
Hampir satu bulan Iyan menjalankan tugas dari mama Alvi untuk menjaga Riri.
Meski awalnya Riri sempat menolak dan selalu bersikap sinis padanya dan selalu diam bila diajak berbicara, akhirnya Riri mau juga merespon perkataan Iyan meski hanya beberapa kata saja.
Pagi ini, Riri sarapan agak santai dari biasanya. Iyan yang baru saja datang untuk menjemputnya heran melihat Riri yang selalu terburu-buru bila mau berangkat mengajar.
"Tumben makannya santai, Ri, biasanya mau cepet-cepat terus." Iyan mengernyit heran.
"Hari ini anda tidak perlu mengantar saya, Pak Iyan. Saya berangkat ngajarnya agak siang soalnya saya mau ke dokter dulu."
"Kamu sakit?" tanya Iyan, cemas.
'Pantesan Riri makannya pelan rupanya dia sedang sakit.'
"Saya hanya mau periksa kandungan saya." jawab Riri datar.
"Kalo gitu aku antar kamu ke dokter."
"Gak usah. Nanti pasti bakalan lama dan pak Iyan harus kekantor, kan?" tolak Riri.
"Saya bisa minta izin setengah hari." kata Iyan.
Riri menarik napas panjang.
"Pak Iyan, saya tidak mau mengganggu privasi anda. Seandainya istri anda tau anda sedang bersama saya memeriksa kandungan saya, pasti dia akan berpikiran yang tidak-tidak tentang kita."
"Kalo aku sih gak merasa terganggu ya, soalnya aku belum punya istri." jawab Iyan santai.
"Tapi... anda pasti punya pacar, kan? Bagaimana tanggapan pacar anda..."
"Aku juga tidak punya pacar." jawab Iyan lagi dengan cepat.
Riri menepuk jidatnya, lemas.
"Berarti anda tidak laku alias jomblo akut." kata Riri pelan.
"Haahh!!!" Iyan melongo.
Riri hampir terbahak melihat tampang abstrak Iyan, untung saja ia bisa menahannya.
Dengan tenang Riri melewati Iyan yang masih terperangah, bego.
" Ayo Pak Iyan, kita berangkat sekarang." ajak Riri menyadarkan Iyan.
"Ahh... ehhh... ayo!" Iyan gelagapan, lalu buru-buru menyusul Riri yang lebih dulu berjalan keluar.
Mata Riri berkaca-kaca melihat janin yang ada diperutnya melalui USG.
"Lihatlah Bib, calon anak kita. Dia yang akan menggantimu menemaniku baik suka atau pun duka."
"Kandungan ibu sehat dan untuk itu ibu harus menjaganya lebih baik lagi. Ibu juga harus selalu memperhatikan makanan untuk ibu dan bayi. Dan bapak sebagai suami harus mendampingi dan memperhatikan istri anda lebih ekstra. Anda harus menjadi suami yang siaga agar istri dan anak anda sehat semua." kata dokter Deni sp.Og.
Riri dan Iyan saling pandang.
"Ada yang mau ditanyakan, pak? ibu?" Dokter Deni menatap Riri dan Iyan bergantian.
"Ehh... eee... tidak dok, saya akan mengikuti anjuran dokter." ucap Iyan membuat mata Riri hampir keluar karena melototinya.
Dokter Deni tersenyum bijak.
"Bagus. Semoga semua lancar hingga persalinan nanti." kata Dokter Deni lagi.
" Makasih Dok!" Iyan membantu Riri bangun dari duduknya dan merangkulnya keluar dari ruang pemeriksaan.
Riri mengibas tangan Iyan yang merangkulnya setelah mereka keluar dari ruangan dan menatapnya tajam.
"Kenapa anda berkata seperti itu pada dokter tadi, pak Iyan? Anda bukan siapa-siapa saya. Dan saya sangat keberatan dengan itu."
"Aku mengatakan apa yang seharusnya Ewin katakan. Karena Ewin sudah tidak ada lagi bersama kita, jadi aku yang akan menjagamu juga seluruh keluarganya yang lain. Mama, Papa, Sarah dan Rani. Termasuk calon bayi yang ada didalam kandunganmu." Iyan menatap Riri dalam.
