
Akhir-akhir ini Riri disibukkan dengan tugas mengajarnya, dan juga rencana pernikahannya dengan Iyan. Meskipun ini bukan pernikahan pertama Riri, tapi bagi Iyan ini adalah yang pertama. Karena itu Riri ingin yang terbaik untuk Iyan.
Drrrrtt! Drrrrrttt!
Riri mengambil ponsel dikantong baju dinasnya. Nomor yang tidak dikenal.
"Halo!" Riri menjawab panggilan dengan ragu.
"Kalo kamu masih mau melihat anakmu hidup, cepat temui aku."
Bola mata Riri membesar. Perasaannya tak enak.
"Siapa ini?! Jangan main-main sama saya!"
Terdengar tawa diujung sana.
"Kalo tidak ingin menyesal, cepat tamui saya!!!" keras suara itu membentak Riri membuat Riri tersentak kaget.
Keringat dingin membuat badan Riri bergetar hebat. Jantungnya berdetak cepat. Namun Riri mencoba bersikap tenang.
"Jangan coba mengelabui saya karna saya tidak..."
Tut. Tut. Tut.
Sambungan telpon terputus.
Riri menarik napas lega. Tenyata penelpon gelap itu hanya iseng mengganggunya. Buktinya dia langsung memutuskan percakapan ketika diancam balik oleh Riri.
trritiiit.trritiiit.
__ADS_1
Pesan masuk diponsel Riri. Terlihat gambar baby Ray yang tengah tertidur pulas terkirim keponselnya. Riri mengernyit memandang foto anaknya yang telah dikirim oleh nomor yang tidak dikenal itu.
Ponsel Riri kembali berdering.
"Kalau kamu ingin anakmu selamat, cepat temui aku. Jangan coba-coba lapor polisi karna kamu tau sendiri akibatnya." ancam orang itu.
Riri terperanjat diam. Pikirannya buntu. Dan tanpa berpikir panjang Riri pun bergegas pergi ketempat yang dituju.
Ditempat yang telah ditentukan, sebuah gudang tua dipinggiran kota yang jauh dari keramaian. Riri melangkah cepat, masuk kedalam gudang tersebut.
Didalam gudang, Riri melihat ada tiga orang yang bertubuh tinggi besar yang mulai mengelilinginya. Seorang wanita cantik turun dari ruang atas.
"Sella!!!" teriak Riri tertahan.
"Apa maksud semua ini? Mana anakku?"
"Dasar wanita s***** yang bodoh. Ternyata hanya dengan sebuah foto lo udah masuk perangkap gue." ejek Sella.
"Apa?!! Jadi?!!"
"Semua itu hanya jebakan yang gue bikin buat lo, b*go!" bentak Sella, kasar.
Riri tersentak.
"Ikat dia!" perintah Sella.
Dua orang anak buah Sella memegang kasar bahu Riri dan mengikat tangannya.
"Lepasin gue, Sella! Lo kali ini sudah keterlaluan!" Riri memberontak, keras.
__ADS_1
Sella tersenyum sinis.
"Gue udah lama menantikan saat ini, Ri! Dendam gue hari ini akan terbalaskan."
"Gue sama sekali gak punya salah sama lo. Kita juga gak kenal dekat." elak Riri.
"Banyak, b*go! Lo banyak salah sama gue." bentak Sella memekakkan telinga Riri karena Sella memekik ditelinganya.
"Asal lo tau, brengsek! Gue udah menyukai Erwin jauh sebelum lo kenal dia. Dari kecil gue udah memendam rasa suka gue sama Erwin dan sangat menantikan perjodohan kami. Tapi, gara-gara cewek murahan kayak lo, Erwin nolak gue!"
Riri meringis menatap Sella, sinis.
"Itu sih DL. De-ri-ta Lo!"
Sella melotot menatap Riri penuh amarah.
"Bangsat!"
Plakk!!
Sella menampar keras wajah Riri dengan penuh emosi.
"Dan sekarang, gara-gara lo juga Andre gak pernah mencintai gue. Padahal gue istrinya. Andre selalu mengingat lo, yang katanya lo cinta pertamanya dia. Gimana gue gak nyesek dan dendam kesumat ama lo? Lo selalu merebut cowok-cowok yang gue suka!"
"Hahahahhahahaaa!!!" Riri tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sella.
"Curhat ni yee?" ejeknya membuat Sella makin menggeram marah.
"Saudara-saudaraku sekalian, silahkan nikmati tubuh wanita j**ang ini sepuas kalian!" Sella duduk santai dan tertawa menyeringai melihat Riri yang mulai ketakutan.
__ADS_1