Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 21


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Kini Anggia tengah sibuk memasak di dapur, karena semenjak ia melahirkan ia sama sekali tidak pernah lagi memasak. Dan Bilmar sangat merindukan masakan Anggia yang menurutnya tidak ada yang bisa menandinginya sampai saat ini, hingga kini Bilmar ingin sekali Anggia yang memasak makan malam untuk dirinya.


"Ngi, Abang udah lapar banget, aromanya juga wangi banget deh....." Bilmar melingkarkan tangannya di pinggang Anggia, sementara Anggia tengah berdiri dan mengaduk soto buatannya di atas kompor dengan api yang masih menyala.


"Sabar, udah nggak lama lagi....." jawab Anggia.


"Anggi, kamu pinter banget sih masaknya. Kamu belajar masak dari siapa?" tanya Bilmar, yang lagi-lagi sangat suka sekali mengganggu istri cantiknya.


"Ibu dulu jago masak, terus Ibu dulu kan cuman pembantu Abang. Jadi Anggi bisa masak belajar dari Ibu," kata Anggia sambil membayangkan wajah mendiang sang Ibu yang sangat ia cintai.


"O, tapi Abang juga bisa masak. Dan ada masakan andalan Abang, kamu mau nggak Abang ajarin?"


"Masak apa?" Anggia mencicipi soto buatannya, dan ia merasa rasanya sudah pas hingga ia meletakan sendok di tangannya. Lalu mengambil mangkuk untuk tempat soto buatannya, setelah soto itu berada dalam mangkuk tersebut ia menghirup aromanya yang cukup lezat. Sedangkan Bilmar malah memasukan jarinya kedalam mangkuk tersebut berniat ingin mencicipinya, namun ia malah kepanasan dan meniup jari telunjuknya.


"Aduh, panas banget Ngi," kata Bilmar, sedangkan Anggia malah tersenyum melihat tingkah Bilmar.


"Namanya juga masih panas, Abang gimana.....sih....." Anggia meletakan nya di atas meja sambil terkekeh.


"Sama dong kayak cinta Abang ke Anggi."


"Emang kenapa cinta Abang ke Anggi?" Anggia menatap penuh tanya.


"Selalu panas dan membara," Bilmar menarik pipi Anggia, sambil tersenyum gemas.


"Ish.....Abang gombal banget deh......" Anggia menepis tangan Bilmar, kemudian ia kembali lagi mendekati kompor untuk mengambil pergedel kentang buatannya. Dan itu pun permitaan Bilmar.


"Sayang kamu bikin pergedel nya berapa banyak, di timbang nggak?" tanya Bilmar sambil kembali mengikuti Anggia.


"Nggak banyak, terus nggak di timbang juga. Abang aneh banget deh."


"Aduh......" Bilmar malah memegang dadanya hingga membuat Anggia bingung.


"Abang kenapa?" tanya Anggia sambil melewati Bilmar dan kembali meletakan pergedel buatannya di meja makan.


"Nggak papa."


"Ya.....terus kenapa megang dada gitu?"


"Karena kentang itu sama, Sama cinta Abang. Sama-sama nggak di timbang tapi tetap cintanya banyak, walau nggak pernah di takar tapi juga tidak pernah ada habisnya," lanjut Bilmar.


"Em.......gombalan receh di mulai."

__ADS_1


"Abang serius Anggi."


"Sini duduk," Anggia menarik kursi meja makan untuk mempersilahkan Bilmar duduk.


"Anggi, yang tadi Abang serius loh....." Bilmar masih saja menggoda Anggia, walau pun kini ia sudah duduk di kursi meja makan.


"Anggi juga serius Abang," Anggia mengambil nasi dan mengisi piring Bilmar.


"Serius sama cinta Abang?"


Anggia menggeleng, dan mengisi piring Bilmar dengan lauk buatannya, juga soto dan pergedel.


"Terus apa dong?" tanya Bilmar bingung.


"Serius Anggi enek sama gombalan receh Abang, sampek-sampek kenyang Anggi dan nggak pengen makan lagi," kata Anggia sambil ia duduk di samping Bilmar dan juga mengisi piringnya dengan makanan.


"Ish.....Anggi kamu nggak romantis banget deh," Bilmar kesal dan ia mulai menyuapi nasi tersebut kedalam mulutnya, "Anggi rasa masakan ini kayak....."


"Kayak Abang berisik, sekarang makan. Dan jangan banyak bicara," kata Anggia yang tidak ingin mendengar gombalan receh dari bibir sang suami.


"CK......" dengan berat hati Bilmar akhirnya mulai makan dengan benar dan tidak lagi banyak bicara, hingga makanannya tandas, "Enak Ngi, di masakan istri memang mantap banget," Bilmar mengacumkan jempol pada Anggia.


