
Ujian akhir nasional tinggal beberapa hari lagi. Riri pun sudah mempersiapkan mental dan otaknya dari jauh hari. Dia ingin ujiannya nanti berjalan lancar dan memperoleh hasil yang maksimal karena Riri ingin melanjutkan ke universitas negeri nantinya.
"Gimana, Ri untuk ujian besok? Udah siap?" tanya Dela.
Riri mengacungkan jempolnya.
"Inshaallah! Siap tempur!" jawabnya mantap.
"Kayak perang aja." timpal Yeni geli.
"Loh... ujian sama perang kan beda tipis, girl. Cuma beda disenjatanya doang. Satu pake senapan, satunya pake pensil." kata Riri.
Dela dan Yeni mengangguk setuju.
"Lulus nanti rencana lo berdua mau kemana?" tanya Dela ingin tau pada kedua sahabatnya.
"Rencananya sih gue sekeluarga mau pulang kampung ke kampung bokap gue dan pastinya gue ngelanjutin kuliah disana." kata Yeni.
"Kalo gue mau ke UGM. Mudah-mudahan lulus."
"Aamiin!" Dela dan Yeni mengamini doa Riri.
"Lo sendiri, Del... rencananya mau kemana?" gantian Yeni bertanya pada Dela.
"Gue sih disini aja. Kampusnya kan gak jauh dari rumah gue."
"Lo ambil jurusan pertanian?" tanya Riri.
Dela mengangguk. Dela memang hobi bercocoktanam seperti ayahnya yang seorang sarjana pertanian.
"Lo entar ambil jurusan apa, Yen?"
"Gue sih pengennya nanti jadi guru."
"Sama dong kita." Riri menepuk pelan bahu Yeni.
Dela menunduk sedih.
"Kenapa sedih, Del?" tanya Yeni.
"Setelah lulus, kita akan berpisah. Apa kita bisa bertemu lagi nanti?" Dela menangis.
Riri dan Yeni memeluk Dela.
"Kalo gue sih pasti balik kalo libur, gak tau Yeni."
Riri dan Dela menatap Yeni sedih. Yeni kan mau pindah kekota lain, apa mungkin mereka bisa bertemu lagi?
"Kalo pas liburan dan gue lagi gak bokek, gue pasti balik kesini kok buat ketemu lo berdua." janji Yeni.
Riri dan Dela tersenyum mengangguk.
"Kita doain deh semoga dompet lo tebel terus. Aamiin." doa Riri dan diaamiini dua sahabatnya. Mereka berpelukan erat seakan tak ingin terpisahkan.
Ujian pun berlangsung lancar. Tidak ada kendala bagi Riri menghadapi soal ujian karena dia sudah mempersiapkannya dengan matang.
Hari pengumuman kelulusan tinggal dua hari lagi. Dela, Riri dan Yeni berencana ingin bertukar kado dihari kelulusan nanti. Riri pun sudah mempersiapkan kado untuk dua sahabatnya itu. Dia ingin kadonya jadi kenangan terindah bagi dua sahabat baiknya.
Perlahan tapi pasti, Riri memasuki aula gedung sekolahnya, tempat untuk pengumuman kelulusan sekaligus perpisahan sekolah mereka.
"Riri!!!" teriakan histeria Dela dan Yeni menyunggingkan senyum manis dibibir mungil Riri. Ketiganya berpelukan erat.
"Teletubbies! Berpelukan..." si usil Dika ikutan nimbrung dan hendak memeluk tiga sahabat itu. Tapi dengan cepat Robby menarik kerah baju Dika membuat cowok tengil itu nyaris terjatuh.
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan." kata Robby datar.
"Peluk dikit aja gak boleh." sungut Dika.
Yang lain tertawa geli melihat Dika ngambek.
"Jangan sedih. Ini hari terakhir kita bersama. Mari kita nikmati hari ini dengan gembira." Riri merangkul Dika yang langsung mengangguk senang. Dika merangkul Riri balik. Dan yang lain pun ikutan dan mereka saling berangkulan.
Disudut ruangan, Erwin menatap teman-temannya sendu. Apalagi saat matanya melihat sosok gadis mungil yang sangat ia rindukan sedang tertawa lepas. Sakit disudut hatinya makin menambah luka hati yang sama sekali tak ingin ia obati.
