Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 38


__ADS_3

Tidak ada yang bisa di lakukan Veli selain menangis pilu, satu minggu sudah berlalu namun Aran belum juga di temukan. Veli tidak kuasa menahan rindu, menahan luka yang begitu dalam sesekali tangannya mengusap dengan kasar setiap air mata yang mengalir di pipinya. Bayangan kenangan bersama Aran terus muncul di otaknya, saat tertawa bersama, saat bercanda bersama, saat keduanya saling mengolok saat ia menangkis, saat ia meminta sesuatu hingga dengan susah payah Aran mengabulkannya. Dan yang paling membuat hati Veli bagai di iris adalah ketika Aran berpesan saat akan pergi, Aran mengatakan ia harus menjaga Kiara untuk dirinya.


"Veli," Anggia masuk ke kamar Veli, karena mendengar tangisan Kiara. Namun tampaknya Veli tidak mendengar karena ia sibuk dengan pikirannya.


"Anggia," Veli menghapus jejak air matanya, ia seketika menyadari Kiara yang tengah menangis, dengan langkah cepat Veli langsung menenangkan Kiara dan memberikan asi.


Anggia ikut duduk di sisi ranjang, ia dapat merasakan kegetiran hati Veli saat ini. Tiada hari tanpa tangisan, tiada waktu tanpa kesedihan. Veli yang dulu ceria kini lenyap bagai di telan bumi, yang ada kini hanya Veli yang pendiam dengan berjuta kesedihan.


"Kamu makan ya Vel, kalau pun kamu nggak lapar.....tapi kasihan Kiara," Anggia mengelus pipi bayi yang masih berusia dua minggu itu, dada Anggia juga sangat sesak membayangkan jika Aran tidak akan pernah kembali lagi.


Veli menatap wajah Kiara, ia membenarkan apa yang di katakan oleh Anggia. Kiara sudah kehilangan Aran yang entah kapan akan kembali ke tengah-tengah mereka, itu pun tidak ada yang menjamin jika Aran akan kembali, dan ia tidak ingin Kiara juga menjadi korban karena keegoisannya yang masih larut dalam kesedihan.


"Aku ambil makanan, kamu makan nya di kamar saja," Anggia keluar tanpa meminta persetujuan Veli dan sesaat kemudian ia kembali dengan nampan di tangannya.


Veli masih terlihat diam, air matanya sesekali menetes mengenai pipi Kiara yang tertidur dalam pelukannya. Tidak ada lagi gairah hidup, tidak ada lagi senyuman manis ceria seperti dulu semua lenyap bersama dengan menghilangnya Aran.


"Veli ayo makan," Anggia meletakan nampan berisi makanan di atas meja, kemudian ia mengambil alih Kiara.


Veli mengangguk ia sama sekali tidak berbicara, ia menurut saja. Tangannya terlihat bergetar ketika memegang sendok, berulang kali ia meletakan sendok itu kembali karena cukup sulit rasanya memasukan nasi itu pada mulut. Hingga akhirnya ia berhasil mengunyah nasi itu dengan susah payah, itu pun demi Kiara yang minum asi. Mungkin jika Kiara minum susu formula Veli tidak akan menyentuh nasi sama sekali.


"Veli," Laras datang bersama dengan Ratih, keduanya baru saja pulang berbelanja keperluan untuk Kiara.

__ADS_1


Veli hanya menatap arah pintu dan kedua wanita itu sudah di dekatnya, rasanya cukup sulit untuk mengeluarkan satu patah kata saja.


"Syukurlah kamu sudah makan," Ratih tersenyum, ia tersenyum paksa. Tidak ada yang tahu mungkin perasaan wanita itu pun ikut hancur, sedari kecil ia merawat Aran. Membesarkan, menyuapinya dengan canda dan kadang kenakalannya dan kini Aran menghilang dengan cara yang sangat menyakitkan. Namun Ratih tetap berusaha kuat, demi cucunya Kiara.


