Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 41


__ADS_3

Aran sudah siap dengan kemeja putih dan jas hitam di tubuhnya, seorang penghulu pun sudah berada di hadapannya. Lima menit kemudian seorang wanita duduk di sampingnya, wanita itu terlihat tidak waras yang terus mengucapkan nama Aran.


"Aran kamu di sini pasti buat aku kan?" tanya wanita itu dengan senyuman.


Aran diam sambil memperhatikan wanita tersebut Aran mendekat dan berbisik di telinga gadis itu.


"Ok..." gadis itu mengangguk setelah mendengarkan apa yang di katakan Aran, dengan cepat ia bangun dari duduknya dan mengambil senjata api dari kantong salah satu pengawal yang berada di sampingnya. Cepat-cepat ia memberikannya pada Aran.


"Rani apa yang kau lakukan?" tanya Harlan panik.


Dengan gerakan cepat Aran menarik Rani dan ia jadikan sanderanya, sebuah senjata api berada di kepala Rani.


"Aran apa yang kau lakukan?" Harlan semakin panik saat Aran menadahkan senjata api itu di kepala sang adik.


Aran tersenyum dengan penuh arti, "Apa kau mau adik mu ini tetap hidup?" tanya Aran.


"Kalau kau berani! Habis kau!" Harlan mengepalkan tangannya.


"Hahahaha...." Aran tertawa dan pergi dari tempat tersebut dengan ikut menarik Rani bersamanya, "Kalian semua minggir atau ku pecahkan kepala wanita ini?!" tutur Aran pada pengawal yang mencoba mencegah dirinya, "Harlan, kau tahu siapa aku bukan?" Aran menatap Harlan dengan tajam.


"Mundur!" titah Harlan pada para pengawalnya.


"Bagus!" Aran langsung pergi keluar dari rumah kecil tersebut, ia menaiki mobil milik Harlan dengan Rani yang masih berada di sebelahnya.


"Aran kita mau kemana?" tanya Rani sambil melihat jalanan, wanita itu kadang tertawa. Namun kadang ia menangis dalam waktu yang bersamaan.


"CK...." Aran tidak perduli pada setiap ocehan Rani, akan tetapi ia sangat kesal dengan mobil Harlan yang mengikutinya dari belakang sana. Aran menambahkan kecepatan mobil, ia tidak perduli dengan seberapa besar kecelakaan yang akan dapatkan. Bagi Aran dari pada terus hidup di bawah Kungkungan Harlan ia lebih memilih pergi dengan cara apa pun itu.


Setelah dua puluh kilo meter mobil yang di kemudikan Aran mendadak mati, Aran menyadari jika bahan bakar mobil tersebut habis. "Sial," Aran memukul kemudi Ia melihat ke belakang ada sebuah mobil yang ikut berhenti, ia kembali mengambil senjata apinya dan menarik Rani ikut keluar dengan dirinya.


"Aran kau tidak akan bisa pergi," kata Harlan dengan angkuhnya.

__ADS_1


"Benarkah?!" Aran tidak mau menjadi lemah, bayangan Kiara selalu menghantuinya. Rindunya pada Kiara sudah tidak bisa terbendung lagi, hingga ia akan berusaha lolos walau dengan cara apapun.


"Lepaskan adik ku!"


"Kalau kau mau melepaskan aku!"


Harlan terdiam, "Kau akan aku lepaskan, asal adik ku kau lepaskan!"


Aran menggeleng, "Kau pikir aku sebodoh itu?" Aran menarik pelanuk senjata api di tangannya dan mengalahkannya ke kepala Rani.


"Aran......!" Harlan mengepalkan tangannya, "Jangan pernah kau lakukan itu!"


"Kalau begitu minggir," Aran mendekati mobil milik Harlan, dengan terpaksa Harlan menjauh. Hingga cepat-cepat Aran masuk kedalam mobil tersebut sambil menarik Rani.


"Aran kita tukar mobil lagi ya?" Rani tanpaknya berpikir semua baik-baik saja, hingga ia pun tidak tahu kini ia adalah sandera.


