
"Mas ini Veli," Veli menangis dan hampir berteriak karena Aran berulangkali mengatakan tidak mengingatnya.
"Memangnya kapan kita menikah?" Aran lagi-lagi bertanya seolah ia memang tidak mengenal Veli.
Mata Veli terus di banjiri air mata, tiada kata yang bisa ia ucapkan selain dari menangis dan menangis.
"Sayang, Mas nggak mungkin nggak inget kamu...." Aran menarik tangan Veli yang menggantung dan langsung memeluknya.
Veli tidak berbicara lagi sepatah kata pun, hatinya sudah terlanjur panik.
"Sayang kenapa diam saja?" tanya Aran bingung.
"Hiks....hiks....hiks....." tangis Veli pecah seketika, seiring dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Sayang udah jangan nangis," Aran menggosok punggung Veli, "Mas udah di sini dan mas ngga papa," terang Aran yang berusaha membuat Veli berhenti menangis.
"Mas jahat....hiks....hiks....hiks....." Veli masih tidak bisa berhenti menangis, baginya Aran sudah sangat keterlaluan dalam mengajaknya bercanda, "Mas bercandanya gitu banget deh," kata Veli lagi.
"Maaf," Aran berusaha menjauhkan Veli darinya, tapi tidak bisa sebab Veli masih memeluk dirinya dengan begitu erat tanpa mau melepaskan dirinya, "Mana senyum nya Mas mau lihat," kata Aran lagi menggoda Veli.
"Hem.......Mi, Bilmar keluar dulu ya mendadak kangen Anggia," kata Bilmar berpamitan keluar, sebab Bilmar merasa Aran dan Veli butuh waktu untuk berdua saat ini.
"Kamu sejak kapan nggak kangen Anggi, setiap hari ketemu juga masih ngomong kangen," gerutu Ratih, "Aran, Veli Mami juga keluar sebentar," pamit Ratih kemudian ia juga ikut keluar dari ruang rawat super VVIP tersebut.
Veli dan Aran kini tinggal berdua saja, Veli masih setia memeluk Aran begitu juga dengan Aran. Keduanya tampak melepaskan rindu yang sudah lama menggunung, melepaskan kehampaan yang selama ini mereka rasakan.
"Mas kangen sama kamu," Veli mengecup kening Veli dengan begitu lama, kemudian ia menghapus jejak air mata Veli yang masih terus bertumpahan.
"Mas, kemana aja?" tanya Veli sambil sesegukan, ia kembali bersandar di dada Aran dengan sejuta kerinduan.
__ADS_1
Aran diam dan ia tidak ingin Veli tahu tentang apa yang sudah ia lewati selama ini, yang ada Aran hanya mengepalkan tangannya mengingat wajah seorang pria gila yang sudah menjadikan dirinya sebuah tawanan.
"Mas kenapa?" Veli merasa Aran seperti sedang memikirkan sesuatu, ia mendongkak dan menatap Aran dengan rasa ingin tahu.
"Mas kecelakaan dan lontang-lantung di hutan, Sampek akhirnya Mas di temukan warga, dan sampai disini," bohong Aran, kemudian ia kembali memeluk Veli, "Mas kangen banget sama kamu, sama Kiara juga.....Kiara dimana?" tanya Aran mengingat ia tidak bisa lepas dari bayang-bayang wajah putri kecilnya.
"Di rumah Mas, nanti Veli minta Anggia aja buat bawa Kiara ke sini," jawab Veli.
"Iya, Mas udah kangen banget soalnya," Aran menatap manik mata Veli begitu juga dengan Veli, "Aran mengelus pipi istrinya yang terlihat tidak terawat, wajah yang biasa bersinar dengan begitu indah kini terlihat tidak terurus lagi, Veli juga tidak segemuk dulu, "Kamu kurusan," Aran kembali memeluk Veli, berulang kali keduanya berusaha menghilangkan kerinduan dengan mendekap, namun sepertinya cukup sulit sekali.
