Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 34


__ADS_3

Keesokan harinya.


Kini Veli tengah berbelanja di mall bersama dengan Aran, ia merasa sangat bahagia sekali karena ini untuk yang kedua kalinya ia bebas berbelanja tanpa ada batas. Seharunya ia sudah pergi berbelanja kemarin, tapi karena hujan begitu deras mereka menundanya hingga hari ini. Dan hari ini ia akan berbelanja sesukannya lagi. Biarlah orang menganggap kalau dirinya wanita matre, tapi Veli pun ingin bilang kalau wanita itu memang harus matre sebab tidak ada wanita di dunia ini yang ingin hidup susah, hanya saja tidak semua wanita seberuntung diri karena takdir memang berbeda jadi harus bersyukur dengan semua yang di berikan Allah pada kita. Di saat senang maupun susah.


Di saat Veli tengah asik berbelanja, ia merasa perutnya kembali mengalami kontraksi. Namun ia tetap berusaha tenang, ia duduk di sofa tanpa menunjukan raut wajah sakit. Sebab ia tahu Aran pasti akan mendadak menjadi bodoh bila ia menunjukan kesakitan nya apa lagi ini di tempat keramaian. Ia tidak ingin Aran malah menjadi tontonan orang-orang.


"Veli kamu kenapa?" tanya Aran melihat Veli mendadak duduk, padahal tadinya Veli sibuk memilih belanjaan.


"Mas, kita ketempat Anggia yuk....aku pengen lihat wajah dia...." kata Veli, padahal ia ingin di bawa ke rumah sakit.


"Tapi Anggia kan lagi di rumah sakit," kata Veli.


"Iya, aku pengen ketemu sama dia," Veli tetap ngotot untuk diantarkan ke rumah sakit, tapi ia tetap berusaha tenang dan tersenyum padahal ia sudah sangat kesakitan.


"Yaudah......" kata Aran.


"Mas, Veli boleh minta gendong nggak?" Veli bertanya sambil menatap Aran penuh harap, sebab ia sudah tidak kuat untuk berjalan.


"Veli kenapa? Kamu kenapa?" Aran mulai curiga jika Veli menyembunyikan sesuatu, tapi Veli terlihat baik-baik saja.


"Mas....Veli pengen gendong, kaki Veli nggak kuat jalan," pinta Veli lagi.


"Ya....udah......" Aran tidak mau banyak bertanya, ia langsung mengangkat Veli, dan membawanya ke rumah sakit sesuai keinginan Veli.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit, Veli tidak kuat lagi untuk turun dan Aran melihat Veli dengan keringat yang bercucuran.


"Veli kamu kenapa?" tanya Aran, sambil mengusap wajah Veli yang bercucuran keringat.


"Mas aku nggak papa....tapi panggilan perawatan aja, aku nggak kuat jalan," kata Veli yang mulai menunjukan wajah kesakitan nya.


"Veli apa perut kamu sakit?" Aran mulai panik, ia yakin Veli tengah kesakitan.


"Veli nggak papa, cuman Veli mau Mas panggilin perawat aja."


"Mas aja yang angkat," Aran cepat-cepat mengangkat Veli.

__ADS_1


Kini Veli sudah dibawa ke UDG, ia terus menahan sakit yang ia rasakan. Tangan Aran terus menggenggam tangan Veli seolah ia tengah memberikan ke kuantan pada Veli.


"Udah pembukaan delapan," kata Anggia, yang memeriksa keadaan Veli.


"Delapan?" Aran bertanya karena ia bingung, "Apanya yang delapan Anggia? Apakah itu berbahaya?" Aran kembali pada mode panik.


"Huuuufff," Veli menarik napas, karena kini ia pun tidak bisa lagi membuat Aran tetap tenang.


"Veli apa itu pembukaan delapan?" karena ia tidak mendapatkan jawaban dari Anggia akhirnya ia kembali bertanya pada Veli.


"Mas, nggak usah banyak tanya.....diem aja atau Veli cubit," Veli tidak ingin mendengar Aran banyak bertanya, jadi lebih baik ia marah saja.


"Tapi....." Aran tidak lagi lanjut bertanya karena melihat Veli menatapnya dengan tajam.