"Malam ini kita tahlilan untuk Aran ya?" kata Laras, ia pun tidak ingin mengatakan itu. Kana tetapi ia ingin mengirimkan doa untuk menantunya


Veli menatap Laras, ia tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Laras, "Mas Aran belum meninggal Ma!"


Laras menatap Ratih, begitu pun sebaliknya, "Iya Nak Mama tahu, tapi....." Laras menunduk saat mendapat tatapan yang begitu rapuh dari mata Veli, mata Ibu satu orang anak itu berkaca-kaca dalam satu detik kemudian tumpah begitu saja.


"Kalau Mas Aran sudah meninggal mana jenazah nya?" hatinya bagai teriris, sakit sungguh sakit. Tiada yang bisa melebihi sakit ini.


Laras mengangguk, ia mengerti dengan kesedihan Veli. Dan setiap melihat Veli bersedih jangan tanyakan perasaannya, perasaannya nya juga ikut terluka, hancur melihat putri tunggalnya yang sekarang terus dalam keterpurukan.


Veli diam ia menyetujui jika usul Ratih yang kali ini, sebab ia masih belum yakin Aran sudah tiada sebab Aran belum di temukan sementara bangkai jet dan juga beberapa orang di dalamnya sudah di temukan.


"Ma, Veli nggak maksud nyakitin atau 0un bicara kasar ke Mama....Veli cuman butuh bukti...dengan mata kepala Veli kalau pun Mas Aran udah nggak ada Veli mau lihat," Veli menyadari sudah kasar pada Laras, ia cepat-cepat memeluk Laras kembali.


"Iya, Mama ngerti," Laras juga memeluk Veli dengan erat.


Laras merapikan rambut Veli, yang tidak pernah lagi di sisir itu. Rambut itu terlihat terikat asal-asalan saja.

__ADS_1


"Assalamualaikum," Ziva datang bersama dengan Vano.


"Waalaikumsalam," jawab Ratih.


Kini mereka semua memang selalu berada di rumah Veli, sebab mereka tidak tega melihat Veli terus berduka mereka semua merasakan derita yang Veli rasakan.


"Kamu udah makan Vel?" tanya Ziva.


"Udah Ziva, makasih ya kalian selalu ada di sini buat aku!" Veli terharu, di saat ia terpuruk dan terluka semua ada untuk dirinya.


"Nggak boleh bicara begitu, kita ini keluarga," Ziva kini memeluk Veli, kini mereka semua bagaikan keluarga yang dilahirkan dari rahim yang sama. Padahal tidak sama sekali, di keluarga mereka tidak ada iri maupun menyakiti mereka bahagia dan terluka bersama-sama.


"Aku nggak tau Ziva, aku nggak tau giman aku dan Kiara tapa Mas Aran," Veli kembali sesegukan, air mata yang sedari tadi ia tahan kembali tumpah tanpa sanggup di bendung.


Ziva mengusap pundak Veli, "Sabar ya Vel, kamu itu kan kuat.....kamu harus kuat demi Kiara...."


"Aku nggak tau Ziva....aku nggak tau entah aku bisa atau nggak...." sesegukan itu masih saja lolos dari bibir manis wanita itu, ketika separuh napasnya menghilang entah kemana dan separuhnya lagi tersisa.


Anggia juga memeluk Veli, ketiga nya saling berpelukan dalam saling menguatkan.


"Aku juga ikut dong," Seli yang baru saja datang bersama Arman juga langsung ikut berpelukan bersama yang lainnya.

__ADS_1


"Kita ada kok buat kamu," kata Anggia.


"Makasih...." Veli memeluk erat dan ia tetap berusaha kuat, rasa sakit melahirkan pun belum sembuh. Kini sudah datang lagi luka yang baru, luka itu tertimbun tanpa bisa di tahu hingga kapan dan sampai kapan.


__ADS_2