
Saat ini Zie tengah bersantai di sofa, ia duduk dengan cemilan di tangannya. Dan televisi yang menyala menjadi temannya.
"Zie," terdengar suara Alma yang baru saja masuk ke rumah Zie. Ia langsung duduk di sofa dengan ransel dan seragam sekolah nya.
"Alma kamu sekolah ya?" tanya Zie, karena Zie masih santai dan ia seperti tidak ingin pergi ke sekolah.
"Iya," Alma mengambil camilan Zie, dan ikut makan dengan santai.
Tidak berselang lama Ziva datang, dan ia melihat Alma dan Zie yang sedang menonton kartun kesayangannya di televisi yang berukuran cukup besar.
"Aduh Zie.....kamu kenapa masih santai di sini!" kata Ziva, "Cepat ke kamar dan ganti baju, ayo Bunda bantu," kata Ziva yang mendekati Zie.
Zie tidak mau ia malah menjauh, "Zie nggak mau sekolah Bunda, capek," keluh Zie.
Ziva menatap Zie dengan kesal, kemudian ia melihat Alma, "Alma berangkat sekolah duluan ya Nak," pinta Ziva, karena Alma sudah siap dengan seragamnya. Tapi tanpaknya Alma tengah menunggu Zie.
Alma menggeleng, "Alma juga nggak sekolah, kalau Zie nggak sekolah Bunda," Alma melepaskan ranselnya dan kembali duduk dengan santai.
Tidak lama kemudian Vano yang sudah siap dengan jas kerjanya, melewati ruang keluarga. Namun ia melihat istri tercinta nya dan juga dua bocah unik kesayangannya. Zie adalah putri satu-satunya Vano, dengan adik kembar Zie empat. Alfa, Bastian, Chandra dan Davit. Sedangkan Alma adalah putri dari Bilmar.
"Ada apa ini?" tanya Vano.
"Ayah lihat anak mu!" Ziva menunjuk Zie.
"Kenapa dengan anak Ayah?" tanya Vano, menatap Zie.
"Anak Ayah nggak mau sekolah, udah dua hari Zie nggak mau sekolah," kesal Ziva. Entah mengapa sudah dua hari ini Zie tidak mau berangkat ke sekolah. Satu hari Zie mengijinkannya, dua hari Ziva juga masih bisa mengerti dan untuk tiga hari Ziva sudah tidak bisa menahan amarah nya. Di tambah lagi Alma juga ikut mogok sekolah, karena Zie tidak mau sekolah.
"Kita bikinnya sama-sama ya Bunda, jadi Zie anak kita berdua!" tegas Vano.
Zie dan Alma saling melihat, keduanya bingung dengan pembahasan pasutri di hadapannya.
"Emang kita di bikin ya Alma?" tanya Zie pada Alma.
"Iya, aku pernah dengar..... Mommy sama Daddy bilang ngadon," kata Alma sambil melihat Zie, "Mungkin di aduk, pakek ramuan ya Zie?" Alam menatap Zie dengan bingung.
"Pakek rempah pilihan ya Alma, di aduk....terus di cetak!" lanjut Zie, keduanya benar-benar bingung dan butuh penjelasan mengenai hal itu.
Vano dan Ziva mendengar apa yang di bahas oleh Zie dan Alma, keduanya merasa bersalah dan merasa malu dengan apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Bunda bikin Zie itu gimana sih?" tanya Zie.
"Di cetak ya Bunda?" tanya Alma juga.
Ziva memijat kepalanya, kepintaran Zie memang di atas rata-rata. Dengan gigi ompong dan rambut keriting nya ia bertanya begitu polosnya. Ziva tidak ingin membahas hal itu dan ia akan berusaha untuk menjaga bicara saat berdekatan dengan anak-anak nya setelah ini.
"Zie sekarang sekolah, ayo Bunda bantu pakai seragam sekolah!" Ziva mendekati Zie.
"Nggak mau Bunda, capek, lagian percuma sekolah buat apa? Yang ada bikin pusing enakan duduk di rumah, di sekolah belajar inilah itulah," Zie menunjukan seolah ada guru di hadapan nya dan memberikan tugas padanya, dan yang membuat unik adalah air liur Zie ikut keluar saat berbicara.
"Jorok banget sih Zie!" kesal Vano karena liur Zie mengenai dirinya.
