Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 13


__ADS_3

Hari ini hari pernikahan Riri dan Erwin. Seperti pernikahan para perwira pada umumnya, acara pernikahan mereka pun berlangsung khidmat.


Para tamu undangan yang hadir memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Selain Tari dan suaminya, dua sohib Riri, Dela dan Yeni pun datang dengan pasangan masing-masing.


"Selamat ya Riri, Erwin, semoga langgeng sampai aki-nini." Dela memeluk erat Riri dam menyalami Erwin diikuti Helmi yang memeluk Erwin hangat.


"Akhirnya lo nikah juga, bro. Gue kira bakal jadi jomblo akut. Untung Riri masih mau ya mungut lo." Helmi menggoda Erwin sambil menepuk-nepuk pelan bahunya.


"Kalo gue masih jomblo, berarti Riri juga masih jomblo dong. Kan kita gak bisa pindah ke lain hati." sahut Erwin penuh percaya diri.


"Lebay lo!" semprot Dela.


"Gue inget kok dulu waktu Riri pindah duduk deket gue muka lo tuh udah kayak got mampet, masem mulu."


Erwin nyengir malu. Teman-temannya menertawakannya. Riri ikut-ikutan tertawa geli melihat Erwin, yang kini sudah sah jadi suaminya, diledekin teman-teman mereka.


"Ayang jangan ketawa. Tunggu aja ntar malem pasti Bibib akan hukum Ayang." ancam Erwin sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Riri.


Sejak melihat Riri datang dengan menggunakan baju pengantinnya, Erwin merasa makin jatuh cinta dengan Riri yang kini sudah sah jadi miliknya.


Riri melongo menatap Erwin, tak mengerti, membuat Erwin makin gemes melihat kepolosan istrinya.


"Udah siapin stamina yang fit, bro?" giliran teman-teman kerja Erwin yang menggoda pasangan pengantin itu.


"Siap dong! Gue kan harus lembur siang- malam biar cepat berhasil." sahut Erwin mantap tak peduli dengan teman-temannya yang tertawa mendengar ucapannya yang sedikit vulgar.


Setelah selesai acara dan meninggalkan gedung tempat resepsi mereka. Riri dan Erwin kembali kerumah Riri. Riri menolak ketika mama Erwin hendak menyewa hotel untuk mereka menghabiskan masa pengantin barunya.


flashback on


"Kalian nanti habis resepsi tinggal aja di hotel dulu biar mama siapin kamarnya." mama Alvi memberi saran.


"Setuju tuh, biar langsung bikin anak ya, Yank?" Erwin menyambut sumringah.


Riri nyengir malu mendengar ucapan suaminya. Pipinya langsung bersemu merah.


"Nggak usah, Ma. Dirumah kan juga udah dihias sama kak Sarah dan Rani, sayang kalo gak dipake." Riri menolak halus tawaran ibu mertuanya.


"Yaa, Yank, kan kita jadi gak perlu capek pulang kerumah..."


"Kalo gitu Bibib aja di hotel sendirian, aku mau pulang kerumah."


Riri memandang ibu mertuanya yang kelihatan kecewa dengan penolakannya.


"Ma, bukannya Riri gak suka dengan usul mama hanya saja Riri merasa tidak perlu boros kalo hanya untuk tidur saja. Mending uangnya buat hal yang lebih perlu daripada ini." Riri mencoba memberi pengertian pada mama mertuanya.


"Sudahlah Ma, yang Riri bilang bener kok. Lebih baik uangnya ditabung buat mereka nanti." papa Adi menenangkan istrinya.


"Kamu benar, Sayang." Mama Alvi mengangguk pada suaminya.


"Riri sayang, Mama gak akan memaksa kamu untuk menginap di hotel malam ini. Tapi, jangan tinggalin Erwin di hotel ya, kasihan dia kalo malam pertamanya disuruh tidur sendirian." mama mengedipkan sebelah matanya pada sang menantu untuk menggodanya. Riri tersipu malu.


