
Andre menghampiri Riri yang sedang duduk melamun didalam kelas dan menarik tangannya dengan kasar.
"Apa-apaan sih?!" Riri melepas genggaman tangan Andre.
"Kamu yang apaan?! Dasar gak tau malu!" bentak Andre marah.
Matanya merah karena emosi. Riri tersenyum mengejek.
"Kamu marah karena aku boncengan sama Erwin tadi?" ejeknya. Mata sipit Andre memerah menahan marah.
"Kamu kayaknya bangga disebut cewek murahan ya?" Andre balas mengejek sinis.
Mata Riri membulat mendengar ucapan Andre.
"Dengar Dre, aku sama Erwin cuma temenan gak lebih."
Andre tersenyum sinis.
"Temenan rasa pacaran?" ejeknya ketus.
Riri makin emosi.
"Kalo iya, kenapa?! kamu gak suka?!" sahut Riri.
"Atas dasar apa kamu gak suka aku deket sama Erwin? Kamu bukan siapa-siapa aku, ingat?" sindir Riri.
"Jadi, aku deket sama siapapun itu terserah aku. Aku mau ngapain juga terserah aku. Dan kamu gak berhak mengaturku."
Andre terdiam.
"Dan satu lagi, aku janji gak akan ganggu kamu lagi!" ucap Riri kemudian berlalu meninggalkan Andre yang masih diam terpaku.
flashback on
Sejak perkenalannya dengan Andre, Riri jadi bucin banget. Semua jadwal Andre dia hapal betul. Apapun kegiatan Andre dia tau semua karena dia benar-benar mengikuti semua tentang Andre.
"Daripada lo melongo tiap hari disini mending lo ikutan les juga, Ri." usul Dela suatu hari.
Riri memang tiap hari nongkrong ditempat kursus bahasa inggris tempat Dela dan Andre ikuti.
Riri menggeleng.
"Gak ah, gue udah pinter ngomong inggris ngapain ikut les." tolak Riri.
"Lah... lo tiap hari kesini, ngapain?" tanya Dela.
"Liatin Andre, dong!" jawab Riri ceria.
"Terus?"
"Nemenin Andre bersihin mussola." jawab Riri lagi.
Dela menggeleng geli tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Dasar bucin!" gerutu Dela.
Riri cuma nyengir.
flashback off
"Lo dari mana aja, Ri?" Erwin menghampiri Riri yang baru memasuki kelas.
"Ketemu Andre!"
"Ngapain?"
"Masih cerita kemaren. Ditambah yang tadi."
Erwin mengangguk, paham.
"Dia marah lagi?"
"Iya. Malah tambah parah."
Erwin menggeleng tak mengerti dengan pemikiran Andre. Erwin tau Riri tulus sama Andre dan Erwin menyayangkan sikap Andre pada Riri.
"Move on, girl. Gue yakin kok pasti ada cowok yang lebih baik dari Andre dan lebih pantas buat lo." Erwin menepuk pelan bahu Riri.
"Thanks, bro!" Riri balas menepuk Erwin. keduanya sama-sama tersenyum.
"Oh ya Win, Tari bilang ke gue sore nanti dia mau ke rumah lo." kata Riri.
Erwin mengernyitkan dahinya.
" Mau ngapain?" tanyanya tak mengerti.
"Katanya mau main aja biar lebih akrab."
"Lebih akrab? Maksudnya?" Erwin memandang Riri, bingung.
"Dia naksir lo, o'on!" Riri menjitak jidat Erwin, gemes.
Erwin bergidik. Riri menatapnya heran.
"Lo kenapa jadi merinding gitu Win?"
"Gue takut, Ri."
Riri melongo.
"Takut kenapa?" tanyanya bingung.
"Takut sama Tari!"
"Apaaaaa?!"
Riri ngakak heboh.
"Badan gede, sama cewek cantik takut. Hello... jurus taekwondo lo manaaaa?" ejek Riri sambil ngakak gak abis-abis.
Erwin menjitaknya gemes.
"Gak ada hubungannya, kali." sahut Erwin gemas.
Riri menatap Erwin sambil terus tersenyum geli.
