
Beberapa hari kemudian.
Aran kini tengah berbicara dengan Bilmar mengenai Harlan yang menuduhnya telah menyebabkan sang adik meninggal. Tapi ternyata setelah di selidiki sang adik dari Harlan itu menderita Erotomania, atau gangguan pada psikologis yang penderitanya merasa semua orang jatuh hati padanya. Begitu pun dengan wanita itu yang menganggap Aran mencintainya padahal sebenarnya tidak sama sekali.
"Dasar Harlan, hampir saja dia membahayakan keadaan istri ku," Aran mengusap wajahnya beberapa kali dan ia juga memijat keningnya karena merasa pusing dengan permasalahan ini.
"Iya, dan bodohnya lagi ternyata wanita itu masih hidup, lalu dari mana Harlan tahu jika adik nya itu sudah mati bunuh diri?" Bilmar terkekeh mengingat wajah Harlan yang cukup yakin saat menuduh Aran lah sebagai penyebab kematian sang adik.
"Hari ini dia keluar dari penjara bukan?" tanya Aran dimana tadi seorang bawahannya yang memata-matai Harlan melaporkan nya.
"Oh....ya?" Bilmar tidak tahu sama sekali akan hal itu, tapi ia mengangguk mengerti, "Kita selesaikan semuanya secepatnya agar Harlan tidak lagi salah paham dan membahayakan Veli, istri mu itu sedang hamil dan ia harus benar-benar dalam penjagaan yang ketat," jelas Bilmar yang juga tidak ingin sesuatu pada Veli, terutama pada keponakan nya yang tengah berada dalam kandungan Veli.
"Ya lu bener banget, tapi apa kita bisa membawa wanita itu pada Harlan," Aran tidak ingin menyebut nama adik Harlan tersebut, karena ia sudah terlalu kesal dengan apa yang terjadi. Bahkan tanpa bukti yang jelas dan juga tanpa mendengarkan penjelasan Aran, Harlan langsung saja menuduhnya.
"Bisa.....kalau dengan diam-diam," jawab Bilmar dengan yakin.
"Kapan?" tanya Aran yang sudah tidak sabaran.
"Secepatnya," Bilmar meminta bantuan pada Arman, karena urusan hal seperti itu Arman tidak bisa di ragukan lagi. Tidak ada ampun jika semua sudah di tangan Arman, setelah selesai menghubungi Arman. Bilmar pulang dan menantikan kabarnya esok hari sesuai janji Arman.
*
Keesokan harinya, Arman sesuai dengan janjinya ia membawa Hairani di dalam mobilnya, entah bagaimana cara nya ia bisa mendapatkan wanita itu dengan cepat. Yang jelas Rani di simpan oleh seorang pria, mungkin saja pria itu yang melakukan sandiwara ini hingga mengatakan Hairani sudah mati karena bunuh diri.
__ADS_1
Aran, Bilmar dan Arman menuju kediaman Harlan, mereka tau Harlan sudah bebas dari tahanan. Dan mereka tidak ingin ada masalah lagi yang berlarut-larut, semua harus segera selesai secepatnya. Tiga puluh menit sudah berlalu ketiga pria itu sampai di kediaman Harlan, mereka tidak hanya datang bertiga melainkan ada banyak pengawal yang ikut dengan mereka bahkan hingga lima mobil.
Aran tidak ingin membuang-buang waktu, ia bahkan langsung turun dari mobilnya dan langsung berbicara pada bodyguard yang berdiri dengan tegap di depan rumah Harlan.
"Apa Bos mu ada?" tanya Aran dengan angkuhnya.
Tidak ada yang tidak mengenal Aran, termasuk sang bodyguard, namun belum sempat bodyguard itu menjawab terlihat seorang bodyguard mendekat dan mempersilahkan Aran masuk. Karena Harlan sudah tahu dengan kedatangan Aran melalu kamera cctv yang terpasang di sana.
"Langsung saja masuk tuan," kata Bodyguard tersebut.
Aran menatap Bilmar dan Arman dan memintanya ikut turun, "Bawa juga wanita itu," kata Aran pada bodyguard nya.
