
Riri sedang duduk ditaman kampus ditemani Andre. Ya, selama hampir 4 tahun Riri kuliah dikampus pilihannya dan ternyata bertemu Andre yg juga teman kampus sekaligus satu almamater dengannya.
"Rencana kamu selesai kuliah nanti apa, Ri?" tanya Andre.
"Balik kampung dan kerja disana."
"Gak ada niat mau nikah?" tanya Andre lagi.
"Mau nikah sama siapa, cuy? Pacar aja gak punya, apalagi tunangan."
Riri terkekeh geli. Andre ikutan tertawa.
"Lo kali yg mau nikah?" Riri menggoda Andre.
"Kalo kamu mau, aku siap nikah sekarang juga." goda Andre balik.
Riri memukul pelan lengan Andre.
"Kalo ngomong tuh disaring dulu biar ulet ama dedeknya gak masuk ke mulut." sahut Riri asal.
Andre melongo.
"Emangnya tepung harus disaring dulu biar bersih dari ulet." sanggah Andre.
Riri terkekeh lagi. Andre menatap Riri tajam.
"Aku serius loh, Ri! Aku siap kalo kamu mau nikah sama aku." ujar Andre jujur.
Hampir 5 tahun sejak masih SMA Andre berusaha mendekati Riri.Namun Baru 2 tahun belakangan ini Riri bisa ia dekati dan berteman akrab dengannya. Susah payah Andre berusaha mengambil hati Riri yg dulu sempat ia sia2kan.
"Gue belum kepikiran sampai kesana, Dre. Gue masih fokus nyelesain kuliah gue dan kerja. Gue gak mau kuliah gue sia2." tegas Riri.
Andre tertunduk lesu. Sepertinya dia masih harus lebih banyak bersabar lagi.
" Ya udah, lupain aja. Malam nanti kita jalan yuk, aku traktir!" Andre mengalihkan pembicaraan.
Riri menatapnya dengan penuh selidik.
"Tumben. Habis dapet tender, ya?" tanya Riri.
Andre yg kuliah sambil kerja disalah satu showroom ternama memang biasa mentraktir Riri dan beberapa teman mereka kalo dia lagi dapat bonus dari tempatnya bekerja.
"Alhamdulillah!" jawab Andre.
Riri mengangguk.
"Asiyaaap!" sahutnya cepat.
Tangannya memberi hormat pada Andre membuat cowok ganteng itu tertawa geli dengan ulahnya.
"Masih aja sakit kayak dulu." Andre menyentil jidat Riri, gemes.
"Hush! Udah sembuh loh!" protes Riri sambil mengusap-usap jidatnya, kesal.
Andre terbahak.
Malam itu Riri dan Andre sedang menikmati pemandangan malam hari dipinggiran kota Jogja. Mereka makan dilesehan pinggir jalan tempat favorit Riri.
"Gue pasti bakal kangen tempat ini nanti. Soalnya di kota kita kan gak ada pemandangan malam yg seindah ini disana."
Riri menatap jauh keatas langit dimana bintang2 berkelip indah dan bulan bersinar cerah. Andre mengangguk setuju.
Keduanya sedang asik berkelakar dan bersenda gurau ketika ada seseorang memanggil Riri.
"Riri!"
Riri menoleh dan terkejut melihat orang yg menyapanya.
"Er...win?!"
Ragu2 Riri menyebut nama orang itu yg ternyata Erwin mantan sahabatnya dan juga ... mantan pacarnya.
Erwin tersenyum senang. Ternyata ia tak salah lihat.
flashback on
"Ayo dong bang, kita jalan2. Masak udah di Jogja cuma bengong dikosan aja? Rugi dong." Rani menarik-narik tangan Erwin mengajaknya pergi.
"Abang kesini kan karna aja kerjaan, Ran. Kamu kalo mau jalan2 ajak Dedek aja." tolak Erwin yg masih asik dengan leptopnya.
Dedek yg Erwin maksud adalah dedek Erwin, teman mainnya dan kini juga satu kantor dengannya. Sejak Riri menggelar panggilan 'dedek' pada Erwin Aries, Erwin Rahadi ikut2an memanggilnya dedek.
"Gak mau! Rani mau perginya sama abang." sahut Rani sambil menatap Dedek kesal.
Dedek nyengir saat sadar Erwin juga tengah menatapnya tajam.
"Kalian berdua lagi berantem, ya?" Erwin menatap tajam Dedek dan Rani, adiknya.
"Nggak!" sahut keduanya kompak.
