
Riri sedang menatap keluar kelas saat matanya bertemu pandang dengan sosok yang selalu diimpikannya sejak ia masuk sekolah menengah atas.
Andrean Aditama, cowok tinggi, putih, tampan dan alim. Riri teringat waktu pertama kali dia kenal Andre.
flashback on
"Del! Dela!" Riri menarik rambut Dela yang duduk didepannya.
"Apaan?"
"Ada cowok ganteng."
Riri terus menarik rambut Dela tanpa melepaskan pandangannya pada sosok tampan yang sedang asik bercengkrama dengan teman-temannya di depan kelas 11A.
Dela melihat ke arah yang Riri maksud.
"Yang mana satu?" tanyanya bingung, soalnya dari 5 cowok yang sedang nongkrong di depan kelas 11A, dan mereka keren-keren semua.
"Tuh, yang mirip Oppa."
Dela menggaruk kepala, bingung.
"Opa siapa?"
"Oppa korea dodol, bukan opa-opa." sahut Riri kesal.
Dela nyengir.
"Ferdinand." Riri memanggil salah satu dari cowok-cowok itu.
Riri mengenalnya karena dia teman abang Riri, Aldi. Ferdinand menghampiri Riri yang duduk dekat jendela. Untung saja saat itu sedang jam kosong.
"Apaan?" tanya Ferdinand.
"Siapa nama temen lo yang itu?" Riri menunjuk cowok ganteng yang dia maksud.
"Yang mana?"
"Yang paling ganteng di antara lo berlima."
Ferdinand menepuk pelan kepala Riri dengan pulpen yang dipegangnya. Riri meringis.
"Kalo yang paling ganteng itu gue." sahut Ferdinand konyol. Riri cemberut.
"Gue serius bro."
"Lah...gue lebih serius malah. Lo kalo nanya yang bener." sahut Ferdinand kesal.
"Yang itu Jati, Hendra, Meidy...nah yang satu lagi... itu maksud gue." kata Riri.
Ferdinand mengangguk mengerti.
"Mana buku agenda lo, pinjem bentar."
Ferdinand langsung berlari ke arah teman-temannya setelah Riri memberikannya sebuah buku.
"Mau ngapain si Ferdinand, Ri?" tanya Dela.
Riri mengendikkan bahunya tanda ia juga tidak tau.
"Eh...dia ngasih buku lo ke cowok sipit itu, Ri." Dela memberitahu.
Riri melihat si ganteng membawa buku yang tadi diberikan Ferdinand padanya ke dalam kelas.
Lima belas menit kemudian, cowok itu keluar dari dalam kelasnya dan berjalan menghampiri Riri yang masih duduk dikursinya.
Tiba-tiba Riri merasa jantungnya berdegup kencang ketika cowok tampan itu tersenyum ramah padanya.
"Nih, bukumu aku balikin. Jangan lupa ya aku tunggu kadonya." cowok itu mengembalikan buku Riri.
Dengan wajah bloon, melongo plus bego, Riri menerima buku dari cogan itu tanpa bersuara. Cowok itu melambaikan tangannya sambil tersenyum. Riri serasa melayang mendapatkan senyuman manis dari cowok ganteng yang ditaksirnya.
"Andrean Aditama." Riri membaca biodata yang ditulis cowok itu di dalam buku agendanya.
Riri tersenyum sumringah bagai kejatuhan durian runtuh. Dipeluknya erat buku agendanya ketika Dela hendak melihat isi dalam buku tersebut.
flashback off
"Ada yang mau aku omongin sama kamu." tiba-tiba Andre sudah berdiri di depan Riri yang tengah asik melamun.
Riri terperanjat,kaget.
__ADS_1
"Aa...apa..."
"Kita ngobrol di perpustakaan saja." Andre berjalan keluar kelas tanpa menunggu Riri.
Dengan langkah gontai Riri melangkah mengikuti Andre.
"Mau kemana, Ri?"
Riri menoleh ke arah Erwin yang hendak masuk ke dalam kelas. Riri menunjuk Andre yang sudah berdiri menunggunya di depan pintu perpustakaan.
Erwin mengangguk mengerti.
