
Erwin pov
flashback on
"Gerandong!"
Aku tak menggubris panggilan yang ditujukan oleh beberapa teman baruku padaku. Aku hanya tersenyum mengangguk menanggapinya sambil terus memasukkan buku kedalam tas.
"Aduh!"
Aku sontak menoleh keempunya suara. Kulihat Reska, Dika dan Tio, teman yang tadi menyapaku, meringis sambil mengusap-usap kepalanya masing-masing.
"Sakit tau, Ri!" protes Dika.
Riri melangkah santai dan duduk disebelahku.
"Kalo sekali lagi gue denger lo manggil orang kayak gitu, gue jamin lo bertiga bakal ngerasain gimana rasanya sakit kalo disunat ulang." ancam Riri pada ketiga cowok tengil dikelas kami. Spontan ketiga temanku itu menutup 'rudalnya' masing-masing. Aku sampai tersedak geli menahan tawa melihatnya.
"Kejamnya dikau, Ri!" sungut Reska.
"Ho'oh! Kecil tapi sadis!" sambung Tio yang diakurin Reska dan Dika.
Kulihat Riri melengos pura-pura tidak mendengar ucapan mereka.
"Win, lain kali kalo mereka masih manggil lo kayak gitu, kasih bogem aja biar jera." Riri berkata tanpa memandangku.
Aku hanya tersenyum. Riri menoleh kearahku.
"Lo kalo dibilangin cuma senyam-senyum. Lo gak marah ya dipanggil kayak gitu? Gue aja dengernya gedek." omel Riri padaku. Kulihat Reska, Dika, dan Tio cekikikan geli.
"Riri ternyata adil ya, bukan cuma kita yg dimarahi sama dia tapi Erwin juga. Padahal Erwin kan korban kita." kata Tio sambil tertawa. Dua temannya mengangguk geli.
"Diem lo! Mau gue sunat sekarang?!" bentak Riri, galak. Trio ubur-ubur itu langsung ciut.
"Galak bener jadi cewek. Pasti dulu lahirnya didownloud makanya judes kayak netizen." gumam Reska pelan.
"Apa lo bilang?!" semprot Riri garang.
"Kabur bro!!!" sontak ketiga tengil itu lari kencang keluar kelas.
Erwin ngakak.
Sejak memilih masuk ke SMU ini aku bertemu dan bersahabat dengan cewek tomboy itu. Sikapnya yang cuek dan ceplas ceplos membuatku yang sebelumnya anti berteman dengan cewek jadi berubah. Sekarang aku tidak canggung lagi bila harus berhadapan dengan temen-temen cewek meski tidak seakrab aku dengan Riri.
Kulihat Riri asik cengar cengir berbisik dengan Dela, sahabatnya, sambil menunjuk keluar jendela. Posisi Riri yg duduk didekat jendela memungkinkannya untuk melihat keluar kelas. Tak lama,
"Ferdinand!"
Kudengar Riri memanggil seseorang. Entah apa yg mereka bicarakan aku tak tau pasti, dan juga tak mau tau meski akhirnya aku tau juga ketika kulihat seorang cowok lumayan ganteng, tinggi, dan putih, tapi bukan ferdinand, menghampiri Riri dan nampak benar Riri tersipu malu saat cowok itu memberinya sebuah buku.
'Sepertinya si tomboy lagi jatuh cinta nih' kataku dalam hati.
Sejak hari itu Riri yang biasanya terlihat tomboy dan cuek perlahan mulai agak feminin meski sifat galaknya kadang muncul kalo ada sesuatu yang tidak ia sukai terjadi didepannya.
Seperti sore ini,
"Hai gerandong! Kok gak bareng kita kesini tadi?"
Trio ubur-ubur menyapaku yg sedang duduk sendirian menunggu teman-teman lain yang sore itu akan ikut ekskul komputer disekolah.
"Aduh!"
Belum sempat kujawab pertanyaan Tio, kulihat Tio meringis saat sebuah sandal mampir dijidatnya.
"Belum jera juga ya tuh mulut!"
Kulihat Riri berkacak pinggang menatap trio ubur-ubur yang langsung tertunduk ciut.
"Kita kan cuma bercanda, Ri. Gak ada maksud lain." gumam Dika pelan.
