
pagi ini terlihat berbeda dari pagi sebelumnya jika pagi sebelumnya Veli bersedih dan bermuram durja maka tidak dengan kali ini, di mana ia lebih terlihat bahagia karena sudah ada Aran di sampingnya.
"Sayang Mas kangen banget," Aran meminta Veli ikut naik di ranjang bersama dengan dirinya.
"Hehehehe.....Veli juga, tapi Veli nggak usah ikut naik ke ranjang.....takut luka Mas kejepit, nanti sakit," kata Veli yang merasakan kasihan pada ada Aran, dan ia sangat tidak tega bila sampai ia tanpa sengaja mengenai luka Aran.
"Khumairah ku sayang, Mas kangen banget serius......" Aran terus memaksa Veli naik ke atas ranjang, dan wajahnya terlihat sangat mengharap Veli mengikuti keinginan nya.
Veli mengangguk dan ia tidak tega jiga menolak keinginan suaminya, karena ia pun memang sangatlah merindukan Aran.
"Ok boss," Veli berbaring di samping Aran dan Aran langsung memeluk dirinya dengan erat, "Mas nggak usah kencang-kencang....sesak," kata Veli yang sudah sangat sesak.
"Hehehehe......" Aran tertawa dan perlahan merenggangkan pelukannya, "Mas kangen banget soalnya, emang kamu nggak kangen sama Mas?"
"Nggak ada pertanyaan lain kah?" kesal Veli dengan pertanyaan Aran yang sangat tidak masuk akal, andai saja Aran tau jika ia hampir gila karena kehilangan Aran mungkin Aran tidak akan bertanya hal bodoh itu lagi.
"Mana tau kamu udah punya ganti Mas," kata Aran lagi dengan asal.
Veli diam saja tanpa bisa berbicara, ia kini memang sangat sensitif apa lagi dengan hal yang di bicarakan oleh Aran.
Sementara Aran sangat merindukan istri cerewet nya, apa lagi saat dulu mereka sering kali bertengkar hanya karena hal sepele saja. Masa-masa mereka masih belum miliki status memang sangat mengesankan, hingga sangatlah tidak bisa di lupakan.
"Istri Mas sekarang mendadak kalem ya?" tanya Aran.
"Abis Mas pertanyaan nya ngaur semua, pertanyaan nya nggak ada yang beres," gerutu Veli.
"Ish....bibirnya Mas kok gemes ya?" tanya Aran sambil menarik bibir Veli.
"Sakit tau Mas, Veli bingung deh ini beneran Mas Aran Papanya Kiara atau Mas Aran lain yang abis kesambet apa gitu," omel Veli.
"Ahahahhaha........keluar juga cerewet nya...." Aran memeluk Veli dengan sangat kencang.
"Auww.....Veli nggak bisa nafas," Veli bergerak dengan cukup kuat hingga membentur luka Aran.
"Aaaa.....sayang sakit," ringis Aran.
"Tukan.....? Veli bangun aja deh," kata Veli mencoba bangun.
__ADS_1
"Nggak, Mas kangen....." Aran tetap memeluk Veli dan tidak ingin melepaskan istri yang sangat ia rindukan itu.
"Tapi Mas kesakin?" kata Veli dengan wajah kasihan pada Aran.
"Nggak papa, yang penting Mas sama kamu....sakit ini sih kecil," jelas Aran lagi.
"Yang besarnya apa dong?" wajah Veli menatap Aran mematikan apa yang akan di katakan oleh Aran.
"Yang besar itu kangen Mas sama kamu."
"Udah mulai gombal lagi," Veli terkekeh karena ternyata Aran masih cukup pintar membuat dirinya senyum-senyum, padahal hanya karena hal sederhana saja.
"Itu bukan gombal sayang!"
"Terus?"
"Itu memang ungkapan hati Mas yang nggak bisa lupain kamu, dan kamu itu selalu ada di hati Mas selamanya," lanjut Aran.
"Ish ...paling bisa deh," Veli tersenyum dengan wajah yang merah merona, karena cintanya kembali lagi dan seketika membuat kerinduan sirna karena sudah terobati.
