Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 11


__ADS_3

Riri menghirup dalam udara kota yang sudah sangat ia rindukan itu. Hari ini Riri pulang kembali kekotanya setelah menyelesaikan kuliahnya. Senyumnya sumringah melihat orang yang menjemputnya di bandara.


" Halo Riri cantik! I miss you."


"Hai, Del! Sehat lo?"


"Alhamdulillah, sista."


Setelah cipika-cipiki Riri dan Dela pergi menggunakan taksi menuju rumah Riri.


"Selamat ya Ri, atas kelulusannya. Gue doain semoga cita-cita lo jadi seorang guru segera tercapai."


"Aamiin! Makasih Del! Selamat juga buat lo atas kelulusan lo juga dan atas kesiapan lo jadi nyonya Helmi." Riri memeluk erat sahabat baiknya itu. Dela terharu.


"Coba kalo Yeni ada disini ya Del, pasti seru." Riri mengenang persahabatannya waktu disekolah dengan Dela dan Yeni.


"Yeni pasti balik kesini, Ri. Dia udah janji akan datang kepernikahan gue."


"Beneran, Del?" Riri terpekik tak percaya.


Sejak perpisahan sekolah Riri belum pernah ketemu Yeni lagi. Dia kangen berat dengan sahabatnya yang satu itu.


Riri memasuki rumahnya yang kosong diikuti Dela. Tiga tahun lalu, kedua orangtua Riri meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika akan dinas keluar kota. Riri sekarang sebatang kara karena dia adalah anak tunggal dan tidak punya saudara lain.


Airmata Riri jatuh saat memandang potret wajah kedua orangtunya yang terpampang besar didinding ruang tamu keluarga.


"Ayah... ibu... Riri sekarang udah selesai kuliah. Sebentar lagi Riri akan kerja dan akan menggapai cita-cita Riri. Doakan Riri agar selalu tegar dan bahagia ya? Riri sayang kalian!" Riri sesenggukan.


Dela memeluk sahabatnya erat seakan memberi Riri kekuatan untuk tegar menghadapi hidupnya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam!" Riri beranjak hendak membuka pintu.


"Surprise!!!"


Teriakan super heboh dari Dela membuat Riri terperanjat kaget. Dan ia pun ikut berteriak setelah melihat siapa yang datang.


"Yeni!!! I Miss You, sista!!!"


"Riri cantikkk!!! I miss you too!!!"


Riri menangis haru. Bahagia ia rasakan bisa bertemu sahabat lamanya yang sudah hampir enam tahun mereka berpisah.


Tangis haru pecah diruang tamu rumah Riri. Riri, Dela dan Yeni saling berpelukan lama menghapus kerinduan mereka.


"Gue seneng kita akhirnya bisa berkumpul bareng lagi dipernikahan gue." Dela masih terisak setelah melepaskan pelukannya.


Yani dan Riri mengangguk setuju.


"Gimana kabar lo sekarang, Yen? Udah nikah?" Riri sangat ingin tau kehidupan sahabatnya yang satu ini.


Yeni nyengir mendengar pertanyaan Riri.


"Gue udah nikah satu tahun yang lalu sama temen sekampus gue."


"Lo ajak kesini gak?"


"Bentar ya gue panggil dulu."


Yeni keluar menemui suaminya. Riri dan Dela terperangah saat melihat sosok suami Yeni.


"Assalamualaikum!" suami Yeni mengucap salam dan menyalami Riri dan Dela.


"Mashaallah, Yen! Laki lo ganteng banget, nemu dimana sih...Aduh!" Dela yang takjub melihat pesona suami Yeni yang gantengnya beda tipis sama Li min ho, langsung mengaduh ketika dengan santai Riri menjitak keras jidatnya.


"Sopan dikit napa?! Ganjen amat lo!" Riri gemes dengan tingkah Dela yang masih saja ganjen padahal udah mau nikah.


"Lah... emang gak boleh gue kagum sama suami temen gue. Gak pa-pa kan, Yen?" Dela mendelik sewot pada Riri.


"Gak boleh!!!" tau-tau Helmi sudah berdiri dipintu rumah Riri.


Dela meringis kagok melihat calon suaminya datang. Riri dan Yeni tertawa geli melihat Dela yang ke gep sama Helmi.


"Bebeb, kapan dateng? Kok gak bilang mau kesini?" Dela cengar-cengir malu.


Helmi merengut masam. Lalu tersenyum pada suami Yeni.


"Maafin calon istri gue ya bro, maklum... belum sembuh seratus persen." Helmi meletakkan telunjuknya miring dikeningnya membuat Riri dan Yeni terbahak ngakak. Sedangkan suami Yeni hanya tersenyum kalem. Gantian Dela yang merengut.