"Mas tega banget tapi tadi... pura-pura lupa sama Veli," kesal Veli lagi.
"Bercanda sayang, Mas kangen banget sama kamu," jawab Aran lagi.
Aran terus meminta Kiara untuk di bawa ke rumah sakit, hingga akhirnya kini Kiara di antar Anggia menemui Aran.
Aran memeluk dan menciumi putri kecilnya, pipi cabi Kiara seakan membuat Aran gemas. Satu bulan lebih ia berpisah dari Kiara, putri kecilnya itu kini terlihat sudah lebih besar seiring dengan pertumbuhannya.
"Kangen dong Pa," jawab Veli yang duduk di sisi ranjang.
"Sayang bisa bantuin Mas baring nggak? Mas ngerasa lemes banget," pinta Aran.
"Bisa," Veli mengerti dengan keadaan Aran yang masih sangat lemah, hingga ia membantu Aran berbaring. Tidak lupa Kiara yang terus di pelukan Aran.
"Assalamualaikum....." terdengar suara Sinta yang masuk dengan terburu-buru, ia tadi memang berada di rumah orang tuanya dan saat mengetahui Aran sudah sadarkan diri Sinta langsung menuju rumah sakit.
"Waalaikumsalam," jawab Veli tersenyum keara pintu.
"Aran," Sinta langsung memeluk Aran yang berbaring di ranjang, "Aran hiks....hiks....kamu kemana saja, kami semua khawatir," terang Sinta dengan air mata yang masih terus membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Aran nggak papa Ma, sekarang kan Aran sudah berkumpul lagi disini," Aran tidak ingin memberitahu Sinta mau pun Ratih, terutama Veli Tetang apa yang terjadi. Biarlah Aran menyelesaikan ini semua dengan bantuan Bilmar, Vano dan Arman.
"Syukurlah Nak, Mama takut sekali kamu tidak pulang-pulang," kata Sinta lagi.
"Makasih ya Ma, udah khawatirin Aran," kata Aran dengan penuh haru pada kasih sayang yang di berikan Sinta memang sangat besar.
"Kamu tidak boleh bilang begitu, kamu itu anak Mama," jawab Sinta lagi.
"Iya Ma," Aran mengangguk sabil menciumi pipi Kiara.
"Aduh cucu Oma, seneng ya Papa udah pulang," tanya Sinta pada bayi yang terlihat nyaman berada di pelukan Aran.
"Iya dong Oma," kata Veli yang menjawab.
"Mas, kayaknya Mas harus makan deh.....terus minum obat juga," Veli mengingatkan Aran yang terlihat melupakan obat dan makanannya sebab ia terlalu asik melepaskan rindu.
"Kiara sama Oma dulu ya, biar Papa mamam dulu di bantuin Mama," Sinta mengambil Kiara dengan hati-hati, kemudian menggendong nya dengan penuh kelembutan.
"Buka mulutnya biar Veli suapin," kata Veli.
Aran membuka mulutnya lebar-lebar dan Veli langsung menyuapi dirinya, sampai seterusnya namun mata Veli sesekali meneteskan cairan bening. Rasa haru dan bahagia karena kepulangan Aran masih menyelimuti hatinya.
"Jangan nangis dong," Aran mengusap pipi Veli dengan ibu jarinya, "Mas kan ikut sedih kalau kamu sedih."
Veli mulai memasang senyuman manisnya, walau pun begitu air matanya terap saja menetes dengan begitu cepat.
"Sayang, jangan nangis lagi," kata Aran lagi yang masih berusaha menghapus jejak air mata Veli.
"Buka mulutnya lagi," kata Veli hingga akhirnya makanannya habis dan Veli berhasil menyuapi Aran dengan baik.
__ADS_1
"Makasih sayang," kata Aran sambil tersenyum.
"Waktunya minum obat," Veli mengambil obat yang sudah di sediakan perawat barusan dan memberikannya pada Aran, "Minum harus banyak."