
Sudah jam empat sore dan itu artinya Aran akan segera pulang, Aran memang kini pulang lebih cepat karena ia sudah berjanji pada Veli selama Veli hamil ia akan selalu berusaha pulang tepat waktu. Dan benar saja bibir Veli tersenyum bahagia menatap suami tampannya yang kini tengah turun dari mobil, Veli merasa Aran berjalan mendekatinya dengan begitu tampa. Tapi Veli merasa Aran begitu lama berjalan mendekatinya hingga ia setengah berlari mengejar Aran, bahkan tanpa ba bi bu ia langsung saja memeluk sang suami.
"Mas, lama banget sih pulangnya, Veli kan kangen," kata Veli sambil merengek seperti anak kecil yang minta di belikan mainan, oleh sang Ayah.
"Sayang, lepas dulu," Aran berusaha menjauhkan Veli darinya.
"Kenapa?" Veli kesal dan bingung, namun tetap saja ia tidak mau melepaskan pelukannya.
"Lepas dulu," Aran lagi-lagi terus berusaha melepaskan tangan Veli yang melingkar di pinggangnya.
"CK......" Veli kesal dan ia langsung melepaskan Aran, "Mas udah nggak sayang sama Veli Mas jahat!" kesal Veli lalu pergi meninggalkan Aran dengan kesal.
"Sayang bukan begitu......" teriak Aran karena Veli sudah pergi jauh.
Veli yang mendengar suara Aran sejenak menghentikan langkah kakinya, ia berbalik dan melihat Aran. Namun itu hanya sebentar saja, setelah itu ia kembali lagi membalikan wajahnya lalu menaiki tangga menuju kamar meninggalkan Aran dengan kesal.
Aran tersenyum dan geleng-geleng melihat tingkah Veli yang kini sangat berbeda jauh di bandingkan dulu, dulu Veli kasar dan jutek. Namun seiring berjalannya waktu sipat asli Veli kini mulai keluar, dengan begitu cengeng dan manja dan Aran sangat menyukai tingkah sang istri yang seperti sekarang ini.
Aran melepas jas yang melekat di tubuhnya, ia tidak langsung masuk ke kamar. Akan tetapi ia langsung mengguyur tubuhnya di kamar mandi yang memang sudah di siapkan bagi siapa saja yang pulang harus membersihkan diri dulu di kamar mandi tersebut, karena masa pandemi seperti ini membuat Aran waspada akan penularan virus. Di tambah lagi sang istri tengah mengandung, tentu saja ia tidak mau terjadi hal yang buruk pada janin sang istri.
Selesai mandi Aran langsung menuju kamar, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk saja. Roti sobek nya sangat jelas sekali terlihat, biasanya Veli selalu mengantarkan baju ganti untuk dirinya. Namun kali ini sang istri tengah kesal dan tentu saja ia tidak akan mengantarkan baju, hingga akhirnya Aran kini sampai di kamar. Ia melihat Veli duduk di sofa, Aran berdiri dengan tampannya di depan Veli. Di tambah lagi ada butiran-butiran air yang menetes dari rambut dan menetes di dada bidangnya.
__ADS_1
"Veli sayang," kata Aran dengan suara berat dan tertahan.
Veli hanya diam membolak balik majalah di tangannya, ia sedang tidak ingin berbicara pada Aran.
Aran mengerti istri nya masih marah, hingga ia berjalan mendekat dan duduk di samping Vali. Namun dengan cepat Veli berdiri dan hendak pergi. Dan dengan cepat Aran kembali menarik Veli lalu duduk di pangkuannya, Aran mencoba memeluk Veli namun Veli tidak mau dan ia terus ingin melepaskan diri.
"Istri Mas ngambek?" tanya Aran sambil menyisir rambut sang istri.
"Mas udah nggak sayang sama Veli, Mas udah punya wanita lain pasti di luar sana. Pati ia mana mungkin enggak, kalau enggak ya nggak mungkin berubah," omel Veli.
Sedangkan Aran kembali tersenyum, ia melingkarkan tangannya pada perut buncit sang istri dan menyimpan wajahnya di tengkuk Veli. Tanpa perduli Omelan sang istri yang terus menerus tanpa henti.
"Mas denger aku nggak sih!" Veli di buat semakin kesal, hingga ia mendorong wajah Aran agar menjauhinya. Namun tetap saja Aran kembali mendekat padanya, "Mas, aku lagi ngomong! Kamu denger nggak sih."
"Yaudah, ngomong aja. Nggak ada yang larang sayang."
"Mas nggak menghargai aku banget ya, sana pergi lagian Kas juga udah punya yang baru kan?"
"Kok tau?" tanya Aran di telinga Veli dengan jelas.
"Nahkan? Ini aja udah terang-terangan banget, aku beneran kesel deh sama Mas, lepasin aku, alu mau pulang aja ke rumah Mama," kata Veli yang hampir menangis.
__ADS_1
"Sayang, nggak ada yang punya perempuan lain di luar sana, kamu kenapa sih? Kamu marah karena Mas nggak mau di peluk kamu pas tadi di luar? Iya kan?......tadi itu Mas baru pulang pulang istri Soleha ku sayang, Mas abis ketemu sama orang banyak, dan Ma harus membersihkan diri dulu, baru meluk kamu, Mas sayang sama kamu istri ku ini. Jadi Mas nggak mau pulang bawa penyakit" jelas Aran.
"Itu doang alasannya? Yakin," tanya Veli menatap Aran dengan penuh selidik.
Aran menarik napas, dan menyisir kembali rambut Veli dengan jari-jari nya, "Istri Mas lagi cemburu ya?"
Wajah Veli memerah saat Aran mengajukan pertanyaan itu, dan ia sangat malu sekali untuk saat ini setelah menyadari nya sendiri.
"Kalau pun lagi cemburu juga nggak papa, Mas seneng kok di cemburuin istri Mas, udah cantik, manis, sexy di cemburuin lagi, jadi Mas merasakan sangat di cintai," jelas Aran sambil menarik gemas dagu Veli.
"Ish.....Mas apasih!" Veli kini kembali merasa malu.
"Khumairah sayang, nggak ada yang lain selain kamu, coba kamu pegang di sini," Aran meletakan tangan Veli di dadanya, "Cuman ada kamu sayang nggak ada yang lain."
"Mas.....udah ah...." Veli kesal sangat kesal, ia ingin berteriak sekencangnya karena mendapat rayuan dari Aran. Rayuan Aran sungguh membuatnya menjadi tak menentu, bahkan dadanya rasanya kembang kempis karena tak kuasa lagi mendapat rayuan Aran.
"Mukanya merah banget, tambah gemes," Aran menarik pipi Veli dengan kedua tangannya, "Aduh cantiknya istri ku, ternyata aku baru sadar selama ini aku memiliki berlian yang bersinar begitu terang di rumah, dan dia istri ku cinta ku, ibu dari anak-anak ku, namanya Velisya Khumairah Rianda," Aran mengecup kening Veli dengan penuh cinta.
"Mas," Veli malu dan memeluk Aran dengan cepat.
"Hehehehe......" Aran terkekeh melihat tingkah istri lucu dan manjanya, Veli sangat membuat membuat lelahnya seketika menghilang. Rasa pusing menghadapi banyaknya pekerjaan seketika berganti menjadi rasa bahagia, padahal hanya dengan perlakuan sederhana sang istri. Sungguh Aran begitu bahagia dengan rumah tangga yang kini tengah mereka jalani, yang penuh cinta dan tawa bahagia begitu indah.
__ADS_1