
Erwin senyum-senyum sendiri mengenang pertemuannya semalam dengan Riri. Memorinya berputar kembali ke masa empat tahun silam. Dimana ia pernah mencium Riri untuk yang pertama kalinya waktu Riri hampir jatuh dari atas pohon rambutan. Dan semalam, Erwin hampir melakukannya lagi kalau saja Rani dan Dedek tidak datang mengganggunya.
"Dasar duo curut congek. Kalo mereka semalam gak ada pasti udah aku nikmati bibir yang manis itu."
Erwin mengumpat dalam hati. Kekesalannya pada dua sejoli, Dedek dan Rani, masih nampak terlihat.
"Hayo... mikir jorok ya?!" tiba-tiba Rani menepuk keras bahu Erwin mengagetkan cowok tampan yang tengah melamun itu.
"Apaan sih?! Ganggu aja." bentak Erwin, kaget, pada adik bungsunya yang selalu menjahili dan menggodanya.
"Pasti nyesel gara-gara semalem batal ehem-ehem ya?!" goda Rani lagi.
Erwin melempar teddy bear kearah Rani yang tergelak melihat abangnya kesal digodanya.
"Jangan putus asa, bro. Masih banyak waktu. Coba lagi." Dedek ikutan nimbrung.
"Lo kira ada tulisannya 'coba lagi' kayak dikupon snack." Erwin menjitak Dedek kesal.
Dedek dan Rani tertawa ngakak melihat ekspresi Erwin yang kesal abis. Dari semalam keduanya terus menggoda Erwin.
"Mumpung masih disini dan Riri belum ada yang punya, abang harus pepet terus." usul Rani.
"Bener tuh, bro. Kerjaan kita pun udah beres, lusa baru balik berarti masih ada waktu dua hari. Lo harus gunakan waktu lo sebaik mungkin untuk mengejar cinta lo kembali." sambung Dedek.
Erwin mengangguk paham.
"Abang beruntung karena nampaknya Riri masih suka sama abang."
"Benarkah?" Erwin tak yakin dengan yang Rani katakan.
"Kalo gak suka mana mau dia lo anter pulang, mana hampir lo sosor lagi."
Dedek mengedipkan sebelah matanya menggoda Erwin. Rani ikut-ikutan nyengir dan terkekeh geli. Erwin menggeleng-gelengkan kepalanya kesel.
"Lama-lama deket lo berdua bisa mati kaku gue disini." Erwin beranjak pergi diiringi tawa ngakak Rani dan Dedek.
"Lebih baik aku kekampusnya Riri sekalian jalan-jalan." Erwin naik taksi kekampus Riri.
"Please dong, Ri. Udah sekian lama kita temenan masak sampai detik ini kamu terus menolakku. Apa gak ada sedikitpun perasaan sukamu untukku?"
Riri masih tetap diam. Sebenarnya dia capek terus diberondongi Andre dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
"Harus berapa kali gue bilang kalo gue suka temenan ama lo, Dre. Tapi hanya teman, gak lebih." Riri sekali lagi menekankan kata-katanya pada Andre.
"Tapi aku mau lebih dari itu, Ri. Apa kamu gak menghargai sama sekali pengorbananku selama ini buat kamu, Ri?"
Andre berniat memegang tangan Riri namun gadis itu menolaknya. Andre menarik paksa tangan Riri dan menggenggamnya kuat hingga Riri meringis kesakitan.
"Tolong lepasin, Dre. Sakit." Riri memohon.
Andre menggeleng cepat sembari tersenyum sinis.
"Gak akan. Aku gak akan melepaskan kamu lagi. Gak akan kuulangi kebodohanku yang dulu. Aduh!"
Andre mengaduh ketika tangannya ditepis keras oleh seseorang. Pegangannya ditangan Riri pun melonggar hingga gadis itu cepat-cepat menghindarinya dan bersembunyi dibelakang tubuh orang yang menolongnya.
"Elo..."
"Ternyata lo gak pernah berubah ya, masih saja suka kasar sama cewek." Erwin tersenyum sinis pada Andre dengan tangan bersidekap di dada.
"Lo jangan coba2 mengganggu hubungan gue sama Riri lagi. Sekarang dia milik gue." bentak Andre kasar sambil menunjuk Riri.
