Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 22


__ADS_3

"Ma! Boleh Riri ngomong sama mama?" Riri memberanikan diri bicara dengan mama mertuanya tentang Iyan.


"Riri mau ngomong apa, sayang?" mama Alvi menatap Riri lembut.


"Anu Ma... anu..."


"Ada apa, sayang? Kok gugup gitu?!" mama Alvi memeluk Riri yang tampak bingung.


"Eee... ma, Riri minta maaf sebelumnya. Bang Iyan... aanu... eee..."


"Iyan kenapa?" tanya mama gemes melihat tingkah Riri.


"Anu Ma... Bang Iyan... ngajak Riri nikah!" akhirnya dengan mengerahkan seluruh keberaniannya Riri menyelesaikan ucapannya.


Ekpresi datar mama Alvi membuat lidah Riri terasa kelu.


"Apa Riri menerima Iyan?" tanya mama pelan.


Riri menggeleng, cepat.


"Enggak, Ma. Riri belum siap melupakan Erwin dan Riri gak mau mama marah sama Riri kalau Riri menerima bang Iyan." kata Riri jujur.


Tanpa diduga, mama Alvi tertawa geli mendengar ucapan Riri.


"Mama gak pa-pa kan? Maafin Riri Ma, kalo Riri salah? Riri..."


Riri terdiam ketika dengan cepat mama memeluknya erat.


"Riri kebahagiaan Riri ada ditangan Riri, bukan ditangan mama. Riri berhak bahagia. Mama yakin Riri tidak akan melupakan Erwin karena Ray ada bersama kita."


"Erwin akan selalu ada dihati kita. Erwin pun pasti mau Riri bahagia. Mama, Papa, Sarah dan Rani juga ingin Riri bahagia. Dan seandainya Iyan bisa membahagiakan Riri dan Ray, kami semua pasti akan mendukung kalian." mama mengecup lembut kening Riri.


"Tapi Riri belum yakin dengan perasaan Riri pada bang Iyan, Ma. Riri merasa gak pantas bersanding dengan bang Iyan."


"Biar hati yang memilih, Ri. Kayak lagu yang kamu nyanyiin sama Iyan tadi." Sarah muncul dari dalam kamarnya. Dipeluknya Riri yang tertunduk diam.


"Cari laki-laki sebaik dan setulus Iyan susah loh, Ri. Satu berbanding seribu." kata kak Sarah.


"Bima aja gak bisa dibanding sama Iyan." sindir Sarah pada suaminya yang baru keluar dari kamar.


"Apa?" Bima menatap bingung wanita-wanita yang sedang duduk dimeja makan.


"Bima seorang suami aja pernah ninggalin aku waktu hamil Audrey." kata Sarah sambil melotot pada suaminya.


"Waktu itu aku kan sedang dinas luar, sayang." Bima membela diri.


Sarah mencibir.


"Huh, masih kalah sama Iyan. Dia aja rela gak dinas luar demi nemenin Riri periksa kandungan dan mengantar-jemput Riri mengajar. Padahal dia kan bukan suami Riri." semprot Sarah.


Bima terdiam.


"Sudah... sudah. Kita lagi membahas Riri bukan mau mendengarkan pertengkaran kalian." tegah mama.


Sarah menoleh pada Riri.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pikirkan masak-masak, Ri. Iyan itu cowok langka. Kak Sarah jamin pasti banyak cewek-cewek diluar sana yang berharap jadi istri Iyan. Masak kamu mau lepasin cowok sebaik Iyan?" Sarah mencoba mempengaruhi Riri agar menerima Iyan.


"Mama juga setuju dengan pendapat Sarah, Ri. Iyan anak baik dan gak pernah neko-neko. Iyan juga udah bilang kok sama mama dan papa kalo dia suka sama Riri."


Riri menatap mertuanya tak percaya.


"Kapan, Ma?" tanya Riri.


"Sejak mama memintanya untuk menjaga kamu."


"Hah!!! Itu kan..."


"Ya... sejak dia menolong kamu yang hampir tertabrak dulu." jawab mama kalem.


"Waktu itu mama minta tolong Iyan jadi bodyguardnya Riri. Awalnya dia gak mau, takut Riri marah katanya. Tapi akhirnya Iyan mengaku kalo Riri tuh cinta pertamanya."


"Serius, Ma? Emangnya sebelumnya Iyan belum pernah jatuh cinta?"


Sarah geleng-geleng kepala, takjub. Baru kali ini dia bertemu cowok seumur Iyan baru merasakan jatuh cinta.


