Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
lepisode 14


__ADS_3

Riri menatap beku sosok yang terbaring kaku dihadapannya. Kak Sarah dan Rani memeluknya erat sambil sesenggukan menahan tangis. Sedangkan ibu mertuanya tak berhenti menangis dan sedetik kemudian tergeletak pingsan.


"Ma! Mama!" papa Adi memeluk tubuh mama Alvi dan segera mengangkat tubuh beliau ke kamar dibantu kak Bima dan Dedek.


"Kamu yang kuat ya, Ri. Ini sudah takdir." kak Sarah memeluk adik iparnya yang hanya diam membisu.


"Ri! Ngomong dong jangan diem gitu." Rani mengguncang-guncang tubuh Riri dengan keras. Ia kesal melihat Riri yang hanya terdiam kaku.


flashback on


Riri sedang mengajar dikelas ketika kepala sekolah datang kekelasnya.


"Maaf, bu Rianti. Tadi ada keluarga ibu yang menghubungi saya menanyakan kenapa hp ibu tidak aktif. Coba bu Rianti lihat dulu hp ibu dan segera hubungi keluarga ibu." kata pak kepala sekolah.


"Ada apa memangnya, pak?" tanya Riri tak enak hati. Perasaannya tiba-tiba kalut, seakan ada sesuatu yang terjadi.


Kepala sekolah menunduk diam. Riri makin khawatir.


"Pak?"


"Ri!"


Panggilan itu membuat Riri menoleh kearah pintu kelas.


"Rani! Dedek!" Riri berlari menghampiri Rani yang datang ditemani Dedek, calon suaminya.


"Ada apa kemari? Apa ada sesuatu yang terjadi? Dimana Erwin? Kenapa bukan Erwin yang kesini?" Riri memberondong banyak pertanyaan pada Rani dan Dedek. Hatinya kacau. Pikiran buruk melintas saat dia menyadari bukan Erwin yang menjemputnya.


flashback off


Riri merasakan pusing dikepalanya. Pandangannya nanar menatap jasad Erwin dimasukkan ke liang lahat. Tak terasa airmatanya jatuh tak tertahankan. Namun tak ada tangis ataupun jerit histeris dari bibirnya. Riri tak ingin mertua dan keluarga Erwin bertambah sedih bila ia sampai seperti itu.


Tiba-tiba Riri merasa tubuhnya lemas dan ia tak sanggup menahan bobot tubuhnya sehingga tubuh mungil Riri melorot jatuh, pingsan. Untung saja ada salah satu polisi, temannya Erwin, yang berada tak jauh dari Riri segera menangkap tubuh mungil Riri sehingga ia tidak sempat jatuh ketanah.


"Kamu sudah siuman, sayang?" mama Alvi mengusap puncak kepala Riri lembut saat dia menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan.


"Ma? Erwin mana, Ma? Kenapa Erwin ninggalin Riri Ma? Padahal baru semalam dia janji akan selalu nemenin Riri, Ma..." Riri memukul-mukul kasur tempat ia tidur. Tangisnya kembali pecah.


"Sayang, ini sudah takdir dari Allah untuk kita. Berbanggalah kamu karna Erwin meninggal dalam mengemban tugasnya. Inshallah dia sahid, Sayang." mama Alvi terus menenangkan Riri yang terus terisak, menangis. Mama menggenggam tangan Riri dan tersenyum penuh haru.


"Riri sayang, Ewin tidak meninggalkan kamu sendirian ada mama, papa, Sarah dan Rani yang akan selalu menyayangimu. Ewin juga meninggalkan 'sesuatu' disini." mama Alvi tersenyum lembut penuh arti sambil membelai perut Riri.


"Maksud Mama?" Riri menatap Mama tak mengerti.


"Kamu akan punya anak, Ri. Kamu hamil!" kak Sarah menggenggam tangan Riri. Rani memeluk Riri dan menangis haru.


Riri terbelalak tak percaya. Ia teringat akan beberapa hari kemarin.


flashback on


Hueekk! Huekk!


Riri memegang perutnya yang mulai nyeri karena hampir setengah jam dia terus muntah. Erwin mengurut leher belakang Riri dengan perlahan.


"Ayang kemarin makan apa sih sampe muntah-muntah kayak gini?" Erwin mengelap keringat Riri yang mengalir dipelipisnya.


"Aku makannya biasa aja kok gak ada yang aneh." Riri menyender lesu di dinding kamar mandi.


