Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 15


__ADS_3

Iyan pov


Pukul 15.10 wib.


Aku menunggu Riri didepan sekolah tempat Riri mengajar. Aku menjemput Riri karena permintaan mama Alvi, ibu dari sahabatku Erwin Rahadi. Aku memang sangat dekat dengan beliau, sama seperti Erwin Aries, yang notabene pacar Rani, adik Erwin.


flashback on


"Apa? Riri hampir tertabrak? Kenapa bisa begitu, Yan?" mama Alvi terkejut ketika aku menemui beliau dan menceritakan tentang Riri, menantunya.


"Kelihatannya Riri sedang melamun, Ma. Soalnya dia nyebrang gak lihat kiri-kanan." jawabku apa adanya.


Mama Alvi menggeleng-geleng kepalanya pelan.


"Mama gak tau apa yang Riri pikirkan. Semenjak meninggalnya Erwin dia kini lebih suka melamun. Dia juga tidak pernah mengeluh ataupun bercerita tentang apapun, tidak seperti waktu Erwin masih ada. Riri sekarang jadi seorang yang tertutup."


"Mungkin dia masih teringat almarhum, Ma."


"Mungkin!" mama Alvi mengangguk.


"Tapi mama kasihan melihat Riri. Mama gak mau ia terlalu larut dalam kesedihannya. Dia masih muda, masa depannya masih panjang."


Aku hanya diam mendengar curahan hati mama Alvi tentang menantu yang sangat disayanginya.


"Apalagi saat ini Riri tengah mengandung, mama benar-benar khawatir sama dia." mama Alvi menatapku lekat. Aku pun balik menatap mama, bingung.


"Kenapa lihat Iyan begitu, Ma?" tanyaku bingung.


"Iyan mau gak bantu mama?"


"Kalo Iyan bisa pasti Iyan mau bantu mama." janjiku.


Mama Alvi tersenyum.


"Iyan harus bantu mama menjaga Riri."


"Maksudnya, Ma?" tanyaku tak mengerti.


"Iyan mau gak jadi bodyguardnya Riri selama Riri hamil. Habis mama sering gak tega lihat Riri kemana-mana sendirian dan dia juga sering gak fokus bila sedang melakukan sesuatu." ujar mama Alvi sedih.


Aku garuk-garuk kepalaku yang tak gatal, bingung harus ngomong apa.


"Iyan gak mau ya?" mama menatapku sedih.


"Bukannya gak mau, Ma... Apa mama sudah bicarakan masalah ini sama Riri?"


"Belum sih. Mama baru kepikirannya sekarang." mama Alvi nyengir.


Aku terdiam.


"Udah, soal Riri setuju apa nggak kita pikirin nanti. Yang penting sekarang kamu tolong mama jemput Riri pulang dari mengajarnya. Kasihan dia capek kalo kelamaan nunggu angkot." kata mama Alvi.


flashback off


Dan dengan memberanikan diri kuajak Riri pulang bersamaku. Awalnya dia kaget melihatku dan tak percaya ketika kukatakan kalo aku sengaja menunggunya pulang dan menjemputnya. Dengan terus terang Riri menyuruhku pulang dan menolakku untuk mengantarnya. Aku tersenyum geli bila teringat wajah Riri yang melongo bingung dan tingkah spontannya yang langsung mengelap bibirnya ketika kukatakan kalau ilernya jatuh.


"Lucu juga bini lo, bro. Bisa juga dia bikin aku terbahak kayak orang gila."


Ku pandang foto yang ada dimeja kerjaku. Fotoku bersama dua sahabatku, Erwin Rahadi dan Erwin Aries.


Cast Iyan



🌷🌷🌷


Riri merengut kesal. Dia benar-benar kesal dengan Iyan karena telah memaksa untuk mengantarnya pulang. Riri turun dari motor Iyan dengan wajah cemberut.


"Assalamualaikum!" tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah, Riri masuk kedalam rumah tanpa mempersilahkan Iyan masuk.


"Wa'alaikumussalam. Udah pulang, Sayang? Iyan mana?" tanya mama Alvi yang baru keluar dari dalam kamarnya. Riri mencium tangan mama mertuanya.


"Ada diluar!"