"Bibib gak bisa lupain kamu, Yank. Karna Bibib emang gak mau melupakan Ayang. Bibib akan selalu sayang dan cinta sama Ayang."
Erwin menghela napas berat.
"Gabung yuk!" Helmi menepuk pelan bahu Erwin. Dia tau Erwin masih menyimpan 'perasaan' pada Riri.
"Lo aja ke sana. Gue masih pengen sendiri." tolak Erwin lesu.
"Ini hari terakhir kita, bro. Manfaatin waktu yang sedikit ini. Kita gak tau apa kita masih bisa bertemu mereka lagi nanti." kata Helmi lagi sambil menarik Erwin gabung bersama teman-teman mereka.
"Gunakan waktu yang ada untuk lo bisa menghadapi hari lo kedepannya nanti, bro. Jangan sampai perasaan sesal terus bergelayut dihati lo." bisik Helmi sebelum berlalu menghampiri Dela.
Tuhan...
perubahannya semakin terlihat dimataku
salah apa diriku ku semakin merasa jauh
mungkinkah rasa sayangku
tak lagi berarti untuknya
Tuhan... kusangat menyayanginya
Aku disini 'kan selalu menunggumu
sampai kapan pun ku kan menunggumu
walau hati ini selalu kau sakiti
karna yang kuinginkan hanya kamu
kembalilah duhai kekasihku
__ADS_1
teruskan kisah yang sempat terhenti
ingatlah janji kita 'tuk saling setia
walau ku tau ini berat bagimu
Lirik demi lirik lagu dari Souqy Band " Cinta Stadium Akhir" mengalir merdu terdengar saat Erwin menyanyikannya diiringi dawai gitar yang dimainkannya. Aplaus heboh diberikan untuk Erwin dari teman-teman atas performa keren yang ia persembahkan.
"Keren banget. Bravo Erwin!" teriak beberapa murid.
Riri menatap syahdu sosok yang sangat ia rindukan itu. Harinya berdesir sendu mendengar lirik lagu yang Erwin nyanyikan.
'Maafkan aku Win. Maaf!"
Sesaat pandangan Riri dan Erwin bertemu.
Deg!
Riri cepat-cepat membuang pandangannya ke arah lain. Menahan getaran hebat didadanya dan keinginannya untuk berlari memeluk Erwin.
"Dalem banget nyanyinya. Lagu itu terdengar seperti curahan hati." beberapa siswi kelas
sebelah saling berbisik.
"Nyindir lo tuh, Ri!" Dela menyenggol pelan lengan Riri yang pura-pura tak mendengarnya.
"Beneran, Ri. Erwin sangat menghayati lagu yang dinyanyikannya. Ekspresinya pun seperti orang lagi patah hati." timpal Yeni.
"Auk ah! Bukan urusan gue." Riri berlalu santai meninggalkan aula gedung menuju taman.
🎧Kau benar-benar pergi
takkan kembali bersama cintaku
tak sanggup kumelupakan
bayang2 mu selalu lekat dimataku
ku harus bagaimana agar tak ingat kamu
tolong2 lah aku terbelenggu bayangmu
ajari aku Tuhan bagaimana caranya
agar dapat melupakan dia
aku tak ingin tersiksa
karna dia takkan bisa kembali kepadaku
ajari aku Tuhan bagaimana caranya
menghapus semua kenangan indah
sudah aku relakan sudah aku ikhlaskan
Suitan, tepuk tangan dan teriakan nyaring bergema didalam gedung ketika kepala sekolah menyatakan bahwa semua siswa kelas 12 lulus 100%.
Setelah pengumuman kelulusan, dilanjutkan pembagian piagam untuk juara umum dan juara kelas, tibalah acara pelepasan siswa kelas 12.
Suasana heboh berganti sedih ketika para siswa saling berpelukan dan berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Tangis haru menyertai suasana tersebut.
"Maafin gue ya, Del, Yen, kalo selama ini gue ada salah sama lo berdua." Riri memeluk erat 2 sohib kentalnya.
"Sama-sama, Ri. Kita juga minta maaf kalo ada salah." Ketiganya berpelukan erat. Tangis bahagia, juga sedih pecah.
