Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
19.Sakit


__ADS_3

Keesokkan harinya seperti biasa Arkan akan berangkat ke kantor. Setelah sampai di kantor, pria itu berniat untuk menemui Alina.


Arkan mencari keberadaan Alina tapi tetap saja pria itu tidak bisa menemukan wanita itu.


Akhirnya Arkan berinisiatif untuk menanyakan keberadaan Alina pada salah satu rekan Alina yang sesama office girl.


"Apa kau melihat Alina?" Tanya Arkan.


"Maaf, Alina sedang tidak masuk hari ini, pak." Jawabnya.


"Mengapa?"


"Katanya dia sedikit tidak enak badan!"


"Baiklah kalau begitu, terimakasih!" Ucap Arkan lalu melangkah menuju ke ruangannya.


Di ruangannya, Arkan terus saja mondar mandir dengan wajah cemasnya.


"Kenapa dia tidak menghubungi ku?" Ujar Arkan cemas.


Arkan mengambil benda pipih di saku celananya pria itu lalu menghubungi Alina tapi Alina tidak bisa di hubungi hingga membuat Arkan semakin mengkhawatirkan kondisi Alina.


Tanpa pikir panjang pria itu bergegas meninggalkan ruangannya, saat hendak membuka pintu ingin keluar, secara bersamaan juga ada sekretaris Delia yang ingin masuk.


"Arkan.. kau mau kemana?" Tanya Delia.


"Aku ada urusan penting." Ujar Arkan.


"Tapi.. sebentar lagi kau akan bertemu klien penting, Arkan!" Ucap Delia.


"Batalkan saja!" Ucap Arkan kemudian pria itu berjalan meninggalkan Delia yang terlihat kesal.


Di jalan, Arkan terus menghubungi nomor Alina tapi tetap saja Alina tidak bisa di hubungi.


Arkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota yang Lalu lalang dengan kendaraan. Karena Arkan sendiri sudah benar-benar merasa cemas.


Tak butuh waktu lama akhirnya Arkan sudah tiba di kontrakan kecil milik Alina, terlihat sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Arkan melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah.


Tok...tok..


"Alina.. Alina..." Panggil Arkan sambil mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Alina.. ini aku, Arkan." Ujar Arkan.


Arkan memutar knop pintu yang ternyata tidak di kunci, Arkan lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam, Arkan begitu terkejut ketika melihat sosok Alina yang terbaring lemas di ranjang dengan keadaan wajah yang sangat pucat.


"Alina.. apa yang terjadi?" Tanya Arkan cemas.


"Arkan.. kenapa kau datang kesini?" Lirih Alina pelan.


"Aku dengar kau sedang sakit jadi aku memutuskan untuk datang kesini." Jawab Arkan.


"Aku sudah tidak apa-apa, Arkan. Kau tidak usah repot-repot kesini." Ujar Alina.


Arkan membelai rambut Alina.


" Tidak apa-apa bagaimana? lihatlah kondisimu sekarang, ayo kita ke rumah sakit!" Tawar Arkan.


"Tidak usah, Arkan!" Tolak Alina.


"Ayolah Alina, aku sungguh tidak bisa melihat kondisimu yang seperti ini!" Arkan terus memaksa.


Alina menggeleng pelan. "Aku mengerti, tapi aku tidak ingin ke rumah sakit. Ini hanya demam biasa, Arkan." Ucap Alina.


Arkan menghela nafas berat.


"Alina, kalau begitu biarkan aku menemanimu hingga kau pulih." Ujar Arkan.


"Ar-arkan..."

__ADS_1


"Ssstt.. tidak usah menolak." Arkan menempelkan jari telunjuknya di bibir Alina.


Alina tersenyum mendapat perhatian dari Arkan lalu wanita itu mengangguk.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Arkan lembut.


Alina menggeleng pelan.


"Baiklah, aku akan memesan makanan sebaiknya kau istirahat lah! Aku akan menemani mu." Ucap Arkan.


Tak berapa lama makanan yang di pesan pun datang, Arkan menyiapkan makanan untuk Alina lalu membangun kan wanita itu untuk makan.


"Alina.. bangunlah!" Titah Arkan.


Alina pun dibantu Arkan untuk bangun bersandar didipan.


"Aku bisa sendiri, Arkan." Ujar Alina saat melihat Arkan hendak menyuapinya.


"Tidak Alina, kau masih sakit biarkan aku merawat mu." Kekeh Arkan.


"Ya baiklah, terserah kau saja." Alina pasrah.


