Dilema Cinta Sahabat

Dilema Cinta Sahabat
episode 12


__ADS_3

Riri melangkahkan kakinya memasuki rumah yang dulu pernah ia datangi bersama Tari dengan perasaan campur aduk. Antara grogi, malu, dan gak percaya diri menyatu dalam hatinya. Erwin menggenggam tangannya.


"Jangan takut. Bibib disini bersama Ayang." ujarnya lembut menenangkan Riri yang mengangguk dan tersenyum manis pada kekasihnya itu. Riri menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.


'Semangat!!!' bisik hatinya mantap.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam! Hai Riri, apa kabar? Udah lama gak ketemu ya?" kak Sarah menyambut Riri, membukakan pintu untuknya. Senyum ramahnya masih seperti yang dulu.


"Alhamdulillah baik. Kak Sarah apa kabar?" Riri mencium tangan Sarah. Si kakak malah memeluknya erat.


Setelah cipika-cipiki dengan kak Sarah, mereka melangkah masuk langsung keruang makan karena kedua orang tua dan adik Erwin sudah menunggu.


"Hai, Ri!" Rani menghampiri Riri, memeluknya dan mencium pipi kiri dan kanan Riri.


"Yank, ini mama dan papaku."


"Ma, pa, ini Riri pacar Erwin." Erwin mengenalkan Riri pada kedua orangtuanya.


" Selamat malam om...tante..." Riri mencium tangan mama dan papa Erwin dan tersenyum sopan.


Papa Erwin mengangguk tersenyum.


Mama Erwin memeluk dan mencium kening Riri membuat gadis itu terharu. Dia teringat dengan almarhum kedua orangtuanya.


"Loh... ini kan temen kamu yang dulu pernah kesini kan bang?!" kata mama Erwin pada anak lelaki satu-satunya itu.


" Emang dulu Riri pernah kemari?" tanya Rani ingin tau.


"Pernah, sama Tari temennya." Kak Sarah yang jawab.


"Pantesan kak Sarah kenal sama Riri."


"Ya iyalah. Meski awalnya kakak kira Tari itu pacarnya Erwin eh ternyata Riri yang ditaksir dia." Sarah mengerling menggoda Riri yang nyengir malu.


"Eh Ri, ntar kita manjat pohon rambutan lagi ya kebetulan rambutan dirumah dedekmu sedang berbuah lebat." lagi-lagi Sarah menggoda Riri.


"Kak, gak liat apa Riri sekarang gak tomboy lagi. Dia udah cantik banget loh." Erwin kesel kakaknya menggoda Riri.


"Beneran?" kak Sarah belum berhenti menggoda Riri. Rani tertawa geli melihat kakaknya terus menggoda Riri dan Erwin.


'Tapi kan belum lupa cara manjat pohon ya, RI?" Sarah sengaja meledek sang adik yang terlalu posesif sama Riri.


Erwin melengos kesal membuat yang lain menertawakannya.


"Udah... kapan makannya kalo becanda terus." papa Erwin menengahi mereka.


Akhirnya mereka pun makan sambil berkelakar ringan.


"Kak Bima dan Audrey mana, kak?" tanya Erwin karna tak melihat sosok suami kak Sarah dan anaknya.


"Bima ada dikamar lagi nidurin Audrey."


Tak lama Bima datang dan gabung bersama mereka.


"Riri ini suami kakak. Bima."


Bima tersenyum ramah pada Riri yang duduk di sebelah Erwin. Riri balas mengangguk sopan.


"Jadi sekarang nak Riri tinggal sendiri?" tanya tante Alvi, mamanya Erwin.


Riri mengangguk pelan. Ia tak mampu berkata apa-apa kalo tentang keluarga yang sekarang ini sudah tidak dimilikinya. Erwin menggenggam tangan Riri.


"Jangan sedih nak, kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini dan itu berarti kami ini keluargamu. Ya kan, Pa?" Tante Alvi memeluk Riri yang menunduk sedih.


"Terima kasih tante...om..."


"Panggilnya mama aja sama papa kayak Erwin ya?" pinta mama Alvi.


Riri mengangguk haru. Tak terasa airmatanya mengalir jatuh dipipinya. Rani dan Sarah memeluk Riri.


