
Mama Alvi membelalakkan matanya tak percaya mendengar penuturan Rani.
"Beneran Riri dan Iyan teman kecil, Ran?" tanya mama sangsi dengan cerita Rani tentang Riri dan Iyan.
"Beneranlah, Ma. Wiwin pernah lihat foto masa kecil Riri dan bang Iyan dirumah bang Iyan." jawab Rani jujur.
"Lucu loh Ma, foto Riri masih kecil."
"Masak sih?"
"He-eh! Imut banget, Ma." kata Rani lagi.
"Kapan-kapan mama pengen lihat ah foto Riri waktu masih kecil?!" mama Alvi jadi penasaran.
"Rani punya rencana oke, Ma."
Rani membisikkan rencananya ke mama yang manggut-manggut setuju.
"Rani atur aja sama Erwin. Sarah dan papa nanti biar urusan mama." mama menepuk pelan bahu anak bungsunya.
"Asiaaaap, mama sayang!"
Rani menghaturkan salam hormat dengan gaya lucu. Mama tertawa melihat gaya unik Rani, kemudian mereka pun saling berpelukan.
Tiga bulan setelah melahirkan baby Raihan, Riri kembali melakukan aktivitasnya mengajar. Iyan masih setia mengantar dan menjemputnya meskipun Riri masih juga sering menolaknya. Bahkan Iyan sering ikut menjaga baby Raihan bila sedang libur.
Tapi kali ini agak berbeda. Mama dan Rani mengantarkan baby Raihan kerumah Iyan.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam! Loh, mama dan Rani kok kesini? Baby Ray juga ikut?" Iyan heran melihat kedatangan mama Alvi dan Rani serta 'baby Ray', panggilan untuk baby Raihan.
"Iyan, mama titip baby Ray ya? Soalnya mama mau bantu Rani mengurus baju pengantinnya nanti." pinta mama pada Iyan yang memang sedang libur hari ini.
Iyan mengangguk.
"Mari baby... gendong sama ayah ya?" Iyan mengambil baby Ray dari mama Alvi.
Diciumnya gemes pipi tembem baby Ray yang terkekeh lucu khas baby.
"Nih tasnya baby Ray, bang. Mungkin kami agak lama perginya, bang Iyan bisa kan jaga baby Ray?" Rani memberikan sebuah tas berisi pakaian, diapers, susu dan segala pernak-pernik baby Ray.
"Setelah pulang mengajar Riri langsung kemari. Rani tadi udah bilang kok sama Riri." kata Rani lagi.
Iyan mengangguk mengerti.
"Oma pergi dulu ya, baby? Jangan rewel sama ayah ya?" mama Alvi mencium gemes cucu tersayangnya.
Rani ikut-ikutan gemes. Digigitnya tangan baby Ray, gemes. Spontan baby Ray menjerit keras. Mama menepuk keras bahu Rani hingga gadis itu meringis, cengengesan.
Iyan cepat-cepat membuai Ray dalam gendongannya agar baby tenang.
"Mama pergi dulu, Yan. Kalo ada apa-apa, segera telpon mama ya?" kata mama Alvi.
"Iya, ma!" Iyan mencium tangan mama.
"Rani pamit juga, bang."
"Hati-hati, Ran!"
"Siap bang! 86!"
Riri ragu masuk ke rumah Iyan. Ini pertama kalinya Riri pergi ke rumah Iyan. Kalau saja mama tidak menitipkan baby Ray pada Iyan, Riri gak bakalan mau datang ke sana.
"Assalamualaikum!" Riri mengucapkan salam.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam!"
"Baby Ray mana, bang?" tanya Riri yang melihat Iyan keluar tanpa membawa Ray.
"Masuk dulu, Ri. Baby baru saja tidur." Iyan membuka lebih lebar pintu rumahnya, menyuruh Riri masuk.
"Babang ambil baby aja, aku sudah mau pulang." Riri segan untuk masuk kedalam.
"Baby baru tidur Ri, kasihan kalo dia tidurnya gak nyenyak." sanggah Iyan.
Riri menghela napas berat.
"Ada apa sih? Kok gelisah bener?" tanya Iyan sambil menatap Riri, dalam.
"Aaa... eee... anu bang... aku gak enak kalo masuk kedalam..." Riri tergagap.
"Gak enak kenapa?" tanya Iyan bingung.
"Yaa... gak pantes aja bang kalo ada janda masuk kerumah bujangan." Riri memberi alasan.
Iyan mengangguk mengerti.
"Kalo gitu pintunya dibuka aja biar gak ada yang curiga." kata Iyan.
Akhirnya Riri terpaksa masuk dan duduk diruang tamu.
"Udah makan belum, Ri?" tanya Iyan ketika menyodorkan secangkir teh untuk Riri.
"Belum. Mandi juga belum. Tadi gak sempet pulang kerumah. Pulang mengajar aku langsung kesini."
"Kalo gitu, kamu mandi aja dulu. Nanti aku masakin kamu nasi goreng." kata Iyan.
"Gak usah, bang. Biar nanti dirumah aja."
Riri diam sesaat.
"Gak pa-pa, bang. Lagian aku juga gak bawa baju ganti..."
"Kalo gak salah lihat tadi di tas baby Ray ada baju kamu."
"Masak sih?"
Riri bergegas ke kamar Iyan dimana Ray sedang tertidur nyenyak. Riri pun mengambil tas Ray dan membukanya. Ada bungkusan didalam tas dan Riri tau itu bajunya.
"Apa mama yang menaruh bajuku disini?"
Riri mengambil bungkusan itu dan melangkah ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah pigura kecil.