"Aku tau kamu membenciku. Tapi aku tak peduli karena aku sudah berjanji akan menjaga kamu." kata Iyan lagi.
"Terserah!" Riri sedang tak ingin berdebat. Ia pun segera melangkah keluar dari rumah sakit menuju parkiran diikuti Iyan dibelakangnya.
Riri pov
Aku benar-benar tak habis pikir dengan ayot rese' ini. Dengan santainya dia bilang pada dokter itu bahwa dia akan menjagaku dan calon anakku.
" Kenapa anda berkata seperti itu pada dokter tadi, pak Iyan?" aku butuh penjelasan ayot rese' ini sekarang. Tapi jawabannya benar-benar bikin aku kesal.
"Aku ingin menjaga seluruh keluarga Ewin, termasuk kamu dan calon anak Ewin." katanya dengan pandangan mata tajam padaku.
"Dia kira dia itu siapa seenaknya saja berkata seperti itu. Apa dia pikir aku bakalan mau menuruti apa katanya? Gak akan pernah!!!"
"Terserah!" aku pun segera pergi tanpa menunggunya.
Percuma aku membuang-buang masa untuk berdebat dengannya. Gak bakalan didengernya juga.
"Dasar kepala batu!"
Iyan pov
"Tolong jaga Istri gue, bro. Gue titip dia!"
hufhh!!!
Aku mengusap wajahku saat teringat pesan terakhir Ewin sebelum meninggal.
flashback on
Brakkk!!!
"Diam ditempat! Angkat tangan kalian." Teriakan diam ditempat membuat orang-orang yang ada diruangan itu yang semula hendak berhamburan kabur akhirnya hanya bisa berdiam pasrah.
Penggebrekan pesta sabu yang berada disebuah rumah kos dipimpin langsung oleh Kasatresnarkoba, Bripka Risyan Suwandi.
Salah satu dari pelaku ada yang nekad melarikan diri dari pintu belakang dan langsung dikejar oleh beberapa anggota tim satresnarkoba.
__ADS_1
Setelah anggota melepaskan tembakan peringatan pelaku itu akhirnya berhenti berlari dan langsung mengangkat tangannya tanda menyerah.
Dan sewaktu Briptu Erwin Rahadi hendak memborgol pelaku, tiba-tiba pelaku berbalik melawan dengan langsung menikam tepat di dada Erwin yang tak sempat mengelak.
Dorrrrr!!!
Pelaku langsung ambruk setelah sebutir timah panas ditembakkan oleh salah satu anggota yang berada di tkp.
"Ewinnn!!!"
Iyan menghambur merengkuh tubuh lemah Erwin yang bersimbah darah.
"Bro... gue... titip Riri. Tolong jaga... dia dengan... se... genap... jiwa... lo." Erwin pergi tanpa memberi kesempatan Iyan untuk menjawab permintaannya.
flashback off
"Gue janji, bro! Gue akan menjaga amanat lo dengan segenap jiwa dan raga gue. Meskipun nanti akan banyak rintangan yang akan gue hadapi, tapi gue akan melakukannya dengan baik. Lo yang tenang disana ya, bro. Serahkan masalah Riri sama gue." ucap Iyan dalam hati.
Iyan sadar akan banyak rintangan yang akan dihadapinya, terutama dari Riri sendiri.
🎵Kan kuabaikan segala hasratku
agar kau pun tenang dengannya
kupertaruhkan semua ragaku
demi dirimu bintang
Biarkan ku menggapaimu
memelukmu, memanjakanmu
tidurlah kau dipelukku,
dipelukku, dipelukku
Biarku pendam segala hasratku
tuk miliki dirimu
karena semua telah tersiratkan
dirimu 'kan milikku
Biarkan kumenggapaimu,
memelukmu, memanjakanmu
tidurlah kau dipelukku,
dipelukku, dipelukku
Hingga kau mimpikan aku
mimpikan kita, mimpikan kita
jangan pernah kau terjaga
Iyan berusaha menahan debaran didadanya ketika Riri muncul dari gerbang sekolah tempat ia mengajar.
Sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit Riri berjalan pelan sambil sesekali menyeka keringat yang mengalir dipelipisnya dikarenakan cuaca yang cukup menyengat.
