
Veli menangis meluapkan segala kepiluan yang selama ini ia rasakan, dadanya semakin sesak saat melihat Aran dalam keadaan yang cukup memprihatinkan.
"Mas bangun....hiks....hiks....." Veli merindukan saat-saat Aran tersenyum padanya, saat-saat Aran memeluknya. Mungkinkah semua bisa di ulang kembali, "Mas bangun, Mas nggak kangen sama Veli sama Kiara," lirih Veli.
Siang harinya Anggia meminta Veli untuk pulang ke rumah, namun tanpaknya Veli terlalu berat untuk meninggalkan Aran.
"Veli kamu harus pulang, kasihan Kiara....." pinta Anggia penuh harap.
"Tapi aku mau temenin Mas Aran Ngi," mata Veli berkaca-kaca, ia tidak kuasa melihat keadaan Aran.
"Ingat Kiara Vel, Aran pasti di sini baik-baik aja.....yang lainnya bakalan di sini jagain Ara, kasihan Kiara Vel," jelas Anggia lagi berusaha membujuk Veli.
Mendengar nama Kiara Veli mulai menatap Anggia, ia tidak boleh egois, "Ya.... udah temenin aku di rumah ya Ngi," pinta Veli kemudian ia menatap Bilmar, "Mas Bilmar kalau ada papa cepat kabarin Veli ya...."
Bilmar mengangguk dengan cepat, "Anggia, ayo bawa Veli pulang dulu kasihan Kiara," tutur Bilmar pada Anggia.
Dengan perasaan yang masih terasa sakit dan kaki yang berat melangkah, Veli terpaksa meninggalkan Aran terbaring di saja. Matanya terus menitihkan air mata melihat keadaan sang suami yang sangat ia cintai, bibirnya terus saja bergetar.
"Kamu harus yakin kalau Aran akan baik-baik saja," Anggia terus berusaha menguatkan Veli, berulangkali ia mengelus pundak Veli berusaha memberi kekuatan pada sang sahabat.
Satu hari sudah berlalu Aran sudah melewati masa kritis nya, akan tetapi ia belum juga sadarkan diri. Veli lagi-lagi masih setia menunggu Aran, dengan doa-doa yang terus ia lantunkan pada sang pencipta berharap Aran segera sadar.
Dua hari kemudian Aran mulai mengerjakan matanya, perlahan netral nya menatap ruangan yang berukuran cukup luas. Matanya menatap Ratih yang setia menantinya di sana, Aran tersenyum lembut saat Ratih juga tersenyum pada dirinya. Aran terharu sekali, Ratih memang bukan wanita yang melahirkannya. Tapi kasih sayang yang di berikan Ratih sungguh membuat Aran lupa jika Ratih hanya Kakak dari Ibunya yang sudah lama tiada.
"Aran kamu sudah sadar Nak," Ratih berulang kali menghapus jejak air mata saat melihat Aran, ia terharu dan tidak menyangka Aran bisa kembali lagi walaupun keadaan sangat memprihatinkan.
__ADS_1
"Mi," Aran mencoba untuk bangun, namun Ratih melarangnya.
"Kami berbaring saja dulu ya," Ratih kembali membantu Aran untuk berbaring.
"Tapi Aran pengen duduk Mi, badan Aran letih Mi," terang Aran.
"Ya sudah.....tapi Mami bantu," Ratih membantu Aran untuk duduk, bahkan ia tidak menjauh sedikitpun dari Aran.
"Akhirnya lu sadar juga Ran," kata Bilmar yang baru saja masuk bersama dengan Vano.
"Emang gw udah lama banget ya di sini?" Aran kembali mengingat saat ia terjatuh dari ketinggian dan kepalanya menghantam benda yang keras.
"Iya, tapi lu sekarang udah baikan ya?" tanya Vano juga ikut menimpali.
"Iya."
"Ini sungguh luar biasa, tuan Aran sudah sangat membaik," terang dokter Darmawan.
"Apa tidak ada yang harus di periksa lebih lanjut dok?" tanya Ranti.
"Sepertinya tidak, tapi kita lihat sampai nanti kalau memang di butuhkan pemeriksaan lanjutan maka kami akan melakukannya," terang dokter tersebut.
