Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 53


__ADS_3

"Sekarang kalian minta maaf sama Nenek ini, dan Kakak itu juga!" perintah Anggia.


Kepala Anggia hampir pecah karena pusing memikirkan kelakuan bocah ingusan itu, tidak ada yang benar semua hanya dengan kepintaran nya masing-masing.


"Saya mau burung nya dikembangkan!" kata sang Kakek, ia sangat menyayangi burung peliharaan nya. Hingga ia sangat tidak mau bila ada yang mengambilnya.


"Kakek, Nenek, sebaiknya duduk dulu ya," pinta Ziva, karena semua terlihat emosi sampai-sampai masalah tidak kunjung selesai, "Bilmar duduk, Mas Vano juga duduk, kita semua duduk ya.... berbicara dengan baik-baik," pinta Ziva.


Dengan kesal dan berat hati Bilmar, Vano, Ziva Anggia, Nenek dan seorang Kakek duduk. Karena mereka ingin jalan yang terbaik. Hingga kedelapan bocah itu juga ingin duduk.


"Kalian tidak boleh duduk! Tetap berdiri di situ!" kata Ziva menatap anak-anak nya. Karena anaknya yang paling banyak di sana.


"Pegel Bun," keluh Chandra.


"Diam!" Ziva menatap tajam Chandra, kemudian yang lainnya. Dan tidak ada yang berani membantah, semua menurut diam dan entah sampai kapan bocah itu bisa diam. Hingga Vano mulai berbicara.


"Nenek, Kakek, saya minta maaf atas apa yang di lakukan anak-anak kami ini," kata Vano sambil menjeda ucapannya, "Dan kami akan bertanggungjawab dengan membayar semua kerugian Nenek dan juga Kakek."


"Daya tidak mau uang, saya mau burung saya di kembalikan!" pinta si Kakek dengan marah, ia merasa burungnya sangat berharga hingga ia tidak rela bila burungnya hilang begitu saja.


"Kakek mau burungnya balik?" tanya Gibran yang dari tadi hanya diam, Gibran adalah putra dari Seli dan Arman.


"Mau,"sang Kakek menjawab.


"Di toilet Kek, karena tadi padi Gibran udah BAB," jelas Gibran dengan baik, menurutnya itu adalah benar.


"Mmmmfffffpp......" Bilmar menutup mulutnya sambil menahan tawa, apa yang harus di lakukan. Karena mereka masih terlalu kecil, bahkan masih duduk di bangku TK. Rasanya Bilmar tidak akan mungkin menghukum mereka dengan berat.


"Alfa juga Deddy, pagi tadi udah BAB kayaknya masih ada nyangkut di toilet," kata Alfa putra Vano, setelah Zie lahir. Alfa adalah yang pertama lahir sebelum tiga kembarannya.


"Kok kayaknya?" tanya Bilmar bingung.


"Karena Alfa belum nyiram!" jawab Alfa santai.


"Kenapa begitu?" timpal Vano yang ikut penasaran.


"Karena Alfa takut yang punya datang dan minta di balikin, jadi kalau masih ada di toilet kan aman.....bisa ambil dan balikin," jawab Alfa.


"Huuuufff," Vano mengelus dadanya, sungguh anaknya memang sangat berbeda dari yang lain.


"Warnanya apa Alfa?" tanya Chandra.


"Kuning!" kata Alfa.


"Aku hitam," kata Davit.

__ADS_1


"Kok bisa?" tanya Gibran.


"Kan tercampur sama coklat," jawab Davit santai.


"Cukup!!!" Anggia kembali berteriak, sungguh sulit menyelesaikan semua permasalah ini.


"Kalau kalian tidak mengembalikan nya maka anak-anak ini saya tuntut!" kata sang Kakek yang sudah sangat Kesal.


"Tuntut?" tanya Bilmar melongo, kemudian ia melihat bocah TK yang masih ingusan itu, "Sebaiknya damai sana Kek, karena mereka masih anak-anak," kata Bilmar menunjuk wajah-wajah bocah itu.


"Biar Davit anak-anak Davit udah punya pacar, namanya Buk Winda guru paling bahenol di sekolah," kata Davit santai.


Plak!


Vano menepuk kepala nya sendiri, ia tidak mengerti kenapa bisa anak-anak nya seperti ini.


Setelah menimbang, akhirnya sang Kakek dan Nenek juga setuju berdamai, "Baiklah saya setuju, kalian harus bayar harga burung yang akan saya beli lagi sebagai gantinya," kata Kakek tersebut.


