Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 52


__ADS_3

"Ziva pusing Ma," Ziva duduk di sofa dan memijat kepalanya, kelakuan anak-anak itu memang membuatnya cepat naik darah.


"Sabar," Oma Sinta langsung duduk di samping Ziva, "Wajar kalau Zie nakal begitu dulu juga Vano nakal banget, jadi nular sama anak-anak nya," kata Oma Sinta sambil terkekeh.


"Mama apasih, kenapa bawa-bawa Vano," Vano tidak terima nama nya di sebut-sebut, apa lagi Sinta mengatakannya di depan Ziva.


"Lho memang begitukan!" kata Sinta.


Dret...dret...dret...


Ponsel Bilmar berdering, ia bisa melihat nama Anggia dia sana. Bahkan dengan emoji love di ujung namanya.


"Sayang," Kata Bilmar setelah panggilannya terhubung. Namun sesaat kemudian Bilmar menjauhkan ponselnya dari telinga karena Anggia yang mengomel tiba-tiba, bahkan dengan suara meninggi.


"Ada apa Bil?" tanya Sinta penasaran.


"Bilmar pusing Ma, kata Anggia Alfa, Alif, Bastian, Chandra, Davit, Kevin, Gibran, sama Alfin bikin ulah, mereka menggoreng kelinci punya tetangga," jelas Bilmar, menyampaikan hal yang tadi dikatakan oleh Anggia.


"Ya ampun," Vano menepuk kepalanya, "Tidak ada yang benar.....semua bocah itu hanya bisanya bikin ulah," Vano langsung mendudukan dirinya di sofa.


"Mas pusing?" tanya Ziva.


"Pusing yang," jawab Vano.


"Sama!" kata Ziva lagi.


"Ma, Bilmar ke rumah dulu ya....tolong bujuk Alma sama Zie untuk sekolah," pinta Bilmar.


"Iya, nanti Mama coba," kata Sinta. Sebenarnya ia sedikit ragu, tapi tidak ada salahnya mencoba pikir Sinta.


"Bil, aku ikut..... kata Vano," karena di sana juga ada keempat anak nakalnya.


"Ziva juga Mas," pinta Ziva.


"Ya sayang," Vano menarik lengan Ziva dan keduanya pergi ke rumah Bilmar.


Tidak menunggu terlalu lama, kini ketiganya turun dari mobil dan mulai memasuki rumah Bilmar.


"Assalamualaikum....." kata Bilmar, dan Vano juga Ziva.


Anggia yang duduk di sofa dengan seorang nenek yang tengah menggiling tembakau pada mulutnya mulai melihat Bilmar dan dua lainnya.


"Waalaikumusalam," jawab Anggia, "Abang, bocah-bocah itu sudah menggoreng Burung tetangga," jelas Anggia.


"Burung tetangga?" tanya Bilmar, ,"Bukannya kamu bilang barusan di telpon kelinci?" tanya Bilmar.


"Anggi salah bilang, sebenarnya burung...." jelas Anggia lagi.

__ADS_1


"Burung?" tanya Vano yang ikut melongo.


"Kok aku ngilu ya Vano," ujar Bilmar pada Vano.


"Aku juga ngerasa mendadak nggak nyaman," kata Vano bergidik ngeri.


Nenek yang menjadi korban kenakalan bocah ingusan itu langsung berdiri, dan berkacak pinggang, "Anak kalian itu sudah memotong burung suami saya!Bahkan menggoreng nya," kata Nenek itu lagi.


"Apa!!!" seru Bilmar dan Vano, keduanya refleks karena mendengar apa yang di katakan wanita tua di hadapannya.


"Itu burung kesayangan suami saya, sekarang suami saya sudah tua dan dia merawatnya dengan baik, tapi anak-anak itu malah memotong dan menggoreng nya, hati saya sakit!" kata Nenek tersebut dengan penuh amarah.


"Assalamualaikum....."


"Assalamualaikum...."


"Assalamualaikum...."


Suara bocah-bocah nakal yang baru saja pulang sekolah, mereka masih dengan seragam sekolah nya dan ransel yang melekat di punggungnya.


"Waalaikumusalam....." jawab Ziva.


Kelima pasang mata langsung melihat pada bocah itu dimana ada, Alif, Alfa, Bastian, Chandra, Davit, Kevin, Alfin, Gibran. Kedelapan nya terlihat berdiri sambil memasang wajah polosnya, terutama Davit yang bahkan ingusnya tengah keluar dari hidung nya.