Riri mengajak teman-temannya makan setelah dia, Dela dan Yeni memasak.


"Pernikahan kalian kan sebentar lagi. Berarti udah siap mental dong, Mi?!" ujar Riri.


"Bukan waktu sebentar buat gue mantepin hati gue buat Dela, Ri. Lo lihat sendiri kan ganjennya gak ilang-ilang. Pusing gue!" Helmi menepuk jidatnya.


Riri menepuk lengan Helmi pelan,


"Yang sabar ya, Mi." kata Riri sambil tersenyum geli.


"Udah nasib gue kali, Ri." sahut Helmi lirih.


Riri ngakak abis. Yeni dan suaminya ikut tertawa geli.


"Tapi lo juga beruntung Mi, karna cinta mati Dela hanya buat lo." timpal Yeni diakurin Riri, setuju.

__ADS_1


"Oh ya, apa temen-temen kita di SMA lo undang semua, Del?" tanya Riri pada Dela yang dari tadi diam saja karena masih merajuk pada Helmi.


"Lo tenang aja, Andre gue undang kok." Dela menjawab asal, dia menatap sebel Helmi.


Riri melongo.


"Gue gak request itu ya?!" protes Riri.


"Kenapa? Bukannya kalian deket selama di Jogja?" tanya Dela bingung.


Yeni yang sama sekali putus kabar dengan Riri hanya memandang mereka tak mengerti.


"Kita dekat hanya sebagai teman aja gak ada yang spesial kok." ralat Riri agar teman-temannya tidak berpikiran bahwa dia dan Andre pacaran.


"Spesial juga gak pa-pa kok, Ri. Kan lo masih jomblo juga." kata Dela yang langsung meringis sambil mengusap jidatnya saat Riri menepuknya gemes.


"Enak aja! Gue punya pacar tau." semprotnya keki.


Dela dan Yeni memandangnya penuh rasa ingin tau. Sedang Helmi dan Benny, suami Yeni, hanya tersenyum.


"Siapa namanya, Ri?"


"Orang Jogja ya?"


"Ganteng gak, Ri?"


"Kerjanya dimana?"


Riri geleng-geleng geli mendengar pertanyaan-pertanyaan kepo dari dua sohibnya itu.


"Kalian kenal kok sama dia." jawab Riri santai.


"Beneran kita kenal sama cowok lo?" tanya Dela sambil menatap Riri lekat.


Riri mengangguk mantap.


"Kalian pasti undang dia juga kok." sahutnya yakin.


"Udah! Ntar juga kalian pasti tau." Riri masih berahasia.


☘️☘️☘️


"Assalamualaikum!"


Sebuah kecupan hangat mampir dikening Riri yang tengah tertidur diruang tamunya.


Riri tertidur setelah Dela, Helmi, Yeni dan suaminya pulang.


"Bibib!" desah Riri yang masih setengah sadar.


"Selamat datang, Ayang Bibib! Bibib rindu berat sama Ayang." Erwin mencium gemes bibir Riri yang tersenyum malu-malu.


"Maaf ya, Yank. Bibib gak bisa nemenin Ayang waktu wisuda kemaren. Bibib beneran sedang tugas." kata Erwin penuh sesal tak bisa mendampingi kekasihnya waktu Riri wisuda.


"Gak pa-pa, Bib. Aku ngerti kok. Meskipun sebenarnya aku sedih juga, tapi gak pa-pa." Riri tersenyum manis pada kekasihnya.


Erwin memeluk erat tubuh cewek terkasihnya.


Riri menyandarkan kepalanya di dada Erwin.


"Tadi siapa yang jemput? Apa bareng Andre?" ada nada cemburu dipertanyaan Erwin.


"Bibib cemas loh dari tadi siang hp Ayang gak aktif." Erwin membelai rambut Riri, mesra.


Riri mengambil handphonenya.


"Astaghfirullah! Baterenya lowbat, Bib." Riri nyengir sambil menunjukkan hpnya yang mati pada Erwin yang mengacak gemes rambutnya.


"Jadi... tadi pulang bareng Andre?" tanya Erwin lagi karena Riri belum menjawabnya.


"Dela yang jemput tadi. Habis... Bibib kan gak sempat jemput aku." sahut Riri setengah merajuk.


Erwin meringis.


"Maaf Yank, Bibib..."


"Aku cuma becanda kok, Bib. Aku tau tugas Bibib lebih penting, aku ngerti." Riri menangkup kedua pipi Erwin, menenangkannya agar tidak merasa bersalah karena tidak bisa menjemputnya.


"Makasih ya, Yank! Kamu memang gadis baik. Beruntung aku memilikimu."