"Hehehe......" Zie tersenyum dan menunjukan dua baris gigi rapinya, tapi jangan lupa dua gigi bagian depan atasnya sudah tidak ada.
"Dasar ompong!" kesal Vano.
"Sudah-sudah!!!" kesal Ziva, "Sekarang kaku sekolah Bunda nggak mau tahu! Alma juga sekolah!"
"Buat apa sekolah Bunda, presiden udah ada, dokter ada Mommy Anggia, ada Mama Veli, Presdir ada Ayah, ada Papa Aran, Daddy Bilmar, Ada Om Arman yang kerja juga, dan Bunda jadi ibu rumah saja!" jelas Zie seolah ia sangat benar.
"Bukan ibu rumah saja Zie!" kata Alma yang mengkoreksi pembicaraan Zie.
"Ibu rumah tetangga!" kata Alma lagi.
"Bukan ibu rumah tetangga, tapi Ibu rumah tangga!" jelas Vano, sambil menggelengkan kepalanya. Karena tidak ada yang benar.
"Sama aja!" Zie mengibaskan tangannya seolah Vano salah dan ia yang benar.
"Dasar bocah edan!" Vano sangat kesal pada Zie, karena keduanya memang tidak pernah akur. Bahkan mereka seperti musuh bebuyutan.
"Diam!" teriak Ziva, ia mengangkat kedua tangan nya. Kepalanya hampir pecah menghadapi Zie yang terlalu pintar, Alma yang selalu menambahkan bumbu-bumbu kesalahan dan Vano yang terus bertengkar dengan Zie.
Vano, Zie dan Alma seketika diam dan ia melihat Ziva.
"Kenapa Zie nggak mau sekolah?" tanya Ziva, agar ia mendengar alasan Zie.
"Sekolah bikin capek Bunda, kan dokter udah ada, Bu gulu ada pak kepala sekolah ada, semua udah ada Zie buat apa nantinya? Buat Ibu lumah tentangga? Zie mending di lumah aja!" kata Zie dengan cadelnya.
Vano dan Ziva melihat Zie dengan melongo, jawaban Zie sangat jenius sekali. Hingga empat jempol pun tidak cukup untuk di berikan pada Zie.
__ADS_1
"Sekarang Zie sekolah! Ganti baju sekarang!" kata Ziva berkacak pinggang sambil menatap Zie kesal.
"Assalamualaikum cucu Oma!!!" Oma Sinta datang dengan membawa boneka di tangannya.
"Waalaikumusalam Oma!!!!" seru Zie dan Alma dengan bahagia.
"Lho cucu Oma belum berangkat sekolah?" tanya Sinta.
"Belum Oma, sekolah capek, jadi nggak usah sekolah ngabisin uang!" ujar Zie sambil memegang boneka yang di bawa oleh Oma Sinta.
"Alma!!!" Bilmar yang mendapat lapisan jika Alma tidak pernah masuk sekolah langsung menemui Alma yang berada di rumah Vano.
"Daddy," Alma melihat Bilmar dengan takut, karena ia bisa melihat kemarahan di wajah Bilmar.
"Kenapa tidak sekolah?!" tanya Bilmar tho the point.
"Aduh Dad.....perut Alma sakit," ringis Alma padahal ia ingin mengelabui Bilmar.
"Cucu Oma kenapa?" tanya Sinta yang langsung mendekati Alma.
"Jangan bohong!" kata Vano.
"Perut Alma beneran sakit Ayah," kata Zie yang berusaha menyelamatkan Alma, kemudian ia menatap Bilmar juga, "Beneran Daddy," kata Zie.
"Kenapa Zie tahu?" tanya Bilmar sambil berkacak pinggang.
"Kalena sakitnya Sampek......." Zie memukul kepala nya berusaha mencari ide.
"Mana ada sakit perut bisa Sampek," kata Alma menyenggol Zie.
"Hehehe....." Zie menggaruk kepalanya, "Iya ya, kita pasang jurus andalan aja!" kata Zie dan Alma mengangguk.
Keduanya menatap wajah-wajah yang menatap mereka penuh kemarahan.
"Kabur!!!" seru keduanya sambil berlari.
"ZIE......ALMA!!!!!" seru Ziva dan semua orang menunduk sambil menutup telinganya.
"Hehehe....." kedua bocah itu cengengesan saat sudah mengunci pintu kamar.
__ADS_1