Erwin mengernyit tak percaya.
"Pokoknya Rani gak mau jalan2 sama Wiwin. Rani gak mau dicemberutin terus gara2 Wiwin cemburu gak jelas." tegas Rani sambil menatap Dedek kesal.
Erwin tersedak, geli. Sedangkan Dedek hanya meringis malu.
"Wajar kalo Dedek cemburu, Ran. Selama ini kan kalian LDRan. Itu artinya Dedek cintanya serius sama kamu." Erwin membela Dedek.
"Kalo cinta tuh saling percaya bukan cemburu buta." semprot Rani sebel.
"Kalo gak mau ya sudah, Rani jalan2nya sendiri aja. Percuma punya abang kalo gak mau nemenin adiknya jalan2." Rani benar2 merajuk.
Akhirnya Erwin pun menuruti kemauan adik bungsunya yg sangat manja itu. Mereka bertiga pergi ketempat favorit Rani yg memang kuliah di kota itu.
"Sekalian cari Riri. Kali aja bisa ketemu dia disini."
flashback off
"Hai, Ri!"
Dedek menyapa Riri. Riri tersenyum ramah. Disalaminya tangan Dedek.
__ADS_1
"Apa kabar, Dek?"
"Baik. Lo apa kabar? Udah lama loh kita gak ketemu?" Dedek menepuk pelan punggung tangan Riri saat menyalaminya.
"Ini pacar... atau suami lo?" Dedek menunjuk Andre.
Erwin menatap Andre tajam dan Andre balas menatap tak kalah tajam. (Tapi jelas lebih tajam mata Erwin karna Andre matanya sipit.😜)
"Teman satu kampus. Dia juga satu kota sama kita." jawab Riri jujur.
Erwin tersenyum mendengar ucapan Riri.
'Ada kesempatan nih?!' bisik hati Erwin.
"Kalian disini ada kerjaan atau lagi jalan2?" tanya Riri sambil melirik Rani yg bergelayut manja dilengan Erwin.
Ada perasaan tak rela melihat kemesraan Erwin dan gadis cantik itu.
"Kita lagi ada kerjaan disini dan kebetulan Rani tadi ngajak kami keliling Jogja dan akhirnya ketemu lo disini. Seneng banget loh Ri, bisa ketemu lo. Kangen banget gue... aduh!" Dedek mengaduh ketika Erwin menjitak keras kepalanya.
Dedek merengut masam. Rani menatapnya tajam. Dedek pun menunduk takut.
Riri tertawa.
Erwin menghela napas melihat senyum Riri.
"Ri! Pulang yuk!" ajak Andre yg dari tadi diam. Hatinya gerah melihat Erwin. Dendamnya kembali muncul.
"Ntar aja pulangnya, kita kumpul2 bareng. Kalian udah lama gak ketemu, kan?"
Rani menahan Riri yg hendak pergi meninggalkan tempat itu. Riri tersenyum tipis pada Rani, lalu menoleh ke Erwin.
Erwin tersenyum mengangguk mengisyaratkan Riri untuk tetap disitu.
"Iya Ri, ntar aja pulangnya. Kita nostalgia dulu." pinta Dedek.
Riri mengangguk, tak enak hati menolak Dedek. Andre terdiam lesu.
"Kalo gitu aku pulang duluan, Ri. Besok ada meeting di kantor. Lagian disini ada Erwin, kamu pulang bareng dia aja. Gak pa2 kan?"Andre menatap sinis kearah Erwin seakan tak rela melepas Riri pergi dengan Erwin.
"Gak pa2!" Riri mengangguk.
"Aku duluan, ya?!" Andre menepuk pelan bahu Riri.
"Hati2 Dre!"
Andre mengangguk seraya melambaikan tangannya berlalu meninggalkan tempat itu.
Berempat, Riri, Erwin, Rani dan Dedek duduk lesehan di warung sambil menikmati makanan yg mereka pesan.
"Kenapa gak makan, Ri?" tanya Erwin yg melihat Riri hanya menikmati lemon tea hangat.
"Tadi udah sama Andre." jawab Riri. Matanya heran melihat Dedek dan Rani makan sambil suap2an. Lalu Riri menoleh kearah Erwin yg duduk disebelahnya.
'Bukannya tadi cewek itu menggandeng Erwin, kok sekarang malah mesra2an sama Dedek?'
Riri menggeleng tanpa sadar. Ia tak mengerti ada apa antara Erwin, Dedek dan si cantik itu.