"Ada apa dengan Riri dan Andre? Kayaknya serius banget?" Erwin bertanya dalam hati.
Erwin melihat tatapan dingin Andre padanya. Erwin terus menatap ke arah perpustakaan. Perasaannya tak enak.
"Aku gak suka ya liat kamu keganjenan sama cowok." kata Andre to the point.
Riri memandang Andre bingung.
"Maksudnya?"
"Aku gak suka dengan apa yg kalian lakukan di kantin tadi." jelas Andre.
"Kenapa harus marah? Kami kan cuma bercanda." jelas Riri.
"Kamu gak sadar ya kamu tadi seperti seorang cewek murahan, tau gak?" Andre menatap Riri tajam.
Mata Riri membulat mendengar ucapan Andre. Ia merasa tersinggung.
"Kamu yg seharusnya sadar, aku sudah lama jadi cewek murahan sejak aku nekad ngejar cinta kamu."
"Aku gak suka cewek murahan." dengus Andre cepat.
"Ya sudah. Kalo gitu kamu gak perlu ngomong apa-apa lagi sama aku. Dan mulai hari ini aku janji gak akan pernah ganggu kamu lagi."
Riri bergegas keluar dari perpustakaan. Dia tidak mau berlama-lama lagi dengan cowok yang dia sangka begitu baik dan pengertian.Tapi ternyata ia salah, Andre tak sebaik yang ia duga. Malah ia berani menghakimi Riri dan menyebutnya cewek murahan.
"Kenapa dia berani menyebutku seperti itu? Apa haknya menghakimiku?Apa karna selama ini aku sudah mengejarnya sehingga dia bisa mengataiku macam-macam?"
Tangis Riri pecah di dalam toilet. Kecewa, marah, kesal bercampur aduk membuncah dalam hatinya.
"Ri? Lo gak pa-pa?" Erwin memanggil dari luar toilet. Tidak terdengar suara, hening.
Riri keluar dengan wajah sembab karena abis nangis. Erwin menyeka lembut pipi Riri yang basah.
"Gue mau pulang, Win!" Riri melangkah gontai. Erwin mengikutinya.
"Lo duluan aja, ntar gue nyusul sekalian bawain tas lo." katanya.
Riri mengangguk.
"Mau kemana, Win?" tanya Helmi saat melihat Erwin bergegas pergi sambil membawa tasnya dan tas Riri.
"Kabur!"
"Sama Riri?"
Erwin mengangguk. Helmi paham. Erwin bergegas menyusul Riri yang sudah lebih dulu keluar sekolah lewat gerbang belakang yang jarang dijaga satpam di jam pelajaran.
Suara motor Erwin membuyarkan lamunan Riri yang berjalan menunduk.
"Naik!" Erwin berhenti di depan Riri dan menyuruh Riri naik ke motornya. Riri pun naik.
Erwin membawa Riri ke sebuah pantai yang ada di daerah mereka. Karena hari ini bukan hari libur, maka pantai pun terlihat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di sana.
Erwin merasa kasihan melihat Riri yang terduduk lesu di atas pasir sambil memandang jauh ke laut lepas.
"Ada apa, Ri? Cerita ke gue." Erwin ikut duduk di pasir, di samping Riri.
"Apa bener gue cewek murahan, Win?" Riri menoleh Erwin yang diam. Erwin menghela napas berat.
"Andre yang ngomong gitu?" tanya Erwin yang tak perlu Riri jawab karena Erwin tau jawabannya.
"Lo gak perlu ambil hati dengan omongan Andre, Ri. Anggap aja dia lagi cemburu." Erwin berusaha menenangkan Riri, meskipun sebenarnya dia pun tak terima dengan ucapan Andre yang sudah melampaui batas.
"Ngapain cemburu, Win! Gue kan bukan siapanya dia?!"tanya Riri tak mengerti atas dasar apa Andre sampai hati melakukan itu.
"Mungkin saja dia malu mengakui kalo dia sebenarnya suka sama lo."
Riri tertawa lirih mendengar ucapan Erwin.
__ADS_1
"Orang kalo suka sama seseorang harusnya menunjukkan keikhlasannya bukannya malah menyudutkannya." Riri membuang napas, kesal.