"Dasar gila," Aran cepat-cepat menyalakan mesin mobil tersebut, sesaat kemudian ia membuka kaca jendela mobil dan mengeluarkan sedikit kepalanya, "Berani kalian mengikuti ku, maka tamat sudah wanita ini!" setelah mengatakan itu Aran menginjak gas dengan kuat hingga kecepatannya pun begitu tinggi. Sesekali Aran melihat kebelakang dan tidak ada yang mengikutinya, hingga bibir Aran tertarik dan dua puluh kilo meter berlalu Aran menemukan pedesaan. Aran merasa kini lebih segar dengan pemukiman warga, matanya menatap seorang pria paruh baya yang tengah mengangkat kayu dan Aran. menghentikan laju kendaraannya, "Pak numpang tanya, apa perkotaan masih jauh dari sini?"


"Terima kasih Pak," kata Aran kemudian ia kembali melajukan kendaraannya.


Lima jam berlalu mobil yang di kemudikan Aran kembali mengalami kehabisan bensin, sedangkan untuk sampai di kota ia masih butuh waktu tiga jam lagi. Ia turun dari mobil tanpa membawa Rani yang tengah tertidur lelap, hanya senjata api yang ia masukan kedalam saku celananya. Aran terus berjalan kaki sambil sesekali matanya melihat kebelakang, menantikan tumpangan. Berulangkali ia meminta mobil yang melewatinya berhenti, tapi tidak satu pun yang mau memberikannya tumpangan mungkin karena penampilan Aran yang sudah seperti penjahat hingga-hingga orang takut.


Aran berdiri di tengah jalanan, ia menadahkan senjatanya pada mobil pick up yang melintas. Tidak ada cara lain yang membuatnya bisa sampai di kota selain cara tersebut.


Aran naik keatas mobil tersebut, wajah si pemilik mobil terlihat memucat, "Berikan ponsel mu!" kata Aran.


"Tuan jangan bunuh saya," jawab pemilik tersebut dengan bergetar.


"Berikan ponsel mu kalau kau mau hidup!"


Dengan tangan bergetar ia memberikan ponselnya, "Ini Tuan."

__ADS_1


Aran cepat-cepat mengambilnya, "Apa kau mau ke kota!"


"Iya tuan...."


"Cepat nyalakan mobilnya dan jalankan!" titah Aran.


Dengan tubuh bergetar ia menjalankan mobilnya, jantung laki-laki tersebut sudah berdetak kencang bersamaan dengan keringat dinginnya.


Sementara Aran langsung menghubungi Bilmar, berulangkali ia menghubungi Bilmar namun tidak satu kali pun panggilan itu di jawab. Waktu memang sudah tengah malam, jam menunjukan pukul satu malam. Akhirnya Aran mengirimkan sebuah pesan, dan lokasinya agar saat Bilmar melihat ponselnya Bilmar dapat melacak keberadaan dirinya pasti tidak jauh dari sana.


Cittt.


Aran dan pemilik mobil itu terhuyung ke depan saat sebuah mobil menghadang dirinya.


"Kurang ajar!" gumam Aran karena ternyata Harlan dan para anak buahnya masih mengikuti dirinya.


"Turun!" perintah Harlan.


Aran turun dengan perasaan kesal, matanya dengan tajam menatap Harlan.


"Sudah aku katakan kau tidak akan bisa lolos!" tutur Harlan dengan bangga, "Habisi!" perintah Harlan pada anak buahnya.


Aran cepat-cepat lari kedalam hutan, ia sadar ia hanya sendiri dengan luka si sekujur tubuhnya. Ia takut mereka akan menghabisi dirinya sementara ia hanya sendiri saja, akhirnya Aran lebih milih berlari sambil mencari tempat bersembunyi.


"Kejar!" teriak Harlan yang langsung di kerjakan pengawal.


Aran terus berlari bahkan berulangkali ia tergelincir, hingga akhirnya ia memasuki jurang yang cukup dalam. Aran terguling-guling hingga akhirnya kepalanya terbentur sebuah batu besar.


Buuk.


Darah segar mengalir seketika, dalam sekejap pandangan Aran berubah menjadi gelap. Harlan dari kejauhan tersenyum melihat kondisi Aran yang sudah sangat mengenaskan.

__ADS_1


"Ahahahhah.....itu lebih baik!" teriak Harlan dengan bangganya, "Itu akibatnya karena kau berani menantang ku Aran!"


__ADS_2