Tanpa memperdulikan wajah mama Alvi yang memandangnya penuh keheranan, Riri masuk kekamarnya.


"Mendingan aku mandi daripada harus berbasa-basi dengan si bapak rese'."


Setelah menaruh tasnya Riri langsung masuk kekamar mandi.


Diteras rumah,


"Iyan masuk dulu yuk, kita makan malam bareng." ajak mama Alvi.


"Gak usah, Ma. Iyan masih kenyang." tolak Iyan halus.


"Ayolah, nak Iyan. Sudah lama kita gak makan bareng." papa Adi keluar dari dalam rumah.


Akhirnya Iyan makan malam dirumah mama Alvi diiringi tatapan tajam dan muka masam Riri yang ditujukan padanya.


Riri pov


"Kenapa bapak rese' ini makan disini sih? Bikin napsu makanku ilang aja."


Aku menatap kesal sosok sahabat suamiku itu. Melihatnya yang nyengir sambil memamerkan giginya yang putih rapi, membuatku makin gedek melihatnya. Buru-buru kuhabiskan makanku agar cepat masuk kekamar dan tidak melihat wajah bapak rese' ini lagi.


Papa dan mama heran melihat ku makan dengan terburu-buru.


"Makannya pelan-pelan sayang nan..."

__ADS_1


uhukk! uhukk!


Belum selesai mama Alvi bicara aku sudah tersedak lebih dulu.


"Minum dulu, sayang." mama menyodorkanku segelas air. Diusapnya punggungku pelan.


Aku segera menghabiskan air minumku hingga tandas.


"Ma, Pa, Riri ke kamar dulu ya." pamitku kemudian.


Aku semakin kesal melihat bapak rese' itu menertawakanku sambil pura-pura membuang muka ke arah lain.


"Apa kamu lagi banyak kerjaan, Ri? Sini papa bantu, kalo hanya memeriksa pekerjaan sekolah papa bisa." papa Adi pun beranjak dari duduknya.


"Gak usah Pa, makasih. Riri hanya mau istirahat, capek."


"Ooh... ya sudah. Selamat beristirahat, ya!"


"Selamat malam, Ma, Pa." Aku tersenyum manis pada kedua mertuaku yang sudah kuanggap seperti orangtuaku sendiri.


"Selamat malam, sayang."


Aku bergegas masuk kekamar. Entah kenapa aku bisa begini kesal dengan orang itu.


"Dasar tapai rese'!!! Ishhhhh!!!" Aku mengumpat tak ada habisnya.


autor pov


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan pelan dipintu kamar mengagetkan Riri. Dengan perlahan Riri membuka pintu kamarnya. Dan,


"Aishhhhh!"


Riri menarik napas kesal.


"Mau apa anda kemari? Nggak tau ini kamar saya?" tanya Riri ketus pada sosok yang berdiri tegap didepan pintu kamarnya sambil tersenyum kalem.


"Aku disuruh mama mengantarkan ini dan harus menunggumu meminumnya sampai habis." Iyan menyodorkan segelas susu pada Riri yang mengambilnya dengan wajah yang nampak sangat kesal sekali.


Riri terpaksa meminum susunya karena Iyan menunggunya seperti yang mama Alvi suruh.


"Huekkk!!!"


Mual Riri kumat. Dia memang tidak suka susu tapi ia terpaksa minum karena itu susu untuk kehamilannya biar bayinya sehat nanti.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Iyan cemas. Tangannya refleks memijat tengkuk Riri.


Dengan cepat Riri menarik tangan Iyan dan menghempasnya.


"Saya tidak apa-apa. Saya mual karena... harus melihat wajah anda disini. Jadi saya mohon anda lekas pergi dari hadapan saya." Riri menaruh gelas bekas susu ditangan Iyan.


Riri menghempaskan pintu kamarnya tepat didepan Iyan.


"Bunyi apa tadi, Yan?" tau-tau mama Alvi sudah berdiri didekat Iyan yang masih terpaku bengong didepan pintu kamar Riri.


"Hahh! Ehh... gak pa-pa, Ma. Iyan permisi pulang dulu, Ma, mau istirahat soalnya besok mau apel pagi." Iyan pamit dan bergegas keluar rumah.


"Yan! Iyan mau ya bantu Mama!" mama Alvi menatap Iyan penuh harap.