"Kalo bercanda yang sopan. Coba kalo bapaknya Erwin denger lo manggil anaknya kayak gitu, gimana perasaannya? Lo kira gampang kasih nama anak? Mikirnya berat." semprot Riri.
Trio ubur-ubur terdiam.
"Maaf!." ucap ketiganya kompak.
"Minta maafnya jangan ke gue, ke Erwin noh!"
"Maaf ya, Win. Kita gak Lagi-lagi deh manggil lo kayak gitu." ucap trio ubur-ubur tulus.
"Iya. Gak pa-pa!" jawabku.
Riri tersenyum puas.
"Anak baik!" katanya sambil menepuk bahuku.
"Kenapa sih, Ri, kayaknya lo perhatian banget sama Erwin? Lo naksir ya?" tanya Reska tiba-tiba.
Kulihat Riri terperangah kaget. Pipinya merona merah.
"Apaan sih?!"
Riri nampak kikuk.
"Ciee... mak lampir naksir gerandong, nih!" Dika menggoda Riri.
Ketiganya terbahak lalu buru-buru kabur ketika Riri melempar lagi sendalnya kearah mereka.
Aku tertawa, canggung.
"Udah, Ri. Jangan diambil hati, mereka cuma bercanda kok." aku menenangkan Riri yang terlihat sangat kesal.
"Awas aja kalo dapet, gue bikin peyek mereka." ancam Riri.
__ADS_1
Aku tersenyum.
"Yuk masuk, Pak Dani udah datang." ajakku.
Riri tersenyum mengangguk dan mengikutiku masuk keruang komputer.
flashback off
Sudah satu tahun berlalu. Sejak itu aku makin akrab dengan Riri. Dia satu-satunya sahabatku yang cewek. Hanya dengan dia aku bebas bercanda dengan seorang wanita yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan dengan cewek manapun. Aku tidak tau kenapa aku merasa bisa begitu dekat dengan Riri. Aku tidak berani menyimpulkan kalo aku sudah jatuh cinta pada gadis mungil itu. Apalagi setelah aku tau kalo dia sedang dekat dengan kakak kelas kami sejak dua bulan belakangan. Karena itu aku tidak ingin berharap lebih dari pertemanan kami.
Sampai suatu hari, kulihat Riri tertunduk lesu dibangkunya.
"Ada apa, Ri? Nggak semangat bener kayaknya?" tanyaku bingung melihat sikap Riri.
"Win, apa cewek kayak gue gak pantes ya suka sama seseorang?" Riri balik bertanya dengan nada lesu.
"Kata siapa?"
Kulihat Riri menghela napas berat.
"Gue jelek banget ya, sampai-sampai Andre kayaknya jijik banget sama gue."
Tanpa sadar kubelai rambut pendek Riri. Aku tau, sikap Andre pada Riri sungguh tidak adil. Didepan Riri Andre bersikap sangat arogan. Dia jarang bahkan tidak pernah mau berbicara lama dengan Riri. Nampak sekali Andre tidak menyukai Riri. Tapi, ada saat dimana Andre terlihat memberi harapan pada Riri sehingga si tomboy itu merasa tidak bisa lepas dari bayangan Andre yg menurutnya sangat baik dan begitu manis. 'Emangnya gula, manis!'
" Ri, ini soal hati. Pikirkan baik-baik biar ketemu titik terang dari masalah lo sekarang. Hanya lo yang tau jawabannya."
Riri merebahkan kepalanya dibahuku.
"Gue capek, Win. Gue udah putuskan menjauh dari Andre."
Aku mengangguk setuju.
autor pov
Helmi masuk kedalam kelas dengan terburu-buru.
"Jam pertama kita kosong. Guru rapat sampai jam kedua." katanya pada Riri dan Erwin.
"Terus?"
Helmi menatap kesel kedua temannya.
"Lo gak bosen nunggu sampe jam ketiga?"
"Emang lo bosen?" tanya Riri.
"Iyalah! Dua jam cuma melongo dikelas gak ngapa-ngapain, boring banget." sahut Helmi.
"Kenapa gak pacaran aja, tuh!" Riri menunjuk Dela yg duduk didepan meja Helmi.
Erwin menatap Helmi heran melihatnya lesu memandang kearah Dela.
"Lo kenapa Mi?" tanya Erwin. Riri ikut menoleh pada Helmi.
" Dela lagi marah sama gue."
"Nih!"