Iyan melangkah melangkah menghampiri Riri yang terlihat cukup repot membawa buku tugas yang akan diselesaikannya dirumah.
"Sini biar aku yang bawa." Iyan mengambil buku-buku yang ada ditangan Riri. Lalu dengan lembut dan perlahan dituntunnya Riri kearah mobilnya.
"Tumben bawa mobil, biasanya juga naik motor." kata Riri heran melihat Iyan menjemputnya dengan mobil.
"Perutmu tuh udah mulai besar, susah nanti kamu duduknya kalo naik motor." jawab Iyan setelah membuka pintu mobil dan menyuruh Riri masuk.
Iyan pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan mengantarkan Riri pulang.
Sudah enam bulan usia kehamilan Riri. Dan selama itu pula Iyan selalu mendamping Riri dan menyempatkan waktunya untuk menemani Riri memeriksakan kandungannya.
Riri yang dulu jutek dan tak suka bila Iyan datang menjemputnya dan selalu memaksa mengantarnya pulang perlahan mulai menunjukkan sikap simpatik pada Iyan.
Mereka kini terlihat lebih santai bila berbicara. Riri sadar kalo Iyan tulus membantunya.
"Besok jadwal kamu periksa kandungan kan, Ri?" Iyan mengingatkan Riri. Memang Iyan hapal jadwal Riri periksa karena sejak awal periksa Iyan lah yang selalu menemaninya.
"Iya. Kamu gak sibuk, kan?" Riri menoleh pada Iyan yang tengah menyetir.
"Kalo kamu sibuk biar aku pergi sendiri aja." kata Riri lagi tak mau merepotkan Iyan terus.
"Aku besok udah izin setengah hari." kata Iyan santai.
Riri termangu.
"Ri?" Iyan menepuk punggung tangan Riri pelan menyadarkan Riri dari renungannya.
"Aahhh... aku... malu terus merepotkan kamu, Yan." ujar Riri pelan.
Iyan tersenyum.
"Kamu tenang aja, aku gak merasa direpotkan kok."
"Tapi kamu hampir tiap bulan loh nemenin aku ke dokter, apa kamu gak malu?"
"Loh... malu kenapa?" tanya Iyan tak mengerti dengan maksud perkataan Riri.
"Kamu itu masih bujangan, Yan. Apa kamu gak malu jalan sama aku yang lagi bunting gini?"
Iyan tertawa pelan.
"Kenapa harus malu? Aku kan gak lagi jalan sama istri orang. Biar lagi bunting kamu jomblo juga, kan?" Iyan mengerling menggoda Riri yang spontan merengut mendengar Iyan menyebutnya jomblo.
"Gue janda, bro. Yang jomblo tuh elo, bambang!" ralat Riri.
__ADS_1
Iyan ngakak. Dia suka dengan Riri yang sekarang. Riri yang supel, cerewet, dan apa adanya.
"Janda kan jomblo juga, maemunah!" sahut Iyan gemes sambil mengacak rambut Riri.
Riri merengut kesal.
"Kenapa sih semua orang suka banget mengacak-acak rambutku. Demen banget liat aku kucel." sungut Riri sambil merapikan rambutnya yang berantakan diacak Iyan.
Iyan terkekeh geli.
"Habis kamu lucu banget kayak omas. Hahahaha..." Iyan ngakak abis.
"Iye... lo masturnya." umpat Riri kesel.
Iyan makin keras tawanya.Tubuhnya sampai bergetar kuat.
Riri menghela napas.
"Udah ketawanya, fokus nyetir. Kamu gak mau mati dalam keadaan jomblo kan?"
"Ishhhh... amit-amit!" Iyan menepuk kepala dan lututnya bergantian mendengar celoteh Riri.
"Hahahahhaha....!" gantian Riri yang ngakak.
Skor adu ngeyel berakhir satu sama. Hari-hari Riri mulai berbunga lagi. Setelah dulu sempat layu dan mati karena ditinggal pergi selamanya oleh suami tercinta, kini bunga dihati Riri tumbuh kembali sejak kehadiran Iyan, sahabat dari almarhum suaminya. Perlahan kehadiran pemuda itu mulai mewarnai hari-hari Riri.
