
Riri memasuki kelasnya dengan wajah bete. Gara-gara Tari, ia tadi nyaris bangun kesiangan dan semalam Riri juga tak sempat bikin pr.
"Pagi-pagi udah manyun aja, pasti belum bikin pr ya?" tebak Erwin, teman sebangku Riri.
Erwin paham betul sifat Riri yang biasanya selalu ceria kini duduk lesu di sebelahnya.
"Anak-anak, kumpulkan pr kalian sekarang." perintah bu Eli, guru matematika, ketika masuk ke kelas.
Riri terlihat gugup.
"Mamp*s gue!" gumamnya pelan.
"Nih!" Erwin memberikan sebuah buku tulis pada Riri.
Riri menatapnya tak mengerti.
Erwin tersenyum kalem. Riri lalu membuka buku tersebut, dan spontan menganga tak percaya.
"Lo bikin buat gue, Win?" tanyanya pada Erwin dengan wajah sumringah.
Dan sedetik kemudian Riri tersenyum manis saat Erwin mengangguk mengiyakan.
"Thanks ya Win. Lo emang temen gue yang paling sweet. I love you, masbro." Riri memeluk Erwin senang. Lalu ia bergegas mengumpulkan prnya yang dibuat Erwin.
"Aman." Riri mengelus dada lega setelah duduk kembali ke kursinya.
Erwin tersenyum geli melihat Riri.
"Lo ngapain lagi semalem sampai gak sempet bikin pr?" tanya Erwin pelan karna bu Eli sedang mengajar didepan kelas. Karna bangku mereka berada dibarisan paling belakang memang agak leluasa untuk ngobrol.
"Ada tetangga rese yang ngekorin gue dari pulang sekolah kemaren." jawab Riri, juga pelan.
Erwin menatapnya tak mengerti.
"Maksud lo?"
"Namanya Tari. Dia anak SMU Bakti Darma. Dari kemarin dia maksa-maksa gue nyari cowok di sekolahan kita."
Erwin masih menatap Riri, bingung.
"Katanya dia ketemu cowok ganteng disimpang dekat sekolah kita waktu pulang sekolah kemaren." Riri mulai bercerita.
"Dia penasaran banget ama tuh cowok. Love at the first sight deh katanya. Yang bikin gue bingung, gimana gue musti cari tuh cowok di sekolah segede gini?" keluh Riri sambil garuk-garuk kepala, bingung.
Erwin tersenyum.
"Lo pasti tau Tari yang gue maksud kan?" Riri menoleh ke arah Erwin yang langsung mengangguk.
"Iya. Kan sering ketemu dijalan. Anak SMU Bakti Darma di komplek lu cuma dia kan?!" kata Erwin.
Riri mengangguk. Kompleks perumahan tempat Riri tinggal memang tidak jauh dari sekolahan Riri. Tari yang sekolahnya beda dengan Riri sering melewati jalan dimana anak-anak sekolahan Riri juga lewat. Jadi wajar kalo Erwin sering bertemu Tari.
"Lo tanya gak gimana ciri-ciri cowok yang Tari maksud?" tanya Erwin.
"Justru itu yang bikin gue bingung, pusing plus mules." Riri jadi kesel sendiri bila ingat Tari yang memaksanya.
"Lo bayangin aja. Masak gue musti cari cowok yang sama sekali gue gak tau namanya. Bisa meler idung gue kalo harus natar satu per satu cowok ganteng di sekolah ini." Riri memijit kepalanya yang mulai nyut-nyutan.
"Ganteng, atletis, tinggi, keren... ahh, bikin pecah kepala gue aja. Dia kira cowok keren di sekolah ini cuma sebutir?" Riri ngedumel.
Erwin tersenyum geli.
"Lo lucu banget kalo lagi bingung gitu." kata Erwin sambil mengacak pelan rambut Riri.
Riri hanya menarik napas pasrah karna rambutnya berantakan.
Sudah tiga hari Tari tidak muncul di rumah Riri dan Riri amat sangat beruntung. Berarti untuk sementara dia aman dari celotehan gadis cantik itu.
Riri sedang mencuci piring ketika tiba-tiba,
"Hai, beb. I miss you!" suara cempreng yang amat sangat Riri kenal dan saat ini sangat ingin ia hindari kini muncul dengan wajah sumringah.