"Kalo gitu ayo kita ke dokter. Bibib gak mau Ayang sakit." Erwin memapah istrinya kembali ke kamar.


"Kayaknya gak perlu kedokter deh Bib, aku lagi masuk angin aja kali." suara Riri masih terdengar lemah. Dia paling malas kalo harus berurusan dengan dokter.


"Tapi Bibib gak tega lihat Ayang muntah-muntah terus apalagi sampai lemes kayak gini."


"Aku gak pa-pa kok, Bib. Beneran! Gak usah kedokter ya?" pinta Riri sambil memeluk lengan suaminya, manja.


Erwin tersenyum sambil mengacak pelan rambut istrinya.


" Ya udah. Tapi kalo besok masih muntah-muntah kayak gini kita langsung ke dokter." katanya. Erwin memang paling tak bisa menolak apapun permintaan Riri.


"Siap Bib... mmfhh..." Riri yang semula ingin terlihat kuat didepan suaminya karena takut diajak ke dokter, berusaha menahan mualnya yang kembali bergolak diperutnya.


*flashback o**ff*


Riri pov


Ku usap perutku dengan penuh perasaan. Tak kusangka Erwin telah meninggalkan buah cinta kami diperutku. Kak Sarah bilang kalo usia kehamilanku baru tiga minggu. Dan dia memintaku untuk menjaga kandunganku sebaik mungkin karena usia kehamilan sepertiku kini adalah usia yang sangat rentan untuk keguguran.


"Bib, makasih ya udah kasih seluruh cinta Bibib untukku. Aku janji akan menjaga anak kita dengan segenap jiwa ragaku."


Hati dan pikiran hancur yang kini aku rasakan sedikit terobati dengan 'benih' Erwin yang tertanam dirahimku kini.


Akhirnya aku pun tertidur sambil terus memegang perutku.


"Selamat pagi, Ma!" kucoba tersenyum pada ibu mertuaku yang sedang menyiapkan sarapan kami. Aku langsung membantu mama Alvi menyiapkan makanan.


"Tidur kamu nyenyak, Sayang?"


"Lumayan, Ma."

__ADS_1


"Kamu duduk aja, biar mama yang menyiapkan sarapannya. Dan mulai hari ini kamu jangan terlalu capek bekerja. Jaga kesehatanmu dan calon anakmu." mama Alvi menyuruh Riri duduk diam dikursi makan.


" Riri gak pa-pa, Ma. Riri kuat kok." aku agak keberatan dengan sikap posesif mama.


Sebulan sudah Erwin meninggalkanku untuk selamanya, selama itu pula aku tinggal bersama mama dan papa Erwin.


Sebenarnya aku menolak keinginan ibu mertuaku untuk aku tinggal bersama mereka, tapi mama bersikeras tinggal denganku karena merasa tidak tega membiarkan aku hidup sendirian dalam kondisi hamil muda. Mau tak mau terpaksa kuturuti kemauan ibu mertuaku karena aku pun tak tega melihat mama Alvi merasa bersalah bila meninggalkan aku sendiri.


"Udah selesai kok sayang, tunggu papa dulu habis itu kita sarapan." mama Alvi mengecup keningku lembut seolah tau aku tidak suka bila beliau menyuruhku diam melihat beliau mengerjakan pekerjaan rumah sendirian.


"Ma... Pa... Riri berangkat dulu ya?" aku pamit setelah menghabiskan sarapanku.


Kucium tangan kedua mertuaku.


"Hati-hati dijalan ya, Sayang. Ini bekal makan siangmu. Jangan lupa dihabiskan ya?" mama mencium pucuk kepalaku dan memberikan kotak nasi padaku.


"Makasih Ma. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Mama Alvi pov


Aku tersenyum melihat menantuku sudah bersiap-siap untuk pergi mengajar. Aku tau dia sebenarnya masih sangat bersedih karena telah ditinggal suaminya untuk selama-lamanya menghadap Sang Khalik. Tapi bila didepanku dia selalu bersikap seolah-olah dia kuat menghadapi cobaan yang telah menimpanya.


Sebagai mertuanya aku telah menganggap Riri seperti putriku sendiri. Bukan karna dia sedang hamil anak dari putraku Erwin, tapi karna aku dan suamiku memang tulus menyayanginya seperti anak-anakku yang lain. Sarah dan Rani pun bersikap demikian. Mereka menyayangi Riri seperti saudara mereka sendiri.