"Elo beneran gak naksir Tari?" tanya Riri tak percaya.
Erwin menggeleng.
"Enggak!"
"Lo tau gak berapa banyak cowok naksir Tari dan mengejar cintanya Tari?"
Erwin menggeleng lagi. Riri menepuk-nepuk bahu Erwin, pelan.
"Lo beruntung bro, karna dari sekian banyak cowok yg berusaha ngedeketin Tari, Lo yang Tari pilih. Lo harusnya bangga, bro." kata Riri salut.
__ADS_1
"Tapi kan gue gak naksir Tari?" Erwin masih bingung.
Riri menepuk jidatnya pelan.
"Bener-bener masih perjaka murni nih cowok."
"Intinya bro, Tari pengen lo jadi pacarnya dia. Paham?"
Riri mengacak rambut Erwin.
"Kok bisa? Kita kan baru kenal?"
Erwin masih tak mengerti. Riri mulai kesal melihatnya.
"Lo masih inget kan gue pernah cerita kalo Tari fall in love at the first sight sama cowok disekolah kita, dan ternyata cowok itu elo. Jangan pura-pura bego deh, Win." Riri menarik keras kuping Erwin yg spontan mengaduh kesakitan.
" Ampun, Ri! Tapi gue sama sekali gak tertarik ama Tari, tak peduli seberapa tenar dia dimata cowok-cowok lain." kata Erwin jujur.
Riri diam sesaat, lalu...
" Tapi Tari beneran suka loh ama lo, Win." ujarnya.
"Masak gue harus maksain diri buat suka ama Tari, Ri?" Erwin menatap Riri dengan tatapan menghiba.
"Setidaknya lo coba mengenal Tari lebih dekat, Win. Dia cewek baik, gue yakin lo pasti bakal suka kalo lo udah dekat sama Tari." Riri membujuk Erwin. Riri gak mau Tari kecewa.
"Oke, gue akan coba." ucap Erwin terpaksa.
"Keren! Gitu dong, cowok sejati harus berani mencoba. Good luck!" Riri mengacungkan jempolnya memberi Erwin semangat. Senyumnya mengembang. Sedangkan Erwin hanya meringis melihat senyum manis Riri.
🎵Biarkan aku jadi sesuatu
yg berarti untukmu tapi tidak sesaat
biarkan aku jadi tempat
untuk bersandar disaat kau terpuruk rapuh
jangan sampai kau lemah
ku yakin kau pasti bisa bangkit
jangan anggap kau sendiri hadapi
ada aku disini...
walau dia kini telah lama dihidupmu namun sampai kini tak bahagiakan kamu
lupakan semuanya tinggalkan saja
percuma...
bukalah matamu selebar dunia ini
dan rasakan banyak orang yg perduli
jangan ingat lagi jangan kau sesali
ada aku disini...
biarkan aku yg bisa dapat menuntunmu
disaat kau dilanda ragu
dan biarkan aku membuatmu lepas
"Lo udah bilang ke Erwin, Ri, kalo kita mau kerumahnya?" tanya Tari ketika Riri melajukan motornya ke rumah Erwin.
"Gue bilangnya elo pergi sendiri gak pake ngajak gue." ketus Riri sebel karena Tari sudah memaksanya ikut ke rumah Erwin.
Dibelakang Riri, Tari cengengesan sendiri.
"Ya iyalah lo harus ikut. Lo kan sahabatnya, jadi Erwin gak akan merasa segan sama gue kalo ada lo." Tari memberi alasan.
"Bukan buat jadiin gue obat nyamuk?" timpal Riri.
Tari terkikik geli.
"Boleh juga. Biar lebih bebas pdkt gue dari gigitan nyamuk." sahut Tari.
"Dodol, lo. Ini namanya enak di elo gak enak di gue." semprot Riri, keki.
Tari terbahak.
Sepanjang perjalanan angan Tari melayang membayangkan pertemuannya nanti dengan Erwin.
'Akankah Erwin sudi menerima kedatanganku kerumahnya?' tanya hati Tari.
Riri berhenti disebuah rumah yang cukup asri dan teduh. Setelah memarkirkan motornya Riri melangkah masuk ke teras rumah.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Seorang wanita seumuran ibu Riri keluar dari dalam rumah.
