
Malam ini adalah acara makan malam syukuran di rumah baru Veli dan Aran, semua keluarga hadir tidak ada satu pun yang tertinggal. Veli sangat tidak suka dengan bau makanan dan akhirnya ia duduk bersantai di sofa bersama dengan bayi-bayi lucu juga tentunya. Sedangkan yang lainnya tengah menikamati makan malam.
"Nanti kita bakar-bakar yuk," kata Aran, semenjak Veli mengandung Aran sangat suka sekali makan.
"Bakar apa?" tanya Vano.
"Pengennya bakar jagung," jawab Aran sambil meminta Sinta mengambilkan ikan goreng untuk dirinya.
"Kirain bakar jenggot lu," kata Bilmar, sambil mencolek dagu Anggia.
"Ish....." Anggia kesal, ia menepis tangan Bilmar, sebab di sana bukan hanya ada mereka saja. Tapi ada mertua dan juga kedua orang tua Veli.
"Sialan lu," Aran kesal sebab Bilmar selalu mengajak nya untuk ribut.
"Boleh lah, Mama ikut ya," kata Sinta yang terlihat antusias.
Bilmar, Aran, Vano dan Arman saling pandang, tampaknya otak mereka kini tengah bekerja sama untuk mengerjai sang Mama.
"Ini khusus anak muda Ma," jawab Arman.
"What......." Ratih yang merasa tersindir mendadak terkejut, walaupun ke empat peria itu mengatakannya pada Sinta tapi entah mengapa ia juga ikut tersindir, "Mami sama Mama masih muda, masih kuat. Kamu jangan kurang ajar," jawab Ratih kesal.
"Arman kan ngomongin Mama Sinta bukan Mami Ratih, kok malah Mami yang tersinggung sih?" kata Arman.
"O.....aku tahu," Vano juga ikut menimpali pembicaraan Ratih dan Arman, "Mami kan emang udah tua, jadi nggak mau di bilang tua. Cie yang tua tapi sok muda....." lanjut Vano.
"Hey, jangan durhaka ya. Mami kutuk jadi kodok mau!" ucap Ratih yang tak mau kalah.
"Jangan Mi," Vano menangkup tangannya seolah tengah memohon.
"Makanya jangan," lanjut Ratih lagi.
"Jangan nggak jadi Mi," kata Vano.
"Kok gitu?" Sinta juga malah ikut penasaran.
"Karena kalau Vano jadi kodok, Vano bakalan nempel terus sama Mami," Vano terkekeh melihat wajah Ratih yang ketakutan, sebab mereka tahu Ratih sangat takut pada kodok.
"Mi kodok Mi," kata Bilmar menunjuk belakang Ratih.
"Papi......" Ratih langsung berdiri di atas kursi meja makan karena ketakutan.
__ADS_1
"Mami mah..... malu-malu in ada besan tau Mi," kata Arman menunjuk kedua orang tua Veli yang tengah duduk manis.
"Hehehe, maaf ya jeng. Ya beginilah kalau mereka sudah bergabung," kata Sinta tersenyum lembut para Laras.
"Iya jeng, sama aja. Di rumah juga begitu kalau udah gabung Veli dan Kakak nya Raka aduh udah rame jeng....." jelas Laras mengingat bagaimana bila Raka dan Veli bila sedang bertengkar.
Sinta tersenyum begitu pun dengan Laras, sementara Ratih dengan cepat turun dari kursi. Wanita latah itu memang cukup shock bila mengenai katak. Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat, dan itu Veli yang setelah berlari menuju kamar mandi.
"Hueek-hueek......." Veli berusaha memuntahkan isi perutnya, namun yang keluar hanyalah air saja.
"Veli," terlihat Aran datang menyusul Veli yang tengah memuntahkan isi perutnya.
"Hueek-hueek......"
"Sayang kau tidak apa-apa?" Aran terlihat begitu panik melihat keadaan Veli.
"Sekarang panggilnya sayang, ya....." terdengar suara Ratih yang baru saja ikut masuk ke kamar mandi melihat keadaan Veli.
Aran tersenyum melihat Ratih yang kini malah terlihat menggodanya, "Mami apasih....." Aran mencoba tetap tenang saat berhadapan dengan Ratih.
