Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 5


__ADS_3

🎵Saat indah dalam hidupku


saat aku bertemu denganmu


kau anugerah yg tercipta begitu nyata


Kau tercantik dalam hatiku


walaupun meronta berkata begitu


kuingin kau disampingku selamanya


Bila engkau menerima cintaku


aku akan setia kepadamu


karna dirimu yg selama ini...kucari


Bila engkau menerima cintaku


aku akan selalu jujur untukmu


karna dirimu yg selama ini...dihati🎶


Erwin meraih dan menggenggam jemari Riri yang duduk disebelahnya. Ditatapnya lembut wajah manis Riri sambil tersenyum tenang.


"Ri, boleh gak gue berharap lebih dari lo?" tanya Erwin, pelan.


Riri mengernyit tak mengerti. Tapi jantungnya kembali berdetak cepat.


"Maksud lo?" tanya Riri balik.


" Gue mau lo jadi pacar gue!" pinta Erwin membuat mata bulat Riri terbelalak.


"Lo..."


Riri bingung campur salting.


"Gue serius, Ri! Gue udah suka elo sejak kita masih dikelas 10." jawab Erwin.


Riri menatap mata Erwin lekat. Perlahan ditariknya pelan tangannya dari genggaman Erwin.


"Maaf, Win! Gue gak bisa mengkhianati Tari." kata Riri pelan.


"Gue ama Tari gak ada apa-apa, Ri. Gue hanya anggap dia teman, gak lebih." Erwin berkata apa adanya.


Riri menggeleng lemah.


"Tapi Tari berpikir lo suka ama dia, Win. Dia sangat berharap banyak ama lo."


"Gue sukanya ama lo, Ri, bukan Tari. Dan gue gak mau nyakitin hati Tari cuma gara-gara gue harus terpaksa suka sama dia." Erwin menatap tajam pada Riri yg merasa bimbang.


" Liat gue, Ri!" perintah Erwin.


Riri masih menunduk tak berani menatap wajah tampan yg selama ini telah menemani hari-harinya disekolah. Wajah yang diam-diam ia kagumi namun tak mampu tuk memilikinya karena kedekatan mereka hanya atas nama persahabatan.


Erwin mengangkat pelan dagu Riri agar menatap matanya. Senyumnya terukir manis saat bertemu pandang dengan mata bening milik Riri.


"Gue gak bisa bohongi hati gue. Gue gak mau memendam perasaan ini lebih lama lagi, Ri. Gue cinta elo." Erwin mencium lembut jemari Riri.


Seketika wajah manis Riri bersemu merah. Riri merasa pipinya panas.


"Gue gak mau denger lo ngomongin Tari lagi, Ri. Ini antara lo dan gue. Sama sekali gak ada orang lain."


"Gue..."


"Atau... lo masih mengharapkan Andre?" sergah Erwin.


Dengan cepat Riri menggeleng.


"Bukan itu. Gue cuma kepikiran Tari aja." sanggah Riri. Erwin tersenyum mendengarnya.


"Biar nanti gue ngomong ke Tari soal kita." kata Erwin. "Tapi lo belum jawab pertanyaan gue, Ri."


"Pertanyaan apa?"


"Mau gak lo nerima gue jadi cowok lo?"


Erwin menggenggam tangan Riri lagi sambil terus menatap wajah manis yang sejak dulu sudah mencuri hatinya itu.


Riri mengangguk malu.


"Iya, gue mau jadi cewek lo." Riri tertunduk malu. Kalo sudah seperti itu sifat tomboy Riri tidak terlihat sama sekali. Riri terlihat seperti seorang gadis yang baru mengenal cinta, malu-malu kucing.


Erwin merengkuh tubuh Riri dan memeluknya mesra.


"Makasih ya, Ri! Aku bahagia banget." Erwin mencium lembut kening Riri yang tertunduk sambil tersenyum malu.


"Mulai sekarang manggilnya jangan lo-gue lagi ya?" pinta Erwin.


"Terus manggilnya apa dong?"


"Panggilnya sayang aja." kata Erwin membuat Riri melotot.


"Enggak ah! Malu!" tolak Riri.


"Kenapa harus malu? Kan udah pacaran?!"


"Maunya manggil bibi aja." sahut Riri malu-malu.


Erwin mengernyit.

__ADS_1


"Kok kedengerannya kayak manggil mbok yem ya?" gumamnya.


Riri meringis geli.


"Bibib aja deh kalo gitu." ralat Riri.


Erwin tersenyum dan mengangguk setuju.


"Tapi... kalo disekolah nanti kita biasa aja ya." kata Riri.


Erwin membelai rambut Riri.