Saat hendak menyuapkan makanan ke dalam mulut Alina, tiba-tiba saja rasanya Alina ingin muntah.


Wanita itu bangkit dari ranjangnya dan berlari ke arah kamar mandi.


"Huekk.. huekk......"


Arkan yang merasa khawatir langsung menyusul Alina kedalam kamar mandi.


"Alina... Kau kenapa?" Tanya Arkan khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Arkan. Aku hanya sedikit pusing dan mual." Ujar Alina sambil memegang kepalanya.


"Apanya yang tidak apa-apa! Lihatlah kau muntah-muntah begitu."


"Sudahlah, ayo kita ke dokter saja!" Ucap Arkan. "Aku akan menemani mu." Timpal Arkan.


"Arkan, tidak usah ke dokter. Mungkin ini efek dari demam saja." Tolak Alina.


"Kau yakin?" Tanya Arkan.


Alina mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu mari ku antar ke kamar mu."


Setibanya di kamar, Arkan langsung membantu Alina untuk berbaring di kasurnya.


Arkan duduk di tepi ranjang lalu setelah itu ia mencoba menarik pakaian bagian depan Alina.


"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Alina seketika.


"Mau kuberikan minyak kayu putih!" Jawab Arkan.


Alina diam, membiarkan Arkan mengolesi perutnya dengan minyak kayu putih dan sentuhan Arkan terasa membuatnya membaik.


"Kau istirahat dulu, Alina!" Ucap Arkan.


Alina mengangguk sambil tersenyum.


"Arkan.. kembalilah ke kantor!" Ujar Alina.


"Tidak. Aku akan disini menemani mu." Ucap Arkan.


"Hem....kalau itu mau mu, baiklah terserah kau saja!"


Alina lalu menajamkan matanya, merasakan nyaman yang mulai menjalar.


Sampai sore harinya, keadaan Alina pun perlahan mulai membaik.


"Alina.. makanlah dulu." Ujar Arkan.

__ADS_1


"Aku sedang tidak berselera."


"Kau tidak ada makan dari pagi, setidaknya isilah perut mu walau sedikit."


"Tapi Arkan.."


"Sudahlah, jangan membantah!"


Alina pun akhirnya menuruti perintah Arkan.


Huft....


Sore berganti malam, Arkan masih berada di kontrakan Alina.


"Arkan.. ini sudah malam, sebaiknya kau pulang." Ujar Alina.


"Kau mengusir ku?" Arkan terlihat kesal.


"Arkan.. bukan begitu tapi kau sudah dari pagi disini."


"Bahkan kau meninggalkan pekerjaan mu." Jelas Alina.


"Aku sudah bilang aku akan menemanimu, Alina."


"Arkan, aku sudah baik-baik saja, sebaiknya kau pulang saja, aku ingin istirahat sendiri."


Arkan tak bergeming.


"Arkan..." Alina meraih tangan Arkan.


Arkan sekilas menatap ke arah Alina.


"Baiklah, aku akan pulang." Ucap Arkan, lalu Alina tersenyum.


"Terimakasih, sudah merawat ku." Ucap Alina.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku." Ucap Arkan.


"Tentu saja!" Ucap Alina.


"Baiklah, aku pulang dulu." Ucap Arkan lalu melangkahkan kakinya hendak keluar.


"Tidak usah mengantar ku sampai luar." Kata Arkan. " Kau istirahat lah!" Timpalnya.


Alina mengangguk dan perlahan Arkan mulai meninggalkan kediaman Alina.


Sementara di lain tempat, terlihat Alice yang sedang mengepalkan tangannya erat-erat.


"Jadi dia tidak masuk kantor hari ini?" Tanya Alice pada Dirga.


"Tuan pergi ke kantor nya nyonya tapi baru beberapa saat sampai di kantor nya, tuan pergi dan membatalkan pertemuan nya dgn klien." Tutur Dirga.


"Kemana dia pergi?" Tanya Alice.


Dirga sempat ragu menjawab, pria itu terlihat sedang berpikir.


"Cepat katakan, Dirga!" Bentak Alice.


"Tuan, pergi ke kontrakan wanita itu, Nyonya."


"Apaa?!"


"Kurang ajar!!!" Umpat Alice. "Ternyata dia masih berhubungan dengan wanita murahan itu!"


"Benar, Nyonya." Ucap Dirga sambil menundukkan kepala.


"Aku sudah tidak sabar untuk menghancurkan mu, Alina." Alice tersenyum licik.


"Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukanlah." Timpalnya.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Nyonya." Ujar Dirga.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih!"


__ADS_2