
Pagi harinya Aran mulai mengerjapkan matanya, ia perlahan membuka mata dan melihat tidak ada Veli yang berbaring di sampingnya. Sesaat kemudian telinga Aran menangkap suara dan tanpaknya itu dari kamar mandi.
"Hueeekk......hueeeek ...." Veli merasa tidak nyaman, sebab ia sudah beberapa kali keluar masuk kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Dan hal ini sudah menjadi kebiasaan Veli setiap paginya, "Hueeeek......." setelah Veli merasa lebih baik, ia mulai membasuh wajah lalu sejenak menatap wajahnya di cermin yang berukuran cukup besar. Veli bisa dengan jelas melihat wajah pucat nya di sana, di tambah lagi perutnya yang buncit sudah jelas terlihat. Kemudian ia keluar dari kamar mandi, dan matanya menatap Aran yang juga tengah menatap dirinya.
"Lemes nggak?" tanya Aran.
Veli berjalan mendekati Aran, "Iya Mas," jawab Veli sambil mengangguk, kemudian ia duduk di sofa.
"Sini Mas pijitin," Aran meminta Veli mendekat pada nya, karena Aran masih belum leluasa untuk bergerak.
"Nggak usah Mas, Veli nggak papa kok udah lebih baikan," kata Veli sambil menyeruput teh hangat yang barusan di bawakan oleh Art, memang Veli menghubungi Art untuk membawa beberapa barang yang ia butuhkan dengan sarapan pagi juga.
"Yaudah, Mas siapin sarapannya......ayo sini," kata Aran lagi, ia tau kebiasaan Veli adalah makan di suapi oleh dirinya. Bahkan terkadang Veli ke kantor hanya untuk minta di suapi, setelah itu ia kembali pulang.
"Nggak usah Mas, Veli bisa sendiri. Mas juga lagi sakit," Veli sedang tidak ingin merepotkan Aran, ia tau ia ingin makan di suapi Aran setiap waktunya. Akan tetapi keadaan Aran saat ini tidak memungkinkan untuk dirinya bermanja-manja.
"Veli!" titah Aran.
Veli diam dan ia menatap Aran, ia tau Aran kini sedang marah dan ia tidak mau membuat Aran bertambah marah. Akhirnya dengan berat hati Veli berjalan mendekati Aran, kemudian meletakan kotak bekal di tangannya pada rajang, "Ini," tutur Veli. Sesaat kemudian ia juga ikut mendudukkan dirinya di ranjang.
"Gitu dong, nurut kan enak," jawab Aran sambil mengacak rambut Veli dengan gemas, tapi Veli mengerucutkan bibirnya, "Kenapa?" tanya Aran.
"Iya......" jawab Veli ketus.
Aran mengangkat sebelah alisnya, "Kamu kenapa?" tanya Aran sambil mulai menyuapi Veli dan Veli membuka mulutnya.
"Nggak napa-napa," Veli menjawab sambil mengunyah makanannya.
"Terus kenapa cemberut?"
__ADS_1
"Mana ada."
"Kamu kenapa?" tanya Aran dengan serius menatap wajah Veli.
"Nggak usah marah......" kata Veli yang kesal, akan tetapi di mata Aran Veli terlihat manja walau pun wajahnya sedang sangat kusut.
"Yang marah siapa?"
"Mas lah siapa lagi?" Veli memutar bola matanya dengan jenuh, ia kesal akan tetapi setiap Aran menyuapinya ia terus membuka mulutnya dan memakannya dengan lahap.
"Sayang nggak boleh gitu ah.....kalau kamu cengeng nanti anak kita juga ikut cengeng. Kamu mau?"
"Nggak," jawab Veli dengan cepat.
"Ya makanya jangan cengeng, jangan ngambekan Istri Soleha ku," tutur Aran sambil mengambil sisa nasi di samping bibir Veli dan memasukan ke dalam mulut nya sendiri.
"Mas nya juga gitu....." rengek Veli.
"Mas kan lagi sakit, ngapain harus nyiapin Veli segala."
