Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 18


__ADS_3

"Suami nyonya Rianti?"


Seluruh yang ada diruang tunggu saling pandang.


"Iya, saya!" Iyan menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi.


Perawat itu mengajak Iyan masuk kedalam ruangan tempat Riri terbaring tak sadarkan diri.


Iyan melihat dengan kepala matanya sendiri proses Riri melahirkan.


Dia ikut merasakan beratnya beban seorang ibu dalam melahirkan buah hatinya.


Tanpa sadar Iyan mencium pucuk kepala Riri dan memeluk wajah wanita itu.


"Yang kuat ya Ri, demi anak kita." bisik Iyan pelan ditelinga Riri yang masih belum sadar.


Lima belas menit kemudian,


"Ooeee... ooeee..."


Suara tangis bayi menggema didalam dan luar ruang operasi.


"Selamat pak, anak anda laki-laki."


Airmata Iyan jatuh tanpa terasa. Diambilnya bayi yang diberikan perawat padanya.


Kemudian dikumandangkannya azan ditelinga bayi mungil itu. Iyan lalu keluar membawa bayi ke keluarga Erwin yang menunggu diluar.


"Anak Erwin laki-laki, Ma!" kata Iyan sambil menyerahkan bayi tersebut pada neneknya, mama Alvi, yang langsung menggendongnya dengan penuh haru. Diciumnya lembut cucu laki-lakinya.


"Keadaan Riri gimana, Yan?" tanya papa Adi.


"Dokter sedang menjahit lukanya, pa. Sebentar lagi dia akan segera dipindahkan ke kamar perawatan."


Seorang perawat keluar dan menemui Iyan.


"Pak, bayi anda harus masuk inkubator segera." kata perawat itu.


Mama pun memberikan cucunya pada perawat yang langsung membawanya ke ruang inkubator diikuti mama, dan kak Sarah. Iyan kembali masuk menemani Riri dan yang lainnya masih menunggu diluar ruang operasi.


Riri memandang sekeliling ruangan dengan pandangan nanar. Tubuhnya masih terasa lemah. Dilihatnya Iyan tertidur dikursi disebelah tempat tidurnya.


Riri menyentuh pelan kepala Iyan yang bersandar disebelahnya.


"Yan!" panggilnya pelan.


Iyan yang merasakan kepalanya dibelai segera bangun.


"Riri! Apa ada yang sakit?" tanya Iyan penuh perhatian.


Riri menggeleng lemah.


"Mana anakku?" tanya Riri. Ia tidak melihat box bayi didekat tempat tidurnya.


"Mana anakku?" tanya Riri ulang. Ingin rasanya ia menjerit keras karena khawatir ada apa-apa yang terjadi pada anaknya. Wajah Riri yang pucat terlihat makin lemah.


"Anakmu ada diruangannya, Ri. Dia akan segera sehat dan bisa pulang bersamamu nanti." jawab Iyan menenangkan Riri.


Iyan pun menjelaskan pada Riri keberadaan dan keadaan anaknya.


Airmata Riri tumpah. Dia sangat khawatir pada anaknya.


"Tenang Ri, anakmu baik-baik saja. Sebagai seorang laki-laki dia pasti kuat. Sama seperti ayahnya." kata Iyan lagi sambil mengelus pelan tangan Riri yang tertancap jarum infus.


"Anakku laki-laki, Yan?" tanya Riri pelan.


Iyan mengangguk dan tersenyum teduh.


"Mirip banget sama Erwin. Seperti pinang dibelah dua." ujar Iyan lagi.


"Benarkah?" wajah Riri terlihat sumringah. Dia tampak tak sabar untuk bertemu anaknya.


"Apakah aku boleh melihatnya sekarang, Yan?" tanya Riri penuh harap.


"Cepatlah pulih agar kalian cepat bertemu." Iyan membelai rambut Riri, lembut.


Riri membalasnya dengan memberikan senyum termanisnya pada Iyan.


"Terimakasih, Yan!" ucap Riri tulus.