"Gue sadar kok kalo selama ini gue yang sudah bertepuk sebelah tangan dan selalu ngejar-ngejar cinta dia. Tapi perasaan, gue gak pernah bersikap murahan sama dia."
"Dia marah kali gara-gara di kantin tadi. Maaf kalo gara-gara gue, Andre marah sama lo."
Erwin geram dan tak habis pikir kenapa Andre tega berkata seperti itu pada Riri. Ini salahnya, seharusnya Andre marah padanya bukan Riri.
Erwin mengepalkan tangannya geram. Riri menatap Erwin dalam dan menggenggam tangannya.
"Elo sahabat gue, Win. Ini bukan salah lo, jadi lo gak perlu minta maaf."
Erwin balas menggenggam tangan Riri lalu mengangguk.
"Kalo gitu, sekarang lo senyum. Lupain semuanya dan buka lembaran baru." Erwin mengacak lembut rambut sahabatnya itu.
Riri tersenyum dan merebahkan kepalanya di bahu Erwin.
"Makasih ya, Win. Lo udah mau dengerin keluh kesah gue." kata Riri pelan.
Erwin tersenyum.
"Apapun akan aku lakukan buat kamu, Ri."
Erwin merangkul Riri.
"Sama-sama, Riri. Lo kan sahabat gue yang paling manis."
Riri mendongak menatap Erwin. "Kalo Helmi?"
"Masak Helmi manis, Ri?" Erwin balik menatap Riri. Sesaat pandangan mereka bertemu lalu Erwin cepat membuang pandangannya ke arah laut.
Riri ngakak.
"Kali aja lo liat Helmi manis kayak gue. Ha..ha..ha.."
"Amit-amit!" Erwin menepuk-nepuk kepalanya, bikin Riri makin keras tawanya.
Erwin tersenyum melihat Riri bisa tertawa kembali. Entah kenapa dia merasa tidak rela melihat Riri bersedih. Erwin ingin Riri tetap ceria seperti hari-hari biasanya.
Keduanya pun menikmati keindahan pantai sambil bercanda tawa, melupakan resah hati yang melanda saat ini.
🌷🌷🌷
Keesokannya, Erwin udah duduk manis di teras rumah Riri.
"Udah siap berangkat, sista?" tanya Erwin setelah Riri keluar menghampirinya.
"Siap, bro!" jawab Riri mantap.
Erwin tersenyum.
"Bagus! Berarti lo udah move on."
Riri memandang Erwin kesal.
"Please deh, jangan bikin gue bete lagi." rajuk Riri.
Erwin nyengir.
"Sori deh! Gue akan bantu lo biar cepet move on... Aduh" Erwin mengaduh saat Riri mencubit gemes pinggangnya.
"Buruan berangkat, ntar keburu gerbangnya ditutup." Riri menarik lengan Erwin mengajaknya untuk segera pergi ke sekolah.
Motor Erwin pun melaju ke sekolahan mereka yang tidak jauh dari rumah Riri.
"Peluk gue yang mesra, sista. Ada Andre di depan." kata Erwin ketika motor yang ia kendarai hendak melewati segerombolan anak sekolahan mereka.
Riri pun memeluk Erwin. Mereka tertawa-tawa sambil bercanda. Erwin sengaja mengendarai pelan motornya biar Andre melihat mereka.
"Loh.. itu kan Riri, Dre." kata Hendra, sahabat Andre sambil menunjuk ke arah Riri dan Erwin yang sedang berboncengan sambil bermesraan.
Geraham Andre mengeras melihat Riri. Tangannya mengepal geram.
"Dasar murahan. Udah dibilangin masih saja berani melakukan itu." Andre menggeram dalam hati.
"Waduh, ada yang cemburu nih." goda Jati.
"Kayaknya udah meleleh hati abang nih." sambung Ferdinand.
"ciee..ciee..!" yang lain ikutan menggoda Andre.
__ADS_1
Mereka tau selama ini Riri suka sama Andre dan terus mengejarnya tapi Andre tak pernah menggubrisnya.
Andre hanya diam menahan amarahnya. Dia tak peduli dengan ejekan teman-temannya. Yang dia inginkan segera menemui Riri dan minta penjelasannya tentang hal ini.