Lama Riri menatap foto yang ada dipigura tersebut. Foto Babang kecil bersama Riri dan teman-teman main mereka dulu waktu dikampung. Kemudian Riri menaruh kembali pigura tersebut dan segera mandi.
"Sudah mandinya?" tanya Iyan saat menyadari Riri sedang memperhatikannya dari tadi.
"Babang masih simpan foto-foto kita dulu?" tanya Riri ingin tau.
Iyan tersenyum.
"Masih."
"Boleh gak aku lihat..."
"Makan dulu, ntar masuk angin. Kasihan baby kalo kamu sakit, gak bisa ASI." Iyan menyodorkan sepiring nasi pada Riri yang sudah duduk manis dimeja makan.
Riri langsung memakan nasi goreng itu dengan lahapnya karena ternyata nasi goreng buatan Iyan sangat enak.
"Alhamdulillah!" ucap Riri penuh syukur setelah menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Riri meminum air putih yang sudah disiapkan Iyan sampai habis.
"Makasih ya, bang. Nasi gorengnya enak." ujar Riri jujur.
Iyan mengangguk sambil tersenyum sumringah. Ia senang Riri puas dan menyukai masakannya.
Setelah mereka duduk santai diruang tamu, Iyan memberikan dua album foto pada Riri.
"Nih, foto-foto kita dulu. Mama menyimpannya untuk kenang-kenangan."
Riri mengambil album itu dengan ekspresi wajah senang. Dia tak sabar lagi untuk mengingat kembali masa kecilnya dulu.
"Bang, lihat nih... waktu aku masih tk ya kalo gak salah." Riri menunjukkan foto seorang gadis kecil dengan rambut kuncir dua memakai seragam TK. Disebelahnya, seorang anak laki-laki kecil berdiri tegap dengan memakai seragam SD lengkap.
"Nih, foto kamu lagi berantem sama Joko. Aku inget banget gimana Joko histeris waktu kamu pukul pantatnya pake kayu. Untung aja tante Emi gak marah." olok Iyan ketika menunjukkan foto dimana Riri kecil memegang sebuah kayu tengah menatap marah pada anak laki-laki gendut yang sedang menangis.
Riri tertawa geli melihat foto-foto masa kecilnya dan Iyan.
"Lucu ya bang kalo ingat kita dulu." ujar Riri disela tawanya.
"Iya." kata Iyan yang ikut tertawa.
"Kamu dulu tuh temennya cowok semua, paling demen cari gara-gara, apalagi sama Joko. Kasihan dia kamu ajak berantem mulu tiap hari. Untung aja dia tahan banting."
"Ya iyalah Joko tahan banting. Badannya aja segede gaban." komen Riri membuat Iyan terpingkal-pingkal, tertawa.
"Bukan cuma Joko korban kejahilan kamu. Dian, Puput, Adi... gak tau lagi nyebutinnya habis banyak banget." Iyan pusing sendiri mengingat nama teman-temannya.
Riri nyengir mengingat kebrutalannya dulu.
"Apa kamu juga masih menyimpan foto lama kita, Ri?" tanya Iyan.
"Harusnya ada sih. Ntar aku cariin kalo lagi gak sibuk, soalnya ibu yang simpan."
Riri terdiam saat menyebut ibunya. Dia kembali teringat kedua orangtuanya yang sudah lama meninggal. Iyan menepuk pelan bahu Riri, menyadarkannya dari lamunan.
Tiba-tiba terdengar tangis baby Raihan dari dalam kamar. Riri dan Iyan bergegas masuk kedalam kamar. Riri menggendong baby Ray sedangkan Iyan mengambil dot yang berisikan ASI Riri dan langsung memberikannya ke mulut baby Ray. Seketika tangis Ray pun berhenti. Riri dan Iyan tanpa sadar saling menatap dan sama-sama tersenyum bahagia melihat baby Ray.
Hari ini acara pernikahan Rani dan Erwin Aries berlangsung disebuah gedung mewah. Riri datang bersama keluarga besar suaminya, yang keluarga calon mempelai.
Riri tengah sibuk menenangkan baby Ray yang rewel disudut ruangan ketika menangkap sosok gagah memasuki ruangan.
Setelan tuxedo hitam membungkus tubuh tegap disertai senyum tampan yang sangat menggoda setiap wanita yang melihatnya, berjalan gagah ke arah Riri.
Setelah berdiri tepat dihadapan Riri yang melongo kagum, pria itu, yang ternyata Iyan mengambil alih menggendong baby Ray.
Bisik-bisik tetangga pun mulai terdengar ditelinga Riri.
'eits, kenapa jadi mirip lirik lagu si umi ya? '😅
"Heh, itu kan Bripka Risyan. Kok bisa akrab ya sama jandanya Briptu Erwin?"
"Kok mau ya Bripka Risyan yang masih bujangan deket sama janda?"
"Bripka Risyan dan Briptu Erwin kan sahabatan bu, wajarlah kalo Bripka Risyan dekat dengan jandanya Briptu Erwin."
"Cuma kasihan aja kali bukan mau deketin."
"Ya iyalah. Bujangan kok sama janda, gak level lah ya?!"
Cekikikan dan tawa sinis membuat Riri mumet. Kepala rasanya mau pecah karena menahan kesal dengan mulut-mulut gosip yang sama pedasnya dengan mulut netizen.
Iyan yang tau Riri sedang kesal langsung menggandeng tangan Riri, membawanya pergi dari tempat itu. Baby Ray sudah tertidur nyenyak digendongan Iyan.
__ADS_1