Erwin menoleh kearah Riri. Si mungil cantik itu dengan cepat menggeleng. Erwin menatap Andre tajam.
"Tapi kayaknya Riri nolak lo deh jadi cowok dia." kata Erwin sarkis, masih dengan senyum sinisnya.
Riri yang berdiri dibelakang Erwin terus meremas kemeja Erwin minta pelindungannya. Nampak sekali gadis itu sangat ketakutan. Erwin berbalik menatap Riri lembut.
"Jangan takut, Yank. Bibib disini akan jagain Ayang." Erwin mencium lembut kening Riri, sedangkan gadis itu hanya melongo bingung dengan ulah Erwin.
Andre yang melihat perlakuan mesra Erwin pada Riri menggeretakkan giginya geram. Dihentakkannya bahu Erwin yang membelakanginya, dan..
Bughk!
Aaaaaakkhh!
"Riri!!!" Teriak Erwin langsung memeluk tubuh mungil Riri yang terhuyung mundur akibat terkena pukulan Andre.
Riri pun pingsan seketika. Untung Erwin dengan cepat meraih tubuh Riri sehingga tidak sampai jatuh ketanah. Andre terpaku.
Perlahan tubuh Andre jatuh berlutut dengan mata terpaku menatap tubuh mungil Riri yang dibawa pergi dalam gendongan Erwin.
"Kenapa... kenapa... kamu lakukan itu, Ri? Apa kamu... masih mencintainya sehingga rela melindunginya dariku?" Andre membatin geram.
Setelah sekian lama dia berusaha mendekati Riri lagi, menemaninya disaat suka dan duka dan rela melindunginya, tapi kenapa Erwin masih ada dihati Riri. Bahkan Riri rela terkena pukulan Andre demi melindungi Erwin yang seharusnya jadi sasaran kemarahan Andre.
Erwin membawa tubuh pingsan Riri ke klinik terdekat.
"Gimana, dok? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Erwin cemas pada dokter yang memeriksa Riri.
"Gadis ini tidak apa-apa, memar dan luka sedikit diujung bibirnya, tadi sudah diberi obat. Setelah sadar nanti sudah boleh dibawa pulang." jawab pak dokter ramah.
__ADS_1
Riri menggeliat, merasakan nyeri disudut bibirnya.
Ishh!
Riri teringat apa yang terjadi dengannya.
"Ayang udah bangun?" Erwin membantu Riri duduk ditepi ranjang.
"Kenapa dibawa kesini? Cuma luka kecil kok."
"Apa masih sakit?" Erwin menyentuh bibir Riri yg luka. Gadis itu meringis menahan sakit. Erwin mengacak gemes rambut Riri sambil tersenyum lembut.
"Sok kuat. Masih kecil juga." katanya gemes.
Riri mendelik sewot.
"Udah tua kali. Udah dua puluh tiga tahun." sungutnya keki.
"Udah boleh nikah dong?" Erwin mengerling menggoda. Mata bening Riri membulat lagi.
"Ngomong apa sih?" Riri tersipu malu.
"Mending pulang, yuk. Aku udah gak apa-apa kan?." ajaknya menutupi kegugupannya karna digoda Erwin.
Erwin mengangguk dan tersenyum. Lalu membantu Riri turun dari ranjang.
"Pelan-pelan."
Erwin memapah tubuh mungil Riri keluar dari klinik menaiki taksi online yang tadi sudah ia pesan.
Didalam taksi, Riri menyandarkan kepalanya yang masih terasa pening akibat dipukul Andre tadi, dibahu Erwin.
Tapi Erwin malah memeluk Riri dan menaruh kepala gadis itu di dada bidangnya.
Lima belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai dikosan Riri. Setelah membayar taksi, Erwin memapah Riri masuk kekamarnya.
Dikamar Riri,
"Duduk dulu, Win. Mau minum apa?" Riri berbasa-basi.
"Biar Bibib yang bikin, Ayang tiduran aja. Masih pusing kan?" Erwin menghampiri Riri dan mengambil gelas yang ada ditangannya.
Kamar kos Riri yang kecil dan berukuran hanya dua kali dua meter hingga tempat tidur dan dapur dijadikan satu.
"Sekalian obatnya diminum ya?" Erwin menyodorkan segelas teh manis pada Riri dan hendak membantunya meminum obat.