"Iyan dan Riri dulu berteman masa kecil. Kata Iyan, Riri waktu masih kecil kalo ditanya siapa pacarnya dia pasti jawab pacarnya babang." jelas mama membuat merah pipi Riri.


"Emang babang tuh siapa?" tanya Sarah, kepo.


"Babang itu Iyan. Panggilan kecil Riri buat Iyan."


Sarah menatap Riri sambil senyum-senyum. Bima hanya geleng-geleng kepala, geli.


"Waktu itu Riri kan masih kecil Ma, belum ngerti apa itu pacaran. Riri taunya hanya bang Iyan yang baik sama Riri." kata Riri, menahan malu.


Sarah dan Bima tertawa ngakak. Riri hanya nyengir, malu.


"Sudah. Lebih baik kamu pikirkan lagi tentang ajakan Iyan untuk menikah. Kami semua setuju kalau kamu mau menerima Iyan. Karna kami tau siapa Iyan. Kamu pun pasti mengenal Iyan dengan baik kan, Ri?" mama mengelus kepala Riri, lembut


Riri mengangguk pelan Kak Sarah menepuk bahu Riri pelan.


"Pikirkan baik-baik. Ini bukan hanya demi kepentingan kamu, tapi juga demi baby Ray. Setidaknya dia memiliki sosok ayah yang tidak pernah dilihatnya. Dan ingat, selama didalam kandungan hingga Ray lahir hanya Iyan yang dikenalnya." kata Sarah.


Riri pov


Lama aku termenung mencoba menghapus galau dihati. Ucapan mama mengingatkanku akan masa kecilku dengan babang Iyan.


flashback on


"Yan, sungai didepan meluap. Gimana kita nyebrang nanti? Jembatannya gak kelihatan, terendam banjir." bang Andi memberitahu babang yang sedang menunggu Riri mengumpulkan buah-buahan hutan.


Teman-teman yang ikut kehutan hari itu kelihatan bingung karena ada beberapa yang tidak pandai berenang, termasuk Riri.


" Gini aja, bang Andi duluan berenang ke sana dan mengikat tali di pohon besar sana. Setelah itu yang lain menyebrang sambil berpegangan dengan tali." babang memberi solusi yang diangguk setuju oleh teman-teman lain.


Satu persatu anak berhasil menyebrang sungai tersebut. Dan ketika tiba giliran Riri, gadis kecil itu cuma jongkok melongo menatap sungai yang mengalir cukup deras karena meluap.


"Ayo Yi, giliran kamu yang nyebrang." babang memegang tangan Riri agar berpegangan erat pada tali yang sudah tersedia.


"Ayi takut, bang. Airnya deras banget. Ntar kalo ada buaya muncul gimana?" tanya Riri polos.

__ADS_1


Babang tersenyum.


"Ayi gak usah takut. Biar babang gendong Ayi. Babang kan pinter berenang. Ayi peluk aja babang yang kenceng ya?" bujuk babang sambil menggendong tubuh kecil Riri yang langsung memeluknya erat.


Dan setelah mereka berhasil menyebrang Riri kecil malah gak mau turun dari gendongan babang. Jadilah babang menggendong Riri sampai rumah dan pasrah diceramahi mamanya karena mengajak Riri main kehutan. Padahal yang bener babang menyusul Riri kehutan dan mengajak Riri pulang.


flashback off


Aku geli sendiri bila mengingat masa kecilku yang gak jauh beda dengan masa SMA ku.


Waktu SMA aku sering merepotkan Erwin, almarhum suamiku, sedangkan waktu kecil babang yang selalu kurepotkan. Apapun kenakalanku pasti babang yang jadi tumbalnya.


🎵Menapak jalan yang menjauh


tentukan arah yang ku mau


tempatkan aku pada satu peristiwa


yang membuat hati lara


Didekat engkau aku tenang


sendu matamu penuh tanya


misteri hidup akankah menghilang


dan bahagia diakhir cerita?


Cinta...tegarkan hatiku


tak mau sesuatu merenggut engkau


naluriku berkata tak ingin terulang lagi


kehilangan cinta,


hati bagai raga tak bernyawa


Aku junjung petuahmu


cintai dia yang mencintaiku


hati yang dulu berlayar kini telah menepi bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia


Cinta...biarkanlah ada


yang lalu biar saja berlalu


bagaimana pun hidup ini hanya cerita


cerita tentang meninggalkan


dan yang ditinggalkan


Cinta...

__ADS_1


__ADS_2