"Kita sekarang saudara Ri, jangan sedih lagi ya?" ujar kak Sarah lembut.


Riri mengangguk.


Erwin yang juga hendak memeluk Riri merengut manyun ketika Rani menarik kerah belakang kemejanya hingga ia jatuh terduduk di sofa. Semua yang ada diruangan itu tertawa geli melihat Erwin yang merajuk.


Tiba-tiba seseorang datang memberi salam. Dedek muncul cengar-cengir dengan wajah innocent-nya.


"Selamat malam semua. Maaf ya aku telat, baru pulang kerja." kata Dedek setelah menyalami kedua calon mertuanya dan mencium kening Rani, tunangannya.


"Hai Riri, makin ca'em aja lo." Dedek hendak mengacak rambut Riri, tapi segera ditepis Erwin.


"Ran, kayaknya cowok lo bakal gue blacklist deh dari daftar calon adik ipar." Erwin menatap geram pada Dedek yang telah berani memuji kekasihnya.


"Idiih...posesif banget, bang. Wiwin bener kok, Riri emang makin manis sekarang."


"Bener tuh! Cemburuan amat sih!"


Sarah dan Rani mengejek Erwin.


"Terserah gue dong. Riri kan calon istri gue wee..." Erwin menjulurkan lidahnya balas mengejek adik dan kakaknya.


Kebahagiaan muncul dihati Riri. Malam ini Riri merasa memiliki keluarga lagi meskipun itu keluarga dari Erwin, calon suaminya.


****


Resepsi pernikahan Dela dan Helmi dirancang sangat meriah. Para tamu undangan yang datang, ditambah alunan musik mengiringi semaraknya pesta.


"Selamat menempuh hidup baru ya Del, semoga sakinah, mawadah, warohmah ya." Riri mencium pipi Dela dan memeluk sahabatnya erat. Dela pun melakukan hal yang sama.


"Gue gak nyangka Ri, ternyata pacar lo sekarang Erwin. Kapan kalian clbk-nya?" tanya Dela kepo.

__ADS_1


Riri mengedipkan sebelah matanya, penuh misteri.


"Lo aja yang gak tau, beb. Setelah ini mereka akan menyusul kita." sahut Helmi.


Dela memandang Helmi yang kini telah sah jadi suaminya dengan pandangan bingung.


"Nyusul kemana?" tanya Dela bingung.


"Ya nikahlah beb, masak nyusul kita bulan madu." Helmi menepuk jidatnya kesal melihat istrinya yang masih saja o'on maksimal.


"Ooooo... apaaa?!!" Dela yang semula mengangguk mengerti malah teriak heboh.


Riri dan Erwin tertawa melihat Helmi yang buru-buru menutup mulut murai Dela.


"Beneran nih? Kapan?" tiba-tiba Yeni sudah ada didekat mereka.


"Kalian tunggu aja undangannya." kata Riri masih rahasia.


"Berarti kita nanti bakal balik kesini lagi dong Bi." ujar Yeni pada suaminya.


"Kalo lagi gak sibuk abi pasti temani umi." janji Benny. Yeni tersenyum manis mendengar ucapan suaminya.


"Janji ya kalian akan datang kepernikahan gue?" Riri menatap penuh harap dua sahabatnya.


"Pasti dong, sista. Kalau perlu kita datang bareng keluarga besar." sahut Dela asal.


"Harus itu!" kata Riri mantap.


Dela melongo. Padahal tadi dia hanya bercanda.


"Eh ngomong-ngomong ini acara pernikahan apa reuni sih, kok pengantinnya malah asik ngegosip disini. Tamu lo masih banyak yang antri, say!" Riri mengingatkan semuanya.


"O iya ya, kita kan mau menyalami tamu dulu. Yuk, beb!" Dela menarik tangan Helmi kembali kepelaminan.


Riri, Erwin ,Yeni dan Benny tertawa geli melihat pengantin gokil seperti Dela. Orangtua kedua mempelai hanya geleng-geleng, pusing dengan tingkah anak-anak mereka.


Sepasang mata memandang Riri tak berkedip. Perasaan rindu dan bersalah nampak dari pandangan mata itu.