"Gak enak badan, ya?" dirabanya kening Riri takut gadis itu sakit.
"Gak pa2. Cuma pusing dikit." ujar Riri kikuk ketika tangan Erwin menyentuh keningnya. Debaran di dada yg sudah lama tidak ia rasakan kini muncul kembali.
"Kalo gitu ayo kita kerumah sakit sekarang." Erwin menarik tangan Riri, cemas.
"Gue gak pa2, Win." Riri menahan tangan Erwin.
"Lo makan aja yg tenang." katanya lagi.
Erwin mengangguk dan meneruskan makannya. Melihat itu Dedek tersenyum.
"Kenapa Wiwin senyum2 sama Riri? Wiwin naksir ya?" Rani berbisik pelan seraya cemberut masam karena cemburu.
Disangkanya Dedek naksir Riri karena dari awal bertemu tadi kelihatan banget Dedek sangat akrab dengan Riri.
Dedek tertawa ngakak mendengar bisikan nada penuh cemburu dari Rani, pacarnya.
"Kita ngomongnya diluar aja yuk!" Dedek mengamit tangan Rani pelan membawanya pergi keluar warung.
Erwin dan Riri menatap mereka bingung.
Suasana canggung terjadi ketika Riri dan Erwin ditinggal berdua saja.
Erwin menghabiskan makanan dan minumannya, kemudian beranjak menuju kasir membayar makanan yg mereka makan tadi. Lalu Erwin kembali menghampiri Riri yg menunggunya didepan warung.
"Kemana mereka tadi, Ri?" tanya Erwin sambil matanya menyusuri sekeliling tempat itu mencari Rani dan Dedek.
"Gak tau. Daritadi gue juga cari mereka tapi gak ketemu." jawab Riri. Matanya ikut mencari pasangan itu.
Akhirnya Riri dan Erwin duduk dipinggir jalan menunggu Dedek dan Rani muncul.
"Gimana kabar kamu, Ri? Selama ini sehat2 aja kan?" tanya Erwin setelah cukup lama mereka saling diam.
"Alhamdulillah sehat. Kamu gimana? Baik2 juga kan?" Riri menoleh Erwin yg duduk disebelahnya.
Erwin mengangguk.
"Maaf sebelumnya kalo gue kepo. Sebenarnya Rani itu pacar lo atau pacarnya Dedek?" Riri hati2 bertanya takut Erwin tersinggung.
Erwin melongo sesaat, kemudian tawanya pecah. Riri menatapnya tak mengerti.
"Rani itu pacarnya Dedek." jelas Erwin.
"Tapi kok tadi dia gandeng tangan lo mesra banget?" Riri masih bingung.
Erwin tertawa geli.
"Rani itu adik bungsuku, makanya Dedek gak marah kalo pacarnya kugandeng." ujar Erwin sambil mengerling menggoda Riri yg meringis malu. Dia sudah salah sangka.
"Terus... pacar lo? Atau sudah punya istri?" Riri ingin tau.
"Kepo banget sih!" Erwin mengacak rambut Riri, gemes. Riri merengut.
__ADS_1
"Nanya aja gak boleh. Ya udah, gue gak tanya2 lagi." Riri merajuk.
Erwin tambah gemas. Diacaknya heboh, rambut Riri.
"Erwin! Kusut ntar rambut gue." teriak Riri kesel.
Bukannya berhenti, Erwin malah menggelitiki pinggang Riri hingga gadis mungil itu menjerit-jerit kegelian.
Riri balas memukul dan mencubit ganas Erwin yg cuma tertawa sembari meringis menahan sakit.
"Kecil2 kok mukulnya kenceng banget. Pake tenaga dalem ya?" olok Erwin.
"Kalo iya kenapa? Mau lagi?" Riri melotot garang dengan tangan hendak memukul Erwin lagi. Tapi dengan gesit Erwin menangkap tangan Riri dan menaruh didadanya.
"Ampun, Yank. Bibib gak lagi2. Sakit." rengek Erwin manja membuat Riri terdiam kikuk.
Riri menarik tangannya tapi Erwin menahannya. Riri semakin gugup.
"Yank, Bibib masih menunggu Ayang loh. Bibib masih terus setia sama Ayang."
Erwin terus menggenggam tangan Riri. Kali ini ia bertekad tidak akan mau melepaskan lagi gadisnya itu walau apapun yg terjadi.
Riri masih diam terpaku tak tau harus bagaimana.
