
"Tindakanmu sudah sangat keterlaluan, Sella. Kamu sudah mempermalukan kami didepan semua tamu. Ini semua karna kamu sudah memanjakannya, ma!" Papa Sella menatap istri dan anaknya dengan perasaan marah.
"Kita pulang sekarang! Andre, ajak istrimu pulang. Kalo dia menolak, seret saja. Bikin malu!" papa Sella menarik kasar tangan istrinya. Sebelum pulang beliau berpamitan pada keluarga mempelai.
"Maafkan atas apa yang terjadi, Mas. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena Sella sudah membuat onar di acara pernikahan Rani. Sekali lagi maaf, Mas!" ucap papa Sella tulus.
Mama Alvi Dan Papa Adi tersenyum maklum. Setelah berpamitan papa Sella pun pergi dengan wajah malu. Andre juga pulang sambil menarik paksa tangan Sella yang menatap Riri dengan penuh dendam.
"Para undangan sekalian, kami mohon maaf atas kesalahpahaman tadi. Sekarang pesta kami lanjutkan. Selamat menikmati." MC memulai acaranya kembali.
"Dan kepada bapak Risya Suwandi dan Ibu Riri, kami mohon tampil diatas panggung karena request dari pengantin." kata MC lagi.
Riri terkejut menoleh kearah Iyan. Yang ditatap hanya mengangkat bahu tanda tak tau. Sarah mengambil baby Ray yang tertidur digendongan Iyan.
"Cepat naik. Hibur pengantinnya yang manyun gara-gara pestanya dirusak nenek sihir tadi." bisik Sarah sambil mengerlingkan mata pada Riri.
Dengan terpaksa Riri naik keatas panggung diikuti Iyan.
"Saya ingin meminta maaf pada semuanya atas insiden tadi. Dan sebagai permohonan maaf kami akan menyumbangkan sebuah lagu untuk kedua mempelai dan para tamu. Sebelumnya mohon maaf kalo suara saya jelek." Iyan membungkuk hormat pada semua yang hadir dipesta Rani dan Erwin.
Tepuk tangan bergema diruangan tersebut. Iyan dan Riri berembuk memilih lagu yang akan mereka nyanyikan.
Lalu Iyan membisikkannya pada pemain musik.
🎵
Iyan :
Kupilih hatimu
tak ada kuragu
mencintamu adalah hal yang terindah
dalam hidupku oh sayang
kau detak jantung hatiku
Riri :
Setiap nafasku hembuskan namamu
sumpah mati hati ingin memilihmu
dalam hidupku oh sayang
kau segalanya untukku
Iyan :
Janganlah jangan
kau sakiti cinta ini sampai nanti
disaat ragaku sudah tidak bernyawa lagi
dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Riri :
Tolonglah jangan
kau sakiti hati ini sampai nanti
disaat nafasku sudah tidak berhembus lagi
karna sungguh cinta ini
__ADS_1
cinta sampai mati!🎶
Aplaus gemuruh dan teriakan-teriakan heboh menggema diseluruh ruangan ketika Riri dan Iyan mengakhiri lagu yang mereka nyanyikan.
"Lagi! Lagi! Lagi!" teriakan dan sorak sorai terus bergema.
Rani mengacungkan jempolnya ke arah kepada Riri dan Iyan.
"Baiklah! Demi permintaan adik manis kami, Rani, kami akan menyanyikan satu lagu lagi."
Sorak sorai terdengar lagi.
🎵
Iyan :
Kuingin kau tau
kuingin kau s'lalu
dekat denganmu setiap hariku
Riri :
Sudahkah kau yakin
untuk mencintaiku
kuingin hanya satu 'tuk selamanya
Iyan ft Riri :
Ku tak melihat dari sisi sempurnamu
tak peduli kelemahanmu
karna hatimu
Cintaku...
tak pernah memandang siapa kamu
tak pernah menginginkan kamu lebih
dari apa adanya dirimu...selalu
Cintaku...
terasa sempurna karna hatimu
s'lalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku.🎶
Senyum bahagia terpancar diwajah kedua mempelai. Pesta pernikahan Rani dan Erwin berlangsung sangat meriah meski sempat terjadi keributan, tapi semua bisa melupakan kejadian itu setelah Riri dan Iyan mampu menghipnotis semuanya dengan lagu yang mereka nyanyikan juga kekompakan mereka diatas panggung.