"Aku bisa sendiri kok, Win." kata Riri canggung. Erwin menatap Riri lekat lalu diraihnya tangan Riri dan diciumnya lembut.
"Lebay, lo!" Riri menjitak pelan kepala Erwin.
"Ketemu aja baru kemaren udah gombal banget, siapa sih yang ngajarin?" Riri menggelitik pinggang Erwin gemes.
Erwin menggeliat dan dengan cepat memegang tangan Riri yang menggelitiknya.
Erwin menatap mata Riri, dalam.
"Yank, aku mau jujur sama kamu."
Riri balas menatap mata tajam Erwin. Cowok itu menarik napas pelan. Lalu,
"Sejak kamu pindah duduk ninggalin aku, aku udah mati nafsu sama yang namanya cewek. Tentang kamu yang menyuruhku agar deket sama Tari, gak pernah sedikit pun kulakukan. Aku malah menjauh darinya. Dan tentang janjiku untuk ngelupain kamu, aku... aku... gak pernah sanggup melupakan kamu. Seperti awal janji yang pernah aku ucapkan, aku akan selalu sayang dan cinta sama kamu. Kamulah cinta pertamaku... dan aku mau... kamu yang terakhir untukku."
Riri terpaku menatap Erwin. Perasaannya campur aduk. Antara percaya dan tidak pada kejujuran Erwin.
"Yank, aku terus menunggu kamu balik sama aku." Erwin terus menggenggam tangan Riri.
"Win, aku..."
"Apa kamu udah melupakan semua tentang kita, Yank?" Erwin menatap Riri sendu.
Riri menggeleng pelan.
"Aku juga gak bisa lupain Bibib. Aku juga rindu sama Bibib, tapi gak berani nyariin Bibib."
"Kenapa?" tanya Erwin cepat. Matanya berbinar senang mendengar pengakuan Riri yang ternyata juga sangat merindukannya.
"Aku takut Bibib udah jadi milik orang..."
"Nggak akan pernah, Yank! Sebab Bibib selalu cintanya sama Ayang. Hanya Ayang yang ada dihati Bibib." Erwin berkata tulus.
Mata bening Riri berkaca-kaca mendengar pernyataan Erwin. Dia tidak menyangka begitu tulus Erwin mencintainya.Tak terasa airmatanya menetes.
"Jangan menangis, Yank. Jelek banget kelihatan kayak nenek-nenek abis diputusin brondong." goda Erwin seraya menghapus airmata dipipi Riri.
Riri memukul pelan tangan Erwin sambil tersenyum malu.
"Habis kamu gombal sih kayak abg tua gombalin cewek cakep." ejek Riri balik.
Erwin tertawa bahagia. Cintanya telah kembali. Dipeluknya erat tubuh mungil gadisnya.
"I Love You, Ayang cantikku." dikecupnya puncak kepala Riri, lembut.
__ADS_1
"I Love You too, Bibib ku ganteng." Riri membalas pelukan Erwin penuh rasa.
Hangatnya pelukan Erwin membuat Riri makin membenamkan wajahnya di dada bidang milik cowok itu.
"Yank..!"
"Mm!"
Riri mendongakkan wajahnya menatap Erwin. Hangat terasa napas Erwin diwajah Riri. Tiba-tiba,
"Emph!"
Riri seolah berhenti bernapas saat Erwin tiba-tiba mencium bibirnya. Tangannya menahan tengkuk gadis itu lama.
Perlahan dan lembut Erwin ******* bibir mungil Riri yang masih terdiam.
Riri hanya bisa diam tanpa membalasnya. Detak jantungnya seakan breakdance didalam dadanya. Erwin menggigit pelan bibir bawah Riri sehingga tanpa sadar ia membuka mulutnya. Dengan cepat dan lihai lidah Erwin bermain didalam rongga mulut Riri. Semakin dalam... dan semakin lembut. Riri mendesah pelan menikmati sensasi dari permainan bibir Erwin.
Erwin melepaskan ciumannya, menyatukan dahinya dengan Riri. Gadis itu tertunduk malu. Belum pernah ada lelaki yang menyentuhnya begitu intim.
Itu buka ciuman pertama mereka karna Erwin pernah melakukannya diatas pohon Rambutan dirumah Dedek, tapi tidak selama dan semesra ini.