"Abang," Anggia menatap Bilmar dengan serius.


"Anggi hamil," kata Anggia dengan suara pelan.


"Kok bisa?" tanya Bilmar shock.


"Ya bisa lah, orang di gempur terus nggak pagi nggak siang nggak malam," kata Anggia kesal.


"Ha," Bilmar malah melongo mendengar jawaban Bilmar, "Apa iya?" Bilmar menggaruk kepala sambil menatap dengan bingung.


"Abang, reaksinya kok gitu sih," Anggia sangat kesal exspresi Bilmar yang terlihat bingung.


"Iya terus Abang harus apa? Kan Abang udah bilang cukup Alif dan Alma saja, tapi kenapa kamu hamil lagi?"


"Abang nggak mau Anggi hamil lagi?" tanya Anggia kesal, dan Bilmar menggeleng hingga membuat Anggia bertambah kesal, "Nanti Anggi gugurin," gertak Anggia, kemudian ia pergi meninggalkan Bilmar dengan kekesalannya. Ia hanya menggertak Bilmar saja, mana mungkin ia serius mengugurkan kandungannya. Saat ia hamil untuk baby twins saja yang begitu rumit ia mempertahankan mati-matian janinnya, apalagi untuk kehamilannya kali ini.


"Anggi," Bilmar bukan tidak mau Anggia hamil, lagi, tapi ia takut jika kejadian saat Anggia melahirkan baby twins terulang kembali dan ia sangat takut kehilangan Anggia, "Anggi, jangan begitu," Bilmar malah panik saat mendengarkan apa yang di katakan oleh Anggia dan ia secepat mungkin berlari menuju kamar, untuk menyusul Anggia, "Anggi," Bilmar membuka pintu kamar dan melihat Anggia tengah duduk di sisi ranjang.


"CK......" Anggia kesal dan ia membuang pandangannya ke arah lainnya.


"Anggi, maksud Abang nggak gitu."

__ADS_1


"Terus gimana?" tanya Anggia cuek.


"Anggi dengerin Abang dulu dong, kamu jangan gugurin ya."


Anggia hanya diam dengan wajah kesal nya, ia rasanya ingin meremas wajah Bilmar karena reaksi Bilmar yang sangat tidak menyenangkan.


"Anggi, Abang cuman takut kamu seperti dulu. Abang takut kalau semua itu terulang lagi," jelas Bilmar lagi.


"Ya.....udah nanti Anggi gugurin, tapi setelah itu kita jangan sekamar lagi. Abang juga jaga jarak dari Anggi."


"Anggi bukan gitu."


"Terus gimana?"


"Anggi, kamu sensitif banget sih?"


"Iya, terus kenapa?"


"Anggi, maaf ya. Abang nggak maksud apa-apa. Tapi bukannya kamu minum pil KB, tapi kenapa bisa hamil?" tanya Bilmar hati-hati karena takut Anggia akan tersinggung lagi, sebab Anggia masih enam bulan yang lalu melahirkan dan itu masih terlalu beresiko. Bahkan resikonya masih terlalu besar.


"Anggi lupa, pas selesai datang bulan hari itu Alif sama Alma diare dan mereka rewel. Anggi lupa minum, Abang juga begitu mereka tidur harus banget ibadahnya. Bukan Anggi nolak, atau nggak ikhlas, tapi Anggi beneran lupa beberapa hari minum, karena kecapean," terang Anggia kesal.


"Tapi kamu bukannya belum boleh hamil?"


"Terus gimana?"


"Sayang terus gimana dong?" Bilmar malah bingung, dan ia mendadak bodoh.


"Abang nggak seneng punya anak lagi?"


"Abang cuman takut, resikonya sekarang masih terlalu besar Anggia sayang. Kamu tau nggak sih? Abang jauh lebih mencintai kamu dari pada diri Abang sendiri, jadi kalau terjadi sesuatu sama kamu......Abang juga nggak bisa hidup lagi," terang Bilmar Agar Anggia tau, ia bukan tidak bersyukur hanya saja ia terlalu takut.


"Ya.....tapi mau gimana lagi? Udah di kasih rejeki sama Allah. Masak mau nolak?"


"Abang nggak nolak sayang ku, cinta ku, Abang cuman takut aja. Yaudah besok kita cari dokter kandungan yang udah senior banget, Abang mau kamu nggak kerja lagi di rumah sakit selama kamu hamil dan harus ada dokter yang rawat kamu."


"Tapi Anggi juga dokter."


"Ya Abang tau, tapi dokter juga manusia biasa, dan dokter nggak bisa rawat dirinya sendiri kalau lagi sakit," tegas Bilmar tanpa bisa di bantah lagi, "Ingat jangan pernah berpikir untuk mengugurkan nya, Abang nggak mau," lanjut Bilmar lagi.


***


Like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2