"Maaf tante, Apa Erwin ada?" Riri tersenyum sopan.
Tari hanya mengangguk sopan.
"Temen sekolah Erwin ya?" tanya wanita itu dengan ramah.
"Iya, tante."
"Mari masuk dulu nak. Erwin tadi pergi sebentar ke rumah temennya, gak jauh kok cuma disitu." ibu Erwin mempersilahkan Riri dan Tari untuk masuk ke dalam rumah.
"Makasih tante. Biar kami tunggu disini aja."
"Silahkan kalo begitu. Tante tinggal dulu ya?"
"Iya, tante."
Riri dan Tari pun duduk dikursi teras. Tari kelihatan gelisah.
"Dikursi lo ada paku ya, Beb? Atau... lo lagi bisulan?" tanya Riri melihat kegelisahan Tari.
Riri tertawa geli ketika Tari melotot serem kearahnya. Kelihatan banget kalo Tari lagi nervous.
"Sabar, beb. Bentar lagi pujaan hati lo pasti dateng." bujuk Riri, paham.
Tari masih merengut, bete. Tak lama,
"Maaf ya, gue tadi ada kerjaan sebentar dirumah temen gue." Erwin datang bersama seorang temannya.
"Riri! Tari! Kenalin ini Erwin tetangga juga temen main gue."
Riri dan Tari saling pandang. Lalu,
__ADS_1
"Hai dedek Erwin! Panggil gue kak Riri ya?"
Riri mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis pada teman Erwin yang juga bernama Erwin dan kelihatan masih muda banget.
"Kalo gue kak Tari." sambung Tari.
Cowok yg dipanggil dedek Erwin tersenyum geli menyambut perkenalan Riri dan Tari.
"Paling bisa kalo udah ketemu mainan baru." Erwin mengacak rambut Riri gemes.
"Apaan, sih! Berantakan lagi deh rambut gue!" Riri balas menjitak Erwin, kesel.
Tari dan Dedek Erwin tertawa geli melihat Erwin dan Riri saling jitak.
"Dedek Erwin masih SMP ya? Mukanya kok imut banget?" tanya Riri gemes liat wajah cute si dedek.
"Dedek Erwin jangan mau temenan sama dia ya, ntar cepat tua kayak dia." kata Riri lagi sambil menunjuk kearah Erwin yg spontan melotot kesel padanya.
Dedek Erwin terbahak. Lalu menggeleng.
"Gue udah SMA kali, sama kayak lo." jawabnya.
"Kelas berapa?"
"Kelas 10..."
"Ahh...masih dedek juga. Aduh!" timpal Riri dan langsung mengaduh saat dengan santainya Erwin menarik rambut pendeknya.
"Sakit, dodol!" umpat Riri kesel.
"Panggil orang dedek, sendirinya juga masih kecil." semprot Erwin geli dengan gaya Riri yg sok tua.
"Berisik! Sana lo berdua, kabur jauh-jauh."
Riri mendorong Erwin dan Tari menjauh darinya dan dedek Erwin. Lalu Riri menarik tangan dedek Erwin duduk dibawah pohon yg tumbuh dihalaman rumah Erwin. Dedek Erwin memandang Riri tak mengerti.
"Mereka berdua mau pdkt dan gue gak mau ganggu mereka. Apa lo gak keberatan nemenin gue disini?" kata Riri seolah bisa membaca isi hati si dedek.
"Loh... gue kira lo yg pacaran sama Erwin." sahut si dedek.
"Hush! Kita tuh cuma teman sebangku dan kita juga sahabatan." jelas Riri.
Si dedek menatap Riri dalam seolah ada sesuatu yg aneh dengan penjelasan gadis mungil itu.
"Udah, jangan ngomongin itu. Sekarang ceritakan tentang lo." pinta Riri.
"Emang Erwin gak pernah ya cerita ke elo soal gue?" tanya dedek Erwin.
Riri menggeleng.