Iyan mengangguk.


Tiga hari setelah masa pemulihan, Riri sudah diperbolehkan pulang. Selama dirumah sakit, keluarga dan teman-temannya bergantian menjenguknya. Bayinya yang sehat hanya sehari tinggal diinkubator dan ditaruh didalam ruang inap Riri.


Setelah Riri melahirkan, Iyan pun mengambil cuti selama dua minggu.


" Lo udah seperti suami Riri, bang. Sampai rela cuti demi menjaga Riri dan anaknya." goda Erwin Aries pada sahabatnya, Iyan, ketika mengurus surat izin cutinya.


"Gue udah terlanjur sayang Dek, sama anaknya Riri." ungkap Iyan jujur.


"Sama anaknya apa sama emaknya?" goda Erwin lagi sambil mengerling lucu.


Iyan tersenyum kikuk. Erwin tertawa geli.


"Fix. Bang Iyan udah jatuh cinta sama Riri."


kata Erwin dalam hati.


"Serius, Win!"


Rani menatap Erwin lekat. Dia harus memastikan apa yang dikatakan kekasihnya itu benar atau tidak.


"Serius, Ay. Bang Iyan kelihatan kikuk waktu kugoda tadi." Erwin serius dengan ucapannya.


"Bagus, Win. Setelah Riri lepas nifas kita akan deketi dia sama bang Iyan." Rani sangat bersemangat sekali menjodohkan Riri dengan Iyan.

__ADS_1


"Gimana dengan mama, Ay?" Erwin khawatir mama tidak suka dengan usul Rani.


"Aku yakin mama pasti setuju kalo Riri mau membuka hatinya, apalagi sama bang Iyan."


"Papa sama kak Sarah gimana? Apa setuju juga?" tanya Erwin lagi.


"Wiwin gak usah khawatir. Kita semua ingin Riri bahagia dan memulai hidup baru dengan orang yang dicintai dan juga mencintainya." jawab Rani mantap.


Erwin tersenyum senang.


"Kalau begitu kita semua harus bekerjasama menyatukan Bang Iyan dan Riri." kata Erwin antusias.


Rani mengangguk setuju. Keduanya pun bertoast ria tanda sepakat.


Riri menatap kamarnya dengan kagum. Kamarnya dihias begitu meriah dengan banyak pernak-pernik dan box bayi didekat tempat tidurnya. Tulisan "welcome to baby boy" terjuntai di dinding atas box bayi.


"Siapa yang menghias kamar ini? Cantik sekali!" Riri berkata takjub.


"Aunty Rani, dong!" Rani menepuk dadanya, bangga. Riri tersenyum sumringah.


"Ehh, Mimi Sarah juga dong!" sambung kak Sarah.


Akhirnya semua mengaku ikut andil menghias kamar Riri yang tampak semarak.


"Makasih semuanya udah sayang sama Riri dan anak Riri."


Riri sangat terharu.


"Kami semua sayang Riri dan baby boy." Rani memeluk Riri diikuti kak Sarah dan Mama.


Iyan yang mendorong Riri dengan kursi roda ikut tersenyum senang melihat Riri sangat bahagia.


Riri hendak turun dari kursi rodanya dan pindah ketempat tidurnya, tapi dengan cepat Iyan mengangkat tubuh mungilnya dan menurunkannya dengan pelan diatas tempat tidur.


"Makasih!" ucap Riri kikuk. Ia malu seluruh keluarga Erwin melihat Iyan memperlakukannya seperti tadi.


Iyan hanya mengangguk.


"Makasih ya, Yan. Udah mau jaga Riri." ucap mama Alvi sepenuh hati.


"Sama-sama, Ma. Iyan senang kok melakukannya untuk Riri dan anaknya." jawab Iyan tulus.


"Oh ya Ri, udah punya nama belum buat baby boy?" Rani mengalihkan pembicaraan.


"Udah!"


"Siapa?"


"Raihan Erwindra Rahadi."


Semua terpana mendengar nama yang Riri berikan pada anaknya.