"Mama Ewin is the best!" Erwin mencium dan memeluk erat mamanya yang selalu mendukungnya. Semua yang ada diruangan itu menertawakan Erwin.


flashback off


"Yank, Bibib suka lihat Ayang hari ini cantik banget." Erwin memeluk Riri dari belakang saat gadis itu sibuk melepaskan atribut pengantin yang ada dikepalanya.


"Emang biasanya aku gak cantik ya?"


"Cantik kok, pake banget malah."


"Terus kenapa bilangnya hari ini?" Riri menatap lekat wajah suaminya yang tiba-tiba udah kayak kepiting rebus.


"Eee... anu... itu..." Erwin jadi salah tingkah.


"Kok gugup? Bohong ya?" Riri tersenyum simpul melihat Erwin merasa serba salah. Cepat-cepat Erwin menggeleng keras.


"Nggak kok, Yank. Hanya saja... sejak melihat Ayang pake baju ini Bibib jadi pengen cepat-cepat 'itu'."


"Cepat apaan?" tanya Riri bingung dengan kegugupan suaminya.


Erwin mencium pipi istrinya gemes.

__ADS_1


"Bibib udah gak sabar pengen memiliki Ayang seutuhnya." bisik Erwin ditelinga Riri membuat pipinya merona karena malu.


"Aku mau mandi dulu, badanku terasa lengket." Riri bergegas kekamar mandi.


"Gak usah malu-malu gitu dong, Yank. Kan sekarang Bibib suami Ayang. Yank..." Erwin tersenyum simpul melihat istrinya yang tampak malu bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"Bib, tolong ambilin bajuku disitu." kepala Riri nongol dari pintu kamar mandi yang ia buka sedikit. Tangannya menunjuk ke lemari pakaiannya.


"Bibib gak tau Ayang mau pake baju yang mana, Ayang ambil aja sendiri." Erwin asik memainkan ponselnya tanpa menoleh ke arah Riri.


Dengan berjinjit pelan Riri melangkah keluar dari kamar mandi. Ia tidak mau Erwin melihatnya hanya memakai handuk yang menutupi tubuh basahnya.


Erwin melirik istrinya yang diam-diam berlari menuju lemari pakaiannya untuk mengambil bajunya. Dia tersenyum geli melihat tingkah istrinya namun ia berpura-pura asik dengan game diponselnya.


Riri hendak kembali kekamar mandi untuk berganti pakaian ketika tiba-tiba Erwin menarik tangannya hingga ia pun terjatuh dipelukan laki-laki yang kini sudah sah jadi suaminya.


" Kenapa masih malu-malu? Bibib sekarang suami Ayang loh!" Erwin membelai pipi Riri yang menunduk malu-malu.


"Kamu sexy kalo basah seperti ini, Yank!" merdu suara Erwin terdengar ditelinga Riri.


"Apaan sih?!" Riri tak kuasa menyembunyikan semburat merah diwajahnya.


Erwin mencium bibir Riri,gemes. Perlahan ciumannya lebih lembut dibibir Riri, membuat Riri tak kuasa menolak belaian dari suaminya kini.


"Eughhhh..." Riri melenguh pelan saat bibir Erwin menelusuri lehernya dan meninggalkan tanda miliknya disana. Erwin membawa tubuh mungil istrinya ketempat tidur mereka.


Ditariknya handuk yang melilit tubuh Riri dan memandangnya penuh kekaguman. Ia pun tersenyum penuh arti melihat Riri menutupi wajahnya karena malu.


Erwin mencium Riri lebih dalam lagi. Tangannya mulai menggerayangi seluruh tubuh Riri yang kini sudah berada dibawah kungkungannya. Diremasnya pa**dara Riri hingga membuat tubuh gadis itu bergetar hebat.


"Ahhhh... Bib..." Riri mendesah merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Bibir Erwin bergerak menghisap niple pink milik Riri yang seolah menantang Erwin untuk melakukan lebih dari itu. ******* Riri membuat Erwin semakin terpacu adrenalinnya untuk segera menuntaskan hasratnya.


