Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 7


__ADS_3

Riri POV


flashback on


"Riri!" teriakan nyaring Tari membangunkanku dari tidur soreku.


"Apaan sih, Tar?! Ganggu orang tidur aja!"


Kutimpuk Tari pake bantal. Tari berkelit sambil terkekeh.


"Gue hari ini bahagiaaaaa bener, Beb." kata Tari berapi-api. 'Sampe berasep deh kayaknya.'


"Panjang amat a nya. Baru dapet lotre ya?" celutukku asal.


Tari tersenyum lebar. 'Sepertinya dia bener-bener sedang bahagia.' Kulihat binar bahagia dimatanya.


"Ini lebih dari sekedar dapet lotre." kata Tari yang sukses bikin aku tambah bingung.


"Gue tadi pagi bolos sama Erwin." kata Tari sukses buat aku terpaku.


"Jadi... Erwin tadi gak masuk sekolah karena bolos sama lo?" tanyaku penuh selidik.


Tari mengangguk sambil tersenyum ceria. Aku pun langsung lemas.


"Sebenarnya gak ada rencana sih mau bolos sama Erwin, tapi karena gue lagi suntuk waktu itu gak tau kenapa gue kepikiran Erwin."


"Terus?"


"Gue curhat sama dia tentang masalah bokap yg semalem berantem sama kak Sinta. Sebenarnya gue malu sih ama Erwin, beb. Apalagi gue bisa-bisanya nangis bombay didepan dia." cerocos Tari.


Ku coba untuk tenang mendengar cerita Tari.


"Dan lo tau, beb... gue diajak Erwin ke rumah kakaknya yang bidan itu loh. Gue seneng banget, beb. Soalnya kakak Erwin kayaknya suka sama gue." cerita Tari makin membuat aku mati kutu. Serasa hancur perasaanku.


flashback off


Kutatap nanar wajah tampan yg duduk menunduk di depanku.


"Lo emang hebat, Win!" Ku acungkan jempol pada Erwin yg masih diam terpaku.


"Didepan gue lo bilang akan ngomong yang sejujurnya tentang kita sama Tari, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Bilang terus terang kalo lo suka sama Tari, Win! Gue gak mau persahabatan gue sama Tari hancur gara-gara rebutan cowok."


Suaraku mulai meninggi. Amarahku pun memuncak. Tapi Erwin masih tetap membisu.


"Baiklah!" Aku mengangguk.


"Mulai sekarang gue gak akan ganggu hubungan lo sama Tari."


Erwin terperangah kaget dengan ucapanku.


"Yank, aku gak maksud gitu..."


"Sudahlah! Gue gak akan ungkit masa lalu dan gak akan membawa lo dalam masalah gue lagi."


Kulihat Erwin terdiam lagi. Aku tersenyum miris. Sakit hatiku seperti teriris. Ku ambil tasku dan pindah duduk didepan meja guru bersebelahan dengan Dela.


"Kok duduk disini, Ri? Lagi berantem ya?" tanya Dela heran melihatku pindah duduk disebelahnya.


Aku hanya tersenyum kecut.


"Mulai hari ini gue duduk disini ya, Del?!" pintaku pada Dela yg memandangku dengan penuh selidik. Kemudian Dela mengangguk pelan.


"Lo gak pa-pa kan?" bisik Dela. Kelihatan banget sahabatku itu begitu perhatiannya padaku.


Aku hanya menggeleng pelan dan memaksakan senyum manis untuknya.


'Biarlah sakit ini aku sendiri yang rasakan. Aku gak mau orang-orang kasihan padaku.'


Kuhela napas berat membuang letih didadaku.


"Beb, temenin gue ke rumah Erwin, yuk?!" ajak Tari ketika aku baru selesai cuci piring. Tari membantuku menyusun piring ke raknya.


"Maaf, beb! Gue ada pr yang susah banget. Mana banyak lagi prnya." alasanku untuk mengelak ajakan Tari.


Sudah hampir 2minggu aku tidak bertegur sapa dengan Erwin. Dan selama itu pula aku berusaha menghindarinya.


