Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
16. Tidak Fokus


__ADS_3

"Sial! Kenapa sekarang aku malah gugup." Gerutu Arkan dalam hati.


"Arkan.. apa kau punya waktu malam ini?" Tanya Laura.


"Ada apa memangnya?" Tanya Arkan balik.


"Aku ingin mengajak mu makan malam."


"Maaf sepertinya aku tidak bisa." Ujar Arkan.


"Oh baiklah, mungkin lain kali bisa." Ujar Laura dengan percaya diri.


"Tetap saja tidak bisa!" Ucap Arkan datar.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu. Tapi apa alasannya kau tidak bisa?"


"Entahlah, ku rasa aku sibuk sehingga tidak punya waktu untuk hal yang tidak penting!" Jawab Arkan dengan nada dinginnya.


Laura sejenak terdiam.


"Arkan apa maksud mu itu?" Tanya Laura. "Apa maksudmu aku sudah tidak penting lagi?"


Arkan tertawa kecil mendengar penuturan Laura.


"Ya, dulu kau memang penting bahkan kau segalanya buat ku tapi itu dulu dan sekarang tidak lagi." Ucap Arkan.


Laura membuang nafas kasarnya.


"Apakah berarti kau sudah melupakanku?" Tanya Laura dengan sorot mata mengintimidasi.

__ADS_1


Arkan tersenyum tipis, ia lalu mengangguk pelan. "Ya benar, aku sudah melupakanmu semenjak saat itu!" Ucap Arkan.


"Bagaimana bisa kau melupakanku begitu saja?" Laura menggeleng tak percaya dengan apa yang di ucapan Arkan.


"Kenapa? lagi pula untuk apa aku mengingat orang yang sudah meninggalkanku!"


Deeg......


Lagi, Laura dibuat terdiam oleh penuturan Arkan.


"Kalau begitu aku pergi dulu!" Ujar Arkan bangun dari duduknya dan langsung melenggang begitu saja meninggalkan Laura.


"Arkan....Arkan mau kemana kau!" Panggil Laura namun tak dihiraukan.


Laura lalu tersenyum kesal. "Benarkah dia sudah melupakanku?" Tanya Laura pada diri sendiri.


Malam berlalu.


Pagi hari seperti biasanya penghuni rumah akan melakukan sarapan bersama.


Seperti biasa juga menunggu kedatangan Arkan yang belum terlihat.


"Alice, dimana Arkan?" Tanya Siska.


"Arkan, em biar Alice susul dulu, bu. Soalnya tadi dia masih tidur." Jawab Alice.


"Baiklah, nak!"


Alice memutar knop pintu, ia lalu masuk kedalam dan terlihat Arkan yang masih tertidur dengan sangat pulas. Dia lalu berjalan ke arah jendela dan langsung membuka tirai agar cahaya matahari masuk.

__ADS_1


Alice lalu melipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah penuh kejijikkan.


"Cih.....apakah dia kelelahan karena habis bermalam dengan si jala*Ng itu?" Tanya Alice sambil mengangkat bibirnya sebelah.


"Hei.....bangunlah!" Ucap Alice berulang kali.


Tapi Arkan tak bangun-bangun.


"Hei.....matahari sudah tinggi, kenapa belum bangun-bangun!" Alice menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh suaminya.


Dan tiba-tiba saja terlihat Arkan mengerjapkan matanya berulang kali.


"Argh...ada apa kau membangunkan ku, aku masih sangat ngantuk!" Ujar Arkan.


"Ayah dan ibu sudah menunggu untuk sarapan, kenapa kau masih tidur saja?" Tanya Alice.


"Ah....aku tak perduli, aku masih ngantuk!"


"Oh....ngantuk karena kau semalam habis bermalam dengan jal**Ng itu kan?" Cerocos Alice.


Mendengar ucapan Alice, Arkan langsung saja bangun.


"Tutup mulutmu! dia bukanlah jal*Ng seperti yang kau pikirkan!" Gerutu Arkan.


"Kalau dia bukan jal**ng lalu disebut apa dengan wanita yang sudah berselingkuh dengan suami orang?" Tanya Alice.


"Sudahlah terserah apa katamu saja, meladeni mu sama saja seperti meladeni orang gila." Ucap Arkan lalu beranjak menuju ke kamar mandi.


"Lihatlah, kau pasti tidak bisa menjawab bukan?!" Ucap Alice setengah berteriak. Tapi sama sekali tak dihiraukan oleh Arkan.

__ADS_1


__ADS_2