Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 17


__ADS_3

Sella melotot tajam mendengar perkataan Iyan yang cukup nyelekit. Lalu ia tersenyum sinis.


"Sepertinya anda memang sudah terkena guna-guna wanita ib*** ini. Anda sudah benar-benar buta mata dan buta hati..."


"Cukup, nyonya! Saya tidak kenal anda, jadi anda tidak perlu menasehati saya. Sekarang saya minta anda segera pergi dari sini."


"Emangnya anda siapa berani mengusir saya? Saya belum puas..."


"Pergi!!!" bentak Iyan keras membuat Sella bergidik ngeri melihat tatapan tajam Iyan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


Tanpa banyak bicara lagi Sella pergi dari tempat itu. Riri yang masih menangis perlahan bangkit dari duduknya.


"Ri?" Iyan meraih tangan Riri berusaha menahannya untuk tenang.


Dengan pelan Riri melepaskan tangannya dari Iyan dan berjalan keluar dari warung bakso.


Iyan mengikuti langkah Riri, dan kemudian menarik tangan Riri mengajaknya menuju mobil.


"Masuk!" perintah Iyan.


Riri masuk kedalam mobil tanpa bersuara.


"Jangan dimasukin ati omongan gak mutu tadi. Lebih baik kamu pikirin baby aja." kata Iyan sambil mengelus perut Riri. Dengan pelan Riri menyingkirkan tangan Iyan diperut buncitnya.


"Lebih baik anda jauhi saya, Pak Iyan. Saya tidak mau reputasi anda rusak gara-gara anda bersama saya." ujar Riri pelan.


Iyan menatap dalam wajah Riri yang mendung. Ia sudah biasa menghadapi mood Riri yang mudah berubah-ubah.


"Semua baik-baik saja, Ri. Gak ada yang rusak." kata Iyan.


"Saya serius pak..."


"Kamu pikir aku bercanda?!" sahut Iyan cepat.


Riri terdiam.


Iyan memberanikan diri menggenggam tangan Riri. Digenggamnya erat tangan Riri meskipun Riri terus berusaha menarik tangannya.


"Ri, gak ada yang salah dalam hubungan kita."


"Kita tidak ada hubungan apa-apa pak..."


"Ada!"


"Kalau yang anda maksud persahabatan anda dan almarhum..."


"Aku mencintai kamu, Ri!" ungkap Iyan. Tatapan matanya tajam menatap Riri, lekat.


Riri membelalakkan matanya balas menatap Iyan dengan pandangan marah.


"Anda tidak perlu mengasihani saya, Pak Iyan. Saya sadar siapa saya. Mulai sekarang sebaiknya kita tidak usah bertemu la..."


Riri terdiam ketika tiba-tiba Iyan memeluknya erat.


"Aku gak mau. Biarpun dihukum gantung, aku gak mau ninggalin kamu."


Riri mendorong kuat tubuh tegap Iyan yang memeluknya tapi Iyan tak mau melepaskan pelukannya.


"Aku mohon, Ri! Aku gak mau menahan perasaan ini lebih lama lagi."


flashback off


Bukan aku memujimu


engkaulah satu antara seribu


bukan aku merayumu


engkaulah satu pilihan jiwaku


Nona manis kawan baru


aku ucapkan setulus hatiku


percayalah kepadaku


kubawa mimpi karna rasa rindu


Kumenanti sampai kini


dari hari kehari jawaban pasti


kau nyatakan kepadaku


kau menganggapku hanya kawan baru


Engkau satu penghiburku


kupancarkan harapan cinta padamu


terimalah hati ini


yang kini sangat mengharapmu


oh cinta sejati...sayang


berikanlah cintamu


Wajah cantik nan menarik


membelai dingin luka dihatiku


ku memohon kepadamu


sirami pula bunga dalam dada


Kumenanti sampai kini


dari hari kehari jawaban pasti


kupercaya suatu hari


engkau menjadi milikku abadi...


Engkau satu penghiburku


kupancarkan harapan cinta padamu


terimalah hati ini


yang kini sangat mengharapmu


Oh nona manis...sayang


berikanlah cintamu

__ADS_1


Riri menghela napas berat. Diremas-remasnya squshy berbentuk kepala panda ditangannya dengan gemas.


" Ri, maaf!"


Riri menatap Iyan kesal. Namun dia diam saja sambil terus meremas squishy miliknya.