"Janji ya kita akan terus berhubungan?" Dela menangis.
Yeni dan Riri mengangguk haru.
"Bestfriend forever!"
Riri, Dela dan Yeni bertoast ria dan berpelukan lagi.
Helmi dan Robby bergabung dengan Riri cs. Setelah puas bersenda gurau dengan teman-temannya Riri berpamitan pulang lebih dulu karena 2 sohibnya punya acara lain dengan pasangan mereka.
Tari pov
Aku sama sekali tidak bergairah menjalani hari-hariku setelah Erwin terang-terangan menolakku.
Tapi aku yang selalu optimis takkan merasa patah semangat untuk mencuri perhatian Erwin, cowok cool nan tampan yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku ingat betul bagaimana perjuanganku merayu Riri agar membantuku mendekati Erwin. Riri yang semula menolak membantuku akhirnya luluh juga dan mau mengenalkan aku dengan teman sebangkunya, Erwin.
Aku mengira Erwin dan Riri hanya sebatas sahabat, tidak lebih Dan Riri meyakinkanku tentang hal itu.
Mungkin Riri memang hanya menganggap Erwin sahabatnya. Tapi Erwin? Bagaimana perasaan Erwin pada Riri? Apakah Erwin juga menganggap Riri hanya temannya atau... ada perasaan lain? Selama hampir 4 bulan aku mengenal Erwin, aku melihat Erwin punya perasaan lain pada Riri.
flashback on
"Tari gue mau terus terang sama lo. Saat ini gue udah punya seseorang yang gue suka. Gue ngomong ini biar lo gak berharap lebih sama gue." ujar Erwin to the point ketika aku menemui Erwin dirumahnya.
"Boleh Tari tau siapa orang yang kamu suka, Win?" tanyaku ingin tau.
"Seperti apa sosok gadis yang telah berhasil meruntuhkan si gunung es ini?"
Aku bertanya-tanya dalam hati.
" Lo gak perlu tau siapa dia. Yang pasti dia seseorang yang gue sayang dan cinta banget. Dialah Cinta pertama gue dan yang gue mau selamanya walaupun..." Erwin menggantungkan kalimatnya.
Aku mengernyitkan dahi menunggu kelanjutan dari ucapan Erwin.
"Walaupun apa, Win?" tanyaku tak sabar.
Kulihat Erwin menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dia mengorbankan cinta kami demi orang yang tidak penting, yang berusaha memisahkan kami dengan terus membuatnya merasa bersalah."
__ADS_1
"Apa pacarmu selingkuh?"
"Dia tidak seperti itu!" jawab Erwin keras membuatku terkejut dan merasa bersalah telah menuduh macam-macam pada kekasih Erwin.
"Hanya saja orang itu yang tidak tau malu terus memaksakan kehendaknya pada dia." Erwin menatapku tajam. Aku merasa ngeri dengan tatapan Erwin yang seolah ingin menelanku.
flashback off
Sudah hampir 4 tahun setelah lulus sekolah Riri melanjutkan kuliahnya di UGM. Aku jadi kangen dengan teman mainku itu yang walaupun tomboy dan cuek dalam berpenampilan, tapi dia sangat baik hati dan suka menolong.
'Meski kadang harus sedikit dipaksa sih.'😁
Aku senyum-senyum sendiri mengenang Riri, sahabatku yang terbaik.
"Beli pulsa hp, mbak." suara pelanggan membuyarkan lamunanku akan Riri.
"Kartu apa, mas?" tanyaku tanpa melihat kearah pelanggan.
"Smart***!"
"Yang voucer atau..."
"Abis obat ya, mbak? Kok senyum-senyum sendiri?" pertanyaan aneh itu membuatku menoleh keempunya suara.
"Erwin?"
Aku menatap tak percaya sosok tampan yang berdiri tegap didepanku sambil tersenyum geli menatapku.
"Apa kabar, Tari?" sapa Erwin Rahadi, cowok yang dulu pernah mencuri hatiku, love at the first sight-ku.
"Ba... baik!" aku menjawab gugup.
Senyum itu, masih manis seperti dulu. Kuperhatikan setiap inci penampilan Erwin. Ada yang berubah dari penampilannya. Dari mulai tatanan rambut cepaknya, jaket yang ia pakai, sepatu pentofelnya, membuat Erwin terlihat seperti seorang aparat.