Riri makin tersipu malu bila ingat hal itu. Pipinya bersemu merah. Riri bangun dan membalikkan badannya membelakangi Erwin. Cowok itu memeluknya dari belakang, lalu membalikkan tubuh Riri agar menghadapnya.
Erwin menangkup pipi Riri sambil tersenyum.
"Nggak sakit kan?" godanya pada Riri.
"Sakit kenapa?" Riri bertanya bingung.
"Ini kan adegan yang Yeni dan Robby lakukan dipantai dulu, ingat?"
Erwin mendekatkan wajahnya ke wajah Riri yang nyengir malu.
"Sekarang gak takut lagi kan?" Erwin mengecup sekilas bibir Riri.
Gadis itu merangkul leher Erwin dan menggeleng keras. Erwin makin gemes. Diraihnya pinggang ramping gadis itu dan membawa kepelukannya.
"Karena Ayang belum berpengalaman soal ini biar Bibib ajari pelan-pelan."
Erwin mencium lagi bibir Riri. Kali ini pagutannya lebih dalam lagi seakan mewakili perasaan cintanya pada gadis itu.
"Emmh..."
Riri melenguh geli saat lidah Erwin menjilat ringan belakang telinganya. Lalu menyusuri leher gadis itu dan meninggalkan 'kissmark' disana.
Riri terkulai pasrah saat Erwin membawa tubuh mungilnya dan menaruhnya dikasur tempat tidurnya. Erwin pun ikut berbaring disebelah Riri. Mereka berbaring saling menatap.
"Bibib ingin memiliki Ayang sepenuhnya. Bolehkan?" bisik Erwin dengan suara serak namun terdengar sexy ditelinga Riri.
Gadis itu menggeleng cepat. Dan dengan cepat pula Erwin kembali memagut bibir mungil itu.
Entahlah, sejak Erwin merasakan kembali betapa manisnya bibir Riri, ia jadi sangat ketagihan untuk ingin terus menikmati bibir manis itu. Disapunya seluruh wajah Riri dengan ciuman ringan, gemas.
"I Love you, Ayang. Bibib janji akan menjadikan Ayang jadi milik Bibib sepenuhnya dan untuk selamanya." Erwin mengecup lama kening Riri.
Taklama keduanya pun tertidur dengan tangan saling bergenggaman.
❤️
❤️
❤️
"Yank, besok pagi Bibib udah pulang ke kota kita. Ada yang mau Ayang titipin gak buat ibu?" Erwin memberitahu Riri tentang rencana kepulangannya.
Riri diam menunduk. Rasanya baru sebentar dia menikmati kebersamaannya dengan Erwin setelah sekian lama mereka terpisah jarak dan waktu.
"Kenapa, Yank? Masih pusing ya?" tanya Erwin cemas melihat Riri diam.
Riri menggeleng pelan. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Erwin masih sibuk mengemas kopernya.
"Padahal kita baru aja ketemu lagi setelah lama berpisah. Apakah kita akan bertemu lagi, Bib?" Riri mengeluh memandang ke arah luar jendela tempat kos Rani.
Ia tak mau Erwin melihat airmatanya yang mulai jatuh karena sedih akan berpisah lagi dengan kekasihnya itu. Erwin menghentikan kegiatannya. Menatap punggung mungil Riri yang membelakanginya, lalu menghampirinya. Dipeluknya Riri dan membenamkan kepalanya diceruk leher gadis itu. Aroma harum tubuh Riri memancing gairahnya.
"Bibib akan selalu menunggu Ayang. Bukankah tak lama lagi Ayang akan segera wisuda dan pulang?" Erwin mencium ringan pipi Riri.
Erwin memutar tubuh Riri agar berbalik menghadapnya. Dihapusnya lembut airmata gadis tercintanya itu.
"Bibib akan menunggu Ayang pulang, dan akan segera melamar Ayang." janji Erwin.
"Sungguh?" Riri menatapnya sendu.
"Janji!!!" Erwin mengacungkan dua jarinya tanda berjanji, mantap.
Riri tersenyum dan langsung memeluk Erwin erat.
"Tunggu aku ya, Bib! Aku pasti akan secepatnya pulang untuk Bibib." bisik Riri syahdu ditelinga Erwin yang balas memeluk Riri erat dan tersenyum bahagia mendengar ucapan Riri yang memang sangat dinantinya.
__ADS_1