"Baik dok, terima kasih," Ratih tersenyum dengan perasaan yang lega, puji syukur terus ia lantunkan pada Allah yang maha esa atas kebesarannya hingga semua baik-baik saja.
"Pala lu sakit nggak bro," tanya Bilmar.
__ADS_1
"Enggak terlalu sih," jawab Aran.
"Sorry ya Ran, kita nggak datang saat lu lagi bener-bener butuh," Bilmar menunjukan raut wajah menyesal saat mengingat bertapa menderitanya Aran.
"Iya Ran, gw juga minta maaf gw nggak nyangka banget....tapi gw bersukur lu udah balik ke tengah-tengah keluarga ini," terang Vano juga yabg ikut merasakan kesedihan.
"Assalamualaikum....." terdengar suara Veli yang masuk, ia tadi pulang sebentar karena harus memberi asi pada Kiara.
"Waalaikumsalam....." jawab Ratih dengan senyuman.
Veli melangkah masuk dengan menunduk, perlahan ia menatap Aran yang tengah duduk di atas ranjang. Bibir Veli bergetar dengan air mata yang berlinang, ia ingin berteriak saat menyadari Aran ternyata sudah sadarkan diri.
"Mas....." lirih Veli, cepat-cepat ia memeluk Aran tanpa perduli ada beberapa keluarga di sekitarnya, "Mas, Veli kangen.....hiks...hiks...." Veli menangis meluapkan segala kepiluan dan kerinduan yang selama ini ia rasakan, "Mas kenapa pergi dan nggak pulang-pulang, Mas nggak kangen sama Veli sama Kiara juga?" Veli terus bertanya sambil memeluk Aran, ada banyak hal yang ingin ia tahu. Ada banyak hal yang ingin ia katakan pada Aran karena kerinduan. yang terus semakin membuncah, mamun sesaat kemudian Veli menyadari jika Aran sepertinya biasa saja, ini bukanlah Aran yang ia kenal, "Mas nggak kangen sama Veli....hiks....hiks....." Veli menangis dan semakin berteriak karena Aran hanya diam bahkan tidak membalas pelukannya.
"Siapa ya?!" tanya Aran seolah ia kebingungan dengan wanita yang kini memeluknya.
"Siapa?" Veli mengulangi pertanyaannya Aran, perlahan ia melepaskan Aran yang sedari tadi ia peluk erat, berulang kali ia menggeleng dan tidak percaya dengan pertanyaan Aran, "Mas lupa sama Veli?" bibir Veli kembali bergetar, dengan mata yang berkaca-kaca sedetik kemudian air matanya kembali menetes.
"Iya kamu siapa?" tanya Aran kemudian ia menatap Ratih, "Mi, dia siapa?" tanya Aran.
Ratih diam tanpa menjawab, ia kemudian menatap Veli, "Veli sebaiknya kamu menjauh saja, Aran tidak ingat pada mu....Mami takut malah bisa memperparah keadaannya," kata Ratih.
Veli mendadak kehilangan kata-kata, ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Aran sungguh membuat ke piluannya semakin terasa, seharusnya saat ini ia sudah bahagia tersenyum dengan penuh tawa. Tapi yang ia dapati justru duka nestapa yang tiada akhirnya, hati nya seakan tersayat-sayat saat mengetahui Aran melupakan dirinya. Apakah memory yang begitu indah bersamanya harus terlupakan begitu saja, mengapa memory yang mengukir kebahagian dulu saat bersama menghilang begitu saja.
"Mas, aku istri mu....." terang Veli dengan penuh kepiluan.
__ADS_1
"Istri?" Aran menatap Veli, seakan ia kebingungan dengan kata istri yang di sebutkan oleh Veli.
"Mas....." Veli tidak tahu lagi harus berkata apa, kesetiaan nya menunggu ternyata berakhir air mata. Sakit sungguh sakit saat suaminya sendiri tidak mengenali dirinya lagi, "Mas kita sudah punya anak, namanya Kiara," Veli masih berusaha mengingatkan Aran tentang dirinya dan buah cinta mereka tanpa mengenal kata menyerah.