"Please, beb! Temenin gue. Gue malu kalo pergi sendirian." dengan wajah memelas Tari memohon.


Akhirnya, aku mengangguk pasrah.


'Ya Allah, bantu aku kuatkan hatiku bila nanti mereka bermesraan didepanku.' doaku dalam hati.


Tari memboncengku dengan motornya.


Sesampai di rumah Erwin,


"Assalamualaikum!" Tari mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam!" terdengar jawaban dari dalam rumah Erwin. Seorang perempuan cantik keluar.


"Hai, Tari cantik!" sapa perempuan itu pada Tari dan langsung memeluk Tari.


"Hai, kak Sarah! Kapan datang?" Tari memeluk erat wanita yg ternyata kakaknya Erwin. Aku hanya mengangguk sopan pada kak Sarah.


"Ini temanmu, Tari?" tanya Kak Sarah sambil menunjuk ke arahku dan tersenyum ramah.


"Iya kak. Ini Riri teman sebangku Erwin juga disekolah." kata Tari.

__ADS_1


"Riri, kak!" ku ulurkan salam perkenalan.


"Sarah." sambut kak Sarah ramah.


Aku tersenyum sungkan. Kak Sarah menatapku lekat, kemudian tersenyum seraya menggeleng pelan.


"Ada yang aneh dengan saya, kak?" tanyaku bingung melihat reaksi kak Sarah. Tari ikut-ikutan melihat ke kak Sarah yang senyum-senyum.


"Maaf. Kakak cuma heran aja ternyata Erwin juga punya teman cewek selain Tari." ujar kak Sarah lembut.


Aku nyengir.


"Tari pacar Erwin kak, kalo aku kan cuma teman sekelas." jawabku sopan.


Tari mencubitku gemes mendengarku menyebutnya pacar Erwin. Kak Sarah masih dengan senyum senyum manisnya berkata lagi,


"Tapi gak pernah loh kakak lihat temen sekolah Erwin yang cewek, baru Riri aja. Jangan-jangan yang ngenalin Erwin sama Tari pasti Riri ya?" kak Sarah menatap Riri lekat.


"Tari yg minta dikenalin, kak."


Tau-tau Erwin sudah ada di dekat kami. Aku terkejut. Sesaat pandanganku dengan Erwin bertemu tapi cepat-cepat ku menoleh ke arah lain.


Tari hanya terdiam.


"Ngapain kesini?" tanya Erwin pada Tari.


Karena aku tak merasa ingin bertemu dengannya, jadi tak mungkin Erwin bertanya padaku. Aku hanya membuang muka ketika Erwin menoleh padaku.


"Ada yg ingin Tari obrolin sama kamu." jawab Tari malu-malu.


"Ngomong aja langsung."


"Tari maunya berdua."sahut Tari setengah memaksa. Kak Sarah menarik tanganku keluar dari rumah.


"Yuk, Ri, kita ke tempat Erwin petik rambutan." ajak kak Sarah.


Aku mengangguk cepat. Kami pun meninggalkan Erwin dan Tari berduaan di teras rumah.


Ternyata rumah dedek Erwin tidak jauh dari rumah Erwin. Melihat pohon rambutan yg berbuah lebat dan merah-merah, adrenalinku bangkit.


"Ternyata dedek lagi panen rambutan. Nanti aku manjat ya, kak?" kataku tak sabar untuk menikmati manisnya rambutan gajah itu.


Kak Sarah menatapku bingung.


"Dedek siapa, Ri?" tanyanya.


Aku tertawa.


"Erwin yang ini maksudnya, kak. Biar gak tertukar manggilnya sama Erwin makanya aku manggil yang ini dedek. Kan masih kecil." jawabku jujur.


"Enak aja. Palingan juga beda setaon."


"Ngagetin aja lo!" kataku kaget.


Kak Sarah tersenyum.


"Maaf deh. Kalo gitu, wa'alaikumussalam." sindir Dedek.


Gantian aku yg nyengir malu.


"Assalamualaikum." salamku kemudian.


Kak Sarah terbahak.