"Kenapa kalian diam? Nama itu gak bagus ya?" tanya Riri kecewa melihat mama, papa, kak Sarah dan Rani diam saja.


"Bagus banget, sayang. Mama suka nama itu, keren!" ucap mama jujur.


Papa mengangguk setuju diakurin yang lain. Riri tersenyum bahagia.


"Erwin dulu pernah bilang ke Riri, kalo nanti kami punya anak cowok dia pengen kasih nama Raihan. Inshaallah nanti anak kami jadi laki-laki yang terpuji, berakhlak baik dan berbudi pekerti luhur. Aamiin."


"Aamiin."


"Yan, makasih ya udah mau bantuin aku selama ini. Aku utang budi sama kamu. Aku udah banyak merepotkan kamu." ucap Riri tulus. Mata hatinya mulai terbuka melihat ketulusan Iyan padanya selama ini.


"Sama-sama, Ri. Aku seneng kamu udah mau nerima aku jadi ayah asuh Raihan." Iyan tersenyum tulus. Diciumnya lembut Raihan yang berada digendongannya.


"Kamu pantas jadi ayahnya Raihan Yan, karna kamu yang selalu ada sejak dia ada didalam kandungan. Kamu telah memperlakukan kami dengan baik." ujar Riri.


"Sudah seharusnya aku melindungi dan menjaga kalian sebaik mungkin. Kamu dan Raihan telah menjadi bagian hidupku." Iyan menatap lekat mata bening milik Riri.


Jantung Riri berdesir lirih. Pipinya merona panas mendengar ucapan Iyan. Riri pun menunduk diam menyembunyikan kikuknya.


Iyan menghampiri Riri dan duduk ditempat tidur tempat Riri beristirahat.


"Ri, izinkan aku menjaga kalian berdua seumur hidupku!" pinta Iyan.


Riri masih diam.


"Terus terang Ri, sejak aku melihatmu di foto yang Erwin tunjukkan padaku, aku merasa sudah mengenalmu lama. Dan itu kusadari setelah aku dekat denganmu. Kamu adalah gadis kecil yang dulu kunanti."


Riri menatap Iyan tak mengerti.


"Maksudmu?" tanyanya bingung.


Iyan berdiri setelah Raihan bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Iyan terus menggendong Raihan sambil membuainya agar tertidur nyenyak.


Riri masih menunggu Iyan melanjutkan ceritanya.


"Kamu benar-benar sudah lupa padaku, Ri?"


Pertanyaan Iyan membuat Riri mengernyitkan dahinya, bingung.


"Apakah kamu masih ingat dengan teman masa kecilmu dikampung dulu?" tanya Iyan lagi.


Riri berusaha mengingat-ingat masa kecilnya dulu dikampung ibunya.


"Seingatku dulu, aku punya banyak teman disana. Apakah kamu salah satunya?"


"Iya!" Iyan mengangguk.


"Dari sekian temanmu hanya satu yang kamu panggil babang kan?"


Riri mengernyit lagi, berusaha mengingat orang yang Iyan maksud.


"Masih ingat ini?" Iyan menunjuk luka jahitan yang ada dilengan Riri.

__ADS_1


"Kamu... gak mungkin si joko gendut kan?" tanya Riri yang ingat benar siapa yang membuat lengannya harus dijahit gara-gara terkena salah sasaran oleh joko yang hendak memukul buah kedondong tapi terkena Riri yang sedang memanjat pohon itu.


Iyan tersenyum tipis. Ia kecewa. Riri tidak ingat dia.


"Aku ingat sekarang! Kamu... babang anaknya tante Ria, kan? Yang dulu nonjok Joko gara-gara dia gak sengaja bikin aku luka, kan?" kata Riri tiba-tiba membuat senyum Iyan merekah.


Iyan mengangguk.


Riri terperangah tak percaya.


flashback on


"Turun dong, Ri. Aku juga mau metik, nih!" joko yang menunggu dibawah pohon berkata tak sabar melihat Riri yang dengan lincahnya memetik buah kedondong diatas pohon.