"Sudah, kamu sekarang bawa sayang, eh....maksud Mami Veli ke kamar ya," Ratih sengaja mengejek Aran, karena Ratih merasa lucu dengan Aran dan Veli yang kini terlihat sangat romantis. Sangat berbeda sekali saat beberapa bulan lalu, saat pertama kali keduanya bertemu.
"Mami......" Aran menatap Ratih dengan 5ajam, ia tahu Ratih mengejeknya.
Kini Veli sudah berada dalam kamar dengan bantuan Aran tentunya, semua keluarga juga ada di sana melihat keadaan Veli.
"Huekkkk......" Veli kembali merasa mual.
"Aran kamu ambilin minyak angin," pinta Sinta.
"Iya Ma," Aran mencari minyak angin sesuai yang di pinta Sinta.
"Kamu mau kemana?" tanya Ratih saat melihat Veli bangun dari ranjang.
"Veli kebelet Mi," jawab Ratih.
"Tunggu Aran dulu ya, biar di bantuin," kata Ratih takut terjadi sesuatu pada Veli.
"Iya Mi," jawab Veli sambil mendudukkan dirinya kembali.
"Aran cepat dong, Veli kebelet nih....." Ratih setengah berteriak memanggil Aran yang belum juga kembali mencari minyak angin.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Aran kembali, "Ini Mi," Aran memberikan minyak angin itu pada Ratih.
"Lama banget deh....." omel Ratih.
"Kan tunggu di beliin dulu Mi," jawab Aran.
"Ngapain di beli Mas, di dalam laci banyak," jawab Veli, sambil melihat satu lagi paper bag yang di bawa Aran, "Itu apa?" tanya Veli menunjuk tangan Aran.
"Ini Pampers," jawab Aran sambil menatap Veli, dan memberikannya pada Ratih.
"Buat apa?" Ratih bingung menatap Pampers tersebut.
"Kan katanya tadi kebelet," jawab Aran.
"Aran Rianda, ini yang mau kamu pakein Pampers siapa?" Ratih membuka pampers tersebut, dan melihat ternyata itu ukuran bayi, "Kamu pikir anak kamu yang masih di kandungan itu bisa pakai Pampers?" tanya Ratih dengan bingung.
"Iya juga ya Mi," Aran menggaruk kepala merutuki kebodohannya.
"Ahahahaa......" yang lain justru menertawai Aran habis-habisan, sebab Aran mendadak bodoh bila menyangkut Veli yang sedang sakit. Ia melakukan hal yang di luar pikiran orang lain.
"Situ sehat bro.....karyawan lu jangan sampe tau ya tentang kebodohan lu ini," kata Vano dengan tawa yang terpikal-pikal.
"Apaan sih....." kata Aran dengan kesal.
"Udah.....udah.....tadi Mami bilang apa sama kamu Aran?" tanya Ratih.
"Tadi Mami bilang ambililin minyak angin sama popok soalnya bayinya mules," jawab Aran menjelaskan apa yang tadi ia dengar.
"Aduh........" Ratih menepuk jidat mendengar jawaban Aran.
"Seharusnya lu beli juga Pampers buat lu, karena lu udah nggak beres. Ahahahahah......" Bilmar tak hentinya tertawa dan semua menjadikan Aran bahan tertawa.
"Kualat si lu, dulu lu niat nikahin Veli buat di mainin, sekarang udah cinta mati kan lu. Sedikit Veli sakit lu paniknya minta ampun," cecer Arman.
"Alah......lu juga sama modus sama Seli. Pas Seli di todong sama preman, lu nggak langsung nolong Seli kan? Yang ada lu ngasih tawaran kalau dia mau di tolong Seli harus jadi pacar lu," kesal Aran yang tak ingin terus menjadi bawan tertawaan.
"Sialan lu, nggak usah di ungkit bego.....!" kesal Arman yang mengingat bertapa suramnya masala lalunya saat ingin mendapatkan Seli.
"Lu juga nikahin Seli dengan maksa dia kan?" lanjut Aran lagi.
"Udah bego....." kesal Arman yang tak ingin orang tahu lebih banyak lagi tentang kelicikannya saat mendapatkan Seli.
__ADS_1
"Ahahahhaha......" yang lain tertawa lebar mendengar apa yang di katakan oleh Aran.