
Riri merasakan silau ketika perlahan membuka matanya. Tampak olehnya Iyan yang tengah duduk tertidur sambil memeluk tangannya.
Dengan tangan yang tertancap jarum infus, Riri menggapai pelan kepala Iyan yang terbaring disebelahnya.
"Bang... Babang?!" panggil Riri pelan.
Iyan mengucek-ngucek matanya sebentar dan langsung bangkit dari duduknya dengan tangan menggenggam tangan Riri dan tersenyum senang.
"Ayi udah sadar kamu, sayang?" tanya Iyan senang melihat Riri tersenyum manis walaupun dengan wajah masih terlihat pucat.Tangannya membelai rambut Riri dan mengecup lembut kening Riri.
Tiba-tiba airmata Riri mengalir deras tanpa suara, hanya isak tangis yang tertahan dan tubuh yang bergetar.
Melihat itu Iyan langsung memeluk Riri dan menaruh kepala Riri di dada bidangnya.
"Tenanglah, semua sudah berakhir!" bisik Iyan pelan. Diciumnya lembut kepala Riri.
Tak lama dokter datang bersama dengan Rani dan Erwin. Iyan melepaskan pelukannya dan membiarkan dokter memeriksa kondisi Riri.
"Riri sadar bukannya lo panggil dokter, malah lo peluk, bang. Untung gue dateng tepat pada waktunya, kalo gak pasti udah lo sosor si Riri." bisik Erwin menggoda Iyan.
__ADS_1
"Sae' lu, paijo. Kalo ngomong suka bener." Iyan menjitak kepala Erwin, kesel.
Rani terkikik melihat tingkah konyol suaminya yang menggoda Iyan, yang sudah dianggapnya seperti abang sendiri.
"Ada sedikit trauma yang dirasakan Bu Rianti, Pak Iyan. Saya minta Pak Iyan sekeluarga bisa membantu Bu Rianti untuk menghilangkan traumanya."
"Baiklah, Dok! Kami akan berusaha." janji Iyan. Dokter itu mengangguk, kemudian pamit pergi memeriksa pasien lain.
"Jangan dipikirin lagi masalah kemaren, Ri. Kuntilanak itu sudah ditempatkan ditempat yang seharusnya. Jadi lo tenang aja." Rani menghibur Riri dengan memeluknya penuh kasih.
Rani mengasihi Riri seperti saudaranya sendiri. Begitupun dengan keluarga Rani, mama Alvi, papa Adi, kak Sarah, kak Bima, Audrey, apalagi Dedek Erwin.
"Iyalah, Ri! Lo itu sahabat sekaligus saudara gue. Gue sayang banget ama lo." kata Rani membuat keduanya makin berpelukan erat.
Erwin yang melihat itu pun ingin memeluk mereka. Tapi sebelum niatnya tercapai, telunjuk tangan kanan Rani sudah lebih dulu mendorong jidatnya hingga kepala Erwin pun terdorong ke belakang.
Iyan terbahak. "Sukurin lo, modus sih!" ejek Iyan.
Erwin bersungut-sungut, keki.
__ADS_1
"Ya elah, Ay, dikit doang. Aku kan juga sayang sama Riri." keluhnya.
"Sini, dek. Gue juga sayang ama lo." Riri melambaikan tangan agar Erwin ikut memeluknya. Erwin tersenyum senang dan mereka bertiga pun berpelukan.
"Bang Iyan peluk juga dong." ajak Rani dan lansung dilaksanakan Iyan dengan senang hati.
"Waduhh! Ada teletubbies, kak!" Sarah yang baru masuk bersama Bima dan Audrey, anaknya, berkata girang.
"Iya, ma! Om dan tante udah kayak Tinkywinky, Dipsy, Lala, dan Po." sambung Audrey senang. Bima tertawa geli.
Mereka semua tertawa bahagia. Tak lama, mama Alvi dan papa Adi datang bersama baby Ray. Riri tersenyum bahagia melihat baby Ray digendongan omanya.
"Anak bunda! Sini, sayang!" Riri mengacungkan tangannya pada baby Ray yang terkekeh lucu sambil melambai-lambaikan tangannya, minta digendong.
Mama Alvi memberikan Ray pada Riri, kemudian memeluk dan mencium kening Riri penuh kasih sayang.
"Gantengnya anak bunda. Bunda kangen banget sama Ray." Riri memeluk dan mencium anaknya dengan penuh kerinduan.
Semua pun ikut tersenyum bahagia melihat senyum manis Riri dan tawa baby Ray.
__ADS_1