Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 28 end


__ADS_3

"Waduh... trio ubur-ubur masih eksis rupanya." Riri balas menjitak gemes Reska ketika pria itu melepaskan pelukannya.


"Deuhh... masih galak aja mak lampir." ejek Dika.


"He-eh! Galaknya bener-bener mendarah daging." timpal Tio.


"Lo bertiga tuh emang dasarnya biang kerok ya. Udah uzur pak, saatnya tobat." dengan lincah Riri menjitak satu-satu kepala Reska, Dika dan Tio, keras.


"Ampun, Ri. Kita-kita udah tobat kok, udah jadi pria baik-baik." kata Tio sambil mengusap kepalanya.


"Iya, Ri. Kan kita udah jadi papa-papa." sahut Dika.


"Tapi waktu liat lo kok kayaknya pengen kembali ke masa kita sekolah dulu ya? Kita kangen lo, Ri..."


"Ekhemm!"


Reska yang hendak memeluk Riri mengurungkan niatnya saat melihat sosok pria yang sudah berdiri dibelakang Riri.


Dela dan Yeni terkikik geli melihat Reska yang langsung menciut diam.


Riri menoleh kebelakang dan tersenyum manis melihat Iyan yang entah kapan sudah berada didekatnya.


"Guys, kenalin nih suami gue. Bang, ini trio ubur-ubur, biang kerok dikelas kami dulu." Riri mengenalkan Iyan pada teman-temannya.


Iyan tersenyum ramah pada tiga musuh bebuyutan Riri yang juga menyambut ramah uluran tangan Iyan.


"Gue kira cuma gerandong yang suka sama si tomboy, ternyata lo laku juga ya?" celutuk Dika yang spontan meringis kesakitan saat tangan Riri langsung menjitak nya lagi, lebih keras.


"Gue juga gak sangka ternyata lo juga bisa melahirkan, Ri!" giliran Tio kena sasaran jitakan berikutnya.


"Gue perempuan tulen, Tukimin. Jelaslah gue bisa lahiran. Emangnya ayam yang bisa bertelor. Gue juga manis, terang aja banyak yang naksir." kata Riri, narsis.


Huekkk!


Reska, Dika dan Tio, kompak mual mendadak mendengar celoteh Riri yang narsis abis.


"Wuidihhh! Ngidamnya dadakan." seloroh Yeni.


"Kompak lagi. Janjian ya?" timpal Dela.


Tawa mereka bergema di seluruh ruangan yang mulai ramai dengan alumni yang lain.


Iyan menatap dalam Riri yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya.


"Lihat itu, Ri!"


Riri melihat Andre berjalan menghampiri mereka ketika Dela menyikutnya.


"Apa kabar, Ri?" Andre menyalami Riri dan teman-temannya.

__ADS_1


"Baik, Dre! Alhamdulillah! Kamu juga... gimana kabarnya?" tanya Riri balik.


"Alhamdulillah, baik juga. Oh ya, kenalin ini istriku, Dania." Andre mengenalkan istrinya pada Riri dkk yang membalasnya dengan mengangguk ramah.


"Ri, maafin yang dulu ya? Kalo saja aku lebih cepat melaporkannya pada polisi pasti kamu tidak perlu mengalami kejadian itu."


"Nggak pa-pa, Dre! Yang lalu biar berlalu, kita ambil hikmahnya aja." Riri menenangkan Andre atas penyesalannya yang dulu.


Andre mengangguk tersenyum.


"Terima kasih, Ri. Kamu memang wanita baik. Aku bangga bisa berteman denganmu." ucap Andre tulus.


"Kami juga, Ri!" sambung trio ubur-ubur. Dela dan Yeni pun memeluk erat Riri menandakan bahwa perasaan mereka pun sama seperti trio ubur-ubur dan Andre.


"Makasih kalian semuanya. Aku juga senang dan bangga bisa mengenal dan berteman dengan kalian." ujar Riri terharu.


*****


Dirumah, sepulang dari reunian Riri langsung kekamarnya, sedangkan Iyan membawa Ray tidur dikamar bocah itu.


"Yi?!" panggil Iyan ketika tidak melihat Riri didalam kamarnya.


"Ayi dikamar mandi, bang. Mandi." terdengar suara Riri dari dalam kamar mandi.


Riri keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubuh mungilnya.


"Babang capek ya?" tanya Riri saat melihat Iyan menggerak-gerakkan tubuh kekarnya, berusaha mengurangi rasa pegal ditubuhnya.