"Kamu tambah manis aja, Ri. Aku makin cinta sama kamu."


Erwin memeluk pinggang Riri mesra ketika sepasang mata itu masih menatap nanar ke arah mereka. Erwin menatap tajam pada sosok pemilik mata yang terus menatap kearah mereka.


"Andre apa kabar?" sapaan seseorang membuat Riri dan Yeni menoleh ke asal suara.


"Andre?!"


Riri tercekat. Dia menoleh pada Erwin yang rupanya tengah menatap Andre kesal. Riri menggenggam erat tangan Erwin agar bersikap tenang.


Andre berjalan kearah mereka.


"Halo Yeni, apa kabar? Udah lama gak ketemu ya?" Andre menyalami Yeni yang tersenyum membalasnya.


"Baik Dre, kamu apa kabar?" tanya Yeni balik.


"Alhamdulillah baik juga. Ini suamimu?" Andre menunjuk Benny dan menyalaminya.


" Gue belum punya istri. Gue lagi nunggu seseorang." mata Andre menatap lekat penuh rindu pada Riri.


"Kalau yang anda maksud itu Riri, maaf tuan Andre... dia calon istri saya." Erwin memeluk erat Riri seakan tak ingin ada yang merebut gadis itu darinya.


"Bib, jangan seperti ini. Aku gak bisa napas tau gak?!" bisik Riri ngos-ngosan ditelinga Erwin. Ia hampir kehabisan napas akibat pelukan ketat Erwin.


"Maaf, Yank!" Erwin pun melonggarkan pelukannya tapi tidak melepaskannya.


Yeni dan Benny tersenyum geli melihat betapa posesifnya Erwin pada Riri. Sedangkan Andre hanya mendengus kesal.


Setelah resepsi pernikahan Dela, Riri disibukkan dengan pernikahannya. Karena Riri tidak punya keluarga dan sebatang kara, Riri mengurusnya dibantu keluarga Erwin dan Tari yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.


"Pa, kenalin ini calon suami Riri. Win, ini suamiku." Tari memperkenalkan suaminya pada Erwin ketika mereka bertemu dirumah Riri pada saat lamaran.


"Arya!"


"Erwin!"


Keduanya saling bersalaman.


"Riri mana, Win?" tanya Tari ketika tidak melihat sosok sahabatnya.


"Ada dikamar sama kak Sarah dan Rani."


"Pa, mama kekamar dulu mau ketemu Riri, papa ngobrol aja sama Erwin. Tolong temani dulu suamiku ya Win, awas jangan kamu ajak berantem." Tari pura-pura mengancam Erwin.


"Emang gue bocah suka berantem." Erwin ngedumel.


"Ya... kali aja kamu cemburu sama kegantengan suamiku." olok Tari.


"Kepedean lo." cibir Erwin.


Tari nyengir. Suaminya hanya tersenyum simpul melihat ulah istrinya menggoda calon suami Riri, sahabatnya.


"Riri! Kak Sarah!" Tari memeluk sahabatnya dan kak Sarah.


"Bang Arya ikut, Tar?" tanya Riri setelah cipika-cipiki dengan Tari.


"Ikut dong. Tapi duo jagoan gue gak, soalnya tadi udah keburu tidur." sahut Tari setelah cipika-cipiki juga dengan kak Sarah dan Rani.


"Anakmu sudah dua, Tar?" tanya kak Sarah.


Tari mengangguk.


"Kalo lo sama bang Erwin rencananya mau punya anak berapa, Ri?" Rani melirik Riri yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Mikir lo kejauhan, Ran. Gue sama Erwin belum mikir kesitu karena gue mau kerja dulu." jawab Riri sambil terus menatap laptopnya.

__ADS_1


"Kan bisa ngurus anak sambil kerja, Ri?"


"Iya sih, tapi kalo udah punya anak gue gak mau anak gue diasuh sama orang lain."


"Kan ada mama?"


"Mana boleh. Masak aku yang buat mama yang capek ngurusnya, kasihan mama dong." seloroh Riri asal. Mereka tertawa geli.


"Udah yuk keluar, acaranya udah mau dimulai." kak Sarah dan Tari mendampingi Riri keluar dari dalam kamar diikuti Rani.


