Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 39


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu, kini Veli semakin terpuruk dengan keadaannya yang semakin tidak menentu. Sehari-hari nya Veli hanya menyendiri saja di kamar tanpa berbaur dengan siapa pun, ia bagaikan memiliki dunia tersendiri. Kadang ia tertawa, kadang ia menangis tanpa sebab yang jelas. Yang jelas ia sangat terluka.


"Veli, kamu makan ya Nak......" Laras sangat tidak tega melihat Veli, hatinya seakan ikut teriris melihat keadaan sang putri. Andaikan ia bisa menggantikan posisi Veli saat ini mungkin ia mau menggantikannya, asalkan anaknya itu bahagia. Cucunya masih terlalu kecil untuk merasakan penderitaan ini, bahkan Veli kini di tangani oleh Sasa. Sebab kejiwaan Veli sedikit terganggu, sungguh malang nasib ibu satu orang anak itu.


Veli yang tengah menyiapkan baju untuk Aran, mulai menatap Laras, "Nanti ya Ma, Veli mau sekalian makan sama Mas Aran aja.......lagian Veli sedang merapikan baju Mas Aran, kasihan nanti dia pulang kerja tengah malam masih harus nyari di lemari," jelas Veli sambil tangannya terus memilih baju yang akan di pakai Aran, ia berulang kali mengambil baju yang ia rasa cocok. Namun setelah itu ia mengembalikannya kembali karena merasa tidak cocok, hingga akhirnya ia mendudukkan dirinya bersandar pada lemari, "Kapan ya Ma, Mas Aran pulang?" Veli menunduk dengan tangannya sibuk memainkan kancing baju Aran, "Mas Aran jahat ya Ma, dulu dia maksa Veli buat nikah...... sekarang dia pergi dan entah kapan kembali," Veli kembali diam tanpa kata, bayangan kebersamaan bersama Aran kembali terkenang, hingga ia tersenyum tanpa sebab yang jelas, "Mas Aran pasti balik ya Ma? Mas Aran kan cuman pergi kerja......Veli mau mandi dulu," Veli langsung bangun dari duduknya kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Laras hanya menatap pintu yang sudah tertutup, luka yang di rasakan oleh Veli sungguh membuat hati Laras ikut tersayat. Adakah luka yang lebih sakit dari ini? Adakah kepedihan yang lebih pedih dari ini? Kepedihan seorang ibu akan sangat terasa jika melihat anaknya menderita. Dan tidak ada ibu yang tidak berduka saat melihat anaknya tidak bahagia.


Beberapa saat kemudian Veli keluar dari kamar mandi, ia terlihat berbalutkan handuk kimono dan rambut yang terbungkus handuk pula. Mata Veli langsung menatap Laras, ia seperti bingung saat menatap Laras, "Mama kenapa nangis? Kok Mama dari tadi berdiri di sini terus sih?" tanya Veli tanpa beban.


Laras hanya mengusap dada dengan pertanyaan Veli, Laras ingin berteriak, "Mama keluar dulu ya....." Laras mengusap kepala Veli, dengan langkah yang berat ia keluar dari kamar Veli. Laras menutup pintu kamar Veli, ia menumpahkan segala air mata yang masih tertahan, menumpahkan segala kepiluan yang sedari tadi masih saja ia sembunyikan 2alau pun beberapa butir air matanya sempat menetes begitu saja.

__ADS_1


"Ma...." Satria yang melihat keadaan istrinya menepuk pundak Laras, ia tahu istrinya itu kini tengah menangisi keadaan sang putri kesayangan mereka.


Laras berbalik dan dengan cepat memeluk Satria, "Pa, apa yang akan terjadi kalau Aran tidak akan pernah kembali lagi? Apa yang akan terjadi pada Veli? Mama sudah tidak kenal Veli yang dulu, dalam sekejap dia tertawa, dalam bersamaan ia menangis, saat ia sibuk menangis tiba-tiba ia bercerita tentang hari-hari nya bersama Aran......ini sangat menyakitkan Pa," terang Laras sambil sesegukan.


"Sabar Ma, kita doakan saja Aran kembali," Satria berusaha terus menguatkan Laras, jika di tanya apakah ia terluka? Tentu saja ia, Satria hanya seorang Ayah dan itu sangat benar sekali namun hatinya juga tidak kalah sakit melihat anak nya yang semakin hari semakin tidak menentu. Melihat Laras yang juga ikut dalam luka yang dalam itu.


Clek.


"Mama sama Papa pergi dulu, kamu juga makan kasihan Kiara," Laras mengusap kepala Veli.


"Veli kan udah makan tadi Ma sebelum Mas Aran berangkat kerja," Veli menatap Laras dengan bingung, "Tapi Mas Aran pergi nggak kembali sampai sekarang, Mas Aran jahat ya Ma kasihan Kiara," Veli tertunduk dan menitihkan air matanya sesaat kemudian ia tersenyum, "Ahahahaa.......nanti juga Mad Aran pulangkan Ma? Mas Aran mana bisa jauh-jauh dari Veli dan Kiara....." Veli kembali menutup pintu, ia tersenyum dan berjalan menuju ranjang dimana ada Kiara yang tengah tertidur lelap di sana. Veli ikut naik keranjang dan memeluk Kiara, melihat wajah Kiara yang mirip dengan Aran membuat Veli semakin kacau. Ia mulai tersadar Aran sudah pergi dan tidak kembali selama satu bulan lebih, Veli masuk ke ke kamar mandi dan menguyur dirinya dengan air dingin, "Mana janji mu Mas.....katanya kita hidup sama-sama, dan satu liang lahat bersama.....tapi ternyata sekarang pun Mas pergi udah nggak balik-balik lagi," tutur Veli dengan tubuhnya yang semakin basah di guyur air, ia menunduk dan terdiam di sana. Jika Aran kini tengah merasakan dingin sangat dingin di sana ia pun kini tengah merasakan apa yang di rasakan Aran, namun bila Aran tengah bahagia di sana lain halnya dengan Veli yang tengah gila di sini.

__ADS_1


"Veli kamu sedang apa?!" Anggia langsung mematikan air shower yang mengguyur tubuh Veli, ia mengambil handuk dan menyelimuti tubuh basahnya, "Bangun....."


Veli menggeleng ia tidak ingin bangun dari sana.


"Veli kamu jangan egois, ada Kiara juga yang butuh kamu.....apa kamu mau Kiara tidak mendapat kasih sayang dari kamu setelah dia tidak dapat kasih sayang dari Aran juga!" terang Anggia sambil berusaha menggerakkan punggung Veli.


"Tapi Mas Aran jahat Ngi, kenapa dia setega ini sama aku!" mata Veli berkaca-kaca menatap Anggia, ia masih saja punya sejuta alasan untuk tetap dalam keterpurukan.


Anggia tidak memperdulikan setiap yang dikatakan oleh Veli, bukan tidak mengerti. Namun hatinya terlalu sakit mendengarkan setiap kata pilu yang terucap dari bibir sang sahabat, yang sekaligus menjadi ipar.


"Kenapa ya Ngi? Aku dulu nikah dan bersatu degan Mas Aran karena terpaksa, lebih tepatnya di paksa. Dan sekarang aku pun harus kehilangan dia dengan di paksa, apa nggak ada keadilan buat aku sedikitpun Ngi?"

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, ingat. Ada Kiara yang butuh kamu," Anggia mendudukan Veli di kursi meja rias, ia mengeringkan rambut Veli dengan hati-hati.


__ADS_2