Clek.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam....." jawab Veli sambil melihat kearah pintu, Veli mencoba bangun tapi Aran malah menahannya dan akhirnya Veli tetap pada tempatnya tanpa bisa bergerak, "Mas ada Mami sama Mas Bilmar," kata Veli mengutarakan alasannya mengapa ia berniat bangun.
"Ya terus kenapa?" tanya Aran seolah tidak ada masalah.
"Tapi Mas," Veli masih ingin bangun, tapi Aran tetap tidak mengijinkannya.
"Udah Veli di situ saja, Aran rindu tuh....berat, udah nggak kuat," Selor Ratih.
Wajah Veli memerah seketika ketika mertuanya menggodanya, Ratih memang sangat mengerti dengan pasangan muda. Apa lagi Aran dan Veli sudah cukup lama berpisah, dan Ratih tidak mempermasalahkan nya sedikit pun.
"Iya dong Mi, tapi Mami ngapain ke sini kalau ayo cepat, kalau sudah selesai segera keluar....." kata Aran, dan itu hanya untuk bercanda saja tidak ada niatan dari hati untuk mengusir Ratih.
"Dasar anak kurang ajar kamu ya!" Ratih sangat marah, akan tetapi itu bukan marah dari hatinya juga. Dan hak inilah yang ia rindukan, Aran yang sangat jail kini sudah kembali lagi dan Ratih merasa keluarga mereka kembali lagi dan lengkap tanpa ada yang kurang.
__ADS_1
"Kita datang ke sini bawain lu makan, lu malah ngusir kita ya....." timpal Bilmar yang tidak kalah kesal.
"Udah kan?" tanya Aran memasang wajah kesalnya, "Kalau udah pulang sana, gw mau berduaan sama cinta gw!" kata Aran.
"Sialan lu," Bilmar menepuk tangan Aran yang terbungkus perban, padahal tepukan itu tidaklah sakit namun Aran berpura-pura meringis kesakitan.
"Sakit gila!" kesal Aran.
"Mampus lu!" jawab Bilmar yang tidak mau kalah.
"Mas Bilmar apasih, Mas Aran lagi sakit kok malah di pukul!" Veli tidak tahu kalau Aran hanya berpura-pura sakit hingga ia menatap Bilmar dengan sangat kesal sekali.
"Aduh sayang sakit banget," bohong Aran beracting kesakitan.
"Di mana Mas?" tanya Veli semakin panik.
"Di sini?" Aran membawa tangan Veli ke dadanya.
"Ish....." wajah Veli kembali memerah dengan gombalan Aran yang super receh tapi mengotak Atik perasaanya.
"Hahahaha......" Aran tertawa dengan kencang melihat wajah Veli.
"Berasa jadi obat nyamuk ya Bil?" tanya Ratih yang merasa di acuhkan, karena Aran dan Veli malah terus menunjukan kemesraan.
"Mami udah kayak nggak ngerti aja sama pasang bucin akut ini," jawab Bilmar menyindir Aran dan Veli.
"Iya kayak yang ngomong juga ya Bil?" tanya Ratih lagi.
"Iya Mi," jawab Bilmar tanpa mencerna dengan jelas apa maksud dari yang di katakan Ratih, namun sejenak kemudian ia menyadari Ratih yang juga ternyata menyindir dirinya yang juga bucin aku terhadap istrinya, "Mami apasih!" kata Bilmar lagi dengan kesal.
"Ahahahahah..... ngomongin orang, padahal dia juga parah," Aran tertawa dan ia juga mengejek Bilmar.
"Ya dong," Bilmar mendekati Anggia, dan langsung merangkul pundak Anggia, "Kita kan cinta sejati ya nggak sayang," Bilmar menatap wajah Anggia dengan penuh cinta.
"Abang apasih, tau Abang ada Mami juga," kata Anggia mengingat ada mertua tapi mau bagaimana lagi suaminya itu memang tidak tahu tempat.
"Aduh....Mami mending pulang....karena Papi juga lagi di luar kota....bisa mati Mami jadi obat nyamuk di sini!" Ratih langsung keluar dari ruangan Aran dan meninggalkan dua pasang suami istri yang tengah bermesraan.
__ADS_1
Abangsih," Anggia mencubit pinggang Bilmar.
"Hehehehe....." Bilmar malah tertawa karena melihat Anggia kesal padanya.