Erwin terperangah kagum melihat sosok gadis cantik yang diapit kakaknya dan Tari.


"Mashaallah, cantik banget calon istriku. Aku pasti tak akan melepaskannya seumur hidupku dan akan terus membahagiakannya." janji Erwin dalam hati.


Acara lamaran yang sederhana namun membuat Riri menangis haru. Dia teringat lagi dengan ayah dan ibunya yang sangat ia rindukan.


"Ayah! Ibu! Sebentar lagi Riri akan menikah dengan orang yang Riri cinta. Doakan Riri agar selalu bahagia ya, dan semoga ayah dan ibu tenang disisi-Nya."


Tari membantu Riri merapikan rumahnya setelah acara lamaran semalam yang berjalan lancar.


"Ri, maafin gue ya?" pinta Tari tiba-tiba.


"Perasaan belom lebaran deh Tar, kok lo minta maaf ama gue." Riri mengernyit bingung.


Tari menghampiri Riri yang sedang merapikan majalah yang ada dibawah meja.


"Kalo aja dulu gue gak maksa-maksa lo buat deketin gue sama Erwin pasti lo udah bahagia dari dulu." Tari benar-benar menyesali keegoisannya.


"Gak pa-pa, Tar. Kalo jodoh gak kemana. Biar apapun yang dulu pernah memisahkan gue sama Erwin toh akhirnya kami berdua tetap bisa bersatu. Ya kan?" Riri menepuk pelan punggung tangan Tari agar sahabatnya itu tidak lagi merasa bersalah.


Tari mengangguk setuju.


"Gue seneng lo bisa bahagia bersama Erwin, Ri. Gue tau Erwin cinta banget sama lo. Dia pasti akan selalu buat lo bahagia dan selalu melindungi lo. Semoga langgeng sampe jannah-Nya." doa Tari tulus.


"Aamiin! Makasih ya Tar, semoga lo dan bang Arya pun sama." Riri memeluk Tari hangat dan Tari pun membalasnya.


Ditempat kerja Erwin,


"Gimana Win, udah selesai lo urus surat-surat lo dan Riri buat persyaratan pernikahan lo nanti?" Iyan, Risyan Suwandi sahabat Erwin, memperingatkan Erwin akan syarat pernikahan untuk para anggota polisi.


Erwin mengangguk mengiyakan.


"Besok gue dan Riri akan melakukan sidang BP4R."


Sidang BP4R adalah sidang pemberian izin nikah pada anggota polisi yang akan menikah. Sidang ini wajib bagi seluruh personil Polri beserta calon pasangannya karena merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk melangsungkan pernikahan.


Iyan mengangguk mengerti.


"Goodluck, bro! Semoga acara pernikahan lo lancar." Iyan menepuk bahu sahabatnya.


"Thanks, bro! Lo nanti jangan gak dateng ya, ntar gue kenalin sama Riri. Kan kalian belom saling kenal?" ujar Erwin penuh harap.


"Inshaallah!"


Iyan memang belum pernah bertemu dengan Riri. Tapi dari cerita Erwin tentang kekasihnya, Iyan tau calon istri sahabatnya itu pasti orang baik.


Erwin tersenyum mendengar ucapan Iyan.


🎡


Kubersyukur memiliki kamu


ku bahagia ada disampingmu


hati ini terasa tenang


bila kau selalu bersama diriku


Kuterima kekurangan kamu


kau terima kekurangan aku


lengkapilah lembar jalanku


untuk mengarungi disetiap langkahku


Dari dalam hati kau takkan terganti


sampai nanti aku mati


dari dalam hati


kau takkan terganti...


Kucintai kau setulus hati


kusayangi kau sepenuh hati


aku mohon kau tetap disini


menemani aku sampai akhir nanti


Kan kujaga kau selama-lamanya


sampai raga tak lagi bernyawa


aku mohon kau tetap setia


menemani aku sampai akhir dunia


🎢


autor note:

__ADS_1


Maaf ya guys kalo ada kekurangan dicerita ini, karena ini pertama kali bikin cerita yang dibaca orang lain😁


Mohon kritik dan sarannya ya guysπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2