"Beb, gue udah tau nama cowok itu."
"Hmm!"
Tari membantu Riri menyusun piring yang sudah dicuci ke rak piring.
"Lo nanti cari tau tentang doi ya, beb. Hobinya apa, makanan favoritnya, rumahnya dimana...?"
"Kenapa gak lo tanya sendiri aja?" usul Riri.
"Malu beb..."
"Malu gimana? Kan udah kenalan?" tanya Riri tak mengerti.
"Gue belum kenalan sama doi."
"Loh... lo tau nama cowok itu dari siapa?" Riri menatap Tari bingung.
__ADS_1
"Dari sahabat gue disekolah, ternyata dia masih saudara jauh sama Erwin."
"Erwin?"
Tari mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Nama cowok itu Erwin Rahadi. Kemarin pas gue main ke rumah Sella, sahabat gue. Gak sengaja gue lihat ada foto si ganteng itu di album keluarga Sella."
"Ooo.." Riri mengangguk paham.
"Kalo Erwin Rahadi sih gue kenal, kenal banget malah." katanya.
Tari menatap Riri surprise.
"Seriously?"
"Yes of course! Dia temen sebangku gue."
"Kalo gitu, lo mau dong kenalin gue sama doi."
Tari menatap Riri penuh harap.
Riri pun mengangguk mantap.
"Yes. Akhirnya gue bisa kenalan sama cowok ganteng." Tari berjingkrak kegirangan.
"Kayak gak pernah punya temen ganteng aja lo. Apa kabar Alfan, Budi, Dodit, dll dll?" cibir Riri, geli seraya nyindir si sohib.
"Eh, yang ini gantengnya beda, beb." bantah Tari.
"Beda apanya? Masih gantengan Andre kok." sahut Riri.
Tari menoel kepala Riri, keki.
"Itu sih kata lo, bucin." ejek Tari pada Riri yang sejak masuk SMU sudah naksir akut dengan kakak kelasnya, Andrean Aditama, yang juga teman Rangga, abang Tari.
Riri nyengir, malu.
"Sekarang lo kasih tau gue semuanya tentang Erwin Rahadi, beb." pinta Tari ketika mereka tiduran di kamar Riri.
"Erwin cowok terkalem di kelas gue. Dia juga agak sedikit pendiam."
"Apa doi punya gebetan di sekolah?" tanya Tari ingin tau.
Riri menggeleng.
"Erwin gak punya temen deket cewek. Dan kayaknya dia agak tertutup dengan masalah itu."
"Mungkin?!"
Tari menatap Riri lekat.
"Lo bilang Erwin gak punya temen cewek..."
"Iya." jawab Riri mantap.
"Lah, elo...cewek apa cowok? Aduh!" Tari meringis ketika Riri menimpuk kepalanya dengan bantal.
"Menurut lo???" mata belok Riri melotot Tari tajam.
Tari pun ngakak.
*
*
*
Riri menyikut Erwin dengan pelan seolah takut mengganggu pemuda itu hilang konsentrasi saat menulis catatan yang ada di papan tulis.
"Ada apa?" tanya Erwin pelan tanpa menoleh ke arah Riri.
"Lo masih ingat Tari?" Riri balik berbisik.
"Iya. Kenapa?"
"Cowok yang Tari maksud itu ternyata elo."
Erwin memandang Riri tak paham.
"Lo kenal gak sama Sella Andini?"
"Anak SMU Bakti Darma?"
"Iya."
Erwin mengangguk.
" Sella teman Tari, dan Tari lihat foto lo waktu main ke rumah Sella."
__ADS_1
"Terus?"
"Sella yang kasih tau Tari nama lo."
Erwin mengangguk mengerti.
"Lo mau gak ketemu Tari. Dia pengen banget kenalan ama lo." kata Riri.
Erwin diam.
"Tari ngajak gue ke dojang lo sore ini. Lo latihan kan?" Riri menatap Erwin lekat. Dilihatnya Erwin menarik napas berat.
"Gak usah malu, nanti gue temenin kok." kata Riri lagi seolah tau apa yang Erwin pikirkan.
