
Riri sedang tersenyum melihat pengantin yang sibuk menyalami para tamu. Hatinya turut bahagia melihat adik iparnya, Rani Pratiwi, yang terus tersenyum penuh bahagia dihari bahagianya itu.
"Riri!" teguran lembut membuat Riri menoleh keempunya suara.
"An... dre?" Riri terkejut melihat kehadiran Andre di pesta tersebut.
Andre tersenyum manis menatap Riri.
"Kamu masih saja manis kayak dulu, Ri." katanya pelan.
Riri hanya tersenyum tipis.
"Apa kabar, Dre? Kesini sama siapa?" Riri tak melihat siapa pasangan Andre.
"Aku..."
"Gue! Istri Andre!"
Sesaat Riri terkejut melihat siapa yang datang dan langsung memeluk tangan Andre. Namun dia bisa kembali bersikap wajar dan tersenyum ramah.
"Sella saudara jauh Rani, kan?" ujar Riri memastikan keraguannya.
Sella tersenyum sinis pada Riri.
"Mana pria yang sering jalan sama lo waktu lo masih bunting? Lo udah dicampakkan ya?" ejek Sella, sarkis.
Riri meringis mendengar ejekan Sella. Hatinya sakit. Namun ia tetap tersenyum ramah pada tamu mertuanya. Riri tidak mau merusak pesta Rani hanya gara-gara meladeni mulut beracun Sella.
Riri tidak mengenal Sella. Tapi entah kenapa wanita itu begitu membencinya.
"Sella! Bisa gak mulutmu dijaga?!" Andre menatap Sella dengan penuh amarah.
"Kenapa? Emang bener kok dia perempuan yang gak punya malu baru ditinggal mati suaminya udah jalan bareng cowok lain, lagi hamil pula. Dasar gak punya malu! Cihh... jijik aku!" Sella terus mengumpat Riri yang hanya diam saja.
"Sella!!!" bentak Andre, tertahan. Ia melihat sekelilingnya yang ramai tamu undangan.
"Kalau kamu terus bicara kasar seperti tadi sebaiknya kita pulang saja." ancam Andre sambil menarik kasar tangan istrinya yang telah membuatnya malu atas tindakan Sella pada Riri.
Sesosok pria tampan bersetelan jas hitam dan rapi menghampiri Riri. Iyan, pria itu tersenyum manis kepada Riri lalu mengambil alih baby Ray dari gendongan Riri.
Andre yang hendak pergi mengurungkan langkahnya dan menatap Iyan lekat.
"Hai... hai... hai...! Akhirnya selingkuhan lo datang juga." Sella tersenyum sinis melihat Riri.
__ADS_1
Iyan menatap Sella tak suka.
"Apakah anda tau kalau yang anda katakan itu adalah sebuah fitnah dan anda bisa dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik, nyonya." Iyan terlihat sangat geram pada wanita didepannya.
"Sella, tutup mulutmu!" bentak Andre, malu dengan kelakuan istrinya.
"Pencemaran nama baik apa? Memangnya kalian masih punya nama?!" sahut Sella sinis.
Riri menepuk pelan lengan Iyan.
"Gak usah diladenin." katanya pelan.
Sella tertawa mengejek.
"Kalo orang yang urat malunya udah putus emang gak peduli biar diomongin kayak gimana juga." sindir Sella tetap memandang Riri sinis.
Riri tersenyum tenang mendengar cercaan Sella padanya. Lalu menatap Andre lekat.
"Kayaknya lo gak pernah ajari istri lo sopan santun, Dre. Arogan banget. Sama kayak lo waktu SMA dulu, suka marah-marah gak jelas."
"Maaf, Ri! Sella memang agak kolokan..."
"Sudah setua ini masih kolokan? Hahhh! Kasihan lo bro, dibikin malu terus sama bini lo." ejek Iyan.
Andre tertunduk malu mendengar ucapan Iyan. Ia menatap kesal istrinya yang telah mempermalukannya.
"Apa lo bilang cowok brengs*k!!!" teriak Sella kesal mendengar Iyan mencelanya.
"Lo tuh yang gak tau malu, Pacaran sama janda yang lagi bunting..."
"Sella!!!" suara bentakan keras membuat mereka menoleh.
Kak Sarah menatap Sella dengan penuh amarah. Wajah cantiknya sampai merah menahan marah.