Helmi memperlihatkan sebuah kaos berwarna pink bertuliskan 'lo'. Erwin dan Riri saling pandang, Sedetik kemudian,
"Hahahahaaa...!"
Keduanya tertawa ngakak. Helmi merengut masam ditertawai dua sahabatnya itu.
"Nggak lucu!" sahutnya sewot.
Erwin dan Riri makin ngakak.
"Ri! Kita kerumah lo, yuk?!" ajak Dela dari tempat duduknya. Riri menoleh kearah Helmi dan Erwin.
"Ayuk!" Riri mengangguk setuju, lalu membisikkan sesuatu pada Erwin yang langsung mengangguk paham.
"Lo berdua keluar duluan. Tunggu kita dikantin belakang sekolah ya?" kata Riri pada Erwin. Helmi yg tidak mengerti maksud Riri cuma bisa pasrah waktu Erwin menariknya paksa.
Tak lama, Riri dan Dela pun menyusul mereka. Ketika melewati kelas 12 IPA 1,
"Riri!"
Sebuah panggilan menghentikan langkah Riri dan Dela. Keduanya terdiam, kaget. Keringat dingin mulai membasahi kening mereka.
"Mampus kita, Del!" gumam Riri, pelan.
Dela hanya terdiam, takut. Riri dan Dela perlahan berbalik kearah sumber suara. Dan,
"Mau kemana, Ri?" ternyata Andre yang manggil. Riri menghempas napas, kesal.
"Bukan urusan lo!" sahutnya galak.
Andre terkesiap, tak menyangka Riri sejutek itu padanya.
"Aku kan cuma nanya, Ri." Andre berusaha untuk bersikap santai. Riri menarik tangan Dela untuk segera berlalu dari situ, tapi dengan cepat Andre menggenggam tangannya.
"Aku mau ngomong..."
"Gak ada yg perlu diomongin lagi."
Riri lekas-lekas pergi dari tempat itu sambil menarik Dela, tanpa menggubris panggilan Andre.
Dengan napas tersengal-sengal Riri dan Dela menghampiri Erwin yang sudah menunggu dikantin.
"Erwin ikut kita juga, Ri?" tanya Dela saat melihat Erwin. Riri mengangguk.
"Dan Helmi juga!" kata Riri sambil menunjuk Helmi yg duduk dipojok kantin.
__ADS_1
Dela terperangah takjub melihat Helmi memakai kaos soulmate yg tadi sempat bikin Dela merajuk karena Helmi gak mau memakai kaos itu. Riri buru-buru menarik tangan Dela dan mengajaknya pergi.
"Ngobrolnya nanti aja. Ntar ketahuan satpam kalo kita disini." katanya.
Dela, Helmi, dan Erwin mengikuti Riri berjalan kaki menuju rumahnya karna memang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.
"Katanya gak mau pake? Kok sekarang dipake?" kata Dela pura-pura masih merajuk.
"Bukannya gak mau pake, habis kamu belinya yang warna pink, sih." jawab Helmi sambil meraih tangan Dela yang bergandengan dengan Riri.
"Mm..." Dela bergayut manja dilengan Helmi.
"Udah gak ngambek lagi, kan?" goda Riri.
"Iddiih...siapa yg ngambek? Gak ada kan, beb?" bantah Dela yg diangguki Helmi.
"Akurrr! "
Riri dan Erwin tergelak. sepanjang jalan kerumah Riri mereka berempat bersenda gurau.
"Rumah lo sepi banget, Ri. Nyokap lo mana?" tanya Dela.
Riri masuk kedalam rumah diikuti ketiga temannya.
"Biasa...ngintilin bokap gue." jawab Riri.
Dela mengangguk. Ibu Riri memang sering ikut ayahnya Riri kalo dinas keluar kota. Dela dan Helmi duduk dikarpet yg ada diruang tv. Erwin duduk dikursi santai. Riri mengeluarkan buah mangga yg ada didalam kulkas.
"Tolong kupasin, Win." pinta Riri.
Erwin mengambil pisau ditangan Riri dan mengupas buahnya. Riri menyiapkan sebuah piring. Erwin memotong-motong mangga tersebut dan menaruhnya dipiring.
"Kupas sendiri!" Erwin menepuk keras tangan Helmi yang hendak mencomot mangga yang Erwin kupas. Erwin mendorong bungkusan mangga yang belum dikupas pada Helmi.