Riri anak yang baik. Oleh karena itu kami semua menyayanginya dan akan selalu menjaganya seperti Erwin, anakku, menjaga Riri.


autor pov


Tiiiiiiiiittt***!!!


Suara nyaring klakson mobil memekakkan telinga membuat orang-orang yang berada disekitar tempat itu menoleh ke sumber suara. Riri yang hendak menyeberang jalan menuju sekolah tempatnya mengajar hanya terpaku diam menatap mobil yang meluncur deras kearahnya.


"Awaaasss!!!"


"Aaaaaaa!!!"


Riri menjerit histeris sambil menutup matanya rapat-rapat. Jantungnya berdetak kencang, aliran darahnya serasa mengalir deras, dan napasnya pun seakan berhenti mendadak.


Tiba-tiba tubuhnya ditarik seseorang dan tanpa sengaja memeluk Riri dari belakang. Riri merasakan ******* napasnya yang hangat. Orang itu membalikkan tubuh Riri sehingga mereka berhadapan. Riri yang masih shock masih menutup matanya, takut.


"Kamu tidak apa-apa?" sebuah suara berat dan tepukan lembut dipipinya membuat Riri tersadar dari keterkejutannya.


"Haah! Eh... eee..." Riri masih sedikit kaget hingga membuatnya gugup. Wajahnya pucat pasi. Dirabanya seluruh tubuhnya yang dirasakan tidak ada apa-apa yang terjadi padanya.


"Masih utuh kok gak ada yang copot." gurau orang itu, yang tenyata seorang Polantas ganteng, sambil tersenyum.


"Makasih banyak ya atas pertolongan bapak tadi pada saya." Riri mengucapkan banyak terima kasih pada Polantas yang telah menolongnya tadi. Kalau saja tidak ada Polantas itu didekat Riri dan menolongnya, pasti Riri sudah tertabrak tadi.


"Jangan terlalu formal begitu. Saya tadi hanya melaksanakan kewajiban saya sebagai manusia untuk menolong sesama."


"Sekali lagi terima kasih bapak polisi..."


"Apa kamu... Riri? Istri dari almarhum Briptu Erwin?" Polantas itu menatap Riri, lekat.


Riri tertegun, balas menatap Polantas itu.


"Anda kenal suami saya?" Riri jadi terbawa perasaan. Ia teringat lagi dengan almarhum suaminya.


Polantas itu tersenyum lagi.


"Briptu Erwin adalah sahabat terbaik saya..." Polantas itu menghentikan ucapannya ketika melihat mata Riri mulai berkaca-kaca.


"Maaf kalo saya mengingatkan kamu pada almarhum." ucapnya lagi dengan nada menyesal.


Riri tersenyum seraya menggeleng.


"Tidak apa-apa. Maaf saya tidak begitu kenal dengan teman-teman suami saya."


Polantas itu tersenyum dan mengangguk mengerti, kemudian mengulurkan tangannya.


"Nama saya Iyan. Saya rekan Erwin satu tim."


Polantas itu memperkenalkan diri pada Riri.


"Riri!" Riri menyambut uluran salam Iyan.


"Kamu mau mengajar?" tanya Iyan mengingatkan Riri pada pekerjaannya.


"Eh! Iya! Aduh aku udah terlambat nih." Riri mengeluh saat melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 08.22 wib.


"Biar saya antar!" Iyan menawarkan diri mengantarkan Riri ke sekolah.


"Gak usah! Saya tidak mau merepotkan anda." Riri menolak dengan cepat.


"Tidak apa-apa. Saya tidak mau kejadian tadi terulang gara-gara kamu melamun lagi." Iyan mengingatkan Riri.


Riri nyengir malu dengan keteledorannya karena menyebrang jalan sambil melamun.

__ADS_1


"Ayo!" Iyan menyuruh Riri naik ke motor dinasnya. Dengan ragu-ragu Riri duduk menyamping diboncangan Iyan.


"Pegangan. Nanti jatuh."


"Haah! Eee..." dengan gugup Riri memegang seragam Iyan.


"Yang kuat, kalo jatuh saya pasti akan sangat merasa bersalah loh." kata Iyan lagi.


"Eh.. iya!" akhirnya Riri memeluk pinggang Iyan dengan kuat. Iyan tersenyum penuh arti saat merasakan pelukan Riri padanya.


Setelah menstarter motornya Iyan pun mengantarkan Riri ke sekolah tempat Riri mengajar.