Tangan Riri meremas pelan rambut Erwin, menikmati sentuhan dari suaminya yang membuatnya ingin meminta 'lebih'.


"Kita mulai sekarang, Yank. Tahan ya... ini akan sedikit sakit."


"Akhhh... sa... kit... Bib..." Riri menahan tubuh Erwin yang terus mendorong 'udinnya' untuk memasuki 'gua' milik Riri yang masih 'tersegel ' rapat.


"Tahan Yank... Bibib pelan-pelan, kok!" Erwin terengah-engah. Napasnya naik-turun seirama dengan gerakan tubuhnya yang maju-mundur. Keringatnya mengucur deras.


Erwin melu*at bibir Riri lagi dan menciumnya.


Akhirnya, setelah berjuang lebih keras Erwin bisa juga menjebol gawang Riri yang masih tertutup selaput. Darah keperawanan Riri mengalir di sprei putih tempat mereka melakukannya.


Riri memeluk erat tubuh suaminya menahan perih diselangkangannya dengan airmata menetes tanpa ia sadari.


"Maaf, Yank. Tapi setelah ini kamu pasti akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."


Erwin mulai mendorong 'udinnya' lagi. Bergerak maju-mundur dengan perlahan sehingga membuat Riri serasa tebang melayang akibat sensasi yang ditimbulkannya.


"Mmfh!" Riri menahan diri untuk tidak bersuara, menikmati sensasi 'aneh' yg dirasakannya.


"Akhhhh... Ayang..." Erwin terus berpacu seraya mendesah nikmat seperti Riri.


"Bib... aku... mau..."


"Sebentar lagi...Yank...Kita...sama-sama..."


"Akkhhhh..."


Berdua, Riri dan Erwin, bersama mencapai puncak kenikmatan mereka untuk yang pertama kalinya.


Riri memeluk tubuh suaminya dengan perasaan bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Makasih ya, Yank! Aku mencintaimu!" Erwin mencium lembut bibir Riri lalu mencium keningnya sebelum merebahkan tubuhnya berbaring disebelah wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Riri mengangguk pelan sebelum kemudian tertidur karena kelelahan. Erwin pun menyusul Riri ke alam mimpi sambil memeluk tubuh istrinya.


😘😘😘


Riri bangun lebih dulu dari Erwin. Ia tersenyum melihat suaminya tidur sambil meringkuk memeluknya seperti anak kecil yang lucu. Pelan-pelan Riri melepas tangan Erwin yang memeluknya dan beranjak turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Aduhhh...!" Riri terpekik pelan ketika merasakan sakit diselangkangannya. Tubuhnya melorot turun tak mampu menahan sakitnya.


"Kamu kenapa, Yank?!" Erwin yang terbangun mendengar jeritan Riri langsung mengangkat istrinya ke atas tempat tidur.


"Sakit, Bib!" Riri meringis kesakitan.


"Maaf ya, Yank!" Erwin merasa bersalah. Ia menyesal karena Riri sakit gara-gara ulahnya semalam. Riri tersenyum sambil menangkup pipi suaminya yang menunduk penuh sesal.


"Gak pa-pa, Bib. Kan sudah kewajiban aku melayani Bibib, suamiku tersayang." sekilas Riri mencium bibir Erwin.


"Makasih ya, Yank. Ayang emang istri Bibib yang tercinta." Erwin tersenyum senang dan balas mencium Riri.


"Sekarang biar Bibib bantu Ayang mandi..."


"Gak mau! Ntar Bibib bukannya mandiin aku malah minta yang lain."


Riri buru-buru beranjak bangun. Tapi karena masih terasa sakit ia pun mengurungkan niatnya.


Erwin cengengesan mengerling menggoda istrinya yang hanya menepuk jidatnya kesel.


