Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 6


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Riri dan Erwin pacaran tapi tidak ada yang tau kalo mereka udah jadian kecuali Dela, Helmi dan... Andre.


Tari pun tidak mengetahuinya karena Riri tidak pernah menceritakannya meski Tari sering menanyakan tentang Erwin padanya. Itu dikarenakan mereka berdua biasa saja kalo didepan teman-teman mereka.


Sampai suatu hari,


"Ri, ikut gue bolos yuk!" ajak Robby yang duduk diseberang meja Riri.


Riri memang akrab dengan semua teman sekelasnya. Karena Riri orangnya ramah, baik dan tidak pernah pilih-pilih dalam berteman.


"Lo lagi ada masalah ya, Rob?" tanya Riri.


Robby mengangguk pelan.


"Gue berantem lagi sama bokap." ujarnya.


Riri mengangguk paham. Robby pasti lagi butuh teman curhat.


"Kenapa gak ajak Yeni?" tanya Riri. Yeni adalah pacar Robby.


"Yeni juga lagi ada masalah sama keluarganya. Gue gak mau nambah beban pikiran dia kalo gue curhat sama dia." jelas Robby.


"Kalo gitu, lo berdua harusnya saling menyemangati dan saling menghibur biar lo tambah deket juga." kata Riri.


"Tadi gue udah ngajak Yeni, tapi dianya gak mau. Dia malah suruh gue ngajak lo."


Riri menoleh kearah Erwin yang ada disebelahnya dan juga mendengar ucapan Robby.


" Gue ikut!" sahut Erwin.


Robby melongo.


"Lo ajak Yeni, gue boncengan ama Riri." kata Erwin lagi seolah tau apa yang Robby pikirkan.


Robby pun mengangguk dan langsung menghampiri Yeni, membisikkannya sesuatu lalu memberi kode pada Riri dan Erwin untuk langsung cabut dari sekolah.


Robby membonceng Yeni melajukan motornya kearah pantai. Erwin mengikuti dari belakang.


"Peluk Bibib dong, Yank! Liat tuh Yeni aja meluk Robby." pinta Erwin genit sambil menunjuk pada Robby dan Yeni yang ada didepan mereka.


"Mulai genit ya?!" Riri menggelitik pinggang Erwin yang spontan menggeliat geli. Dan motor yang dikendarai Erwin pun sedikit oleng,


Riri refleks memeluk Erwin.


"Hati-hati, Bib!" kata Riri takut.


Erwin tersenyum.


"Makanya jangan digelitikin Bibibnya, geli tau. Peluk yang kenceng. Ntar jatuh, Bibib sedih loh." goda Erwin sambil memegang tangan Riri yang memeluknya dari belakang. Riri memukul punggung Erwin gemas.


"Aduh! Sakit Yank Bibibnya!" Erwin mengaduh manja.


Riri memeluk Erwin erat sambil tersenyum malu, menyembunyikan wajah cantiknya dipunggung Erwin.


Setelah sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah pantai yang sepi.


Riri, Erwin, Robby dan Yeni duduk diatas sebuah batu besar yang cukup teduh karena ada banyak pohon didekat batu tersebut.


"Dari semalem pikiran gue buntu. Emosi gue gak terkontrol makanya gue ngajak lo pada bolos. Gue mau cari ketenangan disini."


Robby merebahkan kepalanya dipangkuan Yeni.


"Kamu gak pa-pa kan, sayang?" Robby mencium lembut tangan Yeni yang membelai rambutnya.


"Aku gak pa-pa! Masalah pribadi kita cukup kita yang tau, tapi kita memang butuh ketenangan untuk sementara biar gak tambah mumet otak kita." kata Yeni bijak.


Robby tersenyum. Dia meraih kepala Yeni dan mendekatkan kewajahnya. Mereka berdua berciu*an tanpa memperdulikan Erwin dan Riri.


'Waduh! Kabur, ah!'