"Kamu jangan pernah menghina Riri. Dia gak pernah berbuat seperti yang kamu tuduhkan tadi!" kata Sarah kesal.
"Kak Sarah! Kalian mana tau apa yang sudah wanita s***** ini lakukan. Dia sering jalan bareng pria ini dari waktu dia hamil." Sella mencoba menghasut Sarah.
Sarah tersenyum sinis. "Benarkah?" tanyanya santai.
"Benar, kak. Aku sering lihat mereka berdua..."
"Hahahahaha!!!" tawa Sarah pecah membuat orang-orang menatap heran padanya, termasuk Sella. Sedangkan Riri dan Iyan tetap tenang.
__ADS_1
"Makanya jangan sok ngebully orang kalo gak tau apa-apa." Sarah menoel keras kepala Sella hingga perempuan itu terdorong sedikit mundur kebelakang.
Sella merengut kesal bercampur heran melihat sikap Sarah yang jelas-jelas membela Riri.
"Aku yakin banget kalo perempuan s***** ini sudah mengguna-guna keluarga kalian, kak. Lihatlah kamu begitu sangat membela..."
"Dia pantas dibela karna memang Riri gak salah. Kami yang menyuruh Iyan menemani dan melindungi Riri selama hamil. Kalau mereka dekat, itu karna mereka memang sudah berteman sejak kecil. Dan seandainya pun mereka saling suka itu wajar saja. Mereka kan sama-sama sendiri."
"Mimpi banget janda jadian sama pria single." ejek Sella sinis.
Andre menatap kesal istrinya yang keras kepala.
"Emang ada hak kamu melarang mereka? Jangan bilang kamu masih dendam karna dulu Erwin gak mau dijodohin sama kamu?" Sarah tersenyum mengejek Sella yang mendengus kesal.
"Ini gak ada hubungannya dengan..."
"Jelas ada!" Tari yang baru datang dan mendengar pertengkaran Sella dan Sarah langsung menyela omongan Sella.
"Gue gak nyangka lo sepicik ini, Sel. Lo sengaja menghasut gue dulu biar gue terus-menerus mengejar Erwin karna lo udah tau dari awal kalo Erwin sudah punya pacar. Lo sengaja nyuruh gue memaksa Riri deketin gue sama Erwin karna lo tau sebenarnya Erwin menyukai Riri. Asal lo tau, gue beneran nyesel udah temenan sama lo yang licik." umpat Tari geram. Sella tersenyum culas.
"Kalian semua benar-benar bodoh karena sudah termakan guna-guna sis***** ini. Termasuk kamu!" Sella menunjuk suaminya, Andre.
Andre melongo menatap istrinya, bingung.
"Aku tau kamu dulu suka sama Riri. Dan sampai sekarang pun kamu masih memikirkan dia. Kamu gak pernah memperdulikan aku. Karna itu aku sangat membenci Riri. Dia sudah merebut semua orang yang aku sukai!!!"
Andre terperanjat mendengar pengakuan Sella. Ternyata Sella begitu dendam pada Riri. Dan sikapnya yang tak pernah memberi Sella perhatian selama mereka menikah menambah parah dendam Sella terhadap Riri.
"Maafkan aku, Sel. Aku salah. Seharusnya dulu aku menolak dijodohkan sehingga kamu tidak merasa sakit hati seperti ini." kata Andre pelan.
Sella tersenyum sinis. Hatinya sakit mendengar penyesalan Andre.
"Justru itu makin buat aku membenci wanita si**** ini. Dan aku akan membuat perhitungan dengannya..."
"Sebaiknya lo bawa istri lo pulang, bro. Dia sudah mengganggu pesta pernikahan gue." Erwin Aries menatap kesal Sella yang telah merusak pesta pernikahannya.
"Sella sebaiknya kita pulang, sayang!" mama Sella yang masih sepupu mama Sarah mengamit tangan Sella, mengajaknya pulang. Tapi dengan kasar Sella menarik tangan mamanya.
"Aku gak mau pulang sebelum merobek-robek muka setannya!!!" sahut Sella keras. Dia hendak menyerang Riri yang menatap sedih padanya.
Plakkk!!!
Sebuah tamparan keras membuat Sella terdiam sambil memegang pipinya yang nyeri. Sella terdiam, menunduk tak berani menatap orang yang telah menamparnya.
__ADS_1