Dua bodyguard langsung membawa wanita dengan wajahnya di tutupi kain hitam, wanita itu terus meronta-ronta minta di lepaskan. Akna tetapi siapa yang akan melepaskannya nanti mungkin saja Harlan. Agar Harlan bisa melihat wajah adik dengan cukup jelas, dan kini mereka sampai di dalam rumah Harlan yang. terlihat cukup remang dan juga di terangngi dengan beberapa lampu redup. Harlan duduk di sofa di temani dengan dua orang wanita yang berpakaian ****, Aran tersenyum miring melihat tingkah Harlan yang bercumbu tanpa rasa malu. Bahkan Harlan terlihat tidak ingin melepaskannya.
"Menjijikan," umpat Aran.
"Menurut mu?" Aran tidak ingin menjawab, ia justru balik bertanya dengan tersenyum miring. Bahkan terkesan jijik.
"Ada apa kau keamri?" Harlan menatap Aran, lalu Bilmar dan juga Arman, "Apa aku terlalu menakutkan untuk mu hingga kau tidak berani datang tanpa membawa saudara mu?" Harlan berdiri dan tersenyum remeh, "Sepertinya begitu ya....kau kan pecundang!"
"Kami bukan pecundang, kami hanya memiliki keluarga yang saling ada di saat saudara kami sedang dalam masalah. Tidak seperti kau.....!" jawab Bilmar yang malah balik menatap Harlan dengan remeh.
"Kau!" Harlan merasa tersindir, ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa harus marah, kalau kau marah artinya apa yang aku katakan benar bukan?" tanya Bilmar lagi.
"Sudahlah, aku masih punya banyak urusan yang jauh lebih penting," Aran mengibaskan tangannya dan tidak ingin lebih lama lagi di sana, Aran menggerakan tangannya dan seorang bodyguard langsung mendekat dengan menyeret seorang wanita, dan Aran menghempaskan nya di bawah kaki Harlan.
"Apa ini?" tanya Harlan dengan bingung.
"Buka penutup kepala nya bila kau ingin tahu!" kata Aran.
"Maksud mu apa? Apa kau ingin mengajak ku bermain?"
"Cepat buka agar mulut mu itu bisa bungkam!" kata Aran lagi.
Dengan cepat Harlan membukanya dan matanya melebar tak kala melihat sang adik yang ia pikir sudah tidak ada kini ada di depan matanya, "Khirani," Harlan langsung memeluk sang adik dengan penuh kerinduan, namun sang adik terlihat berbeda, bahkan terlihat seperti orang tidak waras. Bukan seperti tapi memang keadaannya tidak waras.
"Aku ingin kau tidak menuduh ku lagi yang bukan-bukan, karena aku masih waras dan memiliki istri yang sangat cantik di rumah ku. Dan aku tidak ingin kau mengganggu ku lagi!" kata Aran dengan tegas.
"Apa kalian yang membuatnya begini?" tanya Harlan.
"Ternyata kau sama saja dengan adik mu, sama-sama tidak waras," kata Aran, "Apa kau pikir kami tidak punya pekerjaan lain, apa kau pikir adik mu itu sangat penting hingga aku harus melakukan segala cara untuk memilikinya. TIDAK!" terang Aran menekankan setiap kata dalam setiap kalimat yang ia ucapkan, agar Harlan sadar bahwa ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan sang adik.
"Ingat Harlan, kami tidak ada urusan dengan mu maupun denga adik mu. Dari pada mau terus berusahan dengan kami lebih baik obati gangguan jiwa adi mu itu, agar kau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sampai di sini aku sudah banyak membantu mu, apa kau tidak ingin mengucapkan terimakasih?" tanya Aran dengan menarik sebelah bibirnya ke samping.
"Apa maksud mu."
__ADS_1
"Bodoh," kata timpal Arman.
"Kami sudah membawa adik mu kembali, yang kau katakan sudah mati. Apa itu jelas!" papar Bilmar, lalu mereka pergi begitu saja tanpa berbicara lagi.