Riri hendak melorot turun ketika tangan Erwin menahannya.


Erwin memutar arah duduknya kesamping. Riri ikutan duduk disebelahnya.


"Kita kesini sebenernya mau refreshing atau nemenin orang pacaran sih?" bisik Riri ditelinga Erwin, pelan.


Erwin tersenyum geli. Diacaknya gemes rambut Riri.


"Loh... kita kan bisa sekalian pacaran juga, Yank." Erwin menoel mesra hidung mancung Riri.


"Tapi gak ikutan adegan itu ya?" pinta Riri.


"Adegan apaan?" Erwin mengernyitkan dahinya, tak mengerti.


"Eemmm... itu... yang Robby dan Yeni buat tadi." pipi Riri merona saat mengatakan maksudnya.


Erwin tersedak menahan tawanya.


'Dasar si mungil polos!'


Erwin mengacak rambut Riri lagi, gemas dengan kepolosan gadis tercintanya itu.


"Emangnya Ayang Bibib gak mau kayak gitu?" Erwin menggoda Riri.


Cepat-cepat Riri menggeleng sambil bergidik, takut. Erwin tertawa lagi.


"Gak usah takut Ayang Bibib! Gak sakit kok!" goda Erwin lagi.


"Tidakkkkk!!!"

__ADS_1


Riri buru2 kabur menjauhi Erwin yang tertawa ngakak melihatnya. Robby dan Yeni menatap Erwin dengan penuh tanda tanya.


"Riri kenapa, Win? tanya Robby.


Erwin hanya menggeleng sambil terus tertawa geli.


Erwin menghampiri Riri yang sedang asik bermain pasir dipinggir pantai.


"Yank! Sini!" panggil Erwin.


Riri menoleh.


Erwin mengacungkan sekantong snack yg tadi dibelinya diwarung dekat pantai tersebut. Riri menghampiri Erwin. Keduanya melangkah ke sebuah bangku dan duduk sambil menikmati pemandangan laut.


"Bib, Tari masih suka loh nanyain Bibib. Aku kadang bingung mau gimana ngadepin Tari. Aku jadi merasa udah mengkhianati dia." Riri mengadu pada Erwin.


"Bilang aja apa adanya, Yank, kalo kita saling cinta dan udah pacaran." kata Erwin sambil membelai rambut Riri mesra.


"Aku gak enak, Bib. Aku pernah bilang sama Tari kalo aku hanya menganggap Bibib sebagai sahabat saja, gak lebih." jelas Riri.


"Perasaan kan bisa berubah, Yank. Mungkin waktu Ayang ngomong gitu Ayang belum kepikiran suka sama Bibib." kata Erwin tenang.


Riri menggeleng.


"Bukan itu. Hanya saja saat itu aku belum yakin dengan perasaanku pada Bibib."


"Maksud Ayang?"


"Jujur saja, Bib. Perhatian-perhatian kecil yang Bibib beri ke aku selama kita berteman, kadang bikin aku bingung dengan perasaanku. Aku sering merasakan debaran-debaran aneh kalo Bibib memperhatikanku. Aku gak tau apakah saat itu aku udah jatuh cinta atau hanya baper saja." ungkap Riri jujur.


Erwin tersenyum.


"Berarti sebenarnya, selama ini kita udah saling suka dan memendam perasaan masing-masing? Cuma gak berani untuk mengakuinya ya?" Erwin mengerling menggoda Riri yang tersenyum malu.


Erwin membawa Riri kepelukannya. Riri menyandarkan kepalanya didada bidang Erwin.


"Makasih ya, Yank, udah mau jadi pacar Bibib. Bibib seneng banget, ternyata kita punya perasaan yang sama. Bibib janji akan selalu setia, cinta dan sayang sama Ayang. Bibib akan selalu jaga Ayang selamanya." janji Erwin.


Riri tersenyum geli mendengarnya.


"Beneran?" tanya Riri sambil tersenyum.