"Emangnya kenapa? Gak enak sama Andre ya?" sindirnya. Raut wajah Erwin pun berubah jutek.


Riri nyengir menyadari Erwin mulai cemburu.


"Maksud aku, kita gak perlu ngasih tau ke orang-orang kalo kita udah jadian. Biar mereka tau sendiri." jelas Riri.


"Oke deh! Bibib turuti semua mau Ayang Bibib." Erwin mengangguk setuju.


Riri tersenyum malu mendengar panggilan manis Erwin padanya.


"Tapi... kita berdua udah tau loh!"


Sontak Erwin dan Riri menoleh kearah dapur. Disana ada Helmi dan Dela yang cengengesan geli melihat Erwin dan Riri salting.


"Kita jadi saksinya loh." sambung Dela lagi.


Erwin tertawa sedangkan Riri mesem-mesem malu.


Berempat, Riri, Erwin, Helmi dan Dela kembali ke sekolah melewati kelas 12 IPA 1. Mereka berjalan santai sambil bersenda gurau. Erwin menyadari ada sepasang mata tengah mengawasi mereka. Erwin pun merangkul Riri yang meresponnya dengan bergayut manja memeluk lengan Erwin. Nampak jelas Erwin melihat sepasang mata itu terlihat memerah menahan marah.


' Rasain lo! Nyeselkan sekarang udah sia-siain cewek sebaik Riri." ejek Erwin dalam hati.


"Kenapa Bib? Kok senyum-senyum sendiri? Kesambet ya?" Riri heran melihat Erwin.


"Iya. Kesambet cintanya Ayang Bibib." bisiknya mesra ditelinga Riri.


"Huu... gombal!" Riri menjitak pelan jidat Erwin yang tersenyum menggodanya.


Mereka pun segera masuk ke dalam kelas. Dan taklama, Pak Ali masuk untuk mengajar pelajaran selanjutnya.


Setelah tiga jam belajar, bel istirahat pun berdering. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Erwin dan Riri berjalan menuju perpustakaan. Riri mau membaca majalah remaja mingguan edisi terbaru.


"Ayang Bibib gak laper ya?" Erwin menggenggam tangan Riri setelah mereka duduk disudut ruangan perpus.


"Bibib kalo laper kekantin aja, aku mau baca ini." Riri menunjukkan majalah yang tadi ia ambil. Erwin diam.


Riri tersenyum.


"Aku masih kenyang loh. Tadi kan Bibib banyak suapin aku makan mi goreng." Riri memberi alasan karena nampaknya Erwin bete padanya. Erwin tersenyum sambil mengacak mesra rambut Riri.


"Kalo gitu Bibib beliin oren jus ya?"


"Ayang Bibib tunggu disini, Bibib gak lama kok!" Erwin buru-buru keluar menuju kantin.


Riri geleng-geleng kepala sambil senyum sendiri mengenang kejadian yg dialaminya hari ini. Kejadian terindah yang pastinya tidak akan ia lupakan seumur hidup.


"Boleh aku duduk disini?"


Riri mendongak melihat sosok yang menyapanya.


'Andre!'


"Ada apa lagi?" ketus Riri.


"Jangan jutek gitu. Aku kesini cuma mau minta maaf." Andre duduk menghadap Riri.


"Gak ada yg perlu dimaafin."


"Jelas ada, Ri."


Andre meraih tangan Riri, tapi cepat-cepat Riri menariknya.


"Aku menyesal, Ri. Aku baru sadar kalo sebenarnya aku juga suka sama kamu." ungkap Andre membuat Riri terperanjat, tak percaya dengan apa yg ia dengar.


"Sejak kamu marah dan menjauhi aku, aku merasa kehilangan kamu, Ri. Kehilangan perhatian dan cinta kamu..."


"Udahlah Dre, gak ada yg perlu disesali. Yang lalu biar saja berlalu. Aku udah lupain semuanya kok."


Riri beranjak dari duduknya.


"Tapi aku ingin semua kayak dulu lagi, Ri?!" Andre memegang tangan Riri yang hendak pergi.


"Aku gak mau!"


Riri menghentakkan genggaman tangan Andre. Tapi Andre memegangnya terlalu kuat. Riri pun merasakan sakit ditangannya.


"Lepasin tangan lo!"


Tiba-tiba Erwin datang dan menepis tangan Andre yang memegang Riri. Andre pun melepaskan tangannya. Riri cepat-cepat bersembunyi dibelakang punggung Erwin.


"Gue gak ada urusannya sama lo." Andre menatap Erwin dengan penuh amarah.