"Kamu kok lucu banget sih, Ri." kata kak Sarah sambil mengacak rambutku gemes.


Aku nyengir. Hatiku bergetar mendapat perlakuan dari kak Sarah mengingatkanku pada Erwin, adiknya.


'Kenapa dua saudara ini hobi mengacak-acak rambut orang ya?"


"Riri emang suka bikin gemes, kak. Aku juga pengen jitak kepalanya nih." timpal Dedek sambil berpura-pura mau menjitakku.


"Berani? Nih!" ku acungkan bogemku sebelum Dedek melaksanakan niatnya.


"Deeuh, galaknya. Habis makan singa ya?" goda Dedek.


"Tadi belom sempet makan, tapi bentar lagi pasti makan orang." sahutku sambil pura-pura menggeram garang.


Kak Sarah dan Dedek tertawa geli melihatku.


"Udah ah Dek, buruan yuk metik rambutannya."


Aku sudah tak sabar mau makan rambutan.


"Bentar ya, gue ambil galah dulu." Dedek hendak mencari galah biar mudah memetik rambutan.


"Kelamaan Dek, gue manjat aja."


Tanpa ba bi bu langsung ku panjat pohon rambutan yang lumayan tinggi itu.


"Jangan Ri, nanti jatuh." Kak Sarah memperingatkanku.


"Udah biasa kok, kak." jawabku asal. Kak Sarah geleng-geleng kepala melihat kenekatanku. Dedek hanya melongo menatapku.


"Jangan bengong, lo. Ambil kantong dan kumpulin buah yang jatuh."


Kutimpuk Dedek pake kulit rambutan yang sudah ku makan. Dedek merengut masam. Kak Sarah hanya tertawa geli melihatku mengerjai Dedek.

__ADS_1


autor POV


Dari teras rumahnya Erwin melihat Riri memanjat pohon rambutan dengan lincahnya.


'Anak itu, kenapa gak ilang-ilang sifat tomboynya'.


Tanpa sadar Erwin geleng-geleng kepala.


"Kenapa, Win?" tanya Tari heran.


Erwin gelagapan. Tari menatapnya tajam.


"Kalo gak ada lagi yang mau diomongin mending kita gabung sama mereka."


Tanpa menunggu Tari, Erwin melangkah ke rumah Dedek. Dipanjatnya langsung pohon rambutan dan memetik buahnya. Melihat itu, Riri hendak beranjak turun. Tak sengaja Riri menginjak dahan yg sudah rapuh.


Krakk!


"Riri!!!" jerit Tari dan kak Sarah.


Riri jatuh. Dan untung saja Erwin lebih dulu menarik tubuh mungil Riri dan memeluknya erat sehingga gadis itu tak sampai terjatuh kebawah.


Gemuruh di dada Riri saat detak jantung Erwin terdengar jelas olehnya karna Riri ada dalam pelukan Erwin, mantan kekasihnya.


Riri hendak melepaskan diri dari pelukan Erwin, tapi


"Diam di tempatmu atau kamu jatuh kebawah." bisik Erwin lembut ditelinga Riri.


"Lepas. Gue gak mau Tari salah paham tentang kita." Riri berusaha mendorong tubuh kekar Erwin. Namun pelukan Erwin ditubuh Riri makin ketat.


Dan,


'Cup!'


Tanpa Riri duga, Erwin mengecup bibirnya cepat. Riri terperangah kaget. Didorongnya sekuat tenaga tubuh Erwin dan berhasil lepas dari pelukan cowok tampan itu. Cepat-cepat Riri turun dari atas pohon.


Dibawah, kak Sarah, Tari dan Dedek menatap takjub pemandangan di atas pohon.


Erwin dengan cepat pun menyusul Riri turun dan berlari mengejar Riri yang juga berlari pulang.


Di jembatan yg baru dibangun, Erwin berhasil mengejar Riri. Dengan cepat ditariknya tangan Riri dan langsung memeluk erat tubuh mungil gadis kecil yg sangat ia rindukan itu. Riri berontak kesal.