"Naik aja napa? Takut banget jadi cowok?" ejek Riri sambil asik menikmati buah kedondong yang lumayan acem.


Joko mendengus kesal.


"Kalo aku bisa manjat udah dari tadi aku manjat Ri, gak perlu kamu suruh." joko ngedumel bete.


Riri terkekeh diatas pohon.


"Awas Ri, aku mau petik pake galah." kata joko memperingatkan Riri.


"Bentar Ko, aku turun dulu." Riri pun turun dari pohon. Tapi belum juga Riri turun Joko sudah lebih dulu memukul batang pohon kedondong yang sedang berbuah lebat.


Naasnya, bukan buah yang dituju yang terkena pukulan joko malah lengan Riri robek terkena kulit kayu yang tajam. Darah mengalir deras dari lengan Riri. Joko yang takut melihat darah dilengan Riri langsung berlari kerumahnya. Taklama, ibu joko muncul dan membawa Riri kerumah sakit.


"Tangan kamu kenapa, Ri?" tanya babang melihat perban yang melilit lengan Riri ketika Riri datang ke sekolah.


Babang yang empat tahun lebih tua dari Riri memang begitu perhatian pada Riri. Dia menganggap Riri seperti adiknya sendiri.


"Ri, jajan yuk. Aku traktir kamu." Joko datang dengan wajah penuh penyesalan.


"Gak usah Ko, aku bawa bekal." tolak Riri.


"Ayolah Ri, anggap saja permintaan maaf dariku. Aku gak sengaja..."


Bugkh!Bugkh!Bugkh!


"Babang!!!"


Riri, Joko dan Babang pun berakhir diruang kepala sekolah. Akibat perbuatannya, babang dihukum membersihkan wc cowok yang joroknya... a'udzubillah.


flashback off


Riri memandang Iyan takjub. Antara senang dan kikuk. Iyan, babangnya yang dulu selalu melindunginya dari apapun sekarang kembali.


Iyan tersenyum melihat Riri terpaku menatapnya.


"Ternyata kamu masih ingat padaku, Ri."


"Jelaslah aku ingat. Kamu kan dulu selalu menjagaku kemana pun aku pergi. Ke hutan nyari biji karet, memetik pohon jambu, kamu juga yang gendong aku waktu sungai yang akan kita lewati tiba-tiba meluap, aku masih ingat semuanya." kata Riri senang.


Dia senang bisa bertemu lagi dengan babangnya yang sudah lama ia rindukan.


"Aku senang akhirnya bisa bertemu kamu lagi Ri. Semenjak kalian pindah ke kota, aku gak tau mau cari kamu kemana? Dan setelah puluhan tahun akhirnya takdir mempertemukan kita lagi." Iyan menggenggam tangan Riri tanpa sadar.


Baby Raihan sejak tadi sudah ditaruhnya di box bayi.


"Kita waktu itu masih kecil banget, bang. Kalo gak salah aku kelas satu dan babang kelas lima, ya kan?" Riri memastikan ingatannya.


Iyan mengangguk mengiyakan.


"Sejak kecil aku sudah menyukaimu, Ri. Kaulah cinta pertamaku."


Saat terlihatmu ada sesuatu


yang pernah kumerasakan waktu dulu


ingin kuberlari sendiri dan sepi


coba tu sembunyi rasa ini


namun hati menguasai diri


Haruskah kuluahkan padamu


haruskah kubiar rahasia selamanya


mampukah kuhalang rasa cinta


yang terpendam sekian lama


bersyukur pada-Nya yang telah beri


kau padaku anugerah yang terindah


Kerap kuberdoa agar cinta kita


takkan pernah pudar hingga ujung nyawa


Dengarlah kasihku janjiku padamu


takkan ada celah cinta lain


hanya kamu yang kumau selalu


Dan tak akan ada daya


untukku mengabaikan cintamu


karena ku tau kasihku


telah tercipta dari pandangan pertama

__ADS_1


__ADS_2