Iyan garuk-garuk kepala, bingung. Iyan tau Riri tidak suka padanya.


"Tapi Riri kayaknya gak suka kalo Iyan dekat-dekat dia, Ma. Tadi aja dia mau muntah lihat Iyan."


Mama alvi tersenyum geli.


"Riri bukan muntah lihat kamu, tapi dia memang tidak suka minum susu makanya kalo minum susu bawaannya pasti mual." jelas mama Alvi. Iyan bengong.


"Tapi tadi Riri bilang kalo dia mual karena lihat wajah Iyan, Ma." kata Iyan sendu. Entah kenapa hatinya kecewa karena Riri nampak begitu membencinya.


"Masak sih Riri ngomong gitu." mama Alvi bingung dengan sikap aneh menantunya.


"Biasanya Riri gak pernah loh bersikap arogan gitu, Yan. Apa ini bawaan baby, ya?" mama benar-benar tak habis pikir.


Iyan mengangkat bahu, tak tau. Sebagai pria single yang belum menikah meski umurnya sudah dua puluh delapan tahun Iyan memang tidak tau apa-apa masalah ibu hamil.


Huffh!!!


Riri menarik napas panjang saat melihat siapa yang sudah menunggunya di teras rumah.


"Riri sayang, mulai hari ini mama mau kamu biarkan Iyan mengantar dan menjemput kamu ya?" pinta mama.


"Iya, Ri. Biar mama dan papa tenang kalo ada yang jaga kamu." sambung papa.


"Pa, Ma, Riri bukan anak kecil Riri bisa kok jaga diri."


"Tapi kamu lagi hamil, sayang. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa. Riri mau kan nurutin kata mama?" mama Alvi menghiba membuat Riri menghela napas berat.


"Terserah Mama!" Riri akhirnya mengalah. Ia tak tega melihat mertuanya khawatir padanya. Senyum manis tersungging di bibir mama dan papa. Sedangkan Iyan hanya tersenyum kecut.


Riri melirik kearah Iyan yang sedari tadi diam saja.


"Ayo Pak Iyan, tolong antar saya segera. Saya gak mau terlambat mengajar."


"Siap, bu guru!" sahut Iyan cepat dan buru-buru naik kemotornya. Riri juga naik keboncengan Iyan. Tapi ia tidak mau berpegangan pada Iyan yang juga tidak segera menstarter motornya.


"Buruan jalan. Nanti terlambat." kata Riri sarkis.


"Kalo kamu gak berpegangan sama aku, nanti kamu jatuh loh." ujar Iyan.

__ADS_1


"Saya sudah biasa naik motor pak Iyan, jadi anda tak perlu khawatir. Saya janji saya gak akan jatuh." sahut Riri pelan.


Sebenarnya dia ingin sekali marah-marah pada bapak satu ini, tapi itu tidak mungkin karena mama dan papa masih berdiri didekat mereka.


Iyan mengangkat bahu. "Terserah!"


"Riri berangkat dulu, Ma, Pa!" Riri pamit setelah mencium tangan kedua mertuanya.


Iyan ikutan pamit dan mencium tangan kedua ortu sahabatnya yang juga sudah dianggapnya seperti ortu sendiri.


"Nanti saya pulang sendiri saja. Pak Iyan tidak perlu jemput saya." kata Riri setelah mereka sampai digerbang sekolah.


"Terima kasih!" ucapnya lagi setelah ia turun dari motor Iyan. Tanpa banyak kata lagi Riri langsung masuk kedalam sekolahan.


Iyan hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah Riri yang kekanak-kanakan.


"Kenapa aku bisa terlibat lebih dalam dengan wanita ini ya?"


Iyan melajukan motornya menuju kantor.


" Pagi, bro!" beberapa kawan Iyan menyapanya ketika Iyan melangkah masuk keruangannya.


Iyan hanya tersenyum ramah membalasnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


"Dan, ini laporan yang kemarin anda minta." Bripda Ayu memberikan berkas laporan pada Iyan yang langsung mengecek laporan itu.


"Tolong kamu panggilkan Briptu Erwin Aries dan Briptu Ega kemari." perintah Iyan.


Segera Bripda Ayu melaksanakan perintah atasannya, Bripka Risyan Suwandi.


