
Maaf, tapi aku hanya menganggap mu teman saja. Tidak lebih!" Ucap Arkan dengan pembawaan yang dingin.
Deeg.....
Hati Alina bagaikan ditusuk tombak berkarat tak kala ia mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arkan.
"Apa katamu barusan?" Tanya Alina seraya menegakkan pandanganya dengan mata yang memerah.
"Kau salah paham, padahal selama ini aku hanya menganggap mu sebagai teman saja." Jawab Arkan menundukkan pandangannya.
Alina mendengus. Bagaimana bisa Arkan, pria yang ia kira juga mencintai dirinya itu ternyata hanya menganggapnya teman saja?
"Katakanlah padaku, apa aku salah dengar?" Tanya Alina lebih lanjut dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Em.....kau hanya teman bagiku." Arkan mengangguk.
Dada Alina begitu sesak, mulut tak lagi dapat berkata. Perkiraannya selama ini ternyata benar-benar salah.
"Kalau begitu aku pulang dulu!" Ucap Arkan.
Pria itu lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Alina yang masih berdiri mematung di pinggir jalan.
__ADS_1
Alina pun hanya bisa menatap nanar kepergian Arkan.
Dan tak terasa air mata yang dia tahan sejak tadi kini runtuh membasahi pipinya.
Di pinggir jalan, Alina berjongkok sambil menangis tersedu-sedu.
"Sudah sejauh ini, tapi ternyata hanya dianggap teman saja!" Lirih Alina.
Huft.........
"Ini nyonya, wajah wanita itu yang lebih jelasnya!" Ucap Dirga sambil memberikan sebuah foto.
Alice mengambil foto tersebut lalu mengamatinya.
"Hah....bukankah ini, Alina?" Tanya Alice.
"Benar nyonya, namanya adalah Alina Cassandra. Dia tinggal di kontrakan pinggiran kota. Sekarang dia hidup sebatang kara, karena orangtuanya sudah meninggal." Jelas Dirga.
Alice masih tak percaya bahwa itu adalah Alina, teman satu sekolahnya waktu SMA dulu.
Dulu semasa masih sekolah, Alice sangatlah membenci Alina. Alice dan teman-temannya selalu membuli dan menghina Alina.
__ADS_1
Hal itu disebabkan karena Alina yang terus saja mendapat ranking satu dikelas. Tak hanya itu, pria yang disukai Alice dulu malah lebih menyukai Alina.
"Apa nyonya mengenalnya?" Tanya Dirga karena melihat Alice yang terdiam.
"Tentu saja, ternyata dia adalah teman satu sekolahku dulu." Jawab Alice.
"Tapi nyonya, sepertinya dia tidak mengetahui kalo tuan Arkan sudah menikah!" Kata Dirga.
"Kau sekarang boleh pergi!" Ucap Alice tak mengindahkan perkataan Dirga.
Dirga pun mengangguk lalu melangkah keluar.
Alice tersenyum jahat, tak menyangka bahwa selingkuhan suaminya itu ternyata teman sekolahnya dulu.
"Apa kau ingin balas dendam terhadapku? karena aku dulu telah membuli dan menghinamu?" Tanya Alice yang langsung berpikiran negatif.
"Aku tidak akan tinggal diam, lihat saja nanti." Ujar Alice dengan mata yang memerah.
Waktu menunjukan pukul delapan malam, ketika Arkan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Sejak tadi Arkan hanya diam saja, jauh di lubuk hatinya ada perasaan bersalah pada Alina, tapi ia tidak bisa mengungkapkan segala apa yang ia rasakan saat ini. Arkan sendiri sebenarnya ingin jujur bahwa dirinya sudah menikah, akan tetapi ia tidak ingin menyakiti perasaan Alina. Dan dia jua tidak ingin Alina menjauhinya dan membencinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Alina." Lirih Arkan.
Beberapa saat kemudian, Arkan pun telah tiba di rumah. Dia turun dari mobil dan segera melangkah masuk ke dalam rumah.