar ya...." Pinta Laura.


"Baiklah!"


Laura melangkah lebih dekat lagi sampai kemudian ia sudah berdiri tepat dibelakang Arkan.


"Arkan....." Tegur Laura.


Arkan menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia.


"La-laura?"


Tatapan Laura begitu penuh keheranan.


"Kau disini juga ternyata.." Ucap Laura.

__ADS_1


Sementara Alina hanya diam tak tahu menahu siapa wanita yang ada dihadapan Arkan.


Arkan terlihat gelagapan. Dia tahu kemana Laura akan membawa pembicaraan ini.


"Siapa wanita ini?" Tanya Laura sambil menatap sinis Arkan.


"Bukankah kau sudah punya....." Belum habis Laura bicara Arkan langsung memotongnya.


"Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu." Ucap Arkan bangun dari duduknya.


"Apa maksudmu?" Tanya Laura.


Arkan tak menghiraukan pertanyaan dari Laura.


"Alina, sebaiknya kita pergi saja sekarang!" Ucap Arkan. Tanpa basa basi ia langsung meraih lengan Alina dan membawanya pergi.


"Arkan....tunggu....mau kemana kau?"


Lagi, Arkan sama sekali tak menghiraukan Laura.


Laura kini hanya diam mematung sambil menatap kepergian Arkan dan wanita yang tak dikenalnya itu.


Dalam dirinya bertanya-tanya siapakah wanita itu, kenapa saat ia bertanya Arkan malah seperti orang yang ketakutan?


Akhirnya Laura pun kembali lagi ke mejanya.


"Arkan....Arkan tunggu!" Alina melepaskan pegangan tangannya yang digenggam oleh Arkan.


"Maafkan aku Alina, kita tidak jadi makan. Sekarang masuklah ke dalam mobil!" Pinta Arkan. Padahal Alina belum sempat bertanya tentang alasannya.


Arkan kemudian memacu mobilnya, pergi meninggalkan restoran tersebut.


Didalam perjalanan, barulah Alina kembali bertanya.


"Ada apa Arkan? siapa wanita itu tadi?" Tanya Alina.


"Bukan siapa-siapa, Alina." Jawa. Arkan masih fokus dengan kemudinya.


"Tapi dia seperti yang sudah mengenalmu? dan aku pun sedikit penasaran saat dia berkata bukankah kau sudah pun??? apa maksud wanita itu tadi ya?" Cerocos Alina.


"Sudahlah Alina, lupakan saja. Itu tidak penting." Kata Arkan yang takut ketahuan.


Alina menghela nafas panjang.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Alina.


Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai dikantor.


"Alina....." Seru Arkan.


"Ya, ada apa?"


"Maafkan aku karena kita tidak jadi makan tadi, tapi tenang saja Alina kita bisa makan dilain waktu nanti." Ucap Arkan tersenyum.

__ADS_1


Alina tersenyum lalu mengangguk. Wanita itu lalu berlalu begitu saja untuk melanjutkan pekerjaannya. Sebaliknya dengan Arkan, dia berlalu juga kembali menuju ke ruangannya.


__ADS_2