"Riri!!!"


Seseorang menyambut Riri dan Iyan yang baru datang. Seketika wajah Riri berubah cerah. Dua sohibnya, Dela dan Yeni memeluknya dengan penuh kerinduan.


"Duhhh! Lucu deh liat lo gendut, Ri." Dela memandang takjub perut buncit Riri.


"Lah... emang lo gak gendut?" Riri mencibir menunjukkan perut Dela yang juga tengah hamil.


Yeni tergelak melihat dua sohibnya yang sama-sama sedang hamil. Riri hamil enam jalan tujuh bulan, sedang Dela sedang menunggu detik-detik proklamasinya untuk menetas eh melahirkan.


"Syukirin aja deh, daripada gue belom bunting juga. Padahal kan gue yang duluan merit." Yeni berujar sendu. Memang, selama hampir tiga tahun menikah Yeni dan suaminya belum juga diberi momongan.


"Sabar sista, lo hanya cukup berdoa, sabar dan terus coba lagi." Riri menempelkan pipinya ke pipi Yeni, seolah memberi Yeni kekuatan agar tidak patah semangat untuk terus mencoba mendapatkan momongan.


"Yo'i, sista. Ntar biar gue suruh Helmi yang ngajarin suami lo biar cepet tokcer." timpal Dela.


"Hush! Malah lo yang semangat. Belum minum obat ya?" Riri menjitak pelan jidat Dela yang mengerucutkan bibirnya, ngambek.


Yeni tertawa geli.


"Oke deh Del, ntar lo kirim ya vidionya yang top abis. Kalo perlu bintangnya Taecyeon ya?" pinta Yeni membuat Riri dan Dela melongo, menatapnya.


"Astaghfirullah! Requestnya oppa gue lagi." Dela berucap panjang. Sedang Riri menepuk jidatnya, gemes.


Iyan yang sedari tadi diam hanya terkikik geli menahan tawa melihat tingkah konyol ibu-ibu muda didepannya.


"Cogan ini siapa, Ri?"


Dela yang dari dulu matanya paling jeli kalo liat cowok ganteng, menatap Iyan dengan penuh selidik.


"Kenalkan, nama saya Risyan, panggil saja Iyan." Iyan mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


Dengan cepat Dela menggenggam tangan Iyan, bersalaman.


"Gue Dela!" Sahut Dela semangat.


Sedetik kemudian Dela pun bimoli( bibirnya monyong lima senti) gara-gara Riri menjitaknya lagi.


"Ingat perut, nek! Udah punya suami masih ganjen juga." semprot Riri.


Riri paling sebel kalo Dela masih suka caper sama cowok ganteng. Apalagi liat cowoknya tinggi, keren, atletis dan pastinya ganteng, seperti Iyan. Naluri ganjennya langsung timbul.


"Iya nih lo, Del. Untung aja Helmi gak cemburuan, kalo laki gue bisa-bisa jontor bibir gue." timpal Yeni. Dela, Riri dan Iyan menatap Yeni tak mengerti.


"Maksud lo... laki lo sering melakukan KDRT kalo lagi cemburuan ya, Yen?" tanya Dela sambil menatap Yeni sedih. Riri pun ikutan iba melihat Yeni. Sedangkan Iyan diam memasang kuping mendengar cerita Yeni tentang suaminya.


"Bukan jontor gara-gara dipukul, cuma... kalo lagi cemburuan laki gue sering nyuekin gue sampai berhari-hari. Otomatis dong bibir gue jontor gara-gara kelamaan manyun gak ditegur sama laki gue." Kata Yeni sambil terkekeh geli melihat duo sohibnya, melongo.


"Yee... kirain laki lo sering mukul lo. Gak taunya lo yang pengen dibikin jontor." sahut Dela asal mangap. Mereka semua tertawa ngakak.


"Ri... perasaan belum selesai deh perkenalannya..."


"Dasar, kepo lo gak ilang-ilang, Del. Ini Iyan sahabat Erwin. Sejak Erwin gak ada dia yang sering nemenin gue kalo kemana-mana. Kerja, ke dokter, beli keperluan gue..."


"Wahhh...udah kayak suami kedua ya?" seloroh Dela yang langsung dipelototi Yeni, gemes.


Riri terperangah.