Erwin mengangguk mantap.


"Selamanya berarti seumur hidup loh?" Riri mengedipkan sebelah matanya, genit.


"Iya!" jawab Erwin lagi.


Riri menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nggak mungkin." katanya.


"Emangnya Bibib mau seumur hidup pacaran sama aku? Kalo aku gak mau loh?!"


Erwin mengernyit menatap Riri. "Kenapa gak mau?" tanyanya, kecewa.


"Jelaslah aku gak mau. Masak pacaran terus sampai tua, gak nikah-nikah." sindir Riri.


Erwin tergelak. Dia mulai paham, Riri menyindirnya tentang janji yang ia ucap barusan.


"Bibib mau Ayang jadi milik Bibib selamanya. Pokoknya Ayang sekarang jadi pacar Bibib dan inshallah jadi istri Bibib nantinya." janji Bibib membuat Riri terbang mendengarnya.


"Iya! Aku mau selamanya jadi milik Bibib." jawab Riri yakin.


Erwin mencium lembut pucuk kepala Riri dan memeluknya erat.


"Ekhemm!"


Deheman seseorang membuat Riri dan Erwin spontan menoleh. Sepasang muda-mudi, Robby dan Yeni tengah senyum-senyum menatap mereka.


Erwin gelagapan kaget seperti tuyul ke gep nilep duit tuannya. Riri cuma cengengesan sambil garuk-garuk kepala, menutupi perasaan malunya.


"Lo berdua ngapain?" tanya Robby pura-pura tidak tau. Yeni hanya senyum-senyum.


"Kalian berdua selama ini ternyata diam-diam pacaran?" Robby menatap Erwin dan Riri penuh selidik.


"Pantesan tadi Riri nolak gue ajak bolos berdua say, takut Erwin cemburu rupanya." kata Robby lagi pada Yeni.


Ditoelnya gemes jidat Riri yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Riri nyengir.


"Kenapa harus main rahasia2an sama kita, Ri?" tanya Yeni.


"Kita seneng kok kalo lo akhirnya bisa nemuin tambahan hati lo. Ya... walaupun nemunya gak jauh, cuma disebelah lo." goda Yeni.


"Gak ada yang rahasia, kok. Kita hanya ingin lo tau sendiri tentang kita." Erwin yang menjawab.


Robby mengangguk paham.


"Dan lo berdua berhasil bikin surprise buat kita." Robby menepuk pelan bahu Erwin.


Riri dan Erwin hanya bisa nyengir malu.


****


Riri gelisah menanti Erwin yang tidak kunjung datang meskipun bel tanda masuk sudah berdering.


'Kemana kamu, Bib?'


Riri bersender lesu disandaran kursinya ketika melihat guru kimia sudah memasuki kelasnya. Riri melihat ponselnya namun tidak ada kabar dari Erwin.

__ADS_1


Hingga pulang sekolah Riri terus gelisah karena Erwin tidak datang ke sekolah tanpa keterangan apapun dan tidak memberi kabar pada Riri.


'Ada apa denganmu, Bib?'


Riri mencoba untuk menghubungi Erwin namun nomornya tidak aktif. Pikiran Riri berkecamuk, kacau antara prasangka dan curiga. Akhirnya setelah lama menunggu kabar dari Erwin dan terus memikirkannya, Riri pun tertidur.


Keesokannya disekolah, Riri melihat Erwin sudah datang lebih dulu dan sedang menunggunya. Riri berjalan pelan menuju bangkunya. Setelah meletakkan tasnya Riri pun keluar dari dalam kelas.


"Tunggu, Ri. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Erwin memegang tangan Riri yang terlihat mau menghindar darinya.


"Aku mau ke kantin. Tadi gak sempat sarapan." Riri beralasan.


Erwin mengambil tas miliknya dan Riri kemudian menarik tangan Riri keluar menuju motornya yang ia parkir dibelakang sekolah.


"Mau kemana? Aku mau sekolah!"