"Den ini ayam panggang nya sudah matang," kata seorang Art yang membawa Ayam panggang.


Beberapa saat lalu sebelum masuk kedalam rumah, kedelapan bocah itu menangkap seekor ayam yang ikut masuk ke halaman rumah saat pintu gerbang di buka. Dan mereka berhasil menangkap nya, kemudian meminta Art untuk memanggang karena mereka ingin menikmati ayam tersebut.


"Waaw.....makasih Bik," kata kaki Bastian, dan yang lainnya ikut mencium aroma ayam panggang itu dengan begitu menggiurkan.


"Kita lapar Mom," Alif melihat Anggia dengan melas, dan ia memang sangat lapar.


"Jadi bagaimana dengan burung saya?" tanya Nenek, yang masih duduk di sofa dan sang Kakek hanya mengangguk.


"Kami setuju untuk mengganti burung yang baru," kata Bilmar, karena tidak sulit bila hanya memberi burung puluhan juta bagi Bilmar.


"Nak Ayamnya enak nggak?" tanya Nenek yang melihat ayam panggang sang Nenek.


"Enak nek," jawab Chandra.


"Nenek mau coba?" tanya Davit.


"Mau," kata Nenek.


Kemudian mereka memakan bersama dengan lahap, setelah selesai dengan kesepakatan damai Nenek dan Kakek itu beranjak pulang hingga.


"Maaf ya Nek, Kek," kata Anggia yang mengantarkan Nenek dan Kakek hingga di depan pintu utama.


"Iya," Nenek langsung membantu Kakek untuk berjalan, hingga tiba-tiba Nenek bingung dengan Kakek yang sibuk melihat sekitarnya, "Kakek cari sesuatu?" tanya Nenek.


"Iya, tadi Kakek bawa Brenden," kata sang Kakek yang terus melihat sekitarnya.

__ADS_1


"Brenden itu cucu atau anak Kakek?" tanya Anggia.


"Brenden itu ayam jago kesayangan saya," kata sang Kakek melihat Anggia.


"Brenden nama Ayam," gumam Anggia, ia sebenarnya ingin tertawa karena nama Ayamnya sangat keren bahkan mengalah nama para anak-anak nya.


"Aduh di mana ya?" tanya Nenek yang ikut melihat sekitarnya.


"Mang," Anggia melihat security dan mulai memanggilnya.


"Iya Bu," jawab security tersebut sambil berjalan ke arah Anggia.


"Lihat Ayam Kakek ini nggak, tadi di tarok di sini."


"Tadi ada Bu, tapi tadi udah di bawa sama tuan-tuan muda waktu pulang sekolah," jelas security itu lagi.


"Em....." Anggia mulai mengelus dada, "Alfa, Alif Chandra.....semuanya kemari!" pinta Anggia.


"Ada apa Mom, Alif mau ke kamar maen play station....." kata Alif.


Anggia kembali menarik nafas dan berdoa semoga kali ini bukan anak nya yang membuat obat lagi, "Tadi ayam Kakek ini di sini, sekarang nggak ada....kata Mang Ujang kalian yang bawa!"


"Iya," jawab Kevin.


"Sekarang ayam Kakek di mana Cu?" tanya Kakek dengan bahagia, karena ia hampir bersedih karena berpikir ayamnya hilang.


"Udah abis, kan tadi Kakek juga ikut makan," jelas Kevin dengan tanpa dosa.


"Makan?" tanya Kakek tersebut sambil memegang dadanya.


"Ada apa ini?" tanya Aran dan Veli yang baru saja datang.


"Mereka ini....." Bilmar menunjuk anak laki-laki yang berjumlah delapan orang di hadapannya, "Udang makan burung Kakek ini!" Bilmar menunjuk Kakek tersebut.


"Aaaaa....." Aran bergidik ngeri dan langsung melihat kearah bawah pusat.


"Bukan itu bego!" kesal Bilmar.


"O....." Aran merasa tenang dan mengusap dada, "Terus?" tanya Aran lagi.


"Burung Kacer peliharaan nya Kakek ini, barusan lagi Ayam Kakek ini yang mereka makan," jelas Bilmar dengan kesal.


Aran dan Bilmar melihat anak-anak tersebut, namun kini mereka sudah tidak ada di tempat nya karena melarikan diri dari sana.


"Dasar bocah sialan!" kata Aran.

__ADS_1


"Itu anak kita, kecebong Mas berarti yang sialan!" kesal Veli.


"Waduh...." Aran merinding karena Veli menyebut kecebongnya yang sialan.


__ADS_2