"Iya ya. Kok gue gak nyadar ya kalo selama ini orang ngeliat gue sama Iyan seperti suami istri?!" Riri baru menyadari semuanya.


"Kalo gitu sebaiknya anda menjauhi saya, Pak Iyan. Saya gak mau kalo..."


"Ri, kita kan udah sering ngomongin ini. Dan jawabanku tetap sama, aku gak bakalan ninggalin kamu. Titik!" sahut Iyan tegas.


Riri menarik napas panjang.


"Terserah!" dengus Riri kesal.


Iyan tersenyum penuh arti.


"Dasar keras kepala!" umpat Riri lagi.


Dua sahabatnya hanya tersenyum melihat kedekatan Riri dengan Iyan.


"Sepertinya Riri udah mulai move on Del." bisik Yeni dan diangguk setuju sama Dela.


"Kalo pengganti almarhum Erwin keren gini Yen, gue dukung banget si Riri. Bibit unggul cuy!" Dela ikut berbisik sambil mengacungkan jempolnya pada Riri yang mengernyit heran melihat dua sohibnya bisik-bisik.


"Kenapa lo berdua bisik-bisik gitu?" tanya Riri curiga.


"Kepooooo!!!" sahut Dela dan Yeni bareng membuat Riri merengut masam.


Kuingin engkau tau


betapa ku mengagumimu


kuingin engkau tau


betapa diriku...memujamu


Haruskah aku nyanyikan cintaku


agar kau dengar suara hatiku


haruskah aku melukiskan


tulus cintaku kepadamu


Sekian lama kupendam rasa


rasa yang begitu dalam padamu


tapi itu semua khayalan


akankah jadi kenyataan


Kuingin engkau tau


betapa ku mengagumimu


kuingin engkau tau


betapa ku mengharapkanmu


kuingin engkau tau


betapa diriku...memujamu


Tak percaya tapi nyata. Iyan sampai terperangah nganga menatap Riri yang sedang asik karaoke ditemani Dela dan Yeni.

__ADS_1


"Masyaallah! Merdu banget suara Riri." bisik Iyan dalam hati.


Sore itu Iyan menemani Riri bertemu dua sohibnya dirumah Dela karena kebetulan Yeni sedang berada dikota mereka ikut suaminya yang tengah dinas.


Riri, Dela dan Yeni asik karaokean sambil berjoget alay tanpa memperdulikan Iyan yang sedari tadi mules menahan tawa melihat tingkah mereka bertiga.


Taklama, Helmi pulang dari kantornya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam!"


Iyan yang membukakan pintu karena yang lainnya lagi sibuk alay.😁


Helmi terkejut melihat Iyan sebab mereka memang tidak saling kenal.


"Kamu siapa?" tanya Helmi curiga pada Iyan.


"Gue Risyan. Panggil saja Iyan. Gue temannya Riri." Iyan mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Helmi.


"Gue Helmi! Suami Dela, teman Riri juga. Kami dulu sekelas." Helmi menyambut uluran tangan Iyan sambil tersenyum ramah.


"Berarti sekelas juga sama almarhum Erwin?"


Helmi mengangguk. Hatinya sedih bila teringat sohibnya, Erwin Rahadi.


"Gue gak nyangka Erwin begitu cepat pergi ninggalin kita semua. Dia orang baik dan sangat setia kawan."


Iyan mengangguk setuju.


"Gue juga merasa sangat beruntung bisa mengenal dan bersahabat dengan orang sebaik dan sehebat Erwin. Dia tak pernah mengeluh dalam hal apapun." sambung Iyan.


"Kalo mengeluh, gue ingat. Erwin pernah mengeluh waktu diputusin Riri. Waktu itu dia benar-benar terpuruk. Tapi, ia berusaha tegar dan ikhlas karena tau alasan Riri meninggalkannya."


"Kenapa waktu itu Riri mutusin Erwin?" tanya Iyan ingin tau walaupun sebenarnya dia sudah tau cerita itu dari Erwin Aries.


"Semua gara-gara teman sepermainan Riri yang ternyata juga jatuh cinta sama Erwin. Padahal kami semua tau betul kalo Riri dan Erwin sudah saling cinta sejak mereka mulai dekat dan duduk sebangku."


Helmi menceritakan semua tentang Riri dan Erwin. Dan Iyan mendengarkannya dengan senang hati. Dia sangat tertarik mengenai cerita cinta Erwin dan Riri.