Akhirnya Riri terpaksa harus pasrah dibopong suaminya dan mereka melakukannya lagi dikamar mandi.


Erwin pov


Setelah aku menikah dengan Riri, hidup ini kurasakan semakin sempurna. Sekarang ada seseorang yang menemaniku tidur, membangunkanku, menyiapkan makan dan bajuku, mengingatkanku bila ada sesuatu yang lupa atau salah, dan selalu setia menungguku pulang dari tugas meskipun kadang hingga lewat tengah malam.


Seperti malam ini, aku pulang hampir menjelang subuh setelah tadi tim kami melakukan penggebrekan sarang judi.


Kulihat Riri, istriku tengah tertidur lelap disofa ruang tamu. Pasti dia sedang menungguku pulang.


"Yank! Bangun, Yank!" kutepuk pelan pipi istriku tersayang. Riri menggeliat sesaat, lalu duduk bangun sambil mengucek-kucek matanya. Bulu matanya yang lentik alami mengerling-kerling lucu membuatku gemes melihatnya.


"Bibib udah pulang?" tanyanya serak, suara khas orang bangun tidur.


"Udah. Yuk kita pindah tidur dikamar." aku melangkah masuk kekamar. Setelah mandi dan mengganti bajuku dengan piyama, aku tak melihat Riri ada didalam kamar.


"Ayang!"


Aku keluar dari dalam kamar. Senyumku mengembang melihat Riri ternyata masih tidur disofa yang tadi. Kugendong tubuh mungil Riri dan membawanya ke kamar tidur kami.


"Maaf ya, Yank, Bibib selalu membuat Ayang tidur disofa." kukecup lembut bibir dan kening istri terkasihku.


"I love you!" aku pun akhirnya ikut tertidur sambil memeluk tubuh Riri, istriku tersayang.


Riri pov


Aku sangat bahagia memiliki suami seperti Erwin. Dia yang dulu selalu bersikap cool, cuek, namun baik hati sekarang tidak cool dan cuek lagi. Sekarang dia seorang suami yang baik hati, romantis, penuh kasih sayang tapi... sedikit mesum😁.


Setelah menjadi seorang istri kehidupanku kini makin berwarna. Setiap hari aku bisa menatap wajah tampannya bahkan masih saja aku merindukannya bila dia sedang dalam tugasnya. Kadang ada perasaan khawatir bila dia sedang ada tugas yang mengharuskannya berhadapan dengan bahaya. Doa ku tak pernah putus kupinta pada Allah SWT untuk senantiasa melindungi suamiku dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang anggota polisi.


Aku pun berusaha melayaninya dengan baik.


Mulai dari makannya, seragamnya, hingga akan terus mendampinginya dalam suka maupun duka seumur hidupku.


Aku berjanji akan selalu mencintai suamiku, Erwin Rahadi.


autor pov


"Yank, jadi besok mulai mengajarnya?" tanya Erwin pada Riri ketika mereka sedang makan malam.


"Jadi, Bib. Tadi kepala sekolahnya udah menelponku."


"Besok Bibib anter Ayang." kata Erwin.


"Bibib gak sibuk?" Riri menatap Erwin, lekat. Dia berharap suaminya sedang tidak sibuk dan bisa mengantarnya kesekolah di hari pertamanya mengajar.


"Gak. Kebetulan hari ini Bibib tugas malam." Erwin membelai rambut Riri yang tersenyum senang mendengar ucapan suaminya.


Setelah hampir satu bulan pernikahannya Riri kembali memulai aktivitasnya mengajar.


Begitu selesai merapikan tas mengajarnya, Riri segera tidur. Erwin yang masih membaca buku segera mengikuti Riri dan berbaring disebelahnya.


"Selamat malam Ayang Bibib. Semoga bahagia selalu bersamamu." Erwin mengecup lembut kening istri tercintanya. Lalu ia pun segera menyusul Riri ke alam mimpi sambil memeluk tubuh Riri.

__ADS_1


__ADS_2