"Lo tau sendiri kalo Erwin tuh orangnya gak suka banyak bicara, apalagi cerita tentang teman-temannya diluar sekolah. Dia ikut taekwondo aja gue taunya dari teman sekelas kami yang satu dojang dengannya."
Dedek Erwin menggangguk paham.
"Iya sih! Tapi, gue tau semua tentang lo. Erwin sering banget cerita ke gue soal gadis mungil yg tomboy tapi cengeng, yaitu elo."
" Masak sih!" Riri sampai melongo tak percaya dengan perkataan si dedek.
"Makanya gue kira elo pacarnya Erwin." kata Dedek lagi.
Riri tertawa ringan.
"Gak lah. Yang naksir Erwin tuh si Tari, temen main gue kayak lo sama Erwin. Gue kesini juga dipaksa sama Tari yang ngebet banget pengen ketemu Erwin." gumam Riri.
"Untung aja ada lo, jadi gue gak jadi obat nyamuk disini." kelakar Riri.
Si dedek tertawa geli.
'Lo ternyata begitu lucu, Riri. Pantesan Erwin suka sama lo.' kata dedek dalam hati.
Riri masih asik ngobrol dengan si dedek ketika Erwin dan Tari mendekat dan ikut bergabung dengan mereka.
"Udah?" tanya Riri pada Tari.
Tari mengangguk mengiyakan.
"Kalo gitu kita pulang ya, Win, dedek. Ngapelnya udah selesai... Aduh!"
Riri cengengesan sambil mengusap-usap kepalanya yang dijitak Tari. Ditambah Erwin melotot geram padanya. Si dedek sampe tersedak gara-gara menahan tawa.
"Kita pamit ya duo Erwin, salam buat nyokap ya?" Tari pamit pulang.
Erwin mengangguk.
"Hati-hati, Ri!" Erwin mengingatkan Riri yang bawa motor.
Riri mengangguk.
"Tenang aja. Ayang lo gue jamin aman sampai rumah." Riri mengerling, menggoda Erwin .
Si dedek Lagi-lagi terkikik geli.
"Riri bener-bener lucu ya, Win. Gue dari tadi tertawa terus denger celotehnya dia." kata dedek jujur.
Erwin tersenyum dan mengangguk.
"Makanya gue bersyukur banget bisa kenal dan deket sama Riri. Dan Riri adalah cewek pertama yang bisa bikin hidup gue begitu berwarna." ungkap Erwin jujur.
Dedek mengangguk mengerti.
'Ya. Memang selama ini tak pernah Erwin terlihat begitu akrab dengan gadis manapun kecuali Riri.'
Sebagai sahabat karib, Dedek tau betul bagaimana kakunya sikap Erwin bila berhadapan dengan makhluk yang bernama cewek. Tapi dengan Riri, Dedek bisa melihat betapa santai dan lepasnya Erwin bercanda dengan gembiranya.
"Gimana pdkt lo ama Tari?" tanya dedek kemudian.
Erwin mengangkat bahu. Dedek mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Gue mau melakukannya karna Riri yang suruh. Tadinya gue gak mau, tapi Riri maksa gue karna Tari yang maksa dia." kata Erwin sebal.
Dedek tertawa.
"Karna sebenernya lo suka ama Riri, kan?" tebak dedek.
Erwin terperanjat. Namun dia hanya terdiam.
Dedek menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Lo harus mulai menentukan sikap, Win. Turuti kata hati lo, karna jawabannya ada dihati lo."
Erwin masih terpaku. Lalu,
"Gue gak yakin dengan perasaan gue, Win. Gue gak mau Riri benci sama gue kalo dia tau gue udah jatuh cinta sama dia. Gue takut persahabatan kami hancur gara-gara perasaan gue. Gue gak siap Riri pergi ninggalin gue."
Erwin tertunduk lesu. Hatinya memang tidak bisa berbohong bahwa semenjak kenal Riri Erwin sudah jatuh cinta dengan gadis mungil tomboy yang ceriwis nan baik hati itu.
"Lo gak bakalan tau gimana perasaan Riri kalo lo gak coba nyatain perasaan lo, Win." kata Dedek Erwin sambil menepuk pelan bahu sahabatnya yang saat ini tengah galau.
__ADS_1