"Kalo lo mau sakiti Riri lagi, jelas lo berurusan sama gue." gertak Erwin.


"Gue gak ada niat buat sakiti Riri. Gue cuma mau balikan lagi sama Riri." sahut Andre.


Riri menarik tangan Erwin mengajaknya pergi menjauhi Andre. Erwin menahan tangan Riri dan menatap Andre,


"Maaf! Anda belum beruntung. Riri udah jadi milik gue sekarang!" jawab Erwin tenang.

__ADS_1


Lalu ia merangkul Riri melangkah menuju kelas mereka diiringi tatapan tidak percaya Andre.


🎵


Jujur aku tak bisa


melupakan yang terjadi


cinta yang dulu jadi angan-angan


kini harus berakhir


Sekarang benar kurasa


menyesal tak ada guna


egoisku yang membuatmu pergi


dan aku tau hatimu menangis


Hanya dirimu yang buatku sayang


hanya dirimu yang buatku senang


hanya dirimu yang buatku tenang


takkan ada yang lain


yang bisa menggantikanmu


Menyesal ku tak menjaga hatimu


menyesal ku tak membahagiakanmu


ku menyesal selalu menyakitimu


penyesalan ku tak berakhir


🎶


Andre terpaku diam menatap mejanya. Pikirannya kacau. Musnah sudah harapannya untuk kembali pada Riri. Riri yang manis, ceria, dan akan selalu tersenyum untuknya walaupun terus ia sakiti. Andre baru menyadari kalo dia mencintai Riri setelah gadis manis itu menjauhinya.


'Kenapa dulu aku bertindak begitu bodoh? Seharusnya aku beruntung bisa dicintai gadis sebaik Riri. Bodoh!'


Andre menggebrak mejanya, membuat seisi kelas kaget. Apalagi Hendra, teman sebangkunya, yg sampai terjatuh dari duduknya karena terkejut dengan ulah Andre.


" Lo gak pa-pa, Dre?" tanya Hendra hati-hati.


Andre terisak pelan. Hendra makin terkejut melihatnya. Andre menelungkupkan wajahnya diatas meja.


"Coba cerita ke gue ada apa?!"


Hendra tak tega liat sahabatnya itu begitu terpuruk.


"Gue nyesel banget, Hen!" Andre berkata pelan. Hendra diam menunggu Andre cerita.


"Gue kehilangan Riri!" Andre kembali terisak.


Hendra menepuk pelan bahu Andre.


"Lo tenangin diri dulu. Setelah tenang baru lo temuin Riri, lo ngomong baik-baik ama Riri..."


"Riri udah punya pengganti gue, Hen!" kata Andre pelan.


Hendra mengernyit tak percaya.


"Secepat itu?" tanyanya.


Andre mengangguk.


"Ini salah gue terlalu sering bikin Riri sakit hati, maka pantas untuknya move on dari gue."


"Gak mungkin secepat itu Riri bisa move on dari lo." Hendra menggeleng tak yakin.


"Buktinya sekarang Riri udah punya cowok baru, Hen. Gue tadi ketemu mereka diperpustakaan." Andre meyakinkan Hendra.


"Siapa cowoknya?"


"Siapa lagi kalo bukan yang sering ngintilin Riri. Dia memang sengaja mengambil kesempatan dalam..."


"Monopoli?" sambung Hendra mencoba bergurau, kali aja galau Andre berkurang.


"Gue serius. Cowok itu kan emang selalu bersama Riri." Andre terlihat sangat emosi mengingat sosok yang mengaku pacar baru Riri.


"Maksud lo... Erwin?"


"Gue gak peduli siapa namanya, yang pasti gue akan rebut Riri kembali."


"Lo berani nantang Erwin? Dia kan juara taekwondo." kata Hendra.


"Gue gak peduli! Pokoknya gue harus bisa bikin Riri kembali ke gue." tegas Andre.


"Caranya?"


"Yang pasti gak pake otot. Pake ini!" Andre menunjuk kepalanya.


Hendra manggut ngerti.


'Cinta memang aneh! Orang bisa gila karna cinta. Yang tadinya jijik dengan orang yang mendekatinya, sekarang malah dia yang mengejar-ngejar cinta orang itu. Seperti yang dialami Andre sekarang. Dulu Riri setengah mati mengejar cinta Andre dan tak pernah dianggap Andre yang hanya memberi gadis itu harapan semu. Sekarang Riri menyerah dan menjauh, giliran Andre yang mati-matian mengejar cinta Riri. Karma memang masih berlaku.'


Tanpa sadar Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya bingung dengan apa yang terjadi dihadapannya sekarang.

__ADS_1


cast Andre



__ADS_2