Aran tersenyum lebar, dan hatinya begitu teduh saat Veli mengutarakan apa yang kini ada di hatinya, "Jadi kamu khawatir sama Mas, karena Mas lagi sakit begini jadi kamu nggak mau ngerepotin Mas, gitu sayang?" tanya Aran.
"He'um," Veli mengangguk sambil membersihkan mulutnya dengan tissue, dan meneguk air mineral.
"Makasih ya sayang, kamu udah khawatirin Mas. Mas bahagia banget, tapi Mas juga ingin selalu membuat kamu bahagia. Mas nggak mau kamu pengen apa-apa sama Mas tapi nggak bisa, Mas mau kamu tetap tersenyum," sebelah tangan Aran menangkup wajah Veli, dan terlihat jelas begitu banyak cinta di mana Aran untuk istri cantik nya.
Veli mengangguk, "Veli ngerti Mas, tapi sekarang itu waktunya nggak tepat banget. Kalau Veli minta begini begit....." belum sempat Veli menyelesaikan apa yang ingin ia katakan bibirnya sudah di bungkam oleh jari telunjuk Aran.
Aran menatap Veli dengan lekat, "Nggak ada yang nggak tepat sayang, buat kamu semua Mas bisa lakuin. Jadi jangan pernah berpikir untuk takut merepotkan Mas atau pun waktu nya tidak tepat, karena waktu Mas cuman untuk kamu dan sisa-sisa nya untuk anak-anak kita nanti," terang Aran dengan lembut, dan pandangan keduanya bertemu serasa gelora cinta mulai bangkit. Dinginnya AC seakan berubah panas, sesuatu yang terkurung ingin di bebaskan. Aran memegang tengkuk Veli dan Veli memejamkan matanya, hingga perlahan bibir Aran hampir mengenai bibir Veli
__ADS_1
CLEK......
Pintu terbuka dan di sana ada Ratih dan Bilmar yang datang dengan membawa rujak pesanan Aran semalam, sebenar nya tidak ada yang menjual rujak di pagi hari. Dan karena itu Ratih sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan rujak, dan kini ia minta Bilmar yang mengantarkannya ke rumah sakit namun sampai di sana ia malah hampir saja melihat pemandangan yang mengejutkan. Ratih cepat-cepat menutup mata dengan tangannya, sementara Veli mengigit bibir bawahnya karena sangat malu. Dan Aran hanya tersenyum kecut.
"Mami nggak liat, Mami keluar aja,"Ratih dengan cepat melenggang pergi dari sana, tanpa mendengar jawaban dari Aran.
"Mi....." kata Aran memanggil Ratih, namun Ratih sudah tidak mendengar karena ia sudah berjalan dengan cepat dan cukup jauh.
"Nggak tau tempat banget sih," Bilmar masuk dan meletakan kotak makanan di atas meja nakas, "Ini rujak pesanan lu," kata Bilmar lalu melangkah pergi.
"Heh,mau kena lu?" tanya Aran.
Bilmar menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik menatap Aran, "Mau ketemu bini di rumah, ini gara-gara elu yang pagi-pagi bikin adik gw meronta-ronta minta di maja. Lu lanjut aja, jangan lupa pintu di kunci. Satu lagi suara jangan keceng ini rungan enggak kedap suara," terang Bilmar lalu pergi begitu saja.
"Sialan lu," kesal Aran.
"Mas ish..... malu-malu in....."Veli mencubit lengan Aran, pipinya sangat merah karena mengingat Ratih yang memergokinya tadi.
"Hehehehe.......Mas suka kelepasan yang, kamu sih.....cantiknya keterlaluan, Mas kan nggak kuat," Aran mencolek dagu Veli.
"Ish.....udah dong Mas gombalnya, Veli malu tau," Veli menggerak-gerakan kakinya karena tidak kuat dengan rayuan Aran.
"Kamu makin begini makin ngegemusin tau nggak sayang," Aran menarik hidung mancung Veli dengan gemas, ia sangat suka melihat wajah istri ya yang malu-malu dengan menggigit bibir bawahnya seperti saat ini.
"Mas ish......" Veli sudah tidak kuat menanggapi rayuan Aran, akhinya ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aran.
"Hehehehe......" Aran terkekeh melihat tinggkah Veli.
***
__ADS_1
Like dan Vote.