Erwin meraih pinggang Riri agar lebih dekat dengannya. Erwin menyentuh dagu Riri hingga tepat didepan wajahnya. Aroma wangi napas Riri terasa hangat diwajahnya.


Pelan Erwin ******* bibir Riri dan gadis itu membalasnya. Jemari Riri menyusuri rambut Erwin ketika ciuman cowok itu makin dalam.


Ciuman itu semakin menuntut, saat Riri mendesah ketika tangan Erwin mulai jahil menyentuh pa**daranya.


Erwin terus mencium menyusuri leher putih Riri dan meninggalkan tanda kepemilikannya disana.


"Bib... akh..." Riri menggelinjang hebat saat Erwin menghisap ****** pa**daranya.


"Yank... aku ingin memilikimu seutuhnya." bisik Erwin disela-sela aktivitas mesumnya.


"Bib... aku... shhh..." Riri mendesah, tak mampu berkata-kata. Hal ini pertama kali baginya.


Jemari Erwin yang nakal bergerak lebih aktif. Dan itu juga membuat Riri menuntut untuk meminta 'lebih'.

__ADS_1


"Be... belum... waktunya, Bib..." Riri berusaha menahan tangan Erwin yang hendak menggapai 'sesuatu' miliknya yang paling sensitif.


Erwin menghentikan aksinya. Ditutupnya kaos Riri yang tadi disingkapnya dan sudah ia nikmati bukit kembar milik Riri.


"Maaf ya Yank, aku kebablasan." Erwin nyengir. Tangannya menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


Riri tertunduk malu. Napasnya masih bergemuruh akibat aksi panas Erwin tadi.


Riri berdiri dari duduknya.


"Bibib udah makan belum?" Riri berusaha bersikap biasa saja menutupi rasa gugupnya.


"Memangnya Ayang belum makan?" tanya Erwin cemas.


'Jangan-jangan Riri lapar, dan aku bukannya beli dia makanan malah mau memakannya.'


Erwin menepuk-nepuk jidatnya menyadari kebodohannya.


"Aku udah makan tadi bareng Dela dan Yeni juga Helmi."


"Mereka tadi kesini? Yeni juga?" tanya Erwin. Dia tau Yeni,sahabat Riri, sudah pindah ke daerah lain.


"Yeni datang karena ingin menghadiri pesta pernikahan Dela dan Helmi. Dia juga datang dengan suaminya."


"Yeni sudah menikah?"


Riri mengangguk.


"Yeni udah nikah setahun yang lalu, sekarang Dela mau nikah juga. Tinggal aku yang gak laku-laku."


" Ayang mau nikah juga? Ayok kalo gitu..."


"Mau kemana?" tanya Riri bingung ketika Erwin menarik tangannya.


"Ke KUA. Katanya mau nikah... Aduh"


Riri menjitak kepala Erwin gemes.


"Kalo bertindak tuh jangan pake ini, Bambang!" sungutnya sambil menunjuk dengkul Erwin.


"Dikira nikah sama kayak beli martabak." Riri merengut masam.


Erwin nyengir.


"Maaf, Yank. Habis kayaknya Ayang ngebet pengen nikah juga kayak Yeni dan Dela."


"Bukannya kamu yang ngebet pengen 'begituan'?" sindir Riri.


Erwin meringis malu.


"Kalo begitu, secepatnya kita akan menyusul Yeni dan Dela, Yank. Bibib janji akan menikahi Ayang secepatnya."


"Jangan asal ngomong..."


"Bibib serius, Yank! Besok pagi Bibib akan segera bicarakan ini sama orang tua Bibib."


"Tapi..."


"Kamu gak mau ya nikah sama aku?" Erwin menatap Riri lekat. Ia merasa Riri tidak mau menikah dengannya.


Riri menggenggam tangan Erwin dan menciumnya lembut.


"Aku mau, Bib. Aku mau menjadi istri Bibib dan akan selalu mendampingi Bibib." ucap Riri dan langsung dipeluk Erwin erat.


Keduanya lalu makan dan menghabiskan malam panjang mereka dengan bertukar cerita dan saling bercanda untuk melepaskan rasa rindu setelah lama terpisah ruang dan waktu.


🎵Diujung cerita ini


diujung kegelisahanmu


ku pandang tajam bola matamu


cantik... dengarkanlah aku


Aku tak setampan don juan


tak ada yang lebih dari cintaku


tapi saat ini ku tak ragu


ku sungguh memintamu...


Jadilah pasangan hidupku


jadilah ibu dari anak-anakku


membuka mata dan tertidur disampingku


Aku tak main-main


seperti lelaki yang lain


satu yang ku tau...


Ku ingin melamarmu😘

__ADS_1


__ADS_2