Tiba-tiba,


"Aduuuuhhhh! Sakiiiiiittt!"


Terdengar teriakan dari ruang tengah tempat Riri cs karaokean.


Helmi dan Iyan bergegas masuk kedalam, dan melihat Riri dan Yeni hendak memapah Dela keluar rumah.


"Mi, buruan ambil barang keperluan buat persalinan Dela, gue siapkan mobil." kata Iyan cepat setelah melihat kondisi Dela yang lemas.


Sepuluh menit kemudian mereka sampai dirumah sakit. Dela langsung dibawa keruang bersalin.


"Lo sebaiknya ikut masuk kedalam temenin Dela, Mi." kata Yeni jengah melihat Helmi dari tadi mondar-mandir didepan ruang bersalin.


"Emang boleh, Yen?"


"Ya bolehlah! Lo kan lakinya." sahut Yeni.


Helmi bergegas masuk kedalam ruang bersalin.


"Kamu gak pa-pa, Ri?" Iyan menatap Riri cemas. Yeni ikut-ikutan menatap Riri.


"Iya, Ri. Muka lo pucet banget..."


"Riri!!!"


Iyan menangkap tubuh Riri yang terkulai lemas sebelum terjatuh dari duduknya. Iyan pun berlari keruang IGD sambil membopong Riri diikuti oleh Yeni.


"Sepertinya istri anda mau melahirkan, pak." kata Dokter jaga pada Iyan.


"Loh dok, kandungannya kan baru berusia dua puluh tujuh minggu?!"kata Iyan bingung.


Dokter itu mengangguk mengerti.


"Kemungkinan bayi anda akan lahir prematur. Dan karena kondisi istri anda lemah dan tidak bisa melahirkan secara normal maka kami akan melakukan operasi cesar."


Iyan terlihat bingung.


"Ikuti kata dokter, Yan. Demi keselamatan Riri dan anaknya." usul Yeni.


"Bagaimana, pak?"


"Baiklah, dok. Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya." kata Iyan pasrah.


"Kalau begitu silahkan tanda tangan disini."


Iyan pun menandatangani surat yang diberikan oleh perawat. Setelah itu, ia pun menelepon mama Alvi dan mengabarkan tentang kondisi Riri.


"Yan? Lo gak masuk kedalem nemenin Riri?" Yeni pusing melihat Iyan yang bolak-balik cemas menunggu Riri diruang tunggu didepan kamar operasi.


"Tadi Helmi, sekarang Iyan. Lama-lama gue ikutan brojol, nih!" dengus Yeni sebel.


Taklama, mertua Riri datang.


"Gimana keadaan Riri, Yan?" tanya mama Alvi.


" Riri baru aja masuk ruang operasi, Ma."


"Kok Riri bisa mau melahirkan, Yan? Kandungannya kan baru masuk tujuh bulan?" tanya papa Adi.


"Kata dokter kemungkinan bayi Riri lahir prematur Pa dan karena kondisi Riri lemah makanya harus dilakukan operasi." jelas Iyan.


"Kenapa Riri lemah, apa dia sakit?" tanya Mama lagi.


"Enggak ma, Riri sehat kok. Tadi kami kesini mau mengantarkan temen Riri yang mau melahirkan eh ternyata Riri ikut-ikutan mau lahiran. Udah janjian kali ya, Yen?" Iyan menoleh kearah Yeni yang dari tadi diam.


"He-eh! Mau kembaran kali ama Dela." jawab Yeni asal.


"Wanita ini siapa, Yan?"


"Saya Yeni, tante. Sahabat Riri!" Yeni memperkenalkan diri pada mama Alvi.


"Berarti kenal Erwin?"


"Kenal dong, tante. Kita dulu satu kelas."


Mama Alvi mengangguk, mengerti.


"Oh ya nak Yeni, Riri kesini kan lahirannya tanpa persiapan... bisa gak kamu tolong tante carikan keperluan bayi..."


"Gak usah Ma, tadi Iyan sudah suruh Rani dan Adek beli keperluan Riri." cegah Iyan.


Setelah menghubungi mama Alvi, Iyan langsung menelpon Rani dan Adek, juga kak Sarah.


Taklama,

__ADS_1


"Mama!"


Rani dan Adek datang sambil membawa tas belanjaan untuk keperluan Riri dan bayinya.


__ADS_2