Pukul 15.15 wib.


Riri berjalan keluar dari ruang guru menuju gerbang sekolah. Semenjak suaminya meninggal dunia, Riri pulang menggunakan angkutan kota karena tidak ada lagi orang yang mengantar dan menjemputnya.


Tiiitt. Tiiiitt.


Suara klakson motor membuat Riri yang sedang menunggu di halte spontan menoleh ke sumber suara. Sebuah motor polisi berhenti didepan Riri.


"Mari, saya antar pulang."


"Pak Iyan?" Riri mengernyit heran melihat pada Iyan yang tersenyum setelah membuka helmnya. Iyan mengulurkan sebuah helm lain pada Riri.


"Ayo!" Iyan memberikan isyarat agar Riri naik kemotornya.


Riri kelihatan bingung.


"Ada apa?"


"Anu... saya... kenapa anda bisa ada disini?" tanya Riri heran.


Iyan tertawa. Wajah tampannya semakin mempesona setiap wanita yang memandangnya. Tapi tidak dengan Riri, karena bagi Riri hanya Erwin yang mampu membuatnya terpesona.


"Aku sengaja menjemputmu."


"Hahh!!!" Riri melongo membuat Iyan tertawa geli melihatnya.


"Mukanya biasa aja. Sampe nganga gitu. Ntar ngences loh." gurau Iyan membuat Riri segera tersadar dari kagetnya.


Cepat-cepat ia mengelap bibirnya takut encesnya keburu turun.


Iyan terbahak ngakak.


"Kamu... kenapa bisa lucu gini. Hahahaaaa." Hampir saja Iyan jatuh dari motornya karena tertawa terlalu keras.


"Apaan, sih?!" Riri merengut kesal.


"Anda sebaiknya pulang saja, Pak Iyan. Saya bisa pulang sendiri." kata Riri, kesal.


Iyan berhenti tertawa, tapi masih tersenyum.


"Aku akan mengantarmu sampai rumah dengan selamat."


"Tapi saya tidak mau..."


"Tidak penting kamu mau atau tidak. Aku sudah minta izin sama mama Alvi untuk menjemputmu, dan itu berarti kamu harus pulang denganku." sahut Iyan membuat Riri terdiam.


'Kenapa mama bisa ngasih izin pada Pak Polantas ini menjemputku? Apa Pak Polantas ini sudah cerita ke mama kalo aku tadi hampir tertabrak mobil?"


Melihat Riri masih diam saja, Iyan segera memakaikan helm dikepala Riri dan menarik tangannya untuk duduk diboncengannya.


"Buruan naik ntar keburu magrib." kata Iyan.


Dengan berat hati terpaksa Riri menuruti perkataan Iyan.


Iyan pov


Aku terkejut ketika mendengar bunyi rentetan klakson dari sebuah mobil yang meluncur deras menuju seorang wanita yang akan menyebrang jalan.


"Awaaaasss!!!"


"Aaaaaaaa!!!"


Untung saja aku masih sempat menarik tubuh wanita itu, kalau tidak entah apa yang terjadi selanjutnya.


"Kamu tidak apa-apa?" aku menanyakan keadaan wanita itu sambil menepuk-nepuk pipinya agar tersadar dari kagetnya.


"Haah! Eh..." wanita itu nampak gugup mungkin karena dia masih shock dengan kejadian tadi.


"Masih utuh kok gak ada yang copot." gurauku agar mengurangi ketakutannya. Wanita itu tersenyum. Aku merasa pernah melihat wanita itu.


"Kamu...Riri? Istri dari almarhum Briptu Erwin?" tanyaku yakin setelah mengingat dimana aku pernah melihatnya.


"Anda kenal suami saya?" tanya Riri padaku.


"Briptu Erwin adalah sahabat terbaik saya... Maaf!" aku tak melanjutkan perkataanku setelah melihat mata Riri mulai berair. Riri menggeleng.


"Tidak apa-apa. Maaf, saya tidak begitu mengenal teman-teman suami saya." katanya.

__ADS_1


Tiba-tiba wajahnya pucat pasi setelah melihat jam yang ada ditangannya. Aku tau dia sudah terlambat mengajar dan aku berinisiatif untuk mengantarnya. Mulanya dia menolak kuantar. Tapi setelah aku terus memaksanya akhirnya dia mau kuantar ke sekolah tempatnya mengajar.


__ADS_2