Jauh dilubuk hatinya dia sangat bahagia mendengar ucapan Erwin. Namun ia masih sangsi takut Erwin hanya mempermainkannya.
"Jangan bicara sembarangan. Kalo istri lo muncul, kelar hidup lo." Riri mendorong tubuh Erwin yg begitu dekat dengannya.
Bukannya menjauh, Erwin malah memegang kedua pipi Riri dan menyatukan dahinya dan dahi Riri membuat gadis itu semakin gugup.
"Aku gak pernah bohongin kamu, Yank. Sampai sekarang aku masih sendiri dan akan terus menunggu kamu kembali padaku."
Riri tak mampu berkata-kata. Jantungnya berdetak hebat. Hawa panas diwajahnya menjalar merona pipinya.
Perlahan namun pasti, wajah Erwin semakin mendekat. Riri memejamkan matanya membuat Erwin tak mampu menahan gejolak nafsunya yg ingin segera ******* lembut bibir tipis Riri.
Sedetik kemudian,
"Awas! Ada razia!"
Erwin dan Riri sama2 tersentak kaget dan spontan menoleh ke belakang, dimana Dedek dan Rani tengah cengar-cengir menggoda mereka. Riri langsung membuang muka menoleh kesembarang arah. Sedangkan Erwin merengut masam, menatap tajam 2 sejoli itu yg telah mengganggu kemesraannya dengan Riri.
'Sialan!' umpatnya dalam hati.
"Mukanya biasa aja, bang, jangan cemberut gitu. Jelek tau!" Rani menoel dagu Erwin, menggodanya.
Dedek tertawa ngakak.
"****!"
Erwin sungguh geram dengan ulah Dedek dan Rani yg terus menggodanya. Sedangkan Riri hanya tertunduk dan tersenyum malu.
"Makanya kalo pacaran jangan dipinggir jalan, kalo ada patroli lewat gimana?" tak henti2 Rani dan Dedek menggoda Erwin yg sudah sangat emosi karena niatnya tadi tertunda gara2 kedatangan mereka.
"Dasar curut jelek! Tunggu aja pembalasan gue." ancam Erwin membuat Rani dan Dedek makin terbahak hebat.
Riri memegang tangan Erwin untuk menenangkannya. Erwin pun balas menggenggam tangan Riri.
"Ciee... ciee.... clbk nih judulnya." goda Rani.
"Iya ya, Ay. Kayaknya ini cinta lama yg belum kelar." tak habis2 Dedek dan Rani menggoda Erwin dan Riri.
"Yuk ah, pulang. Kelamaan disini mati tegang gue." Erwin menarik tangan Riri mengajaknya pergi. 2 sejoli usil itu mengikuti mereka sambil terus cekikikan geli.
Erwin mengantar Riri menggunakan taksi. Rani dan Dedek pulang dengan taksi lain.
"Jadi lo udah ketemu Tari, Win?" tanya Riri.
Erwin mengangguk.
"Gak sengaja sih. Waktu itu aku mau ngisi pulsa hp."
"Udah ketemu suaminya?"
Erwin menatap Riri lekat.
"Aku kesitu mau beli pulsa loh, Yank, bukan mau beli istri orang." nampaknya ia tersinggung dengan pertanyaan Riri.
Riri meringis geli.
"Maksud gue... kalo ada suaminya kenapa gak langsung kenalan aja. Orangnya baik kok." kata Riri.
"Kamu kenal suami Tari, Yank?"
Riri mengangguk.
"Waktu Tari nikah, gue pas lagi libur semester."
"Kok gak nyariin aku?"
"Ngapain?"
"Kamu gak kangen sama aku?"
"Emang kamu kangen sama aku?" akhirnya Riri ikut2an ngomong aku-kamu.
"Jelas kangen lah."
"Terus kenapa gak nyariin aku?" pertanyaan balik Riri membuat Erwin terdiam sesaat.
Lalu dengan pelan Erwin berkata sendu
"Aku takut kamu udah lupain aku."
Senyum Riri mengembang mendengar penuturan Erwin. Digenggamnya lembut tangan cowok terkasihnya yg selama ini sangat ia rindukan sosoknya, kehangatannya dan perhatiannya.
"Aku kangen banget sama kamu, Bib!" kata Riri jujur.
Erwin tersenyum bahagia.
"Ternyata selama ini kita saling merindu ya, Yank. Bibib seneng akhirnya bisa bertemu dan kita bisa bersama lagi kayak dulu." Erwin mencium lembut jemari Riri.
__ADS_1