"Please jangan tinggalin aku, Yank. Aku kangen banget sama kamu. Aku gak ada apa-apa dengan Tari. Kami hanya berteman, gak lebih. Semua sudah aku jelaskan sama Tari. Aku cinta kamu, Yank. Aku gak kuat kamu diemin terus kayak gini." Erwin berujar lemah.


Dia sungguh-sungguh mencintai Riri dan tidak mau gadis mungilnya pergi meninggalkannya.


Riri terdiam di pelukan Erwin. Sebenarnya Riri pun merasa tersiksa jauh dari Erwin. Tapi demi persahabatannya dengan Tari, Riri rela melepas cintanya pada Erwin.


"Maaf!" Riri berucap pelan.


Erwin menyandarkan kepala Riri di dada bidangnya.


"Maaf, Win! Aku gak bisa terus selamanya sama kamu karna aku gak mau Tari sakit hati dan memutuskan persahabatan kami."


Perlahan Riri mendorong Erwin agar menjauh darinya.


"Kamu gak tau bagaimana raut wajah bahagianya Tari saat bercerita tentang perjalanan kalian ke rumah kak Sarah. Dia benar-benar bahagia bila menceritakan tentang kamu. Dan aku gak mau merusak kebahagiaan sahabatku."


"Dan kamu rela menukarnya dengan kebahagiaan kita, Yank?" Erwin menatap Riri tajam.


"Apa kamu gak mikir gimana perasaan aku, Yank? Apa kamu pernah berpikir, memaksaku untuk suka sama Tari bisa bikin kita bahagia, Yank?"


Erwin berusaha bersikap tenang. Dia tau Riri sedang dilema memilih antara cintanya atau sahabatnya.


Riri diam. Erwin menggenggam tangan Riri lembut.


"Yank, kalau kamu bahagia melihat Tari bahagia bersamaku, aku akan ikuti mau kamu. Tapi satu yg kamu ingat, bahagiaku adalah kamu. Sekarang dan selamanya."


"Berjanjilah kamu akan membahagiakan Tari, Win?" pinta Riri.


Erwin menggeleng pelan.


"Cobalah belajar untuk menyukainya." Riri memohon.


"Aku gak bisa berjanji. Tapi aku akan belajar untuk melupakanmu." kata Erwin pelan.


Riri mengangguk walaupun ada rasa sakit saat Erwin berkata akan melupakannya.


'Mengapa harus sakit hati? Bukankah itu keinginannya agar Erwin bisa dekat dengan Tari?'


Riri melepaskan tangannya dari genggaman Erwin.


"Aku pergi, Win. Aku gak mau Tari melihat kita seperti ini."


"Biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali, Yank. Aku ingin merasakan kebahagiaanku untuk yang terakhir kalinya."


Erwin mendekap erat tubuh Riri dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Erwin.


Kecupan lembut di kepala Riri diberikan Erwin. Riri memejamkan matanya meresapi kehangatan yg Erwin berikan padanya untuk terakhir kali.


Erwin lalu mencium kening Riri. Dan kemudian berlanjut mencium bibir Riri, tapi hanya sebentar dan Erwin pun melepaskan pelukannya ditubuh Riri.


"Maaf!" kata Erwin pelan sambil menyatukan dahinya dengan dahi Riri yang hanya diam terpaku, sedih.


Tari dan Riri pulang tanpa banyak cerita. Sejak kejadian itu Riri dan Erwin benar-benar saling menjauh. Meski kadang Riri merasa begitu rindu pada Erwin tapi Riri tak berani mendekatinya. Riri hanya berani mencuri pandang, menatap Erwin dari jauh untuk melepas rindunya.


Sepertinya Tari sudah berpacaran dengan Erwin karena Tari sering bercerita bila Tari sedang berjalan-jalan atau berkencan dengan Erwin. Riri selalu jadi pendengar yg baik apabila Tari curhat soal Erwin.

__ADS_1


Meski kadang Tari pun sering bertanya ada apa dengan Riri dan Erwin. Namun dengan lugas Riri berkelit dengan mengatakan bahwa dia gak ada hubungan 'lebih' dengan Erwin.


__ADS_2