Kruk....


Davit menariknya kedalam dan keluar lagi masih sama saja Davit kembali menariknya masuk kembali.


Kruk.....


Vano juga merinding melihat kecebongnya Davit yang memang cukup jorok sekali.


"Lap ingus mu!" kata Vano kesal.


"Ngga ada tisu Ya," kata Davit.


"Pakai baju!" kesal Vano. Karena ia kesal pada Davit. Anak CEO mengatakan tidak memiliki tisu terdengar sangat aneh.


"Iya," Davit mengangguk, ia mendekati Vano dan menarik jas Vano.


Kruk.....


Kruk.....


Davit langsung membuang ingus nya pada jas Vano, setelah itu ia menjauh.


"Davit!" Vano sangat kesal pada Davit, bayangkan saja bocah itu malah dengan santainya menjadikan jas ya sebagai tisu. Bahkan cendol berwarna hijau tertinggal di sana.

__ADS_1


"Kan tadi Ayah bilang lap pakek baju, David mau lap pakek kas Ayah," jawab David santai.


"Davit...." mata Vano mulai memerah, sampai akhirnya Ziva mengusap punggung Vano.


"Ayah, Davit masih anak-anak," kata Ziva karena Davit memang masih duduk di bangku TK.


"Kelakuannya sudah lebih dari dewasa!" kesal Vano.


"Sudah......sudah.....!!!" Nenek yang merasa korban merasa di anggurkan, hingga ia kesal, "Kalian harus tanggung jawab, dengan buru g suami ku!" tegas Nenek itu.


"Anak-anak semuanya apa benar kalian kemarin menggoreng burung Nenek ini?" tanya Anggia yang ingin masalah segera selesai.


"Bukan burung Nenek ini Mom, Nenek ini mana ada burung!" jawab Alif.


"CK....." Anggia berdecak kesal, "Iya Maksud Mom burung yang di pelihara Nenek ini?"


"Bukan burung saya, tapi suami saya di rumah....itu burung peliharaan suami saya," jelas Nenek itu lagi, karena menurutnya Anggia salah berbicara.


Ziva mendekati Anggia, kemudian ia menarik Anggia menjauh dari yang lainnya, "Burung apa sih yang di bahas?" tanya Ziva sambil menahan tawa.


"Kata Nenek itu, suaminya punya burung Kacer tapi diambil anak-anak kita, dan aku tanya sama Art katanya kemarin mereka memang di perintahkan bocah ingusan itu menggoreng seekor burung..... berarti kan memang benar anak-anak nakal itu yang mengambil burung nya," jelas Anggia.


"Yang di potong burung Kacer Kakek kok Nenek yang marah?" tanya Ziva lagi.


"Mmmmfffffpp......." Anggia juga menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh Ziva.


Hingga datang seorang Kakek dengan tongkat di tangannya, "Ini bocah yang ambil burung saya!" kata Kakek itu.


Semua melihat pada Kakek tersebut, ia sangat marah pada delapan bocah yang mengambil burung peliharaan nya.


"Nggak kita nggak ambil apa lagi nyuri burung itu," kata Alfa membela diri.


"Iya Davit juga nggak nyolong."


"Kevin juga nggak nyolong, makannya juga terpaksa!" kata Kevin, Kevin adalah putra dari Aran ia merasa tidak bersalah jadi harus bisa membela diri.


"Kenapa terpaksa?" tanya Anggia bingung.


"Karena enak," jawab Kevin, "Di cocok pakek saos tomat rasanya enak," Kevin menutup mata seakan membayangkan jika saat kemarin ia sedang menikmati burung yang lezat itu.


"Ya ampun," Ziva memijat kepalanya, anak Veli dan Aran itu memang jenius sekali. IQ mereka sangat tinggi mu bahkan sekarang saja sudah sulit untuk di kalahkan.


"Sama Chandra juga, cuman makan sedikit aja!"


"Kamu kenapa lagi?" tanya Anggia pasti bocahnya itu juga punya alasan yang tidak kalah tidak masuk akal, "Kenapa cuman makan sedikit?!"


"Karena kita delapan orang dan burungnya kecil jadi cuman dapat bagian sedikit..." jawab Chandra.

__ADS_1


"Anak mu Abang, ini anak mu urusih!" kesal Anggia pada Bilmar.


"Giliran yang begini anak mu, nanti pas mereka lagi baik bilangnya ini anak Mommy," gumam Bilmar.


__ADS_2