Tak lama,


"Yi, cepetan pijitin. Babang udah gak tahan nih."


Selesai mandi tanpa melepaskan handuknya Iyan langsung tengkurap ditempat tidur.


Riri menghela napas melihat tempat tidur mereka basah akibat ulah Iyan.


Dengan lembut Riri mengelap tubuh dan rambut Iyan yang basah.


"Babang kalo gini udah mirip Ray, habis mandi gak andukan." omel Riri.


"Jelas miriplah. Ray kan anak babang. Gantengnya juga sama."


"Iya, Kalo Ray versi anak-anaknya dan babang versi tuirnya. Hahahaaa." Riri terpingkal , geli.


"Biarin, weeekkk. Cepetan pijitin, babang pegel banget nih." rajuk Iyan manja.


Riri tersenyum geli.


"Iya... iya.. Kolokan banget. Suami siapa sih?" Riri mencubit hidung suaminya gemes.

__ADS_1


Dengan cepat Iyan menangkap tangan Riri yang mencubit hidungnya dan menarik tubuh mungil Riri hingga jatuh tepat di atas tubuh Iyan yang terbaring ditempat tidur.


"Yi, kemarin Ray bilang kalo dia mau punya adek karena teman-teman disekolahnya pada punya adek. Kita buat yuk, Yi? Kan Ray udah gede, udah waktunya punya dedek." Iyan membelai wajah cantik Riri.


Riri tersenyum geli mendengar ucapan Iyan.


"Ray atau ayahnya nih yang pengen bikin dedek?" goda Riri membuat Iyan mencium bibir Riri, gemes.


"Sayang, bukankah memang sudah waktunya kita punya anak lagi. Biar nanti rumah kita makin rame dan Ray juga punya teman main dirumah." rayu Iyan lagi.


Riri melepaskan diri dari pelukan Iyan, bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja riasnya. Iyan hanya diam, menunggunya.


"Nih!" wajah Riri merona saat memberikan sesuatu pada Iyan setelah mengambil benda itu dari dalam laci mejanya.


"Apa ini?" tanya Iyan sambil mengernyit menatap tak mengerti benda pipih kecil yang Riri berikan padanya. Terlihat dua garis merah dibenda itu


"Itu testpack, bang. Dan dua garis merah itu tandanya positif." Riri memberitahu Iyan. Dicubitnya gemes pipi suaminya yang diam saja melihat benda itu.


"Itu... artinya... kamu hamil, Yi?" Iyan membelalakkan mata seolah tak percaya setelah mencerna makna yang Riri maksud.


Dan saat melihat Riri tersenyum manis, Iyan pun terlonjak bangun dari tempat tidur dan langsung memeluk Riri erat. Dibawanya tubuh mungil Riri berputar-putar


"Babang!! Ayi takut!" jerit Riri ketakutan.


Iyan pun menghentikan ulahnya.


"Maaf, sayang. Maaf!" kata Iyan.


Dibaringkannya tubuh Riri dengan lembut dan ia pun ikut berbaring dan memeluk Riri.


"Makasih ya, sayang. Babang merasa hidup babang makin sempurna setelah Ayi dan Ray ada dikehidupan babang. Dan juga calon Dedek ini." Iyan mencium perut Riri yang masih rata.


Riri tersenyum melihat Iyan.


"Besok kita ke dokter ya, periksa dedek." ajak Iyan senang karena akhirnya dia bisa kembali bisa melihat janin saat di USG seperti waktu Ray masih didalam perut Riri.


Riri mengangguk dan tersenyum cerah.


"Dan sekarang, apakah boleh babang bertemu dengan dedek malam ini?" tanya Iyan sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Riri yang refleks menggigit bibir bawahnya.


Pelan-pelan Riri mengangguk malu-malu.


Iyan langsung mencium lembut bibir Riri. Tangannya menahan tengkuk Riri, memperdalam ciumannya. Riri pun membalas ciuman Iyan dengan penuh gairah.


Persahabatan akan terjalin indah sampai kapanpun. Begitupun cinta suci, yang akan selalu terpatri dihati. Meski cinta tak selamanya harus memiliki, tapi persahabatan dapat merubah semua menjadi lebih berarti.


note a autor :


Terimakasih untuk para pembaca sekalian. Ini novel pertama yang saya buat. Mohon dimaklumi kalau ada yang kurang berkenan.

__ADS_1


karena saya sadar masih banyak kekurangannya. Terimakasih sekali lagi atas perhatiannya. 🙏🙏🙏*


* THE END *


__ADS_2