"Dasar pelit!" umpatnya keki.
Erwin cuek.
"Cinta itu butuh pengorbanan, bro. Masak ngupas mangga buat Dela aja lo gak mau, mana pengorbanan lo?" olok Erwin.
Diambilnya sepotong mangga dengan garpu lalu menyuapkannya ke Riri.
"Kayak yang lo lakuin buat Riri, ya?" Helmi mengedipkan matanya pada Erwin.
Uhukk!Uhukk!
Riri tersedak mendengar ucapan Helmi. Dengan mesra Erwin membersihkan mulut Riri dengan tisu bikin jantung Riri berdegup kencang.
"Gak usah kepo. Liat noh Dela udah ngiler pengen makan mangga muda." sahut Erwin.
"Sialan. Lo kira Dela ngidam." Helmi melempar bantal kursi kearah Erwin yang tertawa ngakak.
Helmi lalu memberikan mangga yg sudah ia kupas pada Dela. Ia lalu berbaring dipangkuan Dela dan Dela menyuapi mangga kemulutnya.
Diam-diam Riri melirik kearah Erwin yang duduk dipegangan kursi yang Riri duduki.
'Kenapa aku jadi grogi gini ya?' gumam Riri dalam hati.
Riri menoleh kearah Dela yang ternyata sedang asik berciu*an dengan Helmi tanpa peduli bahwa ada orang lain diruangan itu selain mereka berdua.
"Mamp*s!"
Riri mengumpat dalam hati ketika menyadari bahwa Erwin juga melihat aksi Dela dan Helmi.
Riri hendak beranjak dari kursi ketika Erwin menahannya.
"Mau kemana?" tanyanya pelan.
"Masak mi goreng." jawab Riri juga pelan, kemudian berlalu menuju dapur.
Erwin pun mengikutinya. Riri jadi kikuk menghadapi Erwin setelah sikap yg Erwin tadi padanya. Entah kenapa Riri merasa Erwin bertingkah tidak seperti biasanya.
"Kok belum dimasak minya, Ri? Airnya udah mendidih tuh." kata Erwin menyadarkan Riri dari lamunannya.
"Eh...aaa..."
Riri jadi gugup. Dengan tangan gemetar ia memasukkan tiga bungkus mi instan kedalam panci yg berisi air mendidih.
"Aduh!"
Karena Riri kikuk dan kurang hati-hati memasukkan mi ke dalam panci, air panas memercik tangannya. Dengan sigap Erwin menarik tangan Riri dan meniupnya perlahan. Riri memandang Erwin dengan perasaan tak menentu. Erwin lalu mengambil alih tugas memasakkan mi. Setelah mi siap didalam mangkok, Erwin menghampiri Riri dan meraih tangannya. Dia melihat tangan Riri memerah.
"Kotak obat dimana, Ri?" tanya Erwin.
Riri menunjuk kearah kulkas. Erwin mengambilnya dan mengambil salep anti luka bakar lalu mengolesnya dengan lembut ditangan Riri sambil perlahan meniupnya. Hati Riri makin tak karuan. Erwin menyiapkan piring dan nasi diatas meja makan.
"Del, Mi! Ayo makan." ajak Erwin pada Dela dan Helmi.
Erwin mengisi piring Riri dengan nasi dan mi goreng yang tadi ia masak lalu menyuapi Riri yang kikuk karena Dela dan Helmi terus memperhatikan mereka sambil senyam-senyum.
"Bakal ada pasangan baru nih, beb!" sindir Helmi.
Erwin cuek dia tetap dan santai melayani Riri.
"Aduh ni bocah! Gak tau apa kalo gue hampir kena serangan jantung gara-gara perlakuannya ini?"
Riri mengelus dada, menahan debaran dijantungnya yang semakin kuat.
"Pasti lebih hot dari kita ya, beb."
Dela ikutan menggoda. Tawanya pecah melihat Riri yang biasanya cuek kali ini melotot kesel padanya.
"Ya iyalah, beb. Maklum, baru merasakan indahnya jatuh cinta." tambah Helmi makin hot menggoda Erwin dan Riri.
__ADS_1
"Berisik!"
Erwin melempar tisu kearah Helmi yang terus menggodanya. Helmi dan Dela makin lebar tawanya melihat Riri tertunduk malu.