"Sok tau!" Erwin mengacak rambut Riri yang langsung merengut masam. Rambutnya berantakan lagi.
Riri merapikan rambutnya dengan tangan. Erwin mengacaknya lagi. Riri memukul keras bahu tegap Erwin yang hanya meringis.
"Ntar sore lo latihan jam berapa biar gue bilang ke Tari." kata Riri saat jam istirahat dimana dia dan Erwin sedang duduk menikmati bakso di kantin sekolah.
"Ntar gue chat lo."
"Lo chat Tari aja ya? Kuota gue abis." Riri nyengir.
Erwin mengacak rambut Riri, gemes.
"Mulai deh!" Riri mencubit lengan Erwin yang spontan mengaduh kesakitan.
Tak lama, Dela dan Helmi ikutan bergabung.
"Mesra terouss...kayak yang punya dunia aja lo berdua." Helmi menggoda Riri dan Erwin.
"Sembarangan. Elo tuh pacaran terus gak liat tempat." Riri menoel kepala Helmi.
"Loh, kita kan emang pacaran. Elo berdua, pacaran enggak tapi udah ngalahin Romeo n Juliet mesranya." olok Helmi lagi.
Riri mencibir sebel. Erwin dan Dela hanya tersenyum geli melihat Helmi dan Riri.
"Ri, liat deh di belakang lo." bisik Dela.
Riri pun menoleh ke belakang, dan segera berbalik kembali menghadap Helmi dan Dela yang duduk didepannya.
Erwin yang duduk di sebelah Riri ikut menoleh. Lalu dengan santai Erwin merangkul bahu Riri.
"Ntar sore aku tunggu kamu di dojang ya, Yank. Jam setengah 4, jangan lupa." Erwin merapikan anak rambut Riri, mesra.
Riri diam menatap Erwin. Dia bingung mengapa Erwin tiba-tiba jadi alay. Sedangkan Dela dan Helmi nyaris tersedak menahan tawa melihat ulah Erwin.
"Lo... kenapa jadi alay gini, Win?" tanya Riri setengah berbisik. Dia tidak mau orang yang tadi Dela maksud, yang kini duduk tak jauh dibelakangnya mendengar percakapan mereka.
"Makannya jangan belepotan gini, Yank. Tapi kamu tetep manis kok." Erwin masih dengan gaya alaynya membersihkan mulut Riri.
Wajah Riri bersemu merah. Perasaannya bingung dan malu bercampur aduk.
"Gue mau balik ke kelas." Riri buru-buru berjalan menuju kasir. Erwin mengikutinya.
"Berapa bu?"
"Biar gue yang bayar." Erwin membayar makanan mereka dan menyusul Riri yang duluan keluar dari kantin.
Sesampai di depan kelas Erwin tertawa ngakak. Dari tadi ia menahan tawanya melihat betapa Andre nampak benar-benar kesal dengan ulahnya.
"Lo demam ya?" Riri yang dari tadi bingung dengan sikap Erwin langsung meraba kening cowok itu. "Gak panas kok?!"
Erwin masih ngakak sampai ia terbatuk-batuk. Riri spontan mengusap-usap dada Erwin.
"Kualat lo ngerjain gue." katanya.
Erwin terkekeh geli.
"Gue bukan ngerjain lo, gue ngerjain Andre. Coba aja lo liat tadi mukanya kesel banget. cemburu tuh."
Erwin ngakak lagi.
"Rese' lo. Bikin malu gue aja." Riri merengut.
"Gue cuma kasih dia pelajaran aja kok."
"Pelajaran apa? Pasti Andre sekarang mikir macem-macem tentang gue." Riri nampak sedih.
"Mikir apaan? Justru dia yang harus dibuka mata hatinya biar gak seenaknya perlakukan lo." Erwin tampak sedikit emosi.
Riri menatap Erwin tak mengerti.
"Apa maksud lo?"
Erwin tidak menjawab. Dia hanya diam dan masuk ke dalam kelas. Riri mengikutinya.
"Win..."
__ADS_1
"Udah, ntar sore gue tunggu lo di dojang." kata Erwin memutuskan percakapan. Bel masuk berbunyi dan pelajaran pun kembali dimulai.