🎵Sungguh hatiku rasa sepi
bagai malam tanpa rembulan
tiada bintang menemaniku
gelap dan dingin menyiksaku
Adakah seseorang disana
yang akan menemani hidupku
yang benar-benar mencintaiku
menerima kekuranganku
Harus merindukan siapa
kekasih pun aku tak punya
kuingin seperti lainnya
hidup bahagia penuh cinta
Bilakah datang kepadaku
seorang yang mencintaiku
sudah cukup terlalu lama
sepi di kesendirianku🎶
Tak terasa menitik airmata Riri meresapi makna lagu yang mengalun merdu diradio mobil yang dipasang Iyan.
"Kamu gak pa-pa, Ri?" tegur Iyan melihat Riri yang terpaku cukup lama.
Riri pura-pura mengusap wajahnya, pelan.
"Lagunya enak didenger." Riri berusaha menyembunyikan perasaannya yang tiba-tiba terasa begitu sepi.
"Kamu ingat Ewin ya?" tanya Iyan pelan.
Riri menatap Iyan yang duduk diseberangnya.
Mereka tadi singgah makan bakso setelah pulang dari memeriksa kehamilan Riri.
"Tiap saat aku selalu ingat Ewin. Selamanya dia akan selalu dihatiku. Apalagi sekarang ada dedek." jawab Riri sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Iyan hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
*
*
*
Iyan mengacak-acak rambutnya gemes. Ia tak habis pikir atas apa yang telah terjadi dengan perasaannya.
"Gak beres ini gue. Bisa-bisanya gue meluk dia seperti itu." Iyan menggigit bibir bawahnya kesal. Dia memang selalu begitu bila sedang kalut.
Iyan takut Riri menganggapnya mencuri kesempatan dalam kesempitan.
flashback on
"Eh, elo Riri kan?"seorang wanita muda yang seumuran dengan Riri menghampiri meja dimana Riri dan Iyan tengah menikmati bakso dan asik bercerita melepas penat dari pekerjaan masing-masing.
"Elo...???" Riri berusaha mengingat orang yang menegurnya.
"Gue Sella, sodara Erwin." sahut wanita itu sambil memandang Riri, tajam.
"Ooohh... teman sekolah Tari juga kan?!" Riri tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya pada Sella. Tapi dengan kasar ditepis oleh Sella.
"Gue gak nyangka kalo istri Erwin begitu murahan. Baru saja Erwin meninggal lo udah jalan sama cowok lain, gak nyadar tuh perut lagi buncit? Benar-benar gak tau malu." kata Sella ketus. Dia juga mencibir seolah jijik melihat Riri.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Sella. Aku dan..."
"Ciiihh... sejak pertama gue denger dari Tari tentang lo, gue emang gak suka sama lo. Apalagi setelah gue tau lo ngerebut Erwin dari Tari, benar-benar lo wanita berhati ib***. Pacar sahabat sendiri lo ambil. Jijik gue liat lo." sinis Sella melihat Riri.
"Dan kamu... jangan mudah dirayu sama dia.
Dia itu sil**** yang menyamar. Dia paling pintar bersandiwara. Gue yakin lo pasti sudah dijampi-jampi sama dia, sama seperti dia melakukannya pada Erwin dan keluarganya." Sella terus mencaci Riri didepan Iyan.
__ADS_1
Riri yang memang mudah sensitif perasaannya selama hamil, kini tak mampu lagi menahan tangisnya. Airmatanya langsung mengalir begitu saja meski Riri menangis tanpa bersuara.
"Maaf, nyonya Sella. Saya tau siapa Riri, jadi anda tidak perlu menjelekkan dia didepan saya karena itu tidak berpengaruh atas sikap saya pada Riri. Dan saya rasa yang murahan itu anda. Anda telah menghina orang yang sama sekali anda tidak kenal. Anda hanya kenal dia dari teman anda dan anda pasti bertemu dia baru dua kali. Pertama waktu Riri menikah dengan Erwin karena anda dan Erwin masih saudara jauh, dan kedua hari ini. Itu pun awalnya anda sangsi kalau dia Riri atau bukan Dan bisa dipastikan anda tidak kenal Riri sama sekali. Jadi anda tidak berhak menghakiminya seperti itu."