Taklama, Briptu Erwin Aries dan Briptu Ega masuk. Mereka pun segera berunding untuk memecahkan kasus yang mereka hadapi sekarang.


"Tolong gue dong, Dek. Gue gak bisa nolak permintaan mama." Iyan memohon pada Erwin Aries, yang dipanggilnya adek karena memang ia menganggap Erwin seperti adiknya sendiri.


Adek garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia ikut pusing dengan permasalahan pribadi komandannya, Risyan Suwandi.


"Gimana ya bang, gue juga bingung kenapa mama bisa nyuruh abang jadi bodyguardnya Riri yang terang-terangan menolaknya." kata Adek bingung.


Iyan menatap Adek lekat.


"Eh dek, Riri tuh orangnya jutek ya?" tanyanya kemudian membuat adek mengernyit bingung.


"Maksud abang?"


"Dia blak-blakan bilang ke gue kalo dia rasanya pengen muntah kalo liat gue." curhat Iyan. Adek menatap Iyan tak percaya.


"Masak sih, bang. Rasanya gak mungkin deh kalo Riri judes gitu sama orang. Apalagi orang yang sudah menolongnya." Adek geleng-geleng kepala, gak yakin.


"Lo kenal ya dek sama Riri?" Iyan menatap tajam Adek meminta penjelasan.


"Gue kenal Riri waktu dia masih SMA. Riri dan Ewin dulu teman sebangku. Sikap cuek dan blak-blakannya itu yang bikin Ewin cinta mati sama dia. Tapi Riri gak jutek sama orang kalo orang itu tidak mengganggunya."


"Lo kayaknya deket banget ya sama Riri, Dek?"


"Gue emang deket sama Riri sejak awal kami berkenalan."


"Ewin yang mengenalkan kalian?"


"Ya iyalah. Riri kan dulu sahabat Ewin disekolah sebelum mereka sama-sama sadar kalo ternyata mereka berdua tuh saling cinta."


Iyan nampak tertarik mendengar cerita Adek tentang Riri.


"Terus? Terus?"


"Riri tuh selain tomboy juga lucu banget. Gak jaim anaknya juga apa adanya. Dia juga baik loh, bang."


"Oh ya?"


"Coba abang pikir, kira-kira ada gak orang yang mau putus dengan pacarnya demi sahabatnya yang juga suka sama pacarnya?"


"Sepertinya gak ada makluk yang namanya manusia bisa seikhlas itu demi sahabatnya." Iyan menggeleng tak yakin.


"Ada, bang. Manusia itu namanya Riri. Dia rela mutusin Ewin demi sahabatnya, Tari."


"Masak sih?"


"Iya. Malahan Riri memaksa Ewin agar pacaran sama Tari."


"Terus? Ewin mau?" tanya Iyan yang yakin banget kalo Ewin mau pacaran sama Tari.


"Ewin tuh cinta pertamanya dan cinta matinya sama Riri. Sejak diputusin Riri, Ewin gak pernah pacaran dengan siapapun sampai mereka berdua dipertemukan lagi hingga mereka menikah."


"Apa Riri juga tidak pernah pacaran lagi selain dengan Ewin, dek?"


Adek mengangguk mengiyakan. Tanpa sadar Iyan menggelengkan kepalanya, takjub.


"Gue kira cerita lo hanya ada di novel atau ftv aja Dek, ternyata ini kisah nyata." ujar Iyan, salut.


" Ini bukan roman picisan, bang. Tapi kalo aja ada sutradara yang tau kisah cinta mereka, pasti langsung diangkat ke layar kaca." sahut Adek, lebay. Dengan mantap Iyan mengangguk setuju dengan pemikiran Adek.


"Kasihan Riri. Cinta sejatinya telah meninggalkannya untuk selamanya. Untung saja benih yang ditanamnya tumbuh diwaktu yang tepat."


Timbul iba dihati Iyan pada Riri, istri dari sahabatnya, Erwin Rahadi, yang telah meninggalkan dunia dan seluruh orang yang dikasihi dan dicintainya.


Akankah dari simpati timbul menjadi 'rasa' di hati? So, kita tunggu aja ya lanjutannya!" 😉

__ADS_1


__ADS_2