Iyan pov
Aku terus menatap kearah perempuan itu dengan kesal. Entah apa yang membuat wanita itu begitu membenci Riri sehingga begitu tega menyakiti hatinya.
Aku sempat mengancam wanita itu untuk menghentikan ocehannya yang tak beralasan.
Tapi Riri, bukannya marah malah Riri menyuruhku tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan kata-kata perempuan itu.
Yang membuatku makin panas, suami wanita itu sepertinya tak berani bersikap tegas pada istrinya. Dan sampai akhirnya aku tau bahwa perempuan itu cemburu pada Riri dan menyimpan dendam padanya karena baik almarhum Erwin ataupun suami perempuan itu menyukai Riri. Perempuan itu menuduh Riri yang telah merebut mereka darinya.
Aku harus mengawasi perempuan itu. Aku gak mau dia menyakiti Riri lagi.
__ADS_1
autor pov
Riri pulang lebih dulu ke rumah diantar oleh Iyan. Mama Alvi yang menyuruh Iyan mengantarkan Riri pulang karena baby Ray nampaknya begitu lelah.
"Riri sayang, sebaiknya kamu pulang. Baby kayaknya capek banget." mama menyerahkan baby Ray pada Riri yang baru selesai makan.
" Iya, Ri. Ini waktunya baby Ray mandi kan?" sambung kak Sarah.
Riri melirik jam tangannya. Pukul 14.35 wib.
"Yuk, Yi. Aku antar kamu dan baby pulang." Iyan sudah siap dengan tas baby Ray disandangnya, diambilnya Ray digendongan Riri.
Riri mengangguk dan mengikuti Iyan menuju parkiran.
"Bang!"
Iyan menoleh ketika Riri memanggilnya.
"Yang tadi itu.. " Riri tertunduk diam, tak bisa melanjutkan ucapannya.
Iyan menepikan mobilnya.
"Yi! Kita nikah yuk?!"
"Hahhh!!!" Riri melongo, melotot, memporong, mmmmm....
Iyan tertawa geli melihat tampang abstrak Riri yang terkejut mendengar pernyataannya.
Diacaknya gemes kepala Riri.
"Jelek kamu kalo kaget gitu." kata Iyan gemes.
Riri segera tersadar dari keterkejutannya.
"Kesambet apa babang ya ?"
"Ayi!"
Riri menatap Iyan lagi, tajam. Iyan menyunggingkan senyumnya menambah point ketampanan diwajahnya.
"Mulai hari ini aku mau panggil kamu kayak dulu. Ayiku cantik yang bandel tapi cengeng." Iyan mengedipkan matanya, genit.
Riri melengos.
"Dasar alay!" sungutnya, kesal.
Iyan terbahak. Riri paling benci kalo dibilang cengeng, tapi juga gak suka kalo dipuji cantik.
Iyan memberanikan diri menggenggam tangan Riri.
"Yi, babang gak mau orang lain mengganggu Ayi. Babang gak rela Ayi direndahkan seperti tadi. Babang mau jadi pengganti Erwin, Yi. Babang ingin Ayi seutuhnya menjadi milik babang biar orang lain gak berani ganggu Ayi lagi." Iyan menatap Riri penuh harap.
"Bang! Aku belum..."
"Sudah saatnya kamu membuka hati, Yi. Bagaimana pun Erwin tidak akan kembali lagi."
Riri menunduk diam.
Iyan mengangkat dagu Riri agar menatapnya. Dan sedetik kemudian, Iyan ******* gemas bibir Riri tanpa permisi.
Riri yang tengah menggendong baby Ray mengangkat tubuh Ray agak keatas sehingga Iyan tersadar.
"Maaf!" kata Iyan kikuk.
Ditepuk-tepuknya pelan lengan baby Ray yang tengah tidur dipelukan Riri.
Riri diam saja, menatap lurus kedepan dengan ekspresi datar. Riri bingung dengan perasaannya kini. Apakah dia harus sedih atau bahagia dengan pernyataan Iyan tadi?
__ADS_1