"Mas!"


"Iya sudah, tapi sekarang bagaimana? Kalau sudah pembukaan delapan terus bagaimana?" Aran bukannya diam, tapi tanpaknya ia sangat sulit sekali untuk diam.


"Mas!"


"Iya," Aran seperti kucing yang di siram air panas ia diam seketika, padahal Veli hanya menegurnya sedikit di iringi dengan tatapan tajam.


"Waktunya? Waktunya apa?"


"Aran sebaik nya kamu keluar dan hubungi Mama Laras, Mama Sinta dan Mami," perintah Anggia, karena ia kehilangan konsentrasi karena pertanyaan Aran yang konyol dan waktunya sangat tidak tepat.


"Tapi Anggia, gimana sama Veli," Aran ragu untuk keluar, ia sangat tidak ingin meninggalkan Veli sendirian.


"Dia tidak apa, ada aku di sini," jawab Anggia.


"Anggia aku di sini saja ya," Aran ingin menangis, karena ia tidak ingin keluar dan ingin menemani Veli.


"Aran keluar....agar semua cepat selesai!"


"Veli Mas di sini ya?...." Aran meminta penuh harap, hilang sudah wibawa CEO itu. Entah apa yang terjadi bila Bilmar tahu nantinya tentang keanehan Aran saat ini.

__ADS_1


"Mas keluar....."


"Yaudah....kalau apa-apa panggil Mas ya?" Aran terpaksa keluar walaupun dengan berat hati karena Anggia menatapnya kesal, dan juga agar Veli cepat di tangani.


"Sakit banget Ngi," rintih Veli yang tidak lagi menyimpan rasa sakitnya, sebab Aran sudah pergi. Ia sangat mencintai suami nya itu hingga ia benar-benar tidak ingin suaminya itu menjadi ketakutan lalu mendadak bodoh.


"Buatnya enak tapi...." seloroh Anggia.


"Anggia.....ini sakit banget lu masih sempat becandain gw ya!" Veli marah dan mulutnya komat-kamit tidak jelas.


"Diam! Mulut lu brisik.....pas nikah bilang sana sini, tapi pas buat anaknya diam-diam di kamar.....nggak ada bilang ke siapapun tapi pas lahiran baru nyariin orang lagi.....memang ya keterlaluan sekali," Anggia tidak ingin membuat suasana menjadi tegang, hingga ia lebih memilih membuat suasana menjadi hangat.


"Anggia....tolong sakit banget!"


"Gunain....lah ilmu yang selama ini lu pelajarin, biasanya lu jagonya kalau nolong orang lahiran, mau operasi juga lu hebat," kata Anggia lagi.


"Anggia sialan....sahabat gila....ini sakit banget!"


"Namanya juga mau jadi Ibu, coba kalau mau jadi pemanah pasti kamu keringetan aja...."


"Aduk....sakit nya....."


"Ayo ngedan ya.....satu.....dua....tiga....." pinta Anggia, "Iya sekali lagi, satu.....dua....tiga....." Anggia terus berusaha semampunya.


"Anggia sakit banget," Veli sudah mengeluarkan keringat.


"Iya sabar sayang....." Anggia mengelus perut Veli, "Anak Mommy Anggi, cepat keluar ya...biar ketemu sama Daddy Bilmar yang tampan," kata Anggia.


"Siapa bilang Daddy Bilmar, yang ada Papa Aran!" jawab Veli.


"Iya tau iya....." jawab Anggia, "Ayo mengejan lagi.....satu....dua.....tiga...."


OEeeee Oeeeeee.....


Terdengar tangisan bayi yang menggema di ruangan itu.

__ADS_1


"Aduh cantiknya anak Mommy," kata Anggia sambil menggendong bayi mungil Veli, "Selamat ya Vel, anaknya perempuan....." Anggia langsung memberikan bayi itu pada seorang bidan agar di bersihkan, dan ia kembali mengurus Veli hingga akhirnya Veli sudah siap dengan pakaian bersih dan ia berbaring.


Veli menatap bayi perempuan yang ada di pelukannya, ia menangis haru melihat sang anak.


__ADS_2