"Ini konter lo, Tar?" tanya Erwin lagi.
Aku mengangguk.
"Dulu sih punya suamiku, setelah dia diangkat jadi PNS, aku yang meneruskan usaha ini."
"Keren!" Erwin mengacungkan jempolnya.
"Kamu apa kabar, Win? Udah lama gak ketemu, makin kece aja. Sekarang jadi pak pol ya?"
Erwin mengangguk.
"Kabar Riri sekarang gimana, Tar?" tanya Erwin lagi.
Aku menatapnya bingung.
"Loh... masak sahabat gak tau kabar sahabatnya? Apa mereka putus hubungan setelah perpisahan sekolah?"
"Riri kan kuliah di Jogja, Win. Masak kamu gak tau? Kalian kan sahabatan?" tanyaku heran.
Erwin menggeleng pelan. Nampak raut sedih diwajah tampannya.
"Tahun depan Riri wisuda. Mungkin setelah itu dia pulang kesini." kataku.
Erwin masih terdiam.
"Kamu beneran gak tau kabar Riri sekarang, Win?" tanyaku tak yakin.
"Gak! Sebenarnya sebelum ujian sekolah gue dan Riri sudah tidak saling berhubungan lagi."
"Kenapa?"
"Karna lo!"
"Hah!!!" aku terperanjat kaget mendengar ucapan Erwin, dan menatapnya bingung.
Erwin pun menceritakan semuanya padaku kejadian lalu yang sama sekali tidak kuduga sebelumnya.
"Jadi... Riri cewek yang kamu ceritakan itu, Win?!" aku masih tak percaya dengan cerita Erwin.
"Berarti orang yang dulu kamu sebut suka memaksa Riri itu aku?" tanyaku lagi.
Erwin menatapku lekat.
"Lo beneran gak tau... apa pura-pura gak tau, Tar? Waktu itu gue udah jelasin semuanya ke elo masak lo gak ngerti?" ada nada kecewa diucapan Erwin.
"Sori, Win! Aku beneran gak tau dan gak sadar kalo sebenarnya Riri juga suka sama kamu. Pernah aku tanya tentang perasaan dia sama kamu, tapi dia bilang kalian hanya berteman, gak lebih."
"Dia gak ingin lo sedih kalo tau tentang hubungan kami. Tapi dia gak mikir gimana perasaan gue. Sampai sekarang gue gak bisa lupain Riri, Tar!"
Erwin terlihat patah semangat. Dari luar tampak sosok Erwin terlihat tegar dan kuat, ternyata di dalam hatinya tersimpan sakit yang amat dalam.
"Pasti Riri pun merasakan hal yang sama seperti Erwin. Akhh! Bodohnya aku gak bisa menyadarinya sejak awal."
Aku merasa sangat bersalah.
"Maafin aku, Win. Kalo aku tau kalian saling suka gak akan aku maksa Riri untuk mendekatkan kita. Aku juga gak nyadar kalo dulu kamu menjaga jarak dariku karna Riri. Sekali lagi maaf, Win!" aku benar-benar menyesal telah memisahkan 2 hati yang saling mencinta.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi, gak ada yang perlu disesali." Erwin mengibaskan tangannya untuk tidak mengingat lagi masa lalu.
"Oh ya, anak lo sekarang ada berapa?" tanya Erwin mengalihkan pembicaraan.
"2. Kamu?"
Erwin nyengir mendengar pertanyaanku.
"Gue masih nunggu Riri. Kali aja dia mau balikan nantinya dan bikin anak sama gue."
"Hush! Bilang aja kamu jomblo, gak laku." ejekku.
Erwin tergelak. Selama aku mengenal Erwin baru kali ini aku melihat Erwin tertawa lepas denganku, sebelumnya hanya bersama Riri kulihat Erwin bisa bebas bercanda dan tertawa.
Ternyata Riri memang 'someone special' dihati Erwin. Perasaan bersalahku kembali timbul.
__ADS_1
'Maafin gue, Ri ! Gue janji akan menyatukan lagi cinta lo dan Erwin!' janjiku dalam hati.