Riri berusaha menolak Erwin. Pagi itu sekolahan masih sepi. Baru ada beberapa murid yang datang.


"Hari ini bolos dulu. Ada hal yg penting mau aku omongin sama kamu." kata Erwin tegas.


Sebenarnya Riri memang ingin mendengar penjelasan dari Erwin, tapi mengingat obrolannya dengan Tari semalam membuat Riri marah terhadap Erwin.


"Ri, aku mau minta maaf!" kata Erwin setelah mereka duduk ditaman kota.


"Soal?"


"Soal aku yang kemaren gak masuk sekolah." Erwin menatap Riri dengan perasaan bersalah.


"Gak usah minta maaf ke gue, minta maaf ke guru sana." sahut Riri cuek.


"Kamu marah ya sama aku, Ri?" Erwin bertanya pelan.


"Ngapain marah? Lo mau sekolah atau gak itu terserah lo, gak ada urusannya sama gue." sahut Riri lagi.


Erwin menatap Riri lekat. Dia sadar ada yg tak beres dengan sikap Riri hari ini.


"Jangan-jangan Riri udah tau semuanya?' Erwin menerka dalam hati.


Erwim menggenggam tangan Riri, namun ditepis oleh Riri.


"Ri, aku..."


"Gak perlu lo jelasin, gue udah tau dari Tari. Dia udah cerita semuanya ke gue." kata Riri pelan tanpa emosi.


"Selamat! Lo udah berhasil bikin remuk hati gue." kata Riri lagi membuat Erwin terdiam sesaat.


Riri berdiri dan hendak berlalu pergi tapi tangan Erwin cepat menariknya dan Riri terjatuh dipangkuan Erwin.


Riri lekas-lekas berdiri bangun dari pangkuan Erwin, namun cowok ganteng itu lebih dulu memeluknya erat dari belakang. Kepala Erwin bersandar dibahu Riri.


"Maafin aku, Ri! Aku gak bermaksud melukai perasaan kamu. Kemarin waktu aku mau berangkat sekolah Tari mencegatku dihalte biasa aku menunggu angkot. Dia nangis-nangis cerita kalau dia lagi ada masalah dengan keluarganya. Katanya dia gak mau sekolah dan mengajakku pergi. Aku sebenarnya gak mau dan menolak dia, tapi dia nangis-nangis terus. Aku gak enak soalnya banyak orang dihalte itu. Makanya aku mau pergi sama dia." Erwin menjelaskan duduk persoalannya.


"Makanya lo ajak dia pergi kerumah kakak lo?!" sindir Riri, sinis.


Erwin terdiam. Pelukannya mengendur. Kesempatan bagi Riri untuk melepaskan diri dan pergi dari hadapan Erwin tanpa menunggu penjelasan lagi darinya.


"Riri!" panggilan Erwin tak digubrisnya.


Riri terlanjur sakit hati. Harapan yg dia impikan bersama Erwin hancur seketika. Riri tak menyangka kebahagiaannya bersama Erwin hanya sekejap adanya. Sebentar ia merasakan jatuh cinta dengan sahabatnya itu, namun sebentar pula ia patah hati.


Tak terasa airmata jatuh dipipi Riri tanpa mampu ia menahannya.


"Kenapa kamu gak jujur sama aku, Bib? Kenapa kamu tega bikin aku kecewa?"


🎵Sedetik bertemu


seperti ku telah mengenalmu


kau yakinkan aku


untuk memilihmu


Kau jantung hatiku


kau darah ditubuhku


sampai seseorang berkata


kau adalah kekasihnya


Hancur hatiku, remuk jiwaku


Tak bisa aku mengerti


tak bisa aku pahami


biar hujan hapuskan segala


lara hati yang telah kau beri


Jangan pernah datang lagi


ku tak ingin kau kembali


biar angin hempaskanmu pergi


tinggallah aku melupakanmu🎶


cast Tari

__ADS_1



__ADS_2