
Satu Minggu sudah berlalu Veli sudah di bawa pulang bersama dengan Baby Kiara, bahkan mereka sudah mengadakan syukuran untuk baby Kiara. Aran yang telah lama meninggalkan pekerjaan kini sudah mulai bekerja, karena semenjak ia tidak masuk cukup banyak pekerjaan yang tertunda. Aran cukup berat meninggalkan Veli dan Kiara di rumah, sebab wajah Kiara selalu ada di pandang mata Aran. Putri cantik nya itu terlihat sangat lucu dan begitu menggemaskan.
"Sayang Papa kerja dulu ya Nak," Aran menciumi pipi Kiara, di saat ia akan segera berangkat bekerja.
"Iya Papa," jawab Veli menirukan suara anak kecil, dan seolah itu adalah Kiara yang berbicara.
"Jangan nakal ya Nak, Papa pulangnya malam karena Papa harus berangkat ke Bandung," jelas Aran, karena ia memang sedang ada perjalanan ke Bandung melihat proyek pembangunan hotel yang baru dan ia ingin menamai hotel itu Kiara.
"Iya Papa, hati-hati ya," kata Veli.
"Sayang Mas berangkat ya.....jaga Kiara buat Mas," kata Aran memberi pesan pada sang istri.
"Mas apasih...." Veli menarik pipi Aran karena berbicara hal yang terbilang aneh.
"Mas pigi dulu ya, Mas pasti kangen banget deh...." kata Aran lagi.
"Mas apasih, perginya cuman satu hari dan ini baru hari pertama Mas kerja dari kemarin-kemarin Mas libur," terang Veli lagi.
"Iya sayang, tapi sehari nggak ketemu kalian itu seperti satu tahun."
"Lebay."
"Mas pergi ya sayang," Aran mengecup kening Veli dan ia berangkat bekerja.
Veli terus tersenyum bahagia, ia tidak bisa lepas dari bayang-bayang suami tampannya. Bahkan menurut nya Aran adalah lelaki yang paling tampan tanpa ada yang menggantikan.
__ADS_1
"Cucu Oma....." Laras datang dan langsung menciumi pipi cucunya, ia kini sangat sering kerumah Veli semenjak Kiara lahir.
"Oma....." Veli tersenyum dan ia memberikan Kiara pada Laras.
"Cucu Oma, nanti kalau udah gede kita ke mall beli mainan ya," Laras terlihat asik bermain dengan Kiara, bahkan ia terlihat melupakan Veli.
Malam harinya jam sudah menunjukan tepat pukul sepuluh, akan tetapi Aran belum juga pulang. Hati Veli bertanya-tanya kemana Aran hingga malam sudah begitu larut tapi Aran belum kembali. Bahkan Aran sama sekali tidak memberi kamar, dan yang membuat Veli semakin khawatir ponsel Aran tidak bisa di hubungi.
"Veli kamu kenapa?" tanya Laras yang melihat Veli tidak tenang, bahkan Veli terlihat mondar-mandir padahal ia masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan.
"Mas Aran kemana ya Ma?" Veli lagi-lagi menatap jam dinding yang menunjukan pukul sebelas malam.
"Mungkin dia sedang ada kepentingan Veli, kamu jangan khawatir banget doain aja semoga dia nggak papa," Laras tidak ingin membuat Veli semakin bingung dan panik, hingga ia berusaha menenangkan sang putri. Walaupun sebenarnya ia juga bertanya-tanya dimana kini keberadaan menantunya itu.
"Iya sih Ma," Veli duduk dan membenarkan apa yang dikatakan Laras.
"Nyonya di bawah ada polisi," terang sang Art.
"Polisi?" Veli bingung dan bertanya mengapa ada polisi kerumahnya, "Ya saya akan ke bawah," Veli turun menggunakan lift, sebab ia belum bisa terlalu bebas berjalan. Dan ia pun penasaran mengapa ada polisi yang datang di tengah malam begini.
Saat ini Veli sudah duduk di sofa, begitu juga dengan tiga orang polisi yang datang menemuinya di tengah malam begini. Veli diam dan menantikan apa yang akan di katakan oleh sang polisi.
"Nyonya Aran Rianda kami datang kemari untuk menyampaikan jika tuan Aran Rianda mengalami kecelakaan," terang seorang anggota polisi tersebut.
DEEG.
__ADS_1
Waktu seakan terhenti, jantung berdetak tanpa bisa di kondisikan lagi. Perasaan yang semula sudah tidak menentu kini semakin semakin terasa menyakitkan.
"Jet yang di tumpangi tuan Aran terjatuh di tengah hutan, dan sekarang kami sedang melakukan pencarian," lanjut polisi tersebut lagi.
Tidak ada yang ada yang bisa di katakan Veli selain diam dan berusaha mencerna semua yang di sampaikan padanya, rasanya ia pun tidak percaya dengan apa yang kini ia dengar. Hingga polisi itu pergi Veli tidak berbicara sama sekali, dan entah mereka berpamitan pergi Veli pun tidak tau yang ia rasakan kini hanya perasaan hampa karena kesadarannya pun perlahan menghilang.
Satu jam kemudian Veli mengerjakan matanya, ia melihat plafon kamarnya. Ia masih terlihat bingung dan bertanya-tanya apakah tadi hanya mimpi atau kenang nyata, namun kini mata Veli juga menatap semua anggota keluarga nya ada di sana. Ada apa apakah semua nyata hingga yang lainnya sudah ada di kediamannya? Itulah yang kini di pertanyakan Veli.
"Kamu sudah sadar Nak?" tanya Ratih, dengan mata sembab seketika Veli dapat menyimpulkan jika Ratih baru selesai menangi. Bukan hanya Ratih, yang lain juga demikian.
Veli mendudukan tubuhnya di bantu oleh Laras, Laras juga memberinya segelas air mineral yang mungkin bisa menenangkan perasaan Veli.
Tidak ada yang berbicara, semua hanya diam tanpa kata. Mereka sangat berbeda dari biasanya yang selalu ceria penuh tawa, kini seakan semua begitu bermuram durja. Veli menatap Ratih, kemudian wajah Sinta, selanjutnya Anggia dan Seli, sementara para lelaki sudah pergi. Mungkin saja mereka pergi menuju tempat terjadinya kecelakaan.
"Mi?" Veli bersuara dan menatap Ratih, ia ingin memastikan apakah tadi hanya mimpi buruk atau benar adanya.
Ratih tersenyum kecut dan terpaksa, jika di tanya siapa yang paling terluka disini ia pun terluka bukan hanya Veli saja. Akan tetapi ia terus mencoba kuat dengan semua yang ada, sambil berdoa semoga Aran kembali atau pun di temukan selamat.
"Sabar ya," Sinta mengusap dada Veli, ia pun menitihkan air mata dan berharap Aran baik-baik saja.
Veli terdiam dan meremas dadanya, ada tidak luka yang lebih sakit dari ini? Ada tidak cara yang lebih sakit dari ini? Jika ada Veli ingin merasakannya asalkan Aran kembali. Bukankah takdir itu memang nyata dan sudah tergariskan? Lalu kenapa hati tidak bisa menerima? Kenapa luka dan sakit ini sungguh menyayat hati tertusuk bagai sembilu.
"Ma...." Veli menatap Laras dan memeluk sang Mama.
"Sabar Nak, kita berdoa semoga Aran kembali dengan selamat," Laras mengusap punggung sang anak.
__ADS_1
"Gimana kalau Mas Aran pergi untuk selamanya Ma? Gimana Veli sama Kiara Ma?" Veli menangis tersedu-sedu, sesak sungguh sesak, sakit sungguh sakit, semua masih terasa nyata baru tadi pagi mereka tertawa